Could I Have This Feeling?

Could I Have This Feeling?
85



Reyna tengah membereskan alat tulis dan kawan-kawannya. Sungguh senangnya bagi anak kelas XII MIPA 2 karena guru mata pelajaran di jam akhir tidak masuk, sehingga mereka semua bisa bersantai.


Ketika bel pulang telah berbunyi mereka segera berhamburan keluar kelas. Reyna berjalan keluar lebih dulu setelah bel berbunyi dan meninggalkan para sahabat-sahabatnya.


Dia menunggu jemputannya di halaman depan sekolah. Sesekali dia tersenyum kepada para adik kelas yang menyapanya.


"REYNA!" Teriak Valisha dari arah sebelah kanan Reyna yang sedang berjalan bersama sahabat-sahabat mereka.


Reyna hanya menatapnya datar, entah kenapa belakangan ini dia tidak memiliki gairah sosial kepada para sahabatnya.


"Datar amat tuh muka kek tembok TK," ujar Ivanka ketika mereka tiba di tempat Reyna.


"Bagusan tembok TK dong, masih ada coraknya, kalau Reyna kagak ada say," tambah Aruna.


Dia pun hanya memutar bola matanya malas.


"ANA!!!" teriak seorang anak laki-laki yang tengah ngos-ngosan, Nara.


Dia berhenti sejenak untuk mengatur nafasnya dan kembali berjalan ke arah Reyna.


"Kenapa sih teriak-teriak?" tanyanya datar.


"Buset, mukanya datar amat kek telenan emak gua," jawab Nara bercanda.


"Keknya lu kelamaan duduk sama Rai deh, makanya lawakannya jauh dari SNI," ucapnya datar.


"Bodo dah. Lu ikut gue!" pintahnya sambil menarik tangan Reyna.


"Lu apaan sih main narik-narik aja!" kesal Reyna.


Nara menghembuskan nafasnya pelan, "lu pulang bareng sama gue, nggak pake penolakan!" pintahnya tegas.


Bukannya menjawab, Reyna malah memutar bola matanya jengah.


"Sekalian gua traktirin makanan yang lu suka, suer!" mengacungkan jari membentuk huruf V.


"Cih! Apaan! Tadi pagi udah gua ajak dan lu nggak ngasih jawaban apa-apa. Terus kenapa sekarang malah ngajak sih? Mana maksa lagi, lu pikir gua bakalan mau ikut sana lu dengan iming-iming makanan apa?!" ucap Reyna kesal sambil menghempaskan tangan Nara yang masih menggenggam tangannya.


"Iya, iya maaf. Soalnya gua masih kesal sama lu, anggap aja ini ajakan buat kita damai gitu."


"Hadeehhh... Harus ya? Nggak bisa damai kek biasanya aja apa? Tinggal ngomong dan selesai, udah."


"Nggak bisa, ini wajib," tolaknya.


"Lu bawel banget sih, yaudah ayok!" ucap Reyna pasrah pada akhirnya.


Mereka pun pulang bersama, setelah sebelumnya berpamitan kapada para sahabat Reyna.


...----------------...


Setibanya di toko kue langganannya, Nara langsung memesan kue favoritnya dan meminta Reyna untuk melakukan hal yang sama. Tak berapa lama kemudian pesanan merek pun tiba.


"Jadi udah damai kan?" tanya Reyna sambil memakan kue pesananya.


"Iya. Na habis ini kita makan sate depan SMP kita dulu yuk!" ajaknya.


"Nar, harusnya lu itu ngajak ke sana dulu, baru ke sini. Makanan berat dulu kali baru bagian makanan penutupnya."


"Udahlah, gua lagi pengen makan ini dulu baru pergi ke sana."


"Iyain aja deh biar cepat."


Setelah selesai menghabiskan makanan mereka, keduanya kembali melanjutkan perjalanan menuju tempat yang Nara katakan tadi.


Setibanya di sana mereka langsung memesan sate paket lengkap, dan Nara meminta kepada sang penjual untuk membungkus pesanan mereka.


Reyna menatap Nara heran, pasalnya dia mengira jika mereka akan makan langsung di sana, bukannya di bawa ke rumah masing-masing.


"Kok nggak makan di sini aja?" tanya Reyna setelah keduanya duduk di bangku kosong yang tersedia.


"Pengen aja," jawabnya santai.


Reyna hanya memutar bola matanya malas setelah mendengar jawaban Nara.


"Emang nih anak suka semenah-semenah sih," batin Reyna.


Setelah pesanan keduanya telah siap, Nara langsung membayarnya dan kembali menjalankan motornya. Namun, di tengah perjalanan dia menghentikan motornya di sebuah warung. Dia pun turun dan meminta Reyna untuk menunggu saja di sana.


Tak berapa lama dia keluar dengan dua botol minuman di dalam sebuah kantong kresek dan menyerahkannya kepada Reyna.


Keduanya kembali melanjutkan perjalanan mereka, hingga Nara kembali menghentikan motornya di taman yang berada di kompleks perumahan mereka.


"Ngapain berenti di sini? Bentar lagi kan nyampe rumah," tanya Reyna yang masih berada di atas motor dengan bingung.


Keduanya berjalan ke arah bangku yang ada ada di sana, lalu duduk bersama.


Hening~~~ Nara tidak lagi membuka suara, sedangkan Reyna hanya menatap bingung ke arah Nara yang sedang bersandar sambil memejamkan matanya.


"Dia kenapa sih? Aneh banget dari tadi pas ngajak pulang," batinnya bingung.


Tak berapa lama kemudian, Reyna teringat sesuatu, jika dia dan Nara belakangan ini sedang tidak bersahabat dengan alasan yang Reyna tidak ketahui.


"Atau jangan-jangan dia mau marah-marah lagi sama gua? Wahhhh~~~ Seumur hidup gua nggak pernah ngebayangin sih kalau dia bakalan marah-marah sama gua setelah tidak bersahabat selama sepekan," batinnya.


"Na!"


"Hm?" Reyna masih setia menatap Nara sedari tadi.


"Na!"


"Iya, kenapa?"


"Itu"


"Itu apa?"


Bukannya menjawab Nara malah berdiri, dan otomatis Reyna yang berada di sebelahnya juga ikut berdiri. Dia bahkan membalikkan badannya menghadap ke arah Nara.


Nara masih diam dan menatap lurus kedepan.


"Nih anak kenapa sih?" batinnya bingung sambil menatap Nara.


"Anu..."


"Anu apa?"


"Itu..."


Lagi-lagi Nara kembali menggantungkan kata-katanya. Sedangkan Reyna sedang berusaha bersabar menghadapinya saat ini.


Cukup lama mereka berdiri dengan posisi yang sama. Lalu, tiba-tiba Nara berbalik menghadap ke arah Reyna.


"Na!" ucapnya dengan nada serius.


"Iya Nar, kenapa?"


"Gua suka sama lu."


Deg!


Mendengar pernyataan tersebut, Reyna terdiam sekaligus terkejut sambil menatapnya. Dia bisa melihat Nara segera memalingkan wajahnya setelah dia mengatakan hal tersebut.


"Gu-gua nggak s-salah dengar kan?" batinnya gugup.


Entah kenapa tiba-tiba saja dia merasa gugup setelah mendengar pernyataan Nara.


"I-ini gua nggak salah dengar kan?" batinnya.


Suasana di antar keduanya berubah drastis menjadi situasi yang sangat canggung, Nara masih menatap ke arah lain, sedangkan Reyna yang tadinya tengah menatapnya, beralih menatap ke bawah.


Reyna bisa mendengar Nara menghembuskan nafasnya berkali-kali.


"T-tapi l-lu nggak usah jawab nggak papa. Gu-gua cu-cuman m-mau jujur aja sama lu," ucapnya terbata-bata masih dengan posisi yang sama.


Reyna tidak menjawab dan hanya diam, kembali dia mendongakkan kepalanya ke atas, dia melihat telinga Nara tengah memerah, sedangkan Reyna merasakan wajahnya memanas.


"Aduh! Gimana nih? Kok gua ngerasa gerah sih? Jangan bilang muka gua merah kek tomat? Aduh! Gimana dong? Masa gua blushing gegara seorang Alvaro Narendra Farras sih? Kalau dia liat, dia pasti bakalan ngejek gua, dan lagi bisa aja kan dia cuman mau ngerjain gua gegara kesal, Aaaakhhhh~~~~, tau ah!" batinnya panik.


"G-gua serius kok suka sama lu," jawabnya sedikit gugup. "Dan.... gua juga serius, dengan ucapan kalau nggak perlu dijawab, gua bakalan nunggu lu kok." tambahnya sambil berbicara dengan nada yang cepat.


"Aduh! Naraaa! Lu bikin gua-- Sudahlah gua nggak bisa mendeskripsikan perasaan gua sekarang, intinya muka gua makin panas tau setelah denger kalimat terakhir lu, huwaaaaaa..... pen ngilang dari muka bumi detik ini juga," batin Reyna frustasi.


"Hahahaa... Keknya suasananya canggung banget ya, hahahaa... Balik yuk, udah mau magrib nih," ucapnya sambil tertawa dan langsung berjalan lebih dulu menuju ke arah motornya, lalu langsung memakai helm dan menutup kacanya.


Reyna pun hanya mengikutinya dan mengambil helm yang diberikan oleh Nara, lalu naik tanpa bersuara.


...----------------...


Mohon saran dan kritiknya semua🙏😊


Agar saya bisa memperbaiki tulisan saya ini


Terima kasih kepada pembaca yang sudah mampir untuk membaca hasil tulisan saya 🙏😊


💜💜💜💜💜💜💜