Could I Have This Feeling?

Could I Have This Feeling?
83



Nara POV


Aku melirik Reyna yang duduk di bangku depan sebelah kananku hendak memutar badannya menghadap ke arahku. Dan aku sadar jika saat ini dia sedang menatapku. Aku merasa senang meskipun hanya ditatap olehnya.


"Cih! Murahan banget gue, bodo dah yang penting diperhatiin Reyna heheeee..." batinku senang.


Meskipun begitu, aku tidak ingin menanggapinya dan membiarkannya begitu saja. Namun, karena aku sudah tidak bisa lagi menahan rasa senangku yang sedang meluap hanya karemlna Reyna memperhatikanku secara terang-terangan begini, akhirnya dengan terpaksa aku harus mengakhirinya.


"Kalau butuh sesuatu bilang, jangan ngeliatin gua terus. Soalnya gua risih," ucapku dingin.


Aku bisa melihat wajah terkejut Reyna, dan yang bersangkutan langsung segera meminta maaf, dan mengatur kembali posisi duduknya seperti semula.


Tak berapa lama kemudian Ivanka yang baru masuk kelas menyapaku. Aku pun melakukan hal yang sama. Dan berakhir dengan kami yang mengobrol bersama. Pasalnya ketika SMP dulu Ivanka adalah teman akrabku bersama Alan, walaupun tidak sedekat antara diriku dan Alan.


Kami mengobrol cukup lama, dan aku selalu melirik Reyna jika ada kesempatan. Aku ingin tau apa yang sedang dia lakukan.


Aku merasa sedih ketika melihat dia melangkah pergi dari sana tanpa menyapa diriku. Namun, aku melihatnya kembali dengan diseret masuk oleh Alan dan Lia. Setelah aku dan Ivanka menyapa keduanya, mereka kembali melanjutkan pembicaraan mereka.


Beberapa menit kemudian Ivanka mengajakku untuk bergabung bersama mereka bertiga karena penasaran. Aku pun mengikutinya saja.


Setibanya di sana Ivanka menceritakan kepada mereka bagaimana pertandingan basket yang berlangsung waktu itu. Namun kali ini, aku tidak terlalu memperhatikan omongannya dan hanya menanggapi sesekali, tidak seperti Alan dan Lia yang sesekali menimpali tapi cukup sering. Aku hanya fokus dengan orang yang duduk tepat di hadapanku, Reyna.


Dia tidak memperdulikan sekitarnya dan hanya fokus menikmati makanannya.


"Lapar banget keknya," batinku "jahat banget gue, udah tau dia lapar tapi nggak beliin makan. Sorry Na."


Aku sedikit terkejut ketika Reyna pergi begitu saja dari sana tanpa sepatah katapun.


Aku mengerutkan kening sambil melihatnya keluar, "dia kenapa lagi?" batinku bingung.


...----------------...


Pada saat bel pulang sekolah, Ivanka menghampiriku dan meminta izin untuk pulang bareng karena kebetulan motornya lagi mogok. Karena Ivanka termasuk teman akrabku, sehingga aku pun mengiyakannya saja. Bahkan ketika Ivanka mengatakan apa aku bisa menunggunya untuk piket terlebih dahulu, aku tetap mengiyakannya.


Setelah Ivanka selesai piket, kami berdua berjalan berdampingan keluar sekolah. Aku tertawa kecil karena jokes yang Vanka lontarkan. Bagi ku jokes yang selalu dia buat sangat sesuai dengan selera humorku.


Setibanya di luar sekolah aku melihat Reyna sedang berdiri tidak jauh dari motorku. Aku membiarkan Ivanka berbincang sebentar dengan Reyna yang terlihat tidak memiliki minat untuk menanggapinya. Akhirnya aku memanggil Ivanka dan segera bergegas pergi dari sana.


Sepanjang perjalanan, aku terus mendengarkan ocehan Ivanka. Jika saja orang lain yang sedang duduk di joke belakang motorku, pasti aku sudah menurunkan orang ini di tengah jalan, lalu meninggalkannya begitu saja.


"Thanks, bro. Sorry ngerepotin," ucap Ivanka setibanya di depan rumahnya.


"Sans ae, lu kek sama siapa aja." ujarku santai.


"Sering, sering Nar."


"Hm?" aku menatapnya dengan raut wajah bingung.


"Sering-sering nganterin gue," ujarnya dengan nada bercanda.


Aku hanya tertawa kecil mendengar ucapannya dan segera berpamitan untuk pulang.


Setibanya di rumah, aku langsung membersihkan badan dan bersiap-siap untuk menunaikan ibadah sholat magrib sebentar lagi.


Setelah waktu magrib telah usai, aku memilih untuk duduk di teras depan rumah sambil membaca komik one piece. Tanpa sengaja aku melihat kedua orang tua Reyna beserta adiknya baru saja melewati jalan di depan rumahku.


Seketika aku merasa bingung, pasalnya jika orang tuanya melintasi jalan depan rumahku, berarti mereka akan pergi ke rumah neneknya. Dan Reyna selalu tidak pernah absen ketika pergi berkunjung ke rumah neneknya.


Akhirnya aku memutuskan untuk masuk dan mengganti pakaian. Setelah itu, aku mengambil helm, jaket, beserta kunci motor. Sebelum itu, aku pergi ke rumah nenekku yang berada di sebelah rumah untuk berpamitan, lalu setelahnya langsung pergi menuju ke rumah Reyna.


Setibanya di sana, aku langsung memasuki pekarangan rumahnya dan langsung memencet bel rumah, mungkin saja Reyna ada di sana. Lalu Aku bingung, apa yang akan aku lakukan jika Reyna benar-benar ada di dalam sana? Entahlah, aku tidak memikirkan apapun saat ini, selain keberadaannya.


Aku sudah menekan bel rumah dan menggedor pintu rumahnya, tetapi tidak ada yang menyahut. Aku pun hendak menelfon, tetapi ku urungkan niatku.


Aku pun memutuskan untuk menjalankan motorku dan berhenti di dekat anak perempuan itu.


"Mau sampai kapan diam kek gitu?" tanyaku sedatar dan setenang mungkin, padahal aku tengah mengkhawatirkan dirinya.


Namun sayang, aku tidak mendapatkan tanggapan apapun dari yang bersangkutan. Aku terus berfikir bagaimana caranya agar bisa menarik perhatiannya. Aku pun memutuskan untuk memanggilnya dengan nama panjangnya.


"Reyna Veranika Andini."


Sesuai dugaanku, Reyna langsung mengangkat kepalanya dan menatapku setelah mendengar namanya disebut.


Aku tidak nyaman ketika melihat mata sembab Reyna saat mendongak menatapku. Hatiku sangat sakit, tetapi aku berusaha untuk menutupi perasaanku. Bukan egois, hanya saja aku berfikir dan tau faktanya jika Reyna tidak membutuhkan perasaanku.


"Mau sampai kapan lu di situ?"


Reyna menggelengkan kepalanya, "nggak tau."


"Gua anter balik," ucapku dengan wajah datar.


Lagi, Reyna kembali menggelengkan kepalanya dan menolak ajakanku.


"Oh, okay."


Seperti yang aku fikir dan aku tau, Reyna benar-benar tidak membutuhkan diriku. Sebab, aku sudah menawarinya untuk pulang bersama, tetapi malah di tolak. Dia justru malah memilih untuk meminjam handphone milikku ketimbang pulang bersama. Kebetulan saat ini aku sedang tidak membawa handphonenya saat ini. Dan aku baru saja mengingatnya ketika dia memintanya saat ini.


"Seharusnya waktu di rumahnya tadi gua beneran ngeluarin hp, bukan cuman rencana doang," batinku kecewa.


Akhirnya aku menawari Reyna lagi untuk yang terakhir kalinya, dan ditolak lagi. Karena aku manusia dengan kesabaran setipis es, akhirnya aku memilih pergi dari sana begitu saja.


"Mungkin kalau Rai yang ngajak, dia mau pulang bareng," batinku sedih.


Namun, sepanjang jalan wajah sedih dan mata sembab Reyna terus berputar dikepalaku. Akupun menghentikan motorku dan mengacak rambutku frustasi.


“Akhh! Reyna mau lu apaan sih? Kenapa bisa seenaknya masuk ke hati dan fikiran gua sih?!” ucapku kesal.


Beruntung keadaan di sekitarku sangat sepi, sehingga tidak ada orang yang memperhatikan aku dan kegilaan ku karena dirinya.


Setelah perang batin dengan diriku sendiri, akhirnya aku memutar balik, dan memilih jalan lain yang menuju ke sekolah. Setibanya di sekolah, aku melihat Reyna sudah tidak ada di tempatnya.


“Lu di mana lagi si Na?” batinku frustasi.


Aku pun kembali menjalankan motorku ke jalan yang menurutku akan dilalui Reyna. Dan benar saja, aku bisa melihat Reyna berjalan cukup jauh di arah depan. Aku mematikan lampu motor dan mengikutinya secara diam-diam.


Namun, pada saat Reyna berada di perempatan aku melihat jika Reyna tengah menatap anjing yang ada di sana cukup lama. Dan tiba-tiba saja dia berlari, sehingga anjing yang di tatapnya tadi malah ikut berlari mengejarnya. Aku yang melihat hal tersebut mengambil jalan lain yang bisa ku gunakan untuk memotong jarak antara si anjing dan Reyna.


Tepat sesuai perhitungan, aku langsung menghadang anjing itu dengan motorku. Anjing itu juga menggogong ke arahku, tetapi aku tidak takut dan malah membuat anjing itu mundur. Lalu, aku menengok ke arah sebelah kiri, dan Reyna sudah tidak ada di sana.


"Lu harus tau Na, muka gua yang sering lu katain serem ini, udah nyelamatin lu dari kejaran anjing tadi," ucapku sambil tersenyum.


Aku pun kembali mengikuti Reyna dari jauh, sampai dia tiba di rumahnya. Setelah aku sudah memastikan Reyna tiba dengan selamat, akupun menarik gas motorku dan melesat menuju rumah.


...----------------...


Mohon saran dan kritiknya semua🙏😊


Agar saya bisa memperbaiki tulisan saya ini


Terima kasih kepada pembaca yang sudah mampir untuk membaca hasil tulisan saya 🙏😊


💜💜💜💜💜💜💜