Could I Have This Feeling?

Could I Have This Feeling?
55



"Baiklah anak-anak, seperti yang sudah ibu informasikan 3 hari lalu, bahwa akan ada siswa dari sekolah lain yang akan belajar di kelas kita. Dan kabar gembiranya adalah.... mereka sudah ada di tengah-tengah kita" Jelas bu Sinta dengan senang serta senyuman yang tak luntur dari wajahnya.


"Lah... Emang ada bu Sinta ngejelasin soal ini kemaren?" Bisik Leon dengan kebingungannya.


"Mana gue tau ege" Jawab Nara sambil memukul pelan kepala Leon "Gue kan kemaren telat bareng lu, gimana sih!" Tambahnya dengan kesal.


"Iya yah, kita telat bareng-bareng beberapa hari ini. Hehehe..." Ucap Leon sambil nyengir.


"Silahkan masuk anak-anak yang cantik dan tampan" Pintah beliau antusias.


Sedangkan anak kelasnya hanya bisa tersenyum dan geleng-geleng kepala, mereka sudah terbiasa dengan hal tersebut. Sebab beliau telah menjadi wali kelas mereka dari beberapa bulan lalu.


Terlihat 6 orang anak memasuki kelas mereka, 3 diantaranya anak laki-laki dan 3 lainnya adalah anak perempuan.


"Nah, sekarang kalian tolong memperkenalkan diri masing-masing yah. Kalian nggak usah takut yah, anak-anak murid saya nggak makan orang kok" Pintah bu Sinta diselingi dengan candaan.


"Iya, bu" Jawab seorang gadis dengan rambut sebahu yang dibiarkan tergerai serta jepitan rambut di sisi kirinya.


"Silahkan" Ucap bu Sinta lalu duduk di bangkunya.


"Halo semua, nama saya Lia dan saya berasal dari SMA Pemuda Bangsa. Mohon bantuannya yah" Ucapnya diakhiri dengan senyuman manisnya.


"Cantik juga tuh cewek" Ucap Leon sambil tersenyum


Sedangkan Nara tidak menanggapi nya, dia hanya fokus menatap salah seorang di antara mereka.


"Hi, nama gue Valisha, asal sekolah gue sama dengan Lia. Mohon bantuannya guys" Ucapnya penuh semangat


"Bagus Lisa, saya suka semangat kamu" Ucap bu Sinta


"Terimakasih bu, saya juga suka semangat ibu" Ucapnya diiringi dengan senyuman manisnya.


"Yo, nama gue Reno. Asal sekolah gue sama kek mereka. Mohon bantuannya teman-teman sekalian" Ucapnya sambil membungkukkan badan.


"Halo teman-teman sekalian, nama gue Alan. Mohon bantuannya yah, dan untuk asal sekolah, kami berenam sebenarnya dari sekolah yang sama. Terimakasih"


Penjelas dari Alan mendapat anggukan dari anak kelas bu Sinta.


"Hai, nama saya Rai. Salam kenal semuanya" Ucapnya dengan senyuman di wajahnya "Mohon bantuannya" tambahnya


"Ya ampun... Lo ganteng banget" Teriak seseorang dari sudut kelas, yang membuat pandangan semua orang tertuju padanya. Sedangkan Rai dan kawan-kawan terkejut mendengar hal tersebut.


"Maaf" Ucap anak perempuan itu.


"Mia, kamu nggak salah kok. Ibu juga setuju kalau Rai ganteng. Apalagi senyumannya sangat memikat hati, bener nggak?" Tanya bu Sinta


"Setuju bu" Sahut anak perempuan di dalam kelas dengan semangat 45.


Sedangkan Rai hanya tersenyum menanggapi tersebut.


"Baiklah, silahkan dilanjutkan"


"Hi, nam-"


Bugh!


Ucapan Reyna terpotong karena seorang anak laki-laki terjatuh di depan mereka dengan posisi tengkurap.


"Aduh! Sakit banget lagi" Ucapnya bangkit ke posisi duduk bersila .


"Gabriel"


"Iya bu?" Tanya bingung


Sementara itu bu Sinta mengisyaratkannya untuk segera berdiri dan duduk dibangkunya. Namun, dia tidak memahami isyarat itu. Sedangkan Leon, Nara, dan anak-anak kelas lainnya hanya bisa geleng-geleng kepala. Sepertinya Gabriel tidak memperhatikan keadaan sekitarnya ketika tengah berlari memasuki kelas.


Reyna tidak memusingkan hal tersebut, dia pun memutuskan untuk melajutkan ucapannya yang tertunda.


"Nama saya Reyna, mohon bantuannya"


Gabriel yang mendengar hal tersebut, spontan menengok ke arah sebelah kirinya. Dan bertapa terkejutnya dia ketika melihat 6 orang asing di hadapannya. Dia segera bangkit dan langsung duduk di bangkunya.


"Kok lo berdua nggak ngasih tau gue sih?" Tanyanya dengan suara berbisik dan nada yang sedikit kesal.


"Bu Sinta udah ngode lo, tapi lu nya aja yang nggak paham" Celetuk Leon.


"Okay, sekarang kalian bisa duduk di......" Ucap beliau sambil mengedarkan pandangannya ke arah muridnya.


"Loh, kok begini posisi duduknya? Kan kemarin udah ibu atur"


Mereka semua hanya bisa diam dan merasa bersalah, pasalnya bu Sinta sudah mengatur tempat duduk mereka agar pada saat murid pertukaran pelajar datang, mereka bisa langsung menempati bangkunya.


"Maaf bu, kita bakal balik ke posisi yang ibu jelasin kemarin, iya kan teman-teman?"


"Iya bu, bener" Mereka semua tengah bersiap beranjak dari bangku mereka.


"Kalian nggak usah pindah, duduk di situ aja. Bu saya dan teman-teman saya duduk di sana saja, boleh?" Tanya Lia


"Ya ampun! Kamu baik banget sih, yaudah... Kalau begitu kalian boleh tetap duduk di posisi itu, dan mereka biar duduk di deretan Nara dan kawan-kawannya"


"Baik bu, terimakasih. Makasih Lia" Sahut mereka bersamaan, Lia hanya tersenyum menanggapi ucapan mereka.


Mereka berenam segera menuju bangku mereka masing-masing.


"Eittsss! Gue duduk bareng Lia" Ucapnya dengan senyuman dan langsung duduk di salah satu bangku di meja depan.


Reyna hanya bisa menghembuskan nafas kasar, sedangkan Lia hanya bisa menepuk pundak Reyna dan segera duduk kebangkunya.


Reyna pun berbalik dan hanya ada 2 bangku kosong, di sana. Satu bangku berada di sebelah anak kelas ini, satunya lagi di sebelah Rai. Dengan berat hati dia memilih duduk di sebelah Rai.


"Sungguh sial! Pergi sekolah tadi, gue duduk dalam bus di sebelah dia dan sekarang gue bakalan duduk di samping dia selama 2 sampai 3 bulan kedepan" Batin Reyna dan kemudian dia hendak membenturkan kepalanya ke meja, tetapi Rai sudah lebih dulu menahan kepalanya, sehingga tangan Rai yang terbentur ke meja. Sedangkan Reyna, tidak perduli akan hal itu.


"Buset, masih sama aja tenaga dia. Jadi nostalgia dah gue. Selama 3 bulan kedepan gue bakalan sebangku sama dia, gue keknya harus siapin kotak P3K deh" Batinnya sambil menarik tangannya dari meja. Sehingga jidat Reyna langsung menyentuh meja.


"Reyna"


"Iya bu?" Ucapnya langsung mengangkat kepalanya.


"Kamu nggak papa?" Tanya bu Sinta menghampirinya.


"Saya nggak papa kok bu"


"Yakin?"


"Iya,bu"


"Kalau ada apa-apa kamu kasih tau aja sama ketua kelas yah"


"Baik bu"


"Nara kamu tidak keberatan kan kalau kamu yang bertanggung jawab atas mereka berenam"


"Iya bu, saya sebagai ketua kelas harus bisa menjaga semua anggota kelas saya bu"


"Bagus"


Reyna langsung memasang muka masamnya, "Nara ketua kelas nya? Dan gue harus ngasih tau dia kalau ada apa-apa? Dih! Ogah!" Batinnya


"Loh... Kamu yakin nggak papa?"


Reyna yang mendengar hal tersebut langsung merubah ekspresinya menjadi normal kembali.


"Iya bu, saya nggak papa kok" Ucapnya sambil tersenyum.


"Ya sudah kalau gitu" Ucap beliau kemudian kembali ke bangkunya.


"Baiklah... Mohon maaf sebelumnya, pak Firman tidak bisa masuk hari ini karena beliau sedang sakit. Tetapi, beliau meminta kalian untuk mengerjakan soal essay 20 nomor pada halaman 35, dan dikumpulkan di mejanya."


"Ahhh... 20 nomer kebanyakan bu"


"Benar, bu"


"Kurangin dong bu"


Protes anak kelas tersebut pada bu Sinta. Namun, bu Sinta mengatakan tidak bisa dan beliau segera pamit keluar dari kelas karena harus mengajar di kelas lain.


Mereka semua pun segera mengerjakan tugas tersebut, walupun begitu kondisi kelas mereka cukup ribut. Dan hal itu tidak jauh berbeda dengan sekolah Reyna.


"Lia ini nomer 5 gimana?" Tanya Valisha bingung.


"Siniin coba"


"Oh ini, make rumus yang pekan lalu di ajarin sama pak Andi"


"Gue nggak ingat, gimana dong?"


"Bentar, gue lagi ngitung"


"Okay, gue ngerjain yang lain deh"


"Nara" Sapa Reno


"Apaan?"


"Apaan?" Tanyanya sambil membalikkan badannya.


"Ngetes suara doang"


"Kampret"


"Hahaha..." Tawa Alan dan Reno puas.


"Kalian kenal Nara?" Tanya Gabriel yang duduk di depan mereka.


"Yoi, teman SMP" Jawab Alan.


"Oh, nama gue Gabriel"


"Gue Reno"


"Gue Alan"


"Yo, No, Lan. Nama gue Leon" Sahut Leon dari arah depan


"Siap brother" Ucap Alan dan Reno kompak


Bukannya mengerjakan tugas, mereka berempat bahkan sudah bercengkrama riah. Padahal, masih banyak soal yang harus mereka selesaikan.


"Ngobrolnya nanti aja, sekarang lo pada selesaiin soalnya" Tegur Nara tegas.


"Siapa pak ketua" Sahut keempatnya disertai dengan tangan di letakkan di dahi mereka seperti hormat kepada pembina upacara.


"Ini udah bener nggak sih? Tapi kok gue langsung dapat hasilnya yah? Tadi Lia kan bingung nemu jawaban 5 nomer ini. Kok nemunya cepet? Dan setau gue matematika itu nggak se-simple ini, bener kan?" Gumamnya sambil mencoret dibuku cakarannya.


Nara bisa mendengar ucapan Reyna, tetapi dia tidak berniat untuk menanyakannya. Dia masih cukup kesal sama Reyna, jadi dia hanya akan menunggu Reyna yang bertanya sendiri padanya. Karena Dia tau, jika Reyna pasti akan meminta bantuannya jika dia kesulitan dalam mengerjakan soal hitungan. Walaupun, Rai duduk di sebelahnya. Nara yakin Reyna tidak akan bertanya kepadanya, dan Rai juga tidak akan bertanya pada Reyna. Karena sedari tadi, Nara melihat keduanya sangat canggung dan tentu saja itu sudah terlihat sejak keduanya memasuki kelas.


Karena saking bingungnya, Reyna memutuskan meletakkan kepalanya ke atas meja. Dan hal ini semakin membuat Nara yakin, kalau Reyna pasti tengah kesulitan, dan sebuah senyuman tipis muncul di wajahnya yang tiada seorang pun yang mengetahuinya.


"Rai"


"Rey"


Ucap keduanya secara bersamaan dan keduanya cukup terkejut akan apa yang barusan terjadi. Reyna segera mengangkat kepalanya dan langsung membuang muka ke arah lain, sedangkan Rai langsung mengalihkan pandangannya ke arah buku cetaknya.


Nara terkejut dengan hal tersebut, namun dia bisa langsung mengontrol ekspresinya menjadi seperti biasanya. Lia dan Lisa yang mendengar hal tersebut langsung menengok ke arah mereka, dan dari tatapannya Reyna tau jika mereka berdua ingin mengatakan "apa yang terjadi?"


"Gue mau nanya ke Reyna, dia bingung dibagian mana. Kali aja gue bisa bantu, soalnya dia dari tadi kek orang frustasi" Sela Rai yang pada bagian akhir kalimatnya terdengar seperti nada mengejek.


"Kalau gue bisa, ngapain gue mau minta bantuan lo?" Ucapnya sombong.


"Oh, yaudah. Nggak ada ruginya juga buat gue." Ucap Rai kesal.


"No"


"Huh?"


"Lo udah belom?"


"Lima nomer lagi bro"


"Mau gue bantuin nggak?"


"Boleh banget, sini lo!"


Rai pun segera bangkit, namun ditahan oleh Reyna.


"No, lo nanya ke Alan aja. Rai harus ngajarin gue, okay" Ucapnya yang hanya bisa diangguki oleh Reno karena dia tidak ingin mendapatkan lahar panas Reyna. Karena sejak perjalanan mereka ke Semarang, Reyna banyak berdiam diri.


"Duduk lo!"


"Iya" Ucapnya langsung duduk dibangkunya dan mulai menjelaskan cara pengerjaan soalnya kepada Reyna.


...----------------...


"Ahhh!!! Gila susah banget! Rai, thanks yah. Lo emang malaikat penolong gue"


"Sama-sama Lis"


"Heh! Gue juga disebelah lu ikut ngebantuin yah"


"Iya-iya" Ucap Valisha sambil cengar-cengir.


Saat ini mereka tengah berada di kantin sekolah, dan suasananya sangat ramai. Semua bangku kantin terisi penuh dan hanya bangku mereka saja yang masih kosong.


"No" Sapa Leon yang datang bersama dengan Gabriel dan Nara.


"Eh! Yon"


"Boleh gabung nggak nih kita?" Tanya Gabriel


"Kalau gue sih boleh-boleh aja" Jawab Reno


"Gue juga nggak keberatan" Tambah Lia diikuti dengan Valisha.


"Bener tuh, duduk aja"


"Okay, makasih" Ucap Leon dan Gabriel bersamaan dan segera duduk di bangku kosong.


Sedangkan Nara masih berdiri di tempatnya sambil menatap dingin ke arah Reyna, begitu pula dengan Reyna. Dia melakukan hal yang sama dengan Nara.


"Kok suasana nih kantin jadi horor sih?" Tanya Gabriel


"Hooh, perasaan nggak pernah kek gini dah. Mau pas lagi rame ataupun sepi, suasananya nyaman-nyaman aja" Tambahan Leon


"Gue setuju sama lo berdua" Sahut Reno, Alan, dan Valisha bersamaan.


Sedangkan Rai dan Lia hanya fokus ke makanan mereka saja, sudah jelas mereka tau siapa yang menimbulkan suasana seperti itu.


"Gue mau balik aja, nggak nyaman gue di sini" Ucap Reyna datar dan segera pergi dari sana. Mereka yang melihat hal tersebut hanya bisa memakluminya saja. Nara langsung bergabung dengan mereka ketika Reyna sudah tidak berada di sana lagi.


"Nah udah normal lagi" Ucap Leon santai dan membuat mereka semua tertawa terbahak-bahak, kecuali untuk Nara.


"Lia"


"Apaan Lan?"


"Itu, si Ana nggak papa dibiarin gitu aja?"


"Nggak papa Lan, kalau dia lapar ntar juga balik sendiri santai aja"


"Emang lu yakin dia bakalan balik? Orang yang harga dirinya tinggi kek dia? Haaah...." Ucap Nara tiba-tiba dengan nada sarkasme.


"Hadewwww... Lu ngomong kek gini sama aja mau ngajak orang ribut tau nggak" Protes Gabriel


"Tau tuh, kemaren aja senyam-senyum nggak jelas kek orang gila. Sekarang muka ditekuk kek kursi lipat" Tambah Leon.


"Hahaha..." Mereka semua tertawa mendengar ucapan Leon sedangkan Nara hanya mendengar kesal.


"Dari pada kalian ngurusin nih anak" Ucap Lia sambil menunjuk ke arah Nara "Mendingan kalian pesan makanan sono"


"Lah iya bener" Ucap Leon


"Le, gue yang biasa ya"


"Enak aja, lu sono yang beli sendiri" Ucap Leon dan langsung segera pergi membeli makanannya.


"Yeee... Kampret. Lu mau beli apaan pak bro?"


"Nggak, gue nggak laper" Ucap Nara dan langsung keluar dari kantin.


"Hedehhh... Tuh anak kenapa sih?" Tanya Gabriel


"Lu tanya ke kita?"


"Iyalah No, emang gue nanya siapa lagi"


"Lu aja yang temennya nggak tau, apalagi kita" Celetuk Lia


"Iya juga sih"


...----------------...


Mohon saran dan kritiknya semua🙏😊


Agar saya bisa memperbaiki tulisan saya ini


Terima kasih kepada pembaca yang sudah mampir untuk membaca hasil tulisan saya 🙏😊


Maaf ya gaes kalau ceritanya nggak nyambung 🙏😁


💜💜💜💜💜💜💜