Could I Have This Feeling?

Could I Have This Feeling?
65



"Walah.... Masih ngambek lu Nar?" Tanya Lia dengan nada bercanda dan ia tidak mendapatkan tanggapan apa-apa dari yang bersangkutan.


"Duh! Baper amat temen lu Lan."


"Biasalah Li, bocil. Kasih permen aja, pasti marahnya ilang." Ucap Alan tanpa dosa dan mendapatkan tanggapan serupa dari Nara.


"Hahaha... Bener juga lu Lan."


"Gaes Rai sama Reyna nggak ke kantin nih?" Tanya Valisha.


"Nggak tau, kan kalian yang di kelas. Gue sama Lia tadi di luar. Gimana sih Lis." Jawab Alan.


"Oh iya, lupa. Hehehehe... Tadi kita udah ngajak kok katanya duluan aja, tapi sampai sekarang mereka nggak dateng-dateng."


"Lagi di jalan kali, Lis." Sahut Leon.


"Bisa jadi sih."


Selama mereka membicarakan Rai dan Reyna Alan dan Lia menyadari jika Nara tengah memasang telinganya baik-baik. Dan hanya mereka berdua saja yabg menyadari hal tersebut.


"Yeee.... Giliran Reyna aja cepet lu. Bego banget sih! Nggak nyangka gue." Batin Lia sambil menggelengkan kepalanya.


"Hadeeee... Si brother, malangnya nasib mu. Lu perduli banget sama Ana, tapi dia malah peduli banget sama Rai. Perduli juga sih sama lo, tapi banyakan ke Rai. Ckckck! Sabar bro, gue selalu ada buat lu." Ucap Alan sambil menggelengkan kepalanya.


"Eh! Itu mereka." Sahut Nana.


"Reyna, Rai! Sini!" Seru Nana dan Sasha.


Mereka berdua pun segera menghampiri kawan-kawannya. Reyna duduk tepat di sebelah Nara sedangkan Rai duduk di depannya.


"Cie! Masih pagi udah ngapel aja, tumben nih." Sahut Reno dengan nada mengejeknya.


"Ini udah siang kali." Protes Rai.


"Elah, iyain aja napa sih. Ribet banget lu Rai."


Reno tidak mengetahui jika ucapannya barusan membuat Nara panas, bahkan membuat mood nya yang sedang buruk menjadi semakin bertambah buruk lagi.


Pada saat yang sama, Alan mengambil handphonenya dan langsung mengetik sebuah pesan di grup chat "Nara yang tersakiti".


Alan :


"Lagi ada kebakaran nih😌"


Lia :


"Hooh, panasnya nyampe sini nih🥵"


Rai :


"Nah loh! Mau ditambahin nggak nih suhu apinya?"


Alan dan Lia :


"Wah gila! Jahat banget lu!"


"Kalian lagi ngapain? Kok senyam-senyum begitu?" Tanya Nara penuh curiga.


"Oh itu, gue nanya ke mereka berdua Reyna mau nggak kira-kira kalau gue ajak nonton film horor ntar malem. Terus kata mereka Reyna nggak bakalan suka, soalnya dia takut nonton horor." Jelas Rai dengan senyuman manisnya.


"Oh."


"Buset si Rai parah beut." Batin Alan sambil berusaha menahan tawanya.


"Gila sih nih anak! Nggak habis fikir gue sama dia." Batin Lia sambil tersenyum dan menggelengkan kepalanya.


"Kalau lu mau ngajak gue nonton, ngomong langsung aja kali. Ngapain lu tanya ke mereka, aneh lu." Protes Reyna.


"Ya... Kan biar gue tau Rey, lu sukanya film jenis apa."


"Kan lu bisa nanya ke gue Rai yang tampan, rendah hati dan ramah lingkungan." Ucapnya sambil menggelengkan kepalanya dan hanya mendapatkan senyuman manis Rai.


"Sialan! Gue pen bat nonjok nih anak, tapi nggak bisa. Arrgh! Na kok lu mau si sama dia? Padahal dia itu biasa aja kali, nggak ada spesial-spesialnya. Tampan dari mana coba, kemana-mana gue yang lebih tampan tuh. Arrgghhh! F**k!." Batinnya kesal.


"Serah lu deh Rai! Gue ikut aja." Ucap Reyna yang menandakan dia menyerah. Bagaimana tidak, senyuman Rai selalu bisa meluluhkan hatinya dan dia tau dengan jelas bahwa Rai juga mengetahui hal tersebut. Walaupun jantungnya sudah tidak berdebar seperti dulu, tetap saja setiap melihat senyuman Rai jantungnya seperti akan meledak.


"Ana langsung setuju diajak nonton? Ntar malem ya? okay. Sorry Rai, gue nggak bakalan biarin lu nonton bareng dia." Batin Nara.


"Woy! Kalau mau pacaran jangan di sini dong!" Protes Gabriel.


"Tau nih, liat tempat kali." Tambah Reno.


"Yeee.... Sewot!" Ucap Reyna dan Rai bersamaan.


"Udah, udah." Lerai Tania "Btw gue denger dari anak kelas sebelah katanya nanti bakalan ada tugas kelompok matematika."


"Seriusan?!" Tanya Reyna.


"Iya."


"Demi apa Tan?"


"Demi Lovato, Na."


"Gue serius nih."


"Emang kenapa Na kalau ada tugas kelompok?" Tanya Karina.


"Nggak bukan itu, gue nggak masalah temen kelompoknya."


"Terus?" Tanya Sasha.


"Gue nggak mau jadi beban kelompok." Jawabnya Lesuh.


"Hah? Beban? Emang kenapa lu bisa jadi beban?" Tanya Nana.


"Haaa..." Reyna menghembuskan nafas pelan. "Jadi gu-"


Belum sempat Reyna menyelesaikan kalimatnya Rai sudah lebih dulu memotongnya.


"Lo nggak merhatiin penjelasan bapaknya pekan kemaren, bener kan?"


"Hooh."


"Na." Ucap Nara


Reyna yang namanya dipanggil langsung menengok ke arah Nara.


Tak!


"Aw! Sakit bego!" Ucapnya kesal.


Bukannya menanggapi Reyna, Nara malah pergi dari sana tanpa sepatah kata pun.


"Nara kenapa yah? Dari tadi pagi mood nya nggak bagus. Atau jangan-jangan dia ada masalah" Batin Tania khawatir.


"Lan! Temen lu kenapa sih?! Hah?! Ngeselin banget!." Ucapnya kesal.


"Gimana nggak mau kesal coba, lu janjiannya sama siapa, pergi nya sama siapa." Sahut Lia santai sambil meminum es teh nya.


"Lah, apa hubungannya? Tadi kan kita ngebahas soal kelompok. Tau ah! Males gue, Rai gue balik duluan yah! Bye!" Ucapnya kesal dan langsung meninggalkan mereka di sana.


"Rai cewek lu kenapa tuh? Sensi amat." Tanya Nana.


"Nggak tau, mungkin dia lelah."


"Masa sih lu nggak tau? Lu kan pacarnya Rai."


"Mana gue tau Alan sayang." Ucapnya sambil tersenyum manis.


"Nggak usah pasang senyum manis deh lu, jijay tau nggak." Protes Lia.


Tania yang sedari tadi gelisah memikirkan Nara akhirnya memutuskan untuk menyusulnya. "Gaes, gue duluan yah, ada urusan sama temen organisasi."


"Okay." Jawab mereka kompak. Dan Tania pun segera pergi dari sana.


"Eh! Si Nara dibiarin marah kek gitu emang nggak papa ya?" Tanya Nana penasaran.


"Oh, nggak papa kok Na. Paling juga ntar dia makin marah. Tenang aja." Jawab Alan santai.


"Lah? Bukannya tambah buruk ya kalau dia makin marah?" Tanya Sasha.


"Tenang aja! Kalau dia udah nyampe posisi itu, itu malah lebih bagus. Bener nggak Lan?"


"Bener banget."


"Maksud kalian gimana gue nggak ngerti." Ucap Karina.


"No, jelasin." pintah Rai dan Alan bersamaan.


"Iya-iya. Jadi gini gaes, kalau Nara udah nyampe le posisi marah banget, dia bakalan marah ke orang yang bersangkutan bahkan dia bakalan nyinggung orang yang bersangkutan. Tapi itu kalau marahnya modelan kek sekarang, kalau marah yang waktu itu kalian liat beda cerita." Jelas Reno.


"Cara buat dia nggak marah lagi gimana tuh?" Tanya Gabriel.


"Nanti dibujuk sama yang bersangkutan bro." Jawab Reno.


"Masa? Nara si manusia ngeselin, gila, psikopat kek gitu kalau marah harus dibujuk dulu?" Tanya Nana bingung.


"Udahlah guys, dari pada kalian bingung. Mendingan, nanti kalian liat langsung aja." Jawab Lia.


"Nah bener tuh! Mendingan kalian liat langsung aja dan keknya bakalan terjadi dalam waktu dekat. Tunggu aja." Tambah Alan.


Mereka pun kembali melanjutkan sesi makan mereka dengan Rai yang mencomot goreng Lia tanpa Rasa bersalah.


"Woy! Modal dong lu, main comot-comot aja. Protes Lia.


"Bagi lah Li dikit."


"Dih! Nggak modal!"


"Pelit lu!"


"EGP."


...----------------...


Mohon saran dan kritiknya semua🙏😊


Agar saya bisa memperbaiki tulisan saya ini


Terima kasih kepada pembaca yang sudah mampir untuk membaca hasil tulisan saya 🙏😊


💜💜💜💜💜💜💜