
"Na! Tolong anterin soto ayam nya ke rumah Nara!" pinta mamanya Reyna agak berteriak dari arah dapur.
"Iya ma," jawab Reyna yang segera bergegas pergi dari ruang keluarga menghampiri sang mama.
Reyna pun menerima soto ayam yang sudah mamanya siapkan, lalu dia pun mengajak sang adik untuk menemaninya, namun permintaannya itu ditolak. Akhirnya dia pun segera berpamitan dan bergegas pergi.
Sementara itu di rumah Nara, dia tengah berada di ruang tamu bersama teman kelompoknya, Valisha, Alan, dan Ivanka.
"Soal fisika yang nomer 3 susah banget Le, aku bingung," ucap Valisha sambil menatap layar handphone nya frustasi.
"Aku udah ngirim ke kamu kan cara penyelesaiannya tadi sore?" ucap seseorang di seberang sana.
"Udah, tapi aku tetep susah pahaminnya, walaupun kamu udah buat sesederhana mungkin," ucapanya mengaduh kepada orang tersebut, Leo.
"Elah Lis, Lis, kalau nggak ada bakat ngitung sih ya, kek lu gini. Terus bisa nggak usah terlalu kentara nggak ege nya? Dikit aja?," cibir Nara yang duduk di sebelah kanan Valisha.
Sejak mengetahui jika Valisha berpacaran dengan sohibnya, Leo. Dia selalu berbicara santai dengan Valisha, bahkan dia tidak segan-segan untuk mengutarakan apa yang ada di dalam pikirannya secara langsung. Dia juga tidak menjaga cara berbicaranya seperti sebelumnya, karena menurutnya buat apa dia harus bersikap baik dan menahan diri untuk terus melakukannya kepada pacar sahabatnya, toh nya si Leo santuy santuy aja orangnya.
"Le, liat tuh sohib kamu, masa dia ngatain aku bego sih," adu Valisha kepadanya.
"Howek!" Alan dan Nara melakukan hal yang sama secara bersamaan.
"Jijay banget sih lu, Lis. Heran gua!" sahut Alan.
"Bilang aja lu iri, iya kan?" ujar Valisha.
"Ngapain iri, orang lu pacarannya sama si Leo, lagian gua normal si, masih suka cewek."
"Lan, lu nggak boleh gitu sama cewek gua. Lu kalau mau muntah itu, waktu Nara ketemu sama ceweknya aja kali, itu baru cocok," sahut Leo.
"Oi kampret! Lu diem aja bisa nggak sih?! Ngeganggu orang lagi belajar tau nggak, bucinnya nanti di rumah aja deh, Lis buruan matiin, lagian gua nggak punya pacar," ucapnya kesal sambil memerintah.
"Ye, bilang aja lu ngiri," ucap Valisha dan Leo bersamaan.
Nara hanya memutar bola matanya jengah. Jujur saja dia muak dengan kedua orang ini, kenapa? Karena tingkat kebucinanya sama persis, bahkan menurutnya terlalu lebay.
"Yaudah deh Lis, kita udahan dulu ya VC nya, kasian tuh sama orang yang nggak pernah dipekain, dan baru-baru aja ngungkapin perasaannya."
"Iya Le, kasian banget ya."
Benar bukan adanya keinginannya?, mereka bahkan bisa kompak untuk mengejek Nara.
"Bye babe!" ucap Leo dari seberang sana.
"Bye babe!"
"Cih! Dasar bucin!" Gumamnya kesal.
Sepekan telah berlalu semenjak kejadian tersebut, dan seluruh teman dekat mereka sudah mengetahuinya.
...----------------...
"Harusnya tadi gua naik motor sih nganterinnya, atau nggak minta tolong dianterin papa," ucap Reyna sambil berjalan kaki.
"Lagian si papa nggak peka banget ih, tawarin kek buat dianterin masa harus minta tolong langsung sih? Heran dah gua, kenapa bisa nyokap mau nikah sama orang yang nggak peka kek bokap."
Dia berjalan santai sambil memikirkan jawaban mengapa nyokap nya mau menikah dengan sang papa yang super tidak peka, dan tanpa terasa dia sudah tiba di depan gerbang rumah Nara. Dia pun masuk ke halaman rumah.
"Assalamualaikum," ucapnya saat memasuki rumah.
"Waalaikumsalam," jawab mereka kompak.
"Nar, nih soto ayam dari mama," ucapnya sambil mengangkat soto ayam tersebut.
"Sampein rasa terimakasih gua ke mama," ucap Nara.
"Okay deh."
"Lu langsung taro aja di dalam, terus tempatnya lu ganti dan cuci sendiri aja. Soalnya gua lagi ngerjain tugas kelompok," menunjukkan soal yang sedang dikerjakannya.
Reyna menatapnya datar, dan langsung bergegas pergi dari sana tanpa sepatah kata pun.
"Aduh! Dia marah nggak ya sama gua?" batinnya bingung.
Pasalnya semenjak dia sudah berterus terang kepada Reyna, dia selalu merasa sensitif tiap kali sikap Reyna, maupun raut wajahnya berubah. Entah kenapa di selalu berpikiran jika dia sudah melakukan kesalahan, padahal nyatanya tidak.
Akhirnya dia pun beranjak dan berjalan menuju dapur meninggalkan teman-temannya.
"Maklumi ya Van, dua psikopat lagi mau meeting," sahut Alan ketika melihat wajah bingung Ivanka karena Nara tiba-tiba pergi begitu saja. Ivanka hanya mengangguk menanggapinya.
Di dapur
"Na! Lu nggak marah kan?" tanya Nara ketika tiba di sana.
"Nggak tuh, kenapa?" jawabnya diikuti pertanyaan lain dengan bingung.
"Haaa... Syukur deh. Gua kira lu marah, soalnya main cabut gitu aja," ucapnya santai, lalu duduk di kursi yang ada di meja makan.
"Apaan sih! Lu kan udah tau gua orangnya kek gimana, masih aja nggak paham-paham, heran gua."
"Gua kan manusia Na, bukan Tuhan yang tau isi hati semua hambanya."
"Setuju sih, bahkan gua juga nggak tau isi pikiran dan isi hati nyokap gua waktu dilamar bokap," ucap Reyna sambil berjalan ke arah tempat cuci piring, setelah sebelumnya mengganti tempat soto ayam tersebut.
"Emang kenapa Na?"
"Terus lu nggak kepikiran gitu, kenapa gua bisa suka sama orang yang nggak peka kek lu?" tanyanya sambil menekan kata "nggak peka" dalam pertanyaannya.
"Nggak lah ngapain, udah pasti lu suka sama gua karena pesona gualah, ngapain coba gua fikirin pertanyaan yang jawabannya udah jelas" jawab Reyna penuh percaya diri, "gua koreksi pertanyan lu, gua itu peka yah bahkan peka banget, nggak kayak bokap gua."
"Na!"
"Apaan?"
"Lu itu selain nggak peka, nggak tau diri juga ya."
Reyna berbalik ke arahnya dan melihat senyuman menyebalkan Nara, ingin rasanya melayangkan mangkok yang ada di tangannya ke kepala Nara. Tapi dia urungkan.
"Kenapa? Nggak terima? Udah sih terima aja, toh itu faktanya," jawab Nara sambil tersenyum. Reyna hanya bisa mendengus kesal.
Kemudian Nara bergegas kembali ke ruang tamu, sedangkan Reyna memilih untuk membilas tempat soto nya yang baru selesai disabuni.
...----------------...
Keesokan harinya di kantin sekolah, Reyna, Nara dan para teman-temannya sedang asik ngobrol sambil menyantap makanan mereka.
"Na! Ntar pulang sekolah bareng gua aja biar hemat dan nggak ngerepotin bokap lu," ajak Nara yang duduk di hadapan Reyna. Mereka duduk di posisi paling kiri, karena Lia dan kawan-kawan sudah jengah mendengar obrolan keduanya.
"Nggak mau!" tolak Reyna.
"Lah? Kenapa?"
"Gua nggak mau ngedorong motor bareng lu lagi gegara kehabisan bensin."
"Nah! justru karena dan oleh sebab itu, karena kita ngedorong motor bareng, kan jadinya dapat momen baru gitu, bener nggak?"
"Ya nggak lah, gilak lu. Capek-capek habis mikir keras di sekolah, masa pulangnya ngedorong motor."
"Biar olahraga kali Na, lu kan jarang olahraga," jawabnya santai.
"Isi pikiran lu apaan si Nar?"
"Elu," jawabnya enteng.
Reyna memutar bola matanya jengah, sedangkan orang-orang yang duduk di meja yang sama dengan mereka mengnganga mendengarnya, karena semakin hari kelakuan Nara semakin menjadi-jadi, bahkan Reyna juga melakukan hal yang sama ketika sedang sefrekuensi dengan Nara.
"Nggak usah lebay deh."
"Gua nggak lebay, gua cuman mau bilang soalnya lu kan nggak pekaan orangnya," ujarnya sambil tersenyum manis.
"Udah deh Nar, ngapain sih diungkit-ungkit mulu? Nggak capek apa?"
"Kalau sesuatu yang berhubungan sama lu sih, nggak bakalan bikin gua capek lah, apalagi bosen."
"Nara, stop deh! Gua udah eneg dengarnya."
"Syukur lu baru eneg, gua udah mau muntah sih ini, 1 gombalan lagi nih, baru dah keluar."
Reyna hanya bisa geleng-geleng kepala, sedangkan teman-teman mereka hanya menatap jengah pada keduanya.
"Nar."
"Hm" jawabnya sambil menyendok nasi goreng di hadapannya.
"Ntar malam mau nonton nggak?" mengaduk es teh miliknya.
"Boleh. Nonton apaan emangnya?"
"Nonton film lah."
"Iya tau, judul filmnya apa?"
"Kau selalu ada di dalam hatiku dan kehidupan ku, meskipun dunia menolak."
Nara berfikir sejenak, sedangkan para teman-teman mereka hanya mengabaikan nya saja. Mereka sudah benar-benar bosan, lelah, dan ingin pergi jauh dari keduanya ketika sedang kumat seperti sekarang ini.
"Emang ada ya judul film kek gitu? Kok gua baru denger?" tanyanya dengan wajah bingung, kemudian dia beralih menatap para teman-temannya, "kalian pernah denger nggak?"
"Reyna lagi gombalin lu kali," jawab Rai santuy dengan wajah datar.
"Tau nih, nggak peka amat," sahut Valisha.
"Biasalah, karena sering barengan jadinya penyakit nggak pekanya nular," tambah Alan dan Lia bersamaan.
"Ah! Sorry gua tadi beneran anggap serius, hehehe...."
"Nyesel gua ngebalesnya," ujarnya kesal.
"Maaf Na, lagian lu ngegombal nggak ngasih aba-aba dulu sih."
"Lu kira mau lari apa make aba-aba? Gila lu."
"Hooh, gua mau lari kok. Lari menuju garis finish yang ada di hati lu," gombalnya.
"Hoek!" keduanya langsung bertindak seperti ingin muntah secara bersamaan, bahkan mereka sama-sama bergidik ngeri. Lagi, para teman-temannya kembali jengah dengan tingkah keduanya.
...----------------...