Could I Have This Feeling?

Could I Have This Feeling?
89



Nara mengendarai sepeda motornya bersama Reyna menuju ke sebuah taman yang cukup dekat dengan posisi mereka, dan memiliki sebuah danau kecil buatan di sana.


Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 10 menit, mereka pun tiba di sana. Nara lalu mengajak Reyna untuk berjalan menuju ke tempat danau kecil tersebut. Setibanya di sana, Reyna terpukau melihat keindahan danau itu.


"Cantik kan?" tanya Nara.


"Banget! Sejak kapan lu nemu tempat kek gini?" tanyanya tanpa mengalihkan pandangannya dari danau tersebut.


"Baru sekitar sebulan yang lalu?" jawab Nara dan langsung diangguki oleh Reyna.


"Hmmm.... Na" ucap Nara.


"Kenapa Nar?" tanya Reyna.


"Lu berdirinya boleh agak deketan dikit nggak? biar enak gitu ngobrolnya."


"Oh iya, sorry."


Reyna pun berjalan mendekat ke arah Nara. Lalu, keduanya kembali lagi berhasil menciptakan suasana yang sepi dan canggung.


"Jadi..."


Karena mendengar Nara membuka suara, sontak membuat Reyna langsung menatapnya.


"Jadi, kita gimana?" tanya Nara sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal karena malu. Dia yakin jika saat ini wajahnya tengah memerah seperti kepiting rebus, tetapi terimakasih kepada pencahayaan yang minim, sehingga Reyna tidak bisa melihat wajah memerahnya saat ini.


"Kalau lu maunya gimana?" tanya Reyna dengan gerak-gerik yang sama.


"Kalau gua nggak mau pacaran, maunya TTM-an," jawab Nara malu-malu.


"T-tapi bukan berarti gua nggak mau kita pacaran, bukan. Cuman gua, anu... itu... Gua ngerasa lebih nyaman jadi temen dari pada pacar, hehehe..." tambahnya.


Bukh!


Reyna memukul lengan Nara sekuat tenaga, sehingga Nara hanya bisa meringis kesakitan.


"Kalau lu udah nyaman jadi teman, ngapain lu bilang suka ke gua, bego?!" ucapnya kesal, "toh tetap sama aja, tetep temenan."


"Lu mukulnya biasa aja dong," protes Nara.


"Ya beda lah, kan sekarang jadinya lu tau kalau gua suka sama lu. Jadi pasti ---"


"Gua jadi selalu mikirin lu kan?" potong Reyna.


"Nar Nar, gua nggak tau ya apa isi kepala lu," duduk di atas rumput dipinggir danau, "tapi belakangan gua selalu mikirin lu kok, jauh sebelum kita berantem dengan alasan yang gua nggak tau."


"Seriusan lu mikirin gua?" tanyanya dengan mata berbinar sambil duduk bersama Reyna. Reyna menganggukkan kepalanya, yang mana hal ini membuat Nara sangat senang.


"Lu nggak nanya alasannya apa?" tanya Reyna bingung.


"Enggak perlu. Dengan lu mikirin gua aja itu sudah cukup, gua nggak butuh alasannya," jawabnya dengan senyuman lebar.


"Tapi lu ngeselin banget gila! Lu bikin gua kaget tau, tiba-tiba ngomong "gua suka sama lu Na," ucap Reyna sambil memperagakan Nara sore itu.


"Gimana gua nggak bilang suka ke elu, orang si Reno bilang lu mau ditembak sama siapa gitu, lupa gua."


"Terus?"


"Ternyata dia bohongin gua."


"Jadi lu nyesel?"


"Dikit."


"Oh, gitu toh."


"Tapi gua nyesel bukan karena bilang suka ke lu ya, tolong dicatet baik-baik."


"Emang apaan?"


"Gua nyesel gegara, lu canggung mulu tiap ketemu gua, padahal nih ya gua udah nyoba buat santai tau!"


"Enak aja, lu tuh yang canggung. Mana kaku kek kanebo kering. Ngajak ngobrol cuman hai doang."


"Ya, itu karena gua gugup Reyna. Lu ngertiin dong, atau diapresiasi soalnya gua lakuin itu sambil berharap jantung gua nggak lompat keluar dari dada."


"Dih! Lebay amat sohib gua," ucapnya sambil terkekeh geli.


"Gua nggak mau jadi teman masa kecil, temen, sahabat, betie, sohib, atau apalah itu. Pokoknya gua nggak mau."


"Lah? Itu lu maunya TTM an, kan artinya masih temen juga dong, ya kan?"


"Iya, tapi beda."


"Bedanya dimana coba?"


"Di bagian 2 kata dibelakangnya."


"Terserah lu deh, maunya gimana."


"Jadi lu mau nih?"


"Iyaps, lagian gua sepekan nggak ngobrol bareng lu berasa ada yang kurang aja gitu," jawab Reyna santai sambil menatap danau di hadapannya.


"Berarti lu udah suka sama gua dong?" tanya Nara antusias.


"Hmm... keknya dikit si," jawabnya.


"Kok nggak banyak si?"


"Ngapain banyak-banyak, orang lu bukan suami gua."


"Yaudah kalau gitu nikah yuk!"


"Wah! Sarap lu, lu kira nikah cuman modal cinta doang apa?" ucap Reyna sambil menatapnya.


"Berarti kalau misalnya ada 2 cowok yang mau ngelamar lu dimasa depan nih, yang satu suka sama lu dan punya banyak uang, tapi masih belum selesai sama masa lalunya, sedangkan yang satunya lagi suka sama lu dan masa lalunya biasa aja tapi dia nggak ada modal buat biayain kehidupan lu nanti. Lu pilih yang mana?" tanya Nara penasaran.


"Nggak ada lah, orang sama-sama menyiksa juga. Udah ih ngapain bahas ginian, buru antar gua pulang kesian si Lia sendiri," berdiri sambil membersihkan pakaiannya diikuti oleh Nara, "emang lu nggak kasian apa kalau misalnya pujaan hati lu ini, di geprek sama si Lia?"


"Kasian? Atau sedih?"


"B aja sih," jawab Nara dengan wajah tanpa dosa dan berlari meninggalkan Reyna, karena ia telah menatapnya kesal.


...----------------...


"Udah kelar?" tanya Lia ketika Reyna telah tiba di rumahnya. Reyna mengangguk menanggapi Lia dengan wajah datar.


"Beneran?" tanya Lia lagi untuk memastikan.


"Iya. Lu nyuruh gua duduk dulu napa? Masa udah ditanyain aja belum di suruh duduk," protesnya.


"Yaudah duduk!"


"Gitu dong."


Reyna pun duduk di sofa sebelah Lia. Setibanya di rumah tadi, Lia memilih untuk menunggu Reyna di ruang tamu, karena dia penasaran apa yang akan terjadi diantar keduanya nanti.


Namun sayang, ekspektasi nya terlalu ketinggian. Ketika Nara mengantar Reyna pulang, Lia tidak melihat adanya sesuatu yang spesial di antara keduanya. Mereka be4dua terlihat seperti biasanya.


"Jadi gimana?" tanya Lia penasaran.


"Semoga aja yang ini sesuai ekspektasi gua deh!" batinnya.


"Hmmm... kepo lu ah!"


Lia memutar bola matanya jengah lalu berkata, "Buruan deh! Nggak usah drama."


"Iya-iya, gua udah jawab kok pertanyaan dia dan sekarang hubungan kita berdua udah baik lagi kok," jawab Reyna penuh percaya diri.


"Okay, terus?"


"Hah?" Reyna mengerutkan keningnya, "apaan lagi?"


"Lu jawab apaan?"


"Ya, gua jawab, gua mau."


"Berarti besok PJ dong?" tanya Lia sambil tersenyum nakal dan mencolek dagu Reyna.


"PJ apaan si! Gilak kali lu," protes Reyna.


"Lah, kalian kan jadian. Iya kan?" tanya Lia sambil tersenyum.


"Hah? Jadiaan apaan si? Orang kita biasa aja tuh, bukan makhluk jadi-jadian. Sarap lu ah! Udah deh, yuk masuk aja, udah ngantuk gua," jawab Reyna lalu berdiri dan hendak pergi, namun Lia malah menariknya sehingga dia kembali terduduk.


"Apaan lagi si?!"


"Status lu sama Nara apaan?" tanyanya to the point.


"TTM-an garis miring friend with benefit dalam kurung FWB," jawab Reyna.


"Lah? Kok malah TTM-an si bukannya jadian?"


Reyna hanya mengedikkan bahunya, karena dia tidak tau apa yang salah dari ucapannya barusan.


"Lu gantungin Nara lagi ya?!" tanya Lia sambil menyipitkan matanya menatap curiga kepada Reyna.


"Ya nggak lah! Lu kira dia kemeja apa digantung," jawabnya.


"Terus?"


Reyna mengembuskan nafasnya pelan sambil mengusap wajahnya, "gua kan udah jawab pertanyaan lu Lia sayang, apalagi yang kurang jelas? Hm?"


Lia memutar bola matanya malas kemudian kembali menatap Reyna dan bertanya, "Yang ngajak TTM-an siapa?"


"Nara, kata nya si lebih nyaman jadi temen," jawab Reyna polos.


"Terus lu setuju gitu aja?", Reyna menganggukkan kepalanya.


"Keknya ekspektasi gua terlalu tinggi deh, padahal gua kira mereka bakalan senyam-senyum kek orang yang baru pertama kali jadian, terus ntar gua busa ngejek mereka besoknya di sekolah. Taunya mah! Haaaaa.... sudahlah," batin Lia lelah.


"Emang apa bedanya Na TTM sama temenan doang?"


"Kata Nara bedanya di 2 kata belakangnya."


"Serah lu berdua deh, sono gih tidur duluan!" Pintanya.


"Okay deh!" setelah mendapat persetujuan dari Lia, Reyna segera pergi dari sana meninggalkan Lia sendirian.


Lia menyalakan handphonenya dan segera mengirim pesan kepada Nara.


^^^Lia^^^


^^^Bego lu udah di luar batas tau nggak😒^^^


Nara


Maksud lu?


^^^Lia^^^


^^^Dahlah lupain aja, mungkin gua yang terlalu berekspetasi tinggi sama lu berdua, bye!^^^


Nara


Maksudnya gimana si Li?


Li?


Lia?


Lia hanya membaca pesan masuk dari Nara, lalu mematikan handphonenya dan segera menyusul Reyna.


...----------------...