CRYPTIDE CRYSTAL

CRYPTIDE CRYSTAL
Momen Terakhir



"Kevy" seseorang memanggilku.


Aku mendengarnya, tapi tidak tahu siapa.


"Kevy" suara itu memanggil kembali.


Entah, mengapa aku tidak dapat menggerakkan tubuhku. Aku harus mencari sumber suara itu.


"Kevy?" Suara itu terdengar lebih dekat. Dan juga suara itu familiar.


"Waaaaa!" aku langsung terbangun dari sofa. "Ehhh?"


Kenko kebingungan denganku. Ia sedari tadi menunggu ku bangun entah dari kapan. Begitu juga dengan beberapa temanku di belakang Kenko.


"Wew, serius?" Akuta terkejut melihat ku bangun.


"Eh, dimana kita?" aku mengusap-usap kepalaku.


"Markas Black Cafe, Kevy" ucap Wax di belakangku.


"Ouh iya. Bagaimana bisa aku tertidur?" pinta ku.


Semua orang saling menatap satu sama lain. Lalu Akuta menghampiri ku. "Kevy, apa kau percaya kalau kau sudah tertidur selama seminggu?"


"M . . . mustahil" aku tidak yakin.


Lalu Kenko menunjukkan tanggal hari ini. Ternyata benar, sudah seminggu semenjak kejadian itu.


"Seingat ku, aku masih di helikopter saat itu" aku kembali mengingat-ingat.


"Mau tau bagaimana kau bisa tertidur?" pinta Akuta.


"Hmm?" gumam ku.


...[Seminggu yang lalu]...


Aku sedang dalam perjalanan menuju markas Black Cafe. Tapi kondisiku saat ini memang sedang tidak sehat. Akuta menghampiri ku dan duduk disebelah.


"Kau tidak apa-apa Kevy? muka mu terlihat pucat begitu" cemas Akuta.


"Tidak, aku tidak apa-apa."


Tiba-tiba perasaanku mendadak menjadi tidak enak. "Uhuk-uhuk" aku batuk ditutup dengan mulutku. "A . . .a . . .a."


Aku melihat darah di telapak tanganku. Penyakit ku mulai kambuh kembali.


"Kevy! kamu kenapa?" Akuta mengenggam lenganku.


Seketika aku menjadi pusat perhatian oleh teman-temanku.


"Ha . . . ha . . . aku . . . ."


Lalu datang lagi perasaan yang memusingkan. Perlahan darah mengucur dari hidungku.


"Kevy! ada apa denganmu?" Kenko memegang wajahku.


"Ti . . . dak . . . !" Aku melepaskan diri dari Kenko dan Akuta.


Aku berdiri dengan badan lemas. "A . . . .aku . . . .tidak apa-apa. Aku . . . . baik-baik . . . .saj--"


...[BRUGGGG]...


Sebelum kalimat itu berakhir, aku sudah tidak sadarkan diri. Aku berfikir kalau aku akan meninggal setelah itu.


Sesampainya di markas besar Black Cafe. Aku dan Jetsu dibawa ke ruangan yang berbeda. Kenko dan Akuta meletakkan ku di sofa ruang tamu. Sedangkan Jetsu dibawa oleh Wax dan Mako untuk urusan lain.


...[Seminggu kemudian]...


"Ternyata begitu. Kalian sudah melihat penyakit ku ya?" mau tidak mau, aku harus memberitahunya.


"Sekarang jelaskan. Penyakit apa yang kau derita itu?" tanya Kenko.


"Entah. Aku juga sudah menderitanya semenjak di bawah 7AY saat itu."


"7AY? sudah lama tidak mendengar nama ruangan itu ya?" ucap Reggie di belakangku.


"Eh Reggie? Nelson?" aku baru menyadarinya.


"Yo" sapa mereka berdua.


"Kami sedari tadi sedang bercerita masa-masa asrama kita di sekolah" Orez menjelaskan.


"Ya. Ternyata sudah lama sekali ya? kira-kira 10 tahun yang lalu" Kenzu mengingat-ingat.


"Yah syukurlah kita reuni kembali. Bisa kebetulan begitu ya?" tawa Akuta.


"Tidak Akuta. Ini semua memang sudah ditakdirkan. Buktinya, Kenko kembali bertemu dengan kakaknya" gumam ku.


"Aku baru tahu kalau kakaknya Kenko itu Nelson. Teman sekelas kita sendiri" Orez baru menyadarinya.


"Ya, aku juga terkejut. Bukankah kakak bilang kalau kakak itu menghilang ketika sedang dalam penelitian?" tanya Kenko pada Nelson.


"Maaf. Sebenarnya kami seharusnya dipindahkan ke kota Sanctuary Hills untuk dimanfaatkan di sana. Benar kan Reggie?" sebut Nelson.


"Ya. Aku awalnya juga ingin melarikan diri dari asrama. Sayangnya tidak ada celah buat ku untuk kembali ke kamar. Beruntung juga kalian berempat bisa lolos" Reggie iri.


"Hahahaha. Itu juga permintaan Bu Kiera yang menyuruh kami untuk meninggalkan tempat ini" Akuta menjelaskan.


"Wew, aku sampai melupakan itu. Hahahaha" Kenzu tertawa.


"Haha, ada-ada saja" aku ikut tertawa.


Kemudian aku merasa seperti ada yang kekurangan dari kami. "Hei, apa kalian melihat Kyo dan Yue?" pinta ku.


"Mereka? sudah pindah negara dari seminggu yang lalu" Yuusha memberitahu.


"Hah?! mengapa?" kaget ku.


"Selama seminggu kau tertidur, banyak kejadian terjadi" Mako berdiri untuk menyalakan televisi.


Aku melihat berita yang sedang terjadi di televisi. Betapa terkejutnya aku setelah melihat apa yang terjadi saat ini di negara Mechroid.


"I . . . ini siaran langsung?" aku menutup mulutku.


Wax mengangguk. "Bingo."


Aku melihat berita yang hampir semua isinya adalah, Lazarus Apocalypse yang sudah menghancurkan banyak kota. Dari kota Agress, Geats, Sedecy, Urcy, Xylencer, Redenier, Greed, Astroid, dan masih banyak lagi. Semua kota itu sudah diratakan oleh ledakan besar untuk memusnahkan satu kota.


Untuk para warga sipil yang masih selamat, mereka dipindahkan ke negara atau pulau lain untuk sementara. Begitu juga dengan semua member dari Black Cafe yang sudah meninggalkan gedung.


Sekarang aku berada di kota Extrobile barat kalau tidak salah. Dimana markas Black Cafe masih utuh disini.


"Intinya Kyo dan Yue menitipkan ini" Mako memberikan dua kristal kepadaku.


Aku mengambilnya sembari memandangi kristal itu. Kemudian menggenggamnya erat erat. "Kalau begitu, dimana Robin?"


"Tuh, sedang bersandar di kaca" Akuta menunjuk ke Robin.


Aku melihat Robin yang sedang melihat pemandangan kota di kaca besar. Kemudian aku merasa masih ada yang kurang.


"Kalau begitu, dimana Bryan?" tanya ku kembali.


"Dia sedang merokok di balkon" jawab Orez.


...[KREEEEKKK]...


Aku membuka pintu balkon. Bryan memang sedang merokok di luar sini. Cuaca sedang hujan deras di siang hari ini. Awan gelap dan mendung, masih diterangi dengan pantulan neon di sekitar bangunan sini.


"Bryan" sapa ku.


"Hmm? kau sudah sadar?" ia menoleh ke belakang.


Aku menghampirinya dan berdiri di sebelahnya sembari bersandar di pagar balkon. Kami tidak kehujanan karena balkon ini ditutupi dengan terpal.


"Kesan mu sejauh ini?" tanya ku.


"Entahlah, kawan. Aku sedang meratapi kekecewaan ku sejauh ini."


"Hmm?" aku terkejut, "apa kau barusan menyebutku kawan?"


"Kenapa memangnya? kalau tidak mau yasu--"


"Tidak tidak. Bukan begitu. Maksudku, keren saja kau memanggilku sebagai kawan, hufff" aku menghela nafas. "Padahal dulu, kupikir kalau kita ini akan menjadi rival abadi."


"Kalau si Kors biadab itu tidak membocorkan rahasianya, dalam pertarungan ini, aku mungkin akan berada di pihaknya sampai sekarang. Untung saja pikiran positif ku melintas di otak."


"Syukurlah kau menyadarinya. Aku juga memang tidak mau kalau kita ini saling bertarung. Terasa ilegal saja untuk melawan polisi" canda ku.


"Haha, aku bukan polisi lagi. Aku telah melanggar keinginan kakekku. Kristal ini malah ku jadikan bahan kriminal" Bryan menunjukkan kristalnya.


Aku belum pernah melihat sifat Bryan yang lembut ini. Meski pernah, itu juga hanya lelucon dibalik kriminalitas nya.


"Maka itu . . . ."


...[TAPPPPPP]...


Ia menggenggam tanganku. Lalu memberikan kristalnya ke telapak tanganku. "Kau mesti mengerti apa maksudku."


Aku terkejut dengan tindakannya. Tidak ku sangka kalau dia akan memberikan kristalnya kepadaku. "B . . .Bryan . . ."


"Lagipula, rongsokan itu juga sudah datang."


"Ehh?"


...[BUMMMM BUMMM BUMMMM]...


Terdengar suara langkah kaki besar dari kejauhan. Dan terasa juga getaran kecil di lantai sampai membuat ku reflek menoleh ke arah suara langkah itu terdengar.


"Lebih baik kita masuk ke dalam terlebih dahulu" Bryan menarik ku.


"O . . . oke" aku ikut dengan Bryan ke dalam.


Bryan membuang rokoknya dan menginjaknya.


...[KREEEEKKK]...


Kami berdua sudah kembali ke dalam. Semua orang sudah berkumpul di meja bundar dekat sofa. Mereka hanya tinggal menungguku untuk merencanakan kedepannya.


"Eh teman-teman?" aku terkejut karena mereka semua meletakkan kristalnya di meja.


Bryan sudah duduk di sebelah Robin sembari menunggu apa yang akan ku rencanakan.


"I . . . ini . . ." aku memandang teman-temanku.


Akuta mengangkat tangannya untuk mempersilahkan aku berbicara. Aku mengangguk sedikit sebagai merespon. Lalu mendekat ke meja untuk mulai berbicara.


"Kalau begini, kalian sudah tahu kan siapa aku?" aku memulai pembicaraan.


Beberapa dari temanku mengangguk.


"Ya itu benar. Aku adalah pahlawan utusan dewa untuk mengakhiri semua ini."


Wax mengangkat tangan, "aku baru tahu kalau Cryptide itu ada sangkut-pautnya dengan dewa."


"Sebelum aku menuju ke tempat kalian berperang, apa kalian ingat dengan buku ini?" aku menunjukkan buku sejarah Cryptide yang paling sesungguhnya.


"B . . . buku itu!" teman-teman baru mengingatnya kembali.


"Ya, silahkan saja baca ini" aku melempar buku itu ke meja.


Yuusha dan Akuta langsung membaca buku itu.


"Tidak ku sangka juga, kalau ini adalah nyatanya."


...[BUMMMMM BUMMMMM]...


Getaran kembali terjadi. Kurasa, ia semakin dekat kemari.


"Baiklah, perbolehkan aku mengambil kristal ini" aku mengambil semua kristal yang mereka letakkan di meja.


"Lalu, apa yang akan kau lakukan?" tanya Robin.


Aku tersenyum, "menyelamatkan dunia!"


Lalu aku pergi ke balkon dan meninggalkan mereka sebentar. Karena tiba-tiba ada perasaan yang mengganjal di pikiranku. "Tunggu sebentar teman-teman. Aku akan kembali."


...[KREEEEKKK]...


Kenko menyadari apa yang tiba-tiba membuat ku meninggalkan mereka. "Hei, Kevy tunggu!" Kenko mengejar ku sampai ke balkon.


Aku berlari sampai ke tepi pagar balkon. Aku berteriak dan tertawa sepuas mungkin. Entah apa yang kurasakan saat ini, aku merasa energetik. Bukan karena kristal atau apa, tetapi dari perasaanku sendiri.


"Kevy! ada apa denganmu?" Kenko membalikkan badan ku. "Eh?"


Ia dibuat terkejut setelah melihatku yang mengeluarkan air mata.


"Hah? ada apa Kenko?"


"K . . . . kenapa kamu?" ia memegang pipiku dan mengelap air mataku.


"Aku? tidak kenapa-kenapa kok. AKU SEDANG MERASAKAN KEBAHAGIAAN SAAT INI!" ucap ku.


"Kenapa kau berpikir begitu sampai mengeluarkan air mata?" heran Kenko.


"Entahlah Kenko. Aku tidak menyangka kalau perjalan ku selama ini, ternyata tercapai semua! semua!" ucap ku.


"Misalnya?"


"Dari seorang kriminal menjadi pahlawan! lalu memiliki dan bertemu banyak teman baru, musuh, dan . . . . orang yang sangat kucintai" aku mengelap air mataku.


Kenko merasa terharu dan tersentuh dengan apa yang ku ucapkan. Ia kembali mengingat-ingat dengan perjuanganku selama ini sampai di momen ini.


"Aku . . . . mencintai mu, Kenko!" aku kembali menyatakan perasaanku selama ini.


"Aku juga mencintaimu, Kevy!" Kenko semakin tersentuh.


"Jika semua ini berakhir, aku ingin menikahimu Kenko" janji ku.


"Pasti Kevy! aku sangat amat menantikannya" ia menarik pipiku.


Lalu kami berdua kembali berciuman dengan tersentuh. Momen ini, adalah momen paling spesial diantara yang lain.


Aku sangat senang, menjadi pahlawan.