
Author POV
Reyna masih bingung dengan tingkah Nara, dia sangat ramah kepada para teman-temannya, sedangkan sangat dingin dan cuek kepada dirinya. Dia selalu bertanya-tanya apa yang sudah dia lakukan sehingga membuat Nara bersikap seperti itu kepadanya. Jujur saja, dia sangat tidak nyaman dipelakukan seperti itu oleh Nara. Dia merasa seperti ada kekosongan di dalam hatinya. Padahal mereka pernah tidak bertegur sapa dan berkomunikasi dalam kurun waktu yang lebih lama dari sekarang.
Dia merasa sedih ketika semalam Nara tidak memaksanya untuk ikut pulang bersamanya. Padahal biasanya Nara akan memaksanya untuk melakukan hal tersebut. Sepekan lalu, dia berusaha ingin menghubunginya, tetapi dia takut jika dia akan membuat Nara semakin marah apalagi merasa terganggu karenanya.
βNar, please kasih tau salah gue dimana, gue nggak paham kalau lu nggak ngomong."
"Apa gua tanya Alan aja ya?" Reyna terlihat berfikir selama beberapa saat.
"Nggak mau."
"Kalau gue nelfon si Lia, diangkat nggak ya?" tanyanya sambil mondar mandir di kamarnya.
"Hmmm... Gue coba aja kali ya?"
Akhirnya dia mencari nomer Lia dan langsung menelponnya.
Hm
"Lah, lu udah tidur?"
Menurut lu?
"Ini kan baru jam--"
Reyna menghentikan ucapannya sesaat setelah dia melihat jam dinding di kamarnya.
Apa? Lu mau bilang baru jam 9? Hm?
"Sorry, gue kira belum malem banget."
Serah! Gue mau tidur, bye.
Tut... Tut...
Lia memutuskan sambung telfon di seberang sana.
Reyna kembali melirik jam dinding di kamarnya, waktu sudah menunjukkan pukul 00.30. Padahal dia mengira sekarang masih jam 20.30, dan merasa jika dirinya tidur hanya sebentar saja.
"Aduh! Gue harus ngapain nih? Nggak ngantuk."
"Gue tidur nggak ingat dunia deh, bisa-bisanya gue tidur dari magrib dan baru bangun besokan nya. Kebo banget gila!!!" serunya kesal.
Dia kembali merebahkan dirinya di kasur, lalu mengubah posisinya menjadi tengkurap. Dia membuka SW setiap kontak yang ada di handphonenya.
Tak berapa lama kemudian, sebuah story masuk ke handphone miliknya. Tanpa ragu diapun membuka isi story tersebut
"Si Nara tumben ngirim beginian, dia kenapa dah, kek bukan dia aja," komen Reyna pada story pertama. Dia pun kembali menekan story selanjutnya.
"Ehh, kok dia jadi melankolis gini si?" tanyanya heran pada dirinya sendiri.
"Si Nara kesambet apaan dah? Apa dia lagi ngode cewek yang pernah nolak dia ya?"
"Hmm... Pokoknya semangat Nar," ucapnya sambil mengangkat lengan sebelah kanannya.
Lalu dia pun beralih ke story yang terakhir.
"Siapa sih nih cewek? Bisa-bisanya dia bikin sohib gue melow kek gini. Pokoknya besok gue harus balikin mood nya sih Nara, sebagai sahabat masa kecil," ucap Reyna penuh tekad dan percaya diri.
Sementara itu di sisi lainnya, Nara tengah diam dan menatap jijik story yang baru saja dia kirim.
"Asli! Gue jijik banget, gilaaakkk! Bukan gue banget," serunya dengan sedikit berteriak.
"Kenapa jadi lebay gini sih? Asli bukan gue banget."
Diapun hendak menghapus story tersebut, tetapi dia urungkan sejenak untuk melihat siapa saja yang sudah melihatnya.
Di sana dia melihat Reyna adalah orang pertama yang melihatnya. Dia hanya menatap diam di nama Reyna dan tidak melihat nama-nama setelahnya.
"Pasti besok dia bakalan ngejekin gue deh," ucapnya sambil menghembuskan nafas pelan.
...----------------...
Keesokan harinya dia menjadi bahan ejekan orang-orang yang sudah melihat SW nya semalam.
Begitu dia masuk ke dalam kelas, Lia, Alan, dan Rai menatapnya geli. Seolah-olah dia sudah melakukan sesuatu yang aneh. Diapun berjalan menuju bangkunya dengan wajah kusut, bahkan Ivanka sempat mengejeknya.
Nara membanting tasnya ke atas meja begitu saja, dia berdiri dan mentap dua orang di samping kanan dan kirinya dengan kesal secara bergantian. Kemudian dia menatap orang di hadapannya, dengan raut yang lebih kesal lagi, karena dia terlihat seperti akan tertawa terbahak-bahak saat ini.
"Naraaaa!" Teriak Reyna yang baru saja memasuki kelas dengan ngos-ngosan.
Nara yang melihat hal tersebut malah menaikkan sebelah keningnya.
"Lu kenapa lagi sih? Mau ikutan ngejek juga?" tanya nya dalam hati.
Reyna pun berjalan mendekat ke arahnya, lalu menyerahkan kantongan berisi permen, snack, dan minuman favorit Nara. Dan dengan otomatis Nara menerima pemberian Reyna begitu saja.
Reyna menatap nya dengan mata berapi-api, yang mana hal ini malah membuat Nara lebih bertanya-tanya lagi.
Tuk!
Reyna meletakkan kedua tangannya di bahu Nara, dia mengambil nafas dalam lalu menghembuskannya pelan, dan hal ini dia lakukan sebanyak tiga kali.
Dia kembali menatap Nara dengan tatapan yang berapi-api.
"Semangat Nar!" ucapnya penuh semangat sambil berpose memberi semangat dengan mengangkat tangan kanannya. Dan hal ini membuatnya menjadi pusat perhatian di dalam kelas.
Nara menatapnya bingung. Reyna yang menyadarinya kembali melanjutkan kalimatnya.
"Semangat! Gue yakin perasaan tersirat dan tersurat lu pasti udah dipahami sama cewek yang udah pernah nolak lu itu, gue yakin. Jadi, semangat Nar, lu pasti bisa naklukin dia, semangat!!!" ucapnya penuh semangat dan dengan rasa percaya diri yang tinggi. Dia juga sempat menepuk-nepuk pundak Nara.
Bukannya senang dan berterimakasih Nara malah diam, seolah-olah menjadi patung. Jika dia berada di dalam sebuah komik, karakternya mungkin akan digambarkan seperti batu dengan tanda retak.
Lia, Alan dan Rai yang mendengar hal tersebut spontan tertawa terbahak-bahak.
"Hahaha... Udah gue duga," ucap Alan sambil memukul-mukul meja.
Reyna bingung dengan kelakuan ketiga orang tersebut, belum lagi wajah Nara tidak menunjukkan reaksi senang atas ucapannya.
"Kalian kenapa sih? Emang ada yang lucu ya?" tanyanya polos.
Mereka tidak menjawabnya dan hanya fokus tertawa.
Reyna pun beralih menatap Nara yang masih diam menatap dirinya, "mereka kenapa sih?"
Nara menghembuskan nafasnya kasar, dan langsung duduk ke bangkunya.
"Thanks," ucapnya.
"Okay, tapi mereka kenapa?"
"Lagi gila."
"Ihh, gue serius Nar."
"Jangan terlalu serius entar hati lu sakit kek gue," ucapnya santai. Dan malah membuat tawa ketiganya semakin lebih parah dari sebelumnya. Sedangkan para sahabat Lia dan Reyna hanya diam dan geleng-geleng kepala.
Reyna yang masih bingung kembali bertanya, "maksudnya gimana deh? Gue nggak dapet."
Bukannya menjawab, Nara malah mengacak-acak rambutnya dan memilih untuk membaringkan kepalanya ke atas meja.
"Na, lu duduk gih!" pintah Lia yang sudah mulai berhenti tertawa dan langsung dituruti perintahnya oleh Reyna.
Reyna kembali berbalik ke belakang setelah duduk di bangkunya dan menatap Nara.
"Nar, ntar pulang sekolah jajan cilok depan sekolah yuk, gue yang traktir, gimana?" tawar nya yang bermaksud untuk menghibur sahabatnya itu.
Nara mengangkat kepalanya dan menatap Reyna, "lu ngehibur gue sebagai apa?" tanyanya dengan malas.
"Hmmm... Teman masa kecil," jawab Reyna polos.
"Nggak, makasih!" tolaknya dengan nada agak kesal, "Gue skipp kalau sebagai teman masa kecil."
"Yaudah kalau gitu sebagai saudara aja, kek kakak laki-laki dan adik perempuan."
Nara tidak menjawabnya lagi dan malah mengabaikannya. Ketika Reyna hendak membuka suara lagi, Lia malah menutup mulutnya dan berusaha mengalihkan perhatian Reyna.
...----------------...
Mohon saran dan kritiknya semuaππ
Agar saya bisa memperbaiki tulisan saya ini
Terima kasih kepada pembaca yang sudah mampir untuk membaca hasil tulisan saya ππ
πππππππ