
Di luar kelas
Rai melihat Nara dan Alan sedang berdiri di sana jendela kelas 8E. Ketika ia hendak melangkahkan kakinya, Reyna keluar dari kelas itu dan menghampiri Nara.
Nara yang ketika berbalik ke arah Reyna melihat Rai, langsung memanggilnya.
"MY BROTHER" Teriak Nara dan kemudian menghampirinya.
"Hmm" Sahutnya acuh dan melangkahkan kaki meninggalkan Nara.
"Elah, bro. Lu nape dah?" Tanya Nara yang mengikuti langkah kaki Rai dan melewati Alan dan Reyna.
"Na, Lan buruan" Ajak Nara
Alan dan Reyna pun segera menyusul Nara dan Rai di depan mereka.
"Buset dah, ditanyain juga malah nggak dijawab" Ucap Nara
"Berisik lu!" Ucap Rai dengan nada kesal
"Keknya dia ketelen rubik deh" Ucap Reyna spontan dan membuat langkah mereka bertiga berhenti sedangkan Reyna tetap berjalan melewati mereka.
Rai hanya menatapnya datar. Sedangkan Nara dan Alan sedang menahan tawa mereka mendengar jawaban Reyna. Bagimana tidak, saat ini mereka berdua tau kalau suasana hati Rai sedang buruk.
Rai tidak memperdulikan kata-kata Reyna dan kembali melanjutkan langkahnya.
"Woy! Kang rubik!" Sahut Reyna sambil melambaikan tangannya ketika melihat Rai lewat di depan nya.
Rai pun segera masuk ke kantin itu dan langsung membeli teh dengan kemasan botol. Lalu membayarnya dan duduk di hadapan Reyna. Sedangkan Reyna sedang menunggu gorengnya dingin karena barusaja diangkat dari minyak panas.
Ketika Nara dan Alan sudah tiba di depan tempat tersebut, mereka sudah akan melangkahkan kakinya. Namun, belum sempat mereka masuk Dinda yang merupakan sang bendahara kelas sudah meneriaki mereka terlebih dahulu.
"Cabut Lan!" Ucap Nara yang langsung segera berlari dari sana.
Mendengar ucapan Zayn, tanpa pikir panjang ia segera mengikuti Zayn. Dinda bersama dengan Ana segera mengejar mereka berdua.
Karena hal ini Rai dan Reyna hanya duduk berdua saja di kantin. Mereka hanya diam saja, tanpa ada yang memulai pembicaraan.
"Woy!" Seru Rio yang baru saja datang bersama dengan teman-temannya.
"Sorry, nggak kaget" Jawab Rai ketus
"Elah, masih marah ya lu Rai?" Tanya Gerry bersamaan dengan mereka yang mulai duduk di bangku kantin.
"Nggak, b aja" Jawabnya
"Maaf deh, Rai gue tadi cuman becanda. Biar suasananya enak gitu" ~Rio
Reyna hanya bisa menyimak, ia bukanlah anak yang mudah bergaul. Dan lagi ia juga tidak mengenal mereka.
"Eh, si singa jendela!" Ucap Rio ketika tanpa sengaja melihat Reyna.
Reyna hanya mengabaikannya saja, malas? iya. Dia terlalu malas untuk menanggapi ucapan siapapun.
"Rai gue cabut" Ucap dan hendak meninggalkan tempatnya
"Nggak, lu di sini aja sampai Nara balik. Gue nggak mau dia banyak nanya ke gue" Ucap Nara.
Mendengar ucapan Rai barusan membuat Reyna mengurungkan niatnya dan segera duduk kembali di kursinya.
"Bener juga sih yang dibilang Rai. Si Nara kalau nanya sesuatu hal, pasti pertanyaan nya beranak. Mana nggak penting lagi, hedewwww...."Batin nya.
"Oi! Gue udah nyapa lu, kok lu nggak nyapa balik sih?" Protes Rio
"Oh, hai cicak jendela" Sapa Reyna "Puas lo?!"
"Buset yang manisan dikit nape"
Reyna segera mengeluarkan permen dari kantongnya dan memberikan permen tersebut kepada Rio.
"Hah?!... Kenapa?" Tanya nya sambil menaikkan sebelah alisnya.
"Bego" Celetuk Reyna dengan watadosnya.
Rio hanya terdiam mendengar jawaban Reyna dan Yudistira segera mencairkan suasana di sana.
"Mendingan pesan makan ae, lu pada mau apaan?" Tanya Yudis.
"Yang biasa aja" Jawab ketiga temannya kompak
"Okay, tunggu bentar ye" Ucapnya sambil melangkahkan kakinya untuk segera membeli pesanan mereka.
"Hi, boleh gabung nggak?" Tanya Alena
Selepas kepergian Yudistira, Alena tiba di sana dan memilih bergabung bersama mereka.
"Hi, Rey" Sapa nya
"Hi" Sahut Reyna dan Rai bersamaan
Mendengar hal tersebut mereka berdua terdiam sebentar dan saling tatap. Lalu mereka teringat pada seseorang....... "Lia", yah... Orang yang selalu membuat kesalahpahaman dalam menyebutkan nama. Sedangkan teman-teman Rai yang berada di sana hanya menatap dengan bingung ke arah mereka.
"Reyna" Ucap seseorang yang baru masuk dengan temannya dan dengan nafas yang tersengal-sengal serta keringat bercucuran dari dahi mereka.
Mereka segera menghampiri Reyna.
"Na---, minta tolong--- boleh nggak?" Tanya Dinda yang sedang mengatur nafasnya.
"Boleh, tapi mendingan lu berdua duduk dulu deh atau pesan minum aja dulu"
"No,thanks" Tolak salah satu dari mereka yang sedang melakukan hal yang dengan Dinda.
"Mintol bayarin uang kas Nara dong, soalnya kelas gue lagi butuh duit buat beli alat kebersihan yang rusak." Ucap Dinda "Lagian, dia kan selalu nurutin lu" Tambahnya
"Iya bener, satu sekolah juga pasti udah pada tau kalau lu bisa buat si Nara nurut" Tambah Ana.
"Hmm... Okay. Terus si Alan gimana?" Tanya Reyna
"Oh dia. Nggak usah, gue kan cuman mintol soal si pemonar doang." Ucap Dinda
"Si Alan rajin kok bayar kasnya" Tambah Ana
"Pemonar apaan?" Tanya mereka kompak
"Pembuat onar" Jawab Dinda dan Ana kompak
"Berapa yang mau dibayar Din?" Tanya Reyna
"10 ribu, boleh?"
Reyna terkejut mendengar jawaban Dinda, pasalnya dia mengira jika Nara nunggak bayar tidak lebih dari 5 ribu. Tapi ternyata, dugaannya salah.
"Emang dia udah berapa lama nggak bayar?"
"Udah empat pekan"
"Oh, gitu yah" Sahutnya agak sedikit kaku dan segera memberikan uang tersebut kepada Dinda.
"Okay, Thanks ya. Sorry ngerepotin, kalau nggak kepepet gue nggak bakalan minta kok"
"Santai aja kali" Ucap Reyna dengan senyuman manisnya, sedangkan di dalam hati dia sedang menahan emosi.
"Bisa-bisanya lu nggak bayar kas selama empat pekan! Awas aja lu!" Batin Reyna
"Kita cabut ya, sekali lagi thanks"
Dinda dan Ana segera kembali ke kelas mereka. Dan pada saat itu juga, mereka berpapasan dengan Nara. Ia hanya bisa tersenyum kaku melihat kedua orang itu dan sudah siap mendapatkan omelan mereka.
Tetapi, tidak terjadi apa-apa.
"Akhirnya, gue bisa bernafas lega. Mungkin mereka lagi dapat hidayah, hehehe... Alhamdulillah, rejeki anak sholeh" Batin nya.
"Heyyyoooo... epribadi" Ucap nya ketika masuk di dalam kantin dan segera duduk di samping Reyna.
"Rame-rame nih, si Yudis mana?"
"Lagi beli makanan, dan keknya ngantri" Jawab Rio
"Terus lu pada nggak nemenin dy apa?" Tanya nya sambil meminum teh milik Rai yang ada di depannya dan mencomot gorengan milik Reyna.
"Nggak, udah gede soalnya" Jawab Gerry
"Beuh kejam amat" Ucap nya sambil memakan gorengan tersebut.
Reyna yang ada di sebelahnya hanya memasang muka datar. Ia sedang berusaha untuk menahan emosinya, karena sedang berada di kantin. Jika saja ini di dalam kelas, dia pasti sudah memberi pelajaran kepada Nara.
...----------------...
Mohon saran dan kritiknya semua🙏😊
Agar saya bisa memperbaiki tulisan saya ini
Terima kasih kepada pembaca yang sudah mampir untuk membaca hasil tulisan saya 🙏😊
💜💜💜💜💜💜💜