
Tak terasa, sekarang adalah tahun kedua bagi Reyna duduk di bangku SMA. Seperti biasa dia akan berangkat ke sekolah menggunakan sepeda motornya. Dan setelah pulang sekolah mengikuti rapat anggota PMR.
Ataupun membersihkan kelas selepas pulang sekolah, agar keesokan harinya dia tidak perlu datang pagi-pagi buta seperti yang dilakukan pada tahun ajaran kemarin.
Seperti kata orang, masa SMA adalah masa-masa yang akan selalu dikenang sepanjang hidup dan sulit untuk dilupakan. Dan dia setuju akan hal itu.
Ketika pembagian kelas permanen untuk kelas XI, dia sangat senang, sedih, penasaran dan bercampur gugup. Dia senang karena tidak berpisah kelas dengan sahabat-sahabat nya dan tetap berada di kelas MIPA 2. Namun, dia harus berpisah kelas dengan beberapa anak kelasnya dulu. Mereka harus pindah kelas karena memiliki pelajaran peminatan yang berbeda. Yang membuat dia penasaran ialah, siapa yang akan menggantikan murid yang pindah tersebut dan apakah orang yang menggantikan mereka bisa seasik mereka? Dan apakah Reyna bisa akrab dengan mereka? Itulah pertanyaan yang muncul di dalam kepalanya.
Kelas XI MIPA 2 adalah kelas untuk para murid yang mengikuti pelajaran lintas minat ekonomi. Jadi, para siswa yang berasal dari kelas lain, akan menjadi bagian kelas mereka selagi mereka memiliki peminatan yang sama. Seperti saat ini, terdapat 10 orang yang akan bergabung. Dan Reyna mengenal 3 diantar orang tersebut, mereka adalah teman kelas nya sewaktu SMP, Rai,Reno, dan Alan.
"Hmmm... Sekelas sama mereka lagi dah gue. Dua biang onar SMP yang tadinya ada 5 sekarang tinggal 2, dan nambah si Alan lagi. Nggak kebayang isi kelas gue kek gimana," gumamnya.
"Mungkin Rai itu anak yang pendiam, dan ramah ke semua orang, dan jarang interaksi sama cewe, itu poin pentingnya. But.... Hey come on, Rai yang satu sekolah dan sekarang bakalan sekelas bareng gue. Beda dengan yang dulu, sekarang dia jadi lebih sering interaksi sama cewe. Hmmm... Rai My first love yang dulu keknya udah nggak ada. Bye My first love!" batin Reyna dramatis."Ya sekarang gue udah temenan sih sama dia," tambahnya.
"Lo ngapain si Na? Sehat?" tanya nya sambil duduk di bangku belakang Reyna.
"Bukan urusan lo," jawab Reyna malas.
"Na, ketemu lagi nih kita," sapa Reno yang duduk di samping Alan.
"Hmmm~"
Beberapa menit setelahnya Reyna membalikkan badannya menghadap ke sebelah kiri, lalu menengok ke arah tiga anak lelaki di sebelahnya.
"Kalian ambil peminatan ekonomi waktu pemilihan kemarin?"
"Yoi!" jawab ketiganya kompak.
"Oh."
Setelah itu Reyna kembali berbalik duduk seperti semula.
"Yeeee... penyakit ngirit ngomongnya kambuh lagi," sahut Rai
"Serah gue dong"
"Na."
"Hm."
"Lo deket sama kak Gavin yah?"
"Gavin siapa?" tanya Reyna sambil menengok ke arah Rai.
"Ketua tim sepak bola gua."
"Oh, iya gue kenal. Kenapa?"
"Lo kenal dimana?"
"Kepo lo!"
"Jawaban yang sudah gue duga."
Reyna kembali ke posisi duduknya semula.
"Eh, ini kita kelasnya paten kan?" tanya Alan dari arah belakang.
"Setahu gue sih, iya, kelas paten," jawab Rai.
"Okay."
"Selamat sekelas selama 2 tahun kedepan yah Na! anggap aja pengganti kelas SMP kemarin," celetuk Reno dengan senyuman lebarnya.
Reyna hanya bisa menghembuskan nafasnya pelan.
"Gue yakin ini bakalan berkali-kali lipat lebih berat dari pada, kelas X kemarin. Untung aja, jantung gue udah nggak seenak jidat, dan lagi untung perasaan gue ke dia juga udah berubah," batinnya kesal bercampur rasa lega.
...----------------...
"REYNAAAAA!!!!" seru sahabat-sahabat nya yang baru saja memasuki kelas. Reyna hanya mengangguk menanggapi mereka.
Reyna pun menganggukkan kepalanya. "Makasih Na!" ucap Ivanka.
"Btw si Lia mana?" tanyanya Reyna.
"Biasalah... ngebucin," jawab Aruna. "Thanks ya udah datang pagi-pagi demi ngebooking bangku buat kita, Love youuu!" tambah Aruna sambil membentuk tanda hati dengan kedua tangannya.
"Aaaaaaa.... Reyna so sweet," ujar Valisha dengan nada manja.
Sedangkan Reyna hanya menatap jijik ke arah keduanya.
"Santai aja dong natapnya, gue tau kok kalau gue cantik," ujar Aruna penuh percaya diri lalu duduk di bangkunya, begitu pula dengan kedua temannya. Reyna hanya memutar bola matanya malas sebagai tanda lelah dengan manusia di hadapannya.
Tak berapa lama kemudian terdengar teriakan seorang anak perempuan dari luar kelas mereka.
"OMG! OMG!" teriaknya penuh antusias.
Reyna mendengar suara itu semakin mendekat ke arah kelas, dan benar saja orang itu sekarang sedang masuk ke dalam kelas serta tengah menuju ke arah bangku Reyna dkk sambil kegirangan. Dia adalah Sabrina, sepupu Aruna.
"Bin, nggak usah teriak-teriak bisa nggak?!" ujar Reyna Ketus.
"Ihhh! Na, lu nggak tau sih, gue barusan ketemu sama anak baru tau. Dan dia tipe gue banget," ujarnya sambil tersenyum malu-malu.
"Seriusan Bin?" tanya Aruna
"Iya bener Run, ntar gue kasih liat deh yang mana orangnya, dan gue juga bakalan ngasih tau kalian juga," jawabnya sambil menunjuk Reyna, Valisha dan Ivanka.
"Woy! Toa berjalan mendingan lu duduk gih di bangku lu! Ngehalangin jalan tau nggak?!," ucap seseorang dari belakang Sabrina karena ia menghalangi jalannya. Sabrina pun menengok dan langsung memeluk orang itu.
"Aaaaa.... Gue kangen banget sama lu Liaaa!!!!" ujarnya senang.
"Iya, iya... Buruan duduk gih," pintah Lia. Sabrina pun melepaskan pelukannya dan meletakkan tasnya di bangku kosong yang berada di sebelah Reyna.
Belum sempat dia duduk dibangkunya, Reyna malah langsung menolaknya, "Gue nggak mau duduk sama lu!"
"Ihhh!!! Reyna jahat banget," ucapnya dramatis dengan memasang wajah sedih.
Reyna tidak mempedulikannya, sementara 3 anak lelaki di belakang Reyna hanya menatap geli dengan tingkah laku Sabrina.
"Bina, duduk sama gue aja," tawar Ivanka dari bangku paling depan.
"Okay Van, thanks ya. Lu emang yang terbaik, nggak kayak...." ucapnya sambil melirik Reyna dan langsung segera pindah karena tidak ingin mendapatkan lahar panasnya.
"Well! Hai teman sebangku yang sempat tertunda," ujar Lia, lalu duduk dibangku yang tidak jadi dimiliki Sabrina. Sedangkan manusia di sebelahnya tidak memberikan tanggapan apa-apa.
"Haaaaaa... Untung lu sahabat gue Na, kalau kagak udah gue bejek-bejek juga lu. Padahal kemaren-kemaren baik-baik aja tuh," batin Lia kesal dan bercampur dengan rasa penasaran.
"Hai Lia! Kita sekelas lagi!" sahut tiga orang anak laki-laki dari arah belakang.
Lia terkejut ketika dia menengok ke arah belakang, "Kalian ngapain di sini?"
"Duduk!" jawab ketiganya kompak.
"Gue juga tau kali kalau duduk, maksudnya kenapa kalian bisa di sini?" jelasnya.
"Karena kita semua sudah ditakdirkan untuk berada di kelas yang sama," jawab Reno.
"Yayaya... terserah deh, nggak sanggup gue ngobrol sama orang gila," ujar Lia.
...----------------...
Mohon saran dan kritiknya semua🙏😊
Agar saya bisa memperbaiki tulisan saya ini
Terima kasih kepada pembaca yang sudah mampir untuk membaca hasil tulisan saya 🙏😊
💜💜💜💜💜💜💜