
Reyna hanya mengerutkan keningnya seolah menunjukkan jika ia tidak paham apa yg sedang mereka bicarakan.
Dila menarik napas dalam dan setelahnya membuangnya sebanyak 3 kali. Kemudian dia mengusap-usap dadanya, untuk menenangkan dirinya. Kelima orang di dekatnya hanya menatapnya heran.
"Reyna Vanika Andini, lu mau nggak ntar sore ngumpul di rumah nya Bella?" Sahut Dila dengan memasang senyuman semanis mungkin.
Rayna hanya menatapnya sekilas lalu.....
"Oh", hanya 1 kata itu saja yang lolos dari mulutnya.
Dila merasa kesal lagi, pasalnya sudah 2 kali Reyna menguji kesabarannya hari ini. Dila sudah siap untuk mengeluarkan lahar panas nya.
"Lu tu--"
Ucapan Dila terpotong dengan sapaan dari Reno Dkk
"Hallo anak kelas 7 A yang kece nya nggak ketulungan" yang hanya di tanggapi geleng-geleng kepala dari ke lima gadis itu. Lalu apa yang sedang dilakukan oleh gadis yang 1 nya lagi? Tentu saja kembali teringat kepada sosok manusia tamvan diangkatannya (ini hasil dari survei yang sudah dilakukan, tpi menurut Reyna sosok ini biasa saja sih). Reyna juga menatap orang tersebut. Yang ditatap nya pun menatapnya balik, sampai tatapan itu buyar ketika Nara bertepuk tangan tepat di tengah mereka.
Prok!!! Prok!!!
"Udahan nape sih, liat-liatannya. Dah laper nih" Nara
"Nah bener tuh, Nar" Farel
"Apa juga gue bilang ke elu Zayn, dia it emmabxkslagdm ksmakaakh" ucap Adrian yang langsung dibungkam oleh Rai, sehingga tidak jelas tengah membicarakan apa.
"Udah deh, mendingan langsung duduk aja, Nara pesan yang biasa aja buat kita" Ucap Rai disertai senyuman nya.
Tatapan Reyna sempat teralihkan ke arah Rai, tetapi hanya sementara. Ia kembali memfokuskan tatapannya kepada Zayn. Sedangkan yang lainnya melanjutkan kembali proses makan mereka. Zayn yang merasa risih pun membuka suara.
"Lu tuh kenapa sih? Ada masalah? Atau lu naksir sama gue? Iya?" Lontar Zayn yang langsung mendapatkan tendangan di tulang keringnya
"Ahhhhhhh" Zayn pun mengadu kesakitan akibat tendangan di tulang keringnya.
Sedangkan yang lainnya menatap Zayn dengan tatapan iba, dan untuk Reyna mereka semua menatap heran karena yang menyebabkan semuanya terjadi malah asik menyantap makanannya tanpa rasa bersalah.
Tatapan mereka buyar ketika Nara datang membawa makanan dan dibantu oleh ibu kantin.
Sontak Reyna langsung menatap Nara sesaat dan mengalihkan pandangannya ke arah Zayn.
"Sakit yah?" Tanya Reyna polos
Hfffttt... Zayn hanya menghembuskan nafasnya kasar.
"Kalau sakit, baguslah. Itung-itung pembalasan gue yang kemaren" Ucapnya santai sambil menyeruput minumannya
"Kemaren?" Zayn sambil mengerutkan keningnya dan mencoba mengingat kembali. Sontak dia kembali mengembuskan nafas panjang.
"Cuman gara-gara ke--" belum sempat Zayn menyelesaikan kalimatnya, Reyna sudah memasukan kerupuk ke dalam mulut Zayn.
Mereka yang melihat hanya geleng-geleng kepala.
Entah kenapa semua kata-kata yang keluar dari mulut Zayn, selalu saja salah di telinga Reyna. Padahal sebelum-sebelumya hal ini tidak pernah terjadi.
Zayn langsung mengunyah dengan kasar kerupuk yang dimasukkan Reyna ke dalam mulutnya.
"Hati-hati entar keselek" ~ Reyna, peringatan yang diberikan oleh Reyna tak digubris oleh Zayn.
Reyna hanya menatap nya sekilas, tidak perduli dengan apa yang dilakukan Zayn. Mereka berdua, hanya diam membisu, dan hal ini sontak membuat teman-teman mereka bingung. Manusia yang kalau bertemu selalu adu pendapat, kini diam membisu.
Zayn yang geram akhirnya memutuskan untuk mencari masalah dengan Reyna yang sedang makan.
"Anak bokap kalem bener dah kalau makan" ucapnya dengan senyuman sumringah.
Reyna yang mendengar penuturan itupun langsung menghentikan proses makannya. Teman-teman mereka yang melihat hanya bisa menggelengkan kepala saja. dan seperti yang sudah-sudah. Mereka akhirnya berantem lagi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Mohon berikan saran dan kritik dari kalian ya, agar saya bisa memperbaiki tulisan saya ini 🙏😊
Terima kasih 🙏😊