Could I Have This Feeling?

Could I Have This Feeling?
78



"Wah! Pada ngumpul rame-rame nih tanpa gue," seru Reno yang baru saja datang dan langsung duduk di bangku yang masih kosong.


"Nggak usah lebay deh No," tegur Aruna dan hanya mendapat cengiran dari Reno.


"Nar, Tania apa kabar?" tanya Reno dengan rasa penasaran yang berusaha dia tutupi.


Seketika wajah Nara yang lagi senang berubah menjadi datar, "Lu beneran nanya kabar Tania atau nanya gimana jadinya hubungan gue sama dia? Hem?" Nara tersenyum miring sambil menatap dingin Reno.


"Anu Nar-" Reno menatap Valisha untuk meminta bantuan, dan beruntung Valisha langsung menyadarinya.


Namun, belum sempat Valisha membuka mulut, Nara kembali melanjutkan kalimatnya dan menatap Valisha, "Jadi yang mana nih Lis?"


Hening... Suasana di meja makan mereka. "Lah, kok lu berdua diem sih? Nanya yang mana ini jadinya?" ucap Nara memecahkan keheningan yang terjadi.


"Oh iya, gue baru ingat mau ngasih tau ini. Gue udah tau kok kalau kalian berdua, Leon, Gabriel, sama teman-teman Tania berusaha buat bikin gue jadian sama Tania. Ya... Walaupun gue taunya nanti dekat-dekat Tania ngutarain perasaannya sih," jelasnya panjang lebar.


"Kalau kalian penasaran, gue kasih tau deh gimana caranya gue bisa tau. Pertama, Valisha yang tiba-tiba ngajak Reyna keluar padahal dia tau kalau kita berdua udah janjian lebih dulu. Kedua, Leon tiba-tiba ngajak gue nonton, tapi nggak jadi datang. Dan yang ketiga, gue dapat pencerahan dari Lia kalau Tania suka sama gue. Jadi, gue tinggal susun aja satu per satu, untuk membuat kesimpulan, tamat," tambahnya dengan senyuman ramah (lebih tepatnya menutupi kemarahannya).


Seketika suasan yang tadi nya hening, berubah menjadi horor.


"Bagus deh kalau lu udah tau, terus jadinya gimana hubungan kalian berdua? Jadian?" tanya Reyna polos sambil meminum es teh nya. Mendengar hal tersebut, suasan yang tadinya mencekam berubah menjadi hening, Nara bahkan menatap Reyna dengan mulut yang terbuka. Melihat hal tersebut, dengan santai nya dia menutup mulut Nara.


"Reyna emang the best!" batin Alan, Rai dan Lia sambil mengacungkan jempol kepada Reyna.


"Lah, kok jadi diem. Jadi giamana Nar?" tanya nya.


"Haaaa... Tania baik dan gue juga nolak dia. Udah kan?" jawabnya lesuh.


"Kok lu tolak?" tanya Reyna, Valisha dan Reno bersamaan.


"Karena hati gue udah jadi milik orang lain," jawabnya santai dan raut wajahnya udah kembali normal.


"Siapa?" tanya Reyna


"Anak SMP gue dulu, dan sekarang gue sekelas sama dia," jawab Nara sambil menatap mata Reyna.


"Lah, yang satu SMP sama lu dan sekarang sekelas kan ada banyak, ada Aruna, Lia, Sinta, Dania, Shiren, sama Ayu," jelas Reyna.


"Pokoknya clue nya itu," jawab Nara.


"Buat apaan sih make clue clue segala, toh lu udah ditolak," sahut Lia.


Jleb


Nara merasa seperti tertusuk oleh anak panah tepat di jantungnya.


"Emang ye... Mulutnya nih anak tejem amat," batin Nara.


...----------------...


Beberapa menit lalu di malam hari. Reyna tengah asik menonton kartun favoritnya di dalam kamar. Namun, sayang sebuah panggulan masuk membuatnya harus berhenti.


Dengan malas Reyna pun mengangkat telfon tersebut, "Kenapa?" tanyanya.


"lu lagi dimana?"


^^^"Rumah."^^^


"Jalan yuk!" ajak Nara dari seberang telfon sama dengan semangat.


^^^"Nggak!"^^^


"Elah... Ayolah, dari pada di rumah mulu. Lagian lu kok gini sih sama sahabat kecil lu yang keren, cakep dan mempesona gini."


.......


Tidak ada jawaban dari seberang sana.


"Okay, gitu ya. Udah punya temen baru, temen lamanya dibuang. Okay, senggaknya gue tau kalau lu orang yang kek gitu," ucapnya miris dari seberang sana.


^^^"Yaudah Ayok! Gue lagi bosan di rumah."^^^


Alhasil di sinilah Reyna sekarang, duduk di toko kue dengan seseorang yang menyebut dirinya sahabat. Reyna masih menatap malas orang di hadapannya. Jika saja di sana tidak banyak orang, dia pasti sudah menghajarnya.


"Kok lu nggak makan sih? Nggak suka ya?" tanyanya.


"Gue suka-suka aja sih, soalnya gratis," jawabnya dengan wajah datar.


"Ah elah... Senyum napa. Datar amat tuh muka kek tembok, bahkan tembok TK lebih bagus loh, soalnya bercorak. Lah lu, datar tanpa corak, ckckck!" ucapnya santai sambil melahap macaron yang ada di hadapannya.


"Hmmm... Emang toko kue yang terbaik," tambahnya sambil tersenyum senang.


Reyna menatap jijik orang di hadapannya sambil bertanya, "Nar, lu bisa kek biasanya aja nggak? Nggak usah senyam-senyum?"


"Lah... Emang Napa?" tanyanya penasaran, "gua tampan ya?". Menarik turunkan kedua alisnya.


"Nggak tuh, biasa aja!" jawabnya enteng.


Jleb!


"Justru serem sih jatohnya kalau lu senyum," tambah Reyna dengan watados andalannya.


Jleb!


Lagi, anak panah itu kembali menembus jantungnya, padahal rasa sakit yang pertama belumlah hilang.


Ya... Orang itu adalah Nara. Sahabat Reyna yang baru saja mendengar kenyataan pahit yang tidak bisa dia bantah.


"Na, besok gue latihan basket loh, nonton ya?" ujar Nara.


"Ogah," tolak Reyna.


"Kenapa?"


"Males, mendingan gue tidur ae di kelas, mumpung pekan ini belum aktif belajar."


"Nggak asik lu."


"Bodoamat."


Nara diam dan memikirkan sesuatu, sedangkan Reyna hanya menatap bingung ke arahnya. "Na, gue denger-denger besok anak futsal latihan di lapangan outdoor tuh, lu bakalan nonton sesi latihan mereka?" tanya Nara.


"Iiiya."


"Terus kenapa lu nggak mau liat gue latihan? kan besok gue juga latihan di lapangan outdoor."


"Ya pengen aja sih gue liat latihannya anak futsal."


Tak ada jawaban dan pertanyaan lagi dari Nara, dia diam dan hanya memakan kue yang ada dihadapannya.


"Kenapa lagi sih dia?" batin Reyna bingung.


"Lu suka ya sama Rai?" tanya Nara tiba-tiba.


Deg! Deg! Deg!


Tiba-tiba jantung Reyna kembali berdegub kencang, padahal akhir-akhir ini dia tidak mengalami hal ini lagi.


"Gue kenapa lagi sih?" batinnya.


"Na?"


Panggilan dari Nara kembali menyadarkannya.


"Hm? Ya?" tanyanya dengan wajah gugup.


"Lu suka sama Rai?" tanya Nara sambil menatap Reyna tepat di retina matanya dengan serius.


"N-Nggak kok. Gue sama di kan cuman temenan," jawab Reyna gugup sambil mengalihkan pandangannya ke tempat lain. Dan tentu saja Nara memperhatikan hal tersebut.


"Cih! Kata Alan Reyna udah nggak suka sama Rai, terus ini apaan namanya?" batinnya kesal.


"Yayaya... Lu pasti nonton futsal karena mau liat Rai kan?"


Deg!


"Aduh! Kok makin kenceng aja nih jantung, padahal gue udah nggak suka lagi tuh sama Rai, ihhh... sebel bat," batinnya bingung bercampur kesal.


"Nggak kok, gue cuman pen liat aja, lagian besok si Lia pasti ngajak gue nonton, soalnya cowoknya anak futsal," bantah Reyna sesantai mungkin.


"Oh, terkadang ada golongan orang yang kalau ngomong di mulut bilangnya nggak, tapi di hati iya. Dan elu salah satu golongan dari orang-orang tersebut," ujar Nara menyinggung Reyna.


"Masasi? Gue nggak tuh," protes Reyna.


"Oh."


"Hahaha... Na, Na, jangan bilang sebelumnya lu ngira perasaan lu ke Rai udah berubah karena kalian udah temenan dan udah nggak ada lagi yang nanyain soal perasaan lu ke dia kek gimana. Dan lu gugup karena gue tiba-tiba nanya? Lu bahkan ngehindarin tatapan mata gue, cih!" batinnya kesal.


"Haaa... Andaikan waktu itu gue ngejar lu," gumam Nara pelan sambil menghembuskan nafas kasar.


"Hm? Lu ngomong apaan?" tanya Reyna bingung.


"Nggak ada tuh, udah buruan habisin terus kita balik." jawab Nara.


"Okay."


Keduanya pun segera menghabiskan kue pesanan mereka dan langsung kembali ke rumah masing-masing.


...----------------...


Mohon saran dan kritiknya semua🙏😊


Agar saya bisa memperbaiki tulisan saya ini


Terima kasih kepada pembaca yang sudah mampir untuk membaca hasil tulisan saya 🙏😊


💜💜💜💜💜💜💜