Could I Have This Feeling?

Could I Have This Feeling?
51



"Hm... kelas gue MIPA tapi berasa IS" Gumamnya yang tengah menenggelamkan kepalanya di tumpukan kedua tangannya yang terletak di atas meja.


"Ala.... Palingan lu juga suka kelas modelan gini kan?" Celetuk Lia sambil menepuk pundak Reyna.


Kemudian Reyna mengangkat kepalanya dan menatap Lia, dan terlihat sebuah cengiran darinya.


"Tau aja lu"


"Ya iyalah... Lu mah gitu. Na kita udah mau 3 bulan aja nih di SMA"


"Hm"


"BTW si Nara lanjut dimana?"


Mendengar pertanyaan dari Lia membuat mood Reyna yang tadinya baik-baik saja, sekarang menurun drastis. Dia memilih kembali melakukan aktivitasnya yang tadi dan mengabaikan pertanyaan Lia.


"Eh! Ditanyain juga. Kenapa ngambek si?"


Tak ada satupun jawaban darinya. Lia cukup geram dengan manusia di sebelahnya. Ingin rasanya dia memukul nya dengan sekuat tenaga, tapi dia sadar, Reyna pasti akan membalasnya 2 kali lipat dan itu sudah pernah terjadi beberapa hari lalu.


Saat itu dia sangat kesal karena tidak kebagian nasi goreng favoritnya, sebab warung nasi itu tengah banyak pelanggan. Padahal dia sudah datang lebih awal dan menunggu di sana hampir 30 menit lamanya. Sungguh dia sangat kesal. Jadi dia memutuskan untuk mengunjungi rumah Reyna. Namun sayang, Reyna lagi tidak ada di tempat.


Keesokan harinya dia menghampiri Reyna dan ngomel-ngomel tidak jelas kepadanya yang hanya diacuhkan olehnya. Karena kesal, dia pun memukul lengan Reyna yang sontak membuatnya mendapat balasan serupa dengan muntahan lahar panasnya. Lia yakin sangat beruntung pada saat itu, karena Reyna tengah PMS yang menandakan tingkat sensitif nya meningkat tajam.


"Cih! Dasar sok-sok an nanya" Jawabnya judes.


"Heh! Gue nanya karena nggak tau yah, bukan sok-sokan nanya" Ucapnya kesal.


"Triliana Hanindiyah Wibowo, Gue udah pernah beribu-ribu kali ngomong sama lo"


"Kalau gue itu, suka kesel banget kalau ada yang nanya atau ngebahas soal Nara, paham?"


"Dih! Seribu kali? Lebay lo" Ucapnya keberatan mengenai pernyataan Reyna.


"Never mind!"


"Nara lanjut dimana sih?" Tanya Lia kembali, Reyna hanya bisa menghembuskan nafasnya kasar.


"Jawab aja sih! Buruan!" Pintahnya yang tak bisa diganggu gugat oleh siapapun, termasuk Reyna.


"Iya-iya"


"Intinya, dia lanjut SMA di Semarang. Selebihnya gue nggak tau lagi"


"Okay. Dari tadi kek"


"Kalau Rai? Gimana Na?"


Pertanyaan tersebut sontak membuat Reyna duduk dengan tegak dan langsung mentapa Lia.


"Hedew... Giliran bahas Rai aja modelnya kek gini"


"Lo ngomong apaan tadi?" Tanyanya tak memperdulikan ucapan Lia barusan.


"Kalau Rai gimana Na?"


"Hah? Maksud lo?" Wajahnya yang tadi terlihat antusias berubah menjadi bingung


"Ceelah....Si ogeb. Lo bingung? Apa pura-pura bingung? Atau........." Melirik Reyna sambul tersenyum miring ke arahnya.


Jeda dari ucapan Lia membuat Reyna semakin penasaran.


"Hahaha... Nih anak kalau penasaran mukanya kocak juga. Aduh! Gue nggak sanggup nahan lagi nih" Batin Lia.


Dan benar saja, dia langsung tertawa terbahak-bahak di sebelah Reyna. Reyna yang melihat hal tersebut, semakin bingung dibuatnya. Ketika menengok ke arah Reyna, Lia melihat tablo Reyna yang pertama kali dalam seumur hidupnya baru dia lihat.


"Ekhem" Lia berdehem untuk mencairkan suasana dan kembali menahan tawanya lagi.


"Maksud gue itu...." Ucapnya menggantung


Reyna yang sudah lelah karena sedari tadi menunggu, memilih untuk beranjak dari tempat duduknya.


"Yeeee... Sabar dong" Ucapnya lalu menarik tangan Reyna, sehingga ia kembali duduk di bangkunya.


"Lo masih naksir sama Rai?" Tanya dengan raut muka yang berubah serius. Spontan Reyna langsung menganggukkan kepalanya.


"Mau sampai kapan?" Tanya sambil menyeder ke kepala kursinya dan menatap lurus ke papan tulis.


"Hmm... Nggak tau juga sih"


"Terus temen lu tau?"


"Tasya maksud lo?"


Jawaban atas pertanyaan Reyna hanya mendapatkan anggukan dari Lia.


"Belum sih"


"Kenapa nggak ngasih tau dia?" Tatapannya beralih ke arah Reyna dengan raut muka yang serius.


"Haaa... Nggak yakin gue" Jawab Reyna sambil tersenyum tipis ke arah Lia.


"Hedew... Jadi lu mau sembunyin terus hal ini dari temen lo itu?"


"Kalau bisa gue lakuin yah, gue bakalan lakuin. Pertemanan gue lebih penting dari pada urusan beginian" Jawabnya santai tanpa beban.


"Tapi, gue yakin sih"


"Kalau lo itu masih nyangkal perasaan lo ke dia kan, Na?"


"Hm... Lo bener, gue selalu nyangkal. Walaupun gue sadar sama perasaan gue"


"Terus, kenpa lo ngaku sama gue?"


"Percuma gue bohong sama lo, lo pasti nggak percaya juga sama gue. Gue tau isi otak lo itu"


"Pinter! Btw, lu kemarin nonton pertandingannya si Rai kan?"


"Lo ngomong apaan sih? Nggak usah ngaco deh" Sanggahnya sambil mengalihkan pandangannya dari tatapan mata Lia yang mengintimidasi.


"Ngaku nggak loh?"


"Gue kemarin cuman rebahan sambil nonton anime doang" Ucapnya masih tidak ingin menatap mata Lia.


"Nggak usah bohong lo"


"Kemarin gue nemenin pacar gue ngeliat pertandingan bela diri, dan gue liat lo nonton di barisan paling depan"


Reyna terdiam mendengar perkataan Lia dan mencoba untuk mengelak.


"Ha..ha... Ngawur lo" Sanggahnya dengan tawa yang terdengar cukup canggung.


"Salah liat kali lo, kan orang yang nonton pasti banyak" Tambahnya.


Mendengar hal tersebut Lia hanya bisa menghembuskan nafasnya kasar. Kemudian ia segera berdiri dari bangkunya, dan segera menarik Reyna keluar dari kelas dengan sekuat tenaganya.


"Hedew... Pasti dia mau ngintrogasi gue di tempat yang sepi. Entah kenapa, gue berharap si Ballmoon segera muncul sekarang."


"Ikhlas dah gua jadi obat nyamuk mereka. Pasti dapat makanan juga, kan mayan" Batin Reyna sepanjang perjalanan.


"Lia" Seru seseorang dari arah depan mereka ketika mereka hendak berbelok ke arah tangga. Tak lupa orang itu juga melambaikan tangannya dan segera mendapatkan anggukan dari Lia. Yang Reyna ketahui, dia adalah Reno, teman SMP nya dulu.


"Kampret, kenapa malah si buaya yang nongol sih? Haduh..." Batinnya


Reyna tak habis pikir dengan jalan pikiran Lia. Pasalnya Lia yang tadinya ingin berbelok ke arah tangga, sekarang malah pergi ke arah Reno yang tengah duduk santai di bawah pohon bersama Alan dan satu temannya, yang sangat Reyna kenali. Sebab orang itu selalu menguasai isi kepala Reyna.


Setibanya di sana Reyna membeku, sedangkan Lia malah menyapa ketiga orang itu sambil tersenyum malu.


Jeng! Jeng!


Sesuai dengan perkiraannya, orang itu adalah Rai. "Hm... Betapa sialnya gue. Mood yang tadinya lagi bagus, malah rusak gegara pembahasan soal si Nara. Terus habis itu, diciduk Lia waktu nonton pertandingan bela diri kemarin. Sekarang, orang yang selalu ngisi setiap sudut pikiran dan hati gue ada di depan mata. Dan lebih sialnya lagi, jantung gue berdetak dua kali lebih cepat" Batinnya.


"Lo kenapa Na? Dari tadi diam mulu" Tanya Alan dengan kebingungan.


"Nah, bener lo Lan. Biasanya nih anak suka ribut kalau ketemu kita. Lo kenapa sih? Ada masalah?" Tambah Reno yang tak kalah penasarannya dengan Alan.


"E-enggak papa kok" Jawab Reyna gagu sambil menampilkan senyuman yang terlihat seperti di paksakan.


"Kalian gimana sih, teman berantemnya si Adri kan udah nggak tinggal di sini. Terus si Nara juga pindah. Dia mau ribut sama siapa lagi coba?" Jelas Rai dengan senyuman manis andalannya.


"Iya, nggak Na?" Tanyanya masih dengan senyuman yang sama, tetapi terlihat lebih manis dari sebelumya di mata Reyna.


Reyna hanya mampu mengangguki pertanyaan Rai, dan karena tak sanggup melihat hal tersebut, dia memilih untuk mengalihkan pandangannya.


"Damn it! Kenapa makin menjadi-jadi sih nih jantung?! Padahal waktu SMP nggak gini banget dah. Lu tuh bisa diem nggak sih?! Kalau ada yang denger gimana?" Omelnya pada diri sendiri.


"Dari pada kita ngobrol di sini, mendingan kita ngobrol di kantin aja deh" Saran Rai


"Ooohhhh.... Si Rai makhluk pendiam semasa SMP keknya lebih banyak ngomong nih sekarang" Sindir Lia dengan maksud hanya untuk bercanda.


"Bisa aja lu Li. Gue tuh sebenarnya emang banyak ngomong sih, tapi cuman sama orang tertentu doang" Jelasnya santai.


"Tapi, waktu SMP lu diem total loh. Kecuali sama temen rusuh lo itu"


"Gimana yah ngejelasinnya, waktu SMP gue masih malu kalau berbaur, dan karena gue selalu coba, hasilnya kek sekarang deh"


"Hahaha... Nggak kok Li"


"Btw ini kapan kita ke kantinnya?" Tanya Reyna se-santai mungkin pada akhirnya, guna mengusir kecanggungan dalam dirinya.


"Nah bener kata Reyna. Mau sampe kapan kita di sini? Gue udah lapar" Sahut Alan setuju dengan pertanyaan Reyna.


"Yee~ Lu mah Lan kalau makanan cepet" Cibir Reno dan Lia secara bersamaan. Sedangkan Rai hanya terkikik geli karena hal tersebut. Dan hal itu tak lepas pula dari pengawasan Reyna, diapun tersenyum simpul.


...----------------...


Saat ini mereka tengah menyantap makanan pesanan mereka di kantin sekolah dengan hikmat. Sehingga suasana di antara mereka senyap tanpa suara.


Tring!


Suara notifikasi dari hp Alan memecahkan keheningan tersebut. Alan yang mendengar notifikasi tersebut langsung segera membukanya dan segera mengirimkan balasan pesannya.


"Oh iya, kita kok bisa jadi akrab sih?" Tanya Alan tiba-tiba yang sontak membuat kelima orang di sekitarnya saling bertatapan bingung.


"Maksud gue gini. Kita emang pernah sekelas bareng waktu SMP, tapi kita nggak pernah seakrab ini. Terus kenapa sekarang malah akrab? Dan lagi kita berlima itu beda kelas, gue sekelas bareng Rai sama Reno, sedangkan kalian berdua itu sekelas. Jadi kenapa bisa akrab?" Jelasnya panjang lebar disertai dengan sebuah pertanyaan di akhir kalimatnya.


Terdengar hembusan nafas kasar dari Lia dan Reno. Sedangkan Reyna juga bingung, kenapa dia bisa akrab dengan mereka bertiga, terutama Rai. Padahal, selama SMP mereka berdua sangat jarang berbicara.


"Lo lupa si Rai punya julukan apa waktu kita SMP dulu?" Tanya Reno


"Apalagi coba Lan? Coba lo ingat ke beberapa bulan terakhir, seberapa bar-barnya Reyna dan seberapa bodohnya kita yang ikut saran gilanya?" Tambah Lia.


Alan segera mencari jawaban atas pertanyaan mereka berdua.


"Udahlah... Lan, nggak usah lo ingat-ingat. Yang penting itu kita bisa akrab, soal penyebabnya nggak usah dibahas" Ucap Rai


"Nah, bener tuh Lan. Nggak usah dipikirin, nggak penting juga"


"Nggak penting lo bilang?!" Seru Reno dan Lia bersamaan dengan suara yang lantang sehingga membuat mereka menjadi pusat perhatian.


"Stttttt... Nggak usah teriak-teriak dong"


"Lama lu Lan. Intinya kita temenan bisa sampe akrab itu karena kita telat di hari pertama sekolah, gegara nungguin si Rai" Jelas Reno kesal.


"Dan pada saat itu juga, gue dan Reyna telat gegara dia yang telat jemput gue. Terus dia ngasih saran buat manjat pagar dan dengan begonya kita ngikutin sarannya. Dan pada saat itu juga, kita kepergok pak Juan dan dihukum hormat tiang bendera selama 2 jam pelajaran." Tambah Lia tak kalah kesal.


"Ketiga, kita dikeluarkan dari jam pelajaran sejarah sama bu Wati karena Reyna dan Rai yang ribut gegara masalah soal sebiji doang waktu kelas kita digabungin. Bener nggak?"


"Bener Lan" Jawab Reno dan Lia kompak.


"Jadi, kita temenan karena sering buat masalah yah. Gue jadi ingat Nara"


"Nara ae terus! Merusak mood gue aja lo" Ucap Reyna kesal.


"Sorry Na, tapi gue seriusan. Udah lama kagak liat dia" Belanya.


"Kan bisa VC Alan"


"Nanti aja kapan-kapan" Menyendok nasi gorengnya ke dalam lalu mengunyahnya.


"Hi guys" Sapa tiga orang anak perempuan di belakang mereka.


"Kita boleh gabung nggak?"


"Boleh boleh aja sih" Jawab Reno


"Okay, makasih yah" Ketiga anak perempuan itu segera duduk di bangku yang masih kosong.


"Na, salam dari kak Isra" Ucap salah seorang dari mereka.


"Nggak usah ngarang deh lo. Dia ngomong gitu tapi aslinya nitip salam sama sepupu gue"


"Buset, jangan suudzon Na"


"Gue bukannya suudzon Aruna, tapi ini fakta"


"Ya elah... Tinggal jawab aja kalai salamnya Na. Ribet amat lu" Sahut Ivanka


"Eh bucin! Mendingan lu diem deh, jangan sampe gue jejeli sambel lo!"


"Buset, galak bener. Pantesan nggak ada yang mau sama lu" Ucap Ivanka sambil memeletkan lidahnya.


Sementara itu, satu di antara keempat sahabat Reyna tengah senyum senyum sendiri. Dan semua orang yang melihat hal tersebut merasa kebingungan.


"Lis, lo kenapa sih? Gila yah?" Tanya Lia


"Yeee... Enak aja lo, gue itu lagi berbunga-bunga kali" Jawabnya dengan senyuman mengembang di wajahnya.


"Jangan bilang kalau lo pacaran sama kak Sean?" Tanya Ivanka dengan raut muka yang serius.


"Ahhhh! Lu tau gue banget sih Van" Jawabnya sambil bergelayut manja pada lengan Vanka.


"Hedew... Bucin part tiga ini mah" Gumam Reyna


"Putusin!" Pintah Ivanka tegas


Bukannya membalas, senyuman Valisha malah menjadi semakin lebar dan menggelengkan kepalanya.


"Nggak mau! Lagian dia nggak seburuk itu juga kali. Jadi jangan Suudzon" Belanya.


"Tapi, dia kan playboy Lis!"


"Santai dong" Ucapnya yang bergerak merangkul Ivanka.


"Percaya sama gue, dia itu nggak seburuk yang orang-orang ceritaiin" Ucap Valisha dengan raut wajah yang serius.


"Sekarang bilangnya kek gini, ntar diputusin malah nangis-nangis, terus galau ala-ala drama. Basi tau nggak!" Celetuk Lia yang sedari tadi hanya menyimak.


"Ya ampun, lu bukannya ngedukung gue juga. Ini malah ngatain gue" Cibirnya Kesal, Lia hanya mengacuhkan ucapan Valisha dan kembali fokus ke makananya.


"Una, Rey"


"Hmm..." Sahut Rai dan Reyna bersamaan, keduanya kemudian saling bertatapan dan langsung membuang nafas kasar bersamaan.


"Ah! Sorry, sorry " Ucapnya yang hanya mendapatkan anggukan dari Rai.


"Runa, Na. Kalian ngedukung gue kan?" Tanyanya antusias.


"Kalau bagi Runa sih, selama kamu nyaman, ya Runa dukung aja. Kalau kamu butuh apa-apa, Runa selalu ada 1x24 jam kok" Jawabnya dengan senyuman manisnya.


"Kek warung makan aja lu Run" Celetuk Alan sambil tertawa kecil dan menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Aaaaaaa.... Makasih Runa, lo emang yang terbaik" Ucap Valisha dengan sangat senang tak lupa menampilkan senyumannya.


"Kalau lu gimana Na?" Tanya nya.


"Nggak pusing, nggak peduli dan nggak mau tau, pokoknya nggak"


"Ihh! Lu mah gitu" Ucap Valisha kesal


"Bodoamat! Lagian gue juga nggak kenal orangnya" Ucapnya santai.


"Lo serius?!" Tanya Ivanka dan Valisha bersamaan dengan keterkejutan mereka.


"Hooh"


"Gila! Masa lo nggak tau sih?! Dia itu playboy paling terkenal seantero sekolah" Jelas Ivanka


"Enak aja lo ngatain cowok gue! Nggak Na, itu nggak bener. Cowok gue itu, cowok tertampan seantero sekolah" Sanggah Valisha


Sedangkan Ivanka hanya bisa memutar bola matanya malas dan memilih untuk diam.


"Oh, serah deh gue nggak perduli"


Ting!


Kenan


"Kak, buka blokir kontak Angga di hp lo"


Reyna yang tengah minum sontak langsung tersedak ketika membaca isi pesan dari sepupunya itu.


"Uhuk, uhuk, uhuk"


Lia yang melihat hal tersebut langsung menepuk-nepuk pundak Reyna.


"Thanks" Ucapnya ketika sudah membaik.


Sedangkan semua yang ada di sana menatap bingung ke arahnya. Namun, dia hanya mengabaikannya saja, begitu juga dengan pesan tadi. Dia memilih untuk tidak membalasnya.


...----------------...


Mohon saran dan kritiknya semua🙏😊


Agar saya bisa memperbaiki tulisan saya ini


Terima kasih kepada pembaca yang sudah mampir untuk membaca hasil tulisan saya 🙏😊


💜💜💜💜💜💜💜