
"Eh, masa kita cuman bertiga doang sih. Kalau banyak orang yang bantuin kan bagus" Ucap Leon
"Kita mau minta bantuan sapa lagi coba? Alan? Dia kan nggak mau." Tambah Reno
"Kalau Rai gimana?" Usul Gabriel
"Beuh... Jangan deh, dia nggak bakalan mau ngurusin beginian. Ntar malah cuman jadi pajangan doang dianya." Jelas Reno.
"Terus siapa dong?" Tanya Gabriel bingung.
Saat ini ketiganya tengah duduk santai sambil berbincang-bincang di tangga dekat kelas X MIPA 2 yang menuju ke lantai dua. Pada saat mereka tengah kebingungan, Valisha tiba-tiba lewat di depan mereka seorang diri.
"Lis" Seru Reno yang spontan membuat langkahnya terhenti dan menengok ke arahnya. "Sini lu!" Tambahnya. Valisha pun segera menghampiri mereka bertiga.
"Ada apa No?"
"Lu mau nggak bantuin kita?" Tanya Reno
"Bantuin apaan dulu nih?"
"Bantuin kita buat ngedeketin Tania sama Nara, mau nggak?" Jawab Gabriel sambil memberikan sebuah pertanyaan.
"Hmm... Boleh lah. Gue juga udah berpengalaman soal ginian, tenang aja" Jelasnya dengan gembira.
"Iya berpengalaman, playboy cap sendal jepit pun lu jabanin"
"Eh! No! Sean bukan playboy, jangan sembarangan dong kalau ngomong!" Protesnya kesal.
"Tapi itu fakta nya Valisha!"
"Udah deh, nggak usah ngomong ngasal kalau lu sendiri nggak tau apa-apa!"
"Udah-udah nggak usah berantem, mendingan kita mikirin aja gimana caranya supaya mereka berdua bisa deket" Lerai Leon
"Bener tuh kata Leon" Tambah Gabriel
"Tapi...." Ucap Valisha menggantungkan kata-katanya.
"Kenapa?" Tanya ketiganya kompak.
"Emang bener Tania suka ke Nara? Dia bilang ke kalian?"
"Ya elah Lis, lu kok nggak percaya banget sih ke kita. Tania beneran suka kok sama Nara, gue sama Alan ngeliat make mata kepala kita sendiri, dia natap Nara sama anak-anak yang lain itu beda" Jawab Reno.
"Gue juga liat kok Lis" Tambah Gabriel
"Gue juga" Tambah Leon.
"Emang kapan lu pada liatnya?"
"Kemaren" Jawab ketiganya kompak.
"Ya ampun, baru juga sekali liat udah maen ambil kesimpulan seenaknya aja. Tanya dong ke orangnya, gimana sih. Gini ya, kalau misalnya kita berhasil ngedeketin mereka berdua terus si Nara suka sama Tania. Tapi kalau Tania nggak suka sama Nara gimana dong? Kalau Tania cuman nganggep Nara temen doang nggak lebih, gimana? Kan jadinya kita malah nyakitin si Nara." Jelas Valisha.
"Lu bener juga sih Lis" Sahut Gabriel dan mendapat anggukkan persetujuan dari Reno dan Leon.
"Terus gimana dong Lis?" Tanya Leon
"Yaa~ Kita tanya aja ketemennya, dia pasti bakalan curhat ke temennya. Soalnya anak cewek kek gitu sih, kalau ada apa-apa pasti curhat ke temennya."
"Nah iya, kok nggak kepikiran sih" Ucap Reno.
"Kalau pun kepikiran gue nggak mau berurusan sama mereka. Bisa bikin pusing tau nggak" Sahut Leon.
"Bener tuh Yon, apalagi mulut kaleng rombengnya si Nana sama Sasha. Nggak deh, gue mundur" Tambah Gabriel.
"Kalau itu tenang aja, gue yang bakalan urus. Kalian tunggu bentar ya, gue bakalan balik lagi"
Setelah itu, Valisha langsung masuk pergi dari sana dan masuk ke dalam kelas meninggalkan ketiganya.
...----------------...
Beberapa menit lalu di dalam kelas
"Nara"
"Nara"
"Lu lagi ngapain?" Tanya nya kepada orang di depannya.
"Nara"
"Kok nggak di jawab sih?"
"Reyna Veranika Andini"
"Apaan?" Ucap Reyna, kemudian berbalik ke arah Nara.
"Yaelah... Masa nanti gue nyebut nama lengkap lu baru mau ngejawab sih. Kan panjang amat."
"Alvaro Narendra Farras"
"Hem hem"
"Yg lu sebutin itu Nara, yang mana itu adalah nama lu. Ngapain gue nengok kalau yang lu panggil bukan nama gue, bodoh."
"Hehey... Nara itu nama lu juga kali"
"Nggak usah ngaco deh"
"Gue nggak ngaco ya, kata "Na" itu akhiran dari nama awal lo, dan kata "ra" itu dari bagian tengah nama lu. Kalau disambung kan jadinya Nara, jadi sah sah aja dong gue manggil lu" Jelasnya panjang lebar sambil tersenyum bangga.
"Ada yang lebih normal nggak Nar nama panggilan gue?"
"Ada kok"
"Apaan?"
"My lovely" Ucap nya santai sambil tersenyum manis ke arah Reyna. Reyna yang kesal segera berdiri dari bangkunya dan segera mencubit lengan Nara sekuat tenaga.
"Aduh duh, sakit Na..."
"Coba sebut lagi yang tadi! Gue nggak dengar soalnya." Pintahnya sambil tersenyum manis dan mengencangkan cubitannya.
"Aduh! Sakit sakit... ampun ampun... Gue nggak ngelakuin lagi deh, beneran... aduh aduh"
Setelah itu, Reyna pun berhenti mencubitnya dan kembali duduk di tempat nya dan duduk sambil menatap Nara.
"Nggak usah lebay deh, gitu aja masa sakit"
"Coba deh sini lu gue cubit!"
"Cubit aja, gue nggak bakalan mau temenan sama lu."
"Nah kan, lu hobinya mah kek gitu. Mainnya ngancem-ngancem."
"Nar"
"Apaan Nar?"
Reyna memutar bola matanya malas ketika mendengar tanggapan Nara.
"Bisa nggak stop manggil gue Nara? Manggil Ana aja kek biasa napa sih"
"Nggak, udah pasaran soalnya" Tolaknya tanpa berfikir panjang.
"Terus Nara kan nama pasaran juga"
"Nggak papa pasaran, asal samaan kek gue"
"Dih! Sarap lu!"
"Ya udah, gue harus manggil lu apaan? Gue pen manggil lu beda dari pada yang lain, itu doang kok."
"Pikir aja sendiri!" Sahutnya kesal.
"Reka?"
"Kok kek nama laki? Nggak nggak."
"Reni"
"Nggak suka"
Nara terus menyebutkan nama-nama yang muncul di kepalanya satu persatu. Sementara itu, Valisha masuk ke dalam kelas dan kebetulan di bangku Tania, hanya ada ketiga temannya saja. Jadi, dia langsung mengajak mereka keluar kelas untuk bertemu dengan Reno, Gabriel, dan Reno.
...----------------...
"Lis, ngapain lu ngajakin kita ketemu sama 2 makhluk hidup itu?" Ucap Nana sarkas.
"Tau nih si Lisa, melesan tau ketemu sama mereka. Bikin Alergi" Tambah Sasha.
"Woy! Jaga tuh mulut lo, kalau nggak dijaga ntar bisa kendor nyampe lantai karena kebanyakan ngomong" Sahut Leon sambil tersenyum miring.
"Nyari masalah lo! Hah!" Seru Nana kesal.
"Kenapa Na? Kan itu fakta, lu sama Sasha kan suka ngomongin hal-hal yang nggak penting" Jawab Gabriel santai.
"Eh! Lel! Lu banci ya? Beraninya cuman sama cewek doang. Cih!" Ucap Sasha kesal.
Mereka berempat terus saling beradu mulut, Valisha dan Karina terus berusaha untuk melerai mereka. Tetapi tidak berhasil, sampai Reno membuka mulut dengan santai nya.
"Tania suka Nara nggak?"
Perdebatan mereka pun berakhir dan malah fokus menatap ke arah Reno dengan wajah bingung.
"Lu ngomong apa barusan?" Tanya Nana
"Tania suka Nara nggak?" Ucap Reno santai
"Maksud lu apaan?" Tanya Sasha yang masih kebingungan.
"Aduh! Anak kelasnya si Nara ogeb ogeb ternyata. Haaaaa~" Ucapnya sambil menghembuskan nafas pelan. "Gue nanya, Tania suka sama Nara nggak?" Tambahnya.
"Kalau dia suka sama Nara, emang kenapa?" Sahut Karina sambil menatap ke arah Reno serius.
"Seriusan dia suka sama Nara?" Tanya mereka semua kepada Karina.
"Mampus, gue keceplosan. Maaf banget Tan" Batin Karina menyesali ucapannya barusan.
"Oi Kar, lu serius kan?" Tanya Gabriel serius
"Ah, anu... Itu kan gue bilangnya kalau, ya kalau Tania suka sama Nara. Berarti belum tentu dong dia suka, kan kan?" Ucapnya sambil tersenyum agak dipaksakan.
"Wahh~ Akting lu buruk banget" Celetuk Alan yang tiba-tiba muncul di sana.
"L-lu ngomong apaan sih, gue seriusan kok" Ucapnya dengan gugup.
Prok!
"Okay, Alan nggak pernah salah liat kalau orang itu boong atau nggak." Sahut Reno sambil menepuk tangannya.
"Gue serius" Sanggah Karina
"Kok lu nggak ngasih tau kita berdua sih?" Tanya Nana sebal.
"Ngasih tau apaan?"
"Karina, nggak usah ngelak deh. Tania beneran suka sama Nara atau nggak? Buruan jawab!" Pinta Sasha sambil menatap tajam ke arahnya.
"Okay okay, Tania emang suka sama Nara. Sa,Na sorry banget gue bukannya nggak mau ngasih tau kalian dan Tania juga nggak bermaksud buat nggaj ngasih tau kalian. Cuman, Tania nggak mau kalau ini kesebar apalagi nyampe ke telinganya si Nar. Jadi, dia cuman ngasih tau gue, dan Gue sih yang ngelarang dia buat ngasih tau kalian. Soalnya mulut lu berdua nggak lu nya rem." Jelas Karina panjang lebar.
Sasha dan Nana yang sedang kesal semakin kesal setelah mendengar penjelasan Karina dan mentapa sebal ke arahnya. Karina hanya bisa tersenyum sambil menyapa keduanya, sedangkan mereka yang berada di sana hanya diam dan tengah mencari momen yang pas untuk mencairkan suasana.
"Udah, udah ngapain berantem sih. Katanya mau bantuin, Tania sama Nara biar deket" Sahut Alan santai di saat mereka masih mencari cela untuk mencairkan suasana.
"Maksud lu?" Tanya Karina, Sasha dan Nana bersamaan sambil menatap bingung ke arahnya.
Alan hanya mengedikkan bahunya "Kalian tanya aja sama mereka" Ucapnya santai sambil menunjuk ke arah Reno, Gabriel dan Leon. "Gue balik ke kelas dulu ya, bye". Alan pun segera pergi dari sana.
"Maksudnya gimana?" Tanya Sasha
Gabriel pun menjelaskan maksud dari Alan kepada mereka bertiga dan mereka sepakat untuk bekerja sama dalam menyukseskan rencana pendekatan antara Tania dan Nara.
...----------------...
Mohon saran dan kritiknya semua🙏😊
Agar saya bisa memperbaiki tulisan saya ini
Terima kasih kepada pembaca yang sudah mampir untuk membaca hasil tulisan saya 🙏😊
💜💜💜💜💜💜💜