
Nara
"Na, udah tidur belum lu?"
"Na"
"Na"
...----------------...
"Hoamm~~~ masih ngantuk gue" Ucap nya ketika tiba di bangku nya.
Saat tiba di sekolah, keadaannya masih agak sepi. Entah apa yang merasukinya, tiba-tiba saja ia ingin datang pagi-pagi buta.
"Mau nyalain lampu nggak nih?Tapi kalau gue nyalain ntar gue males matiinnya lagi. Dahlah nggak usah"
Dia memilih untuk memainkan hand phone miliknya saja.
"Loh semalam si Nara ngechat gue?tumben"
"Bodo ah"
"Read aja deh, ntar juga datang sendiri kalau ada yang penting"
...----------------...
"Kamu kenapa sih sarapan sambil bawa hand phone? Kalau lagi sarapan, ya sarapan aja nggak usah main hand phone" Tegur Mama Nara
"Nggak kok ma, aku nggak mainin. Cuman Nara bawa aja kok ma"
"Yaudah...Buruan makan sarapanmu, ntar kamu telat kalau lama-lama"
"Iya ma"
"Hello ade kesayangan gue yang kerjaan nya bikin masalah" Sapa kakak Nara, Diana.
"Sttttt..." Ucapnya sambil meletakkan jari telunjuk di depan bibirnya.
"Jangan kenceng-kenceng ngomongnya, ntar mama denger kak"
"Oops! Sorry, nggak bermaksud"
"Huh?! Ngeselin aja lu"
Diana hanya mengangkat kedua bahunya dan segera meletakkan sarapan nya di atas piring.
Nara sedang mengetuk-ngetukan jarinya di atas meja. Ia ingin membuka benda pipih miliknya itu, tetapi takut jika ketahuan mama nya.
"Kalau mau buka, ya buka aja. Nggak usah ngetuk-ngetuk meja dong. Ganggu tau nggak!. Mama lagi mandi"
Mendengar ucapan kakanya ia langsung segera membuka benda tersebut dengan senyuman yang mengatakan "Lu emang yang terbaik kak".
Namun sayang, ketika membuka hand phone nya senyuman itu langsung hilang dan terdengar dengusan kasar darinya.
"Sialan nih bocah, udah di biarin selama semalam. Sekarang cuman diread! Cih! Katanya sahabat gue, tapi nyata nya?... Tau ah" Batinnya
"Lu kenapa sih? tadi senyum-senyum sekarang malah kesel sendiri"
"Bukan urusan lo!" Seru nya
"Apaan sih! Kok ngegas"
"Udah yah kakak ku sayang, adik mu ini lagi kesel. Tolong jangan memancing keributan atau kita bakalan dapat omelan mama, okay?"
"Buruan makan sarapan lu, keknya dari tadi nggak disentuh-sentuh tuh"
"Iya"
Bukannya memakannya, ia malah memilih untuk memainkannya sambil melamun. Sang kakak yang melihatnya hanya mengabaikan saja dan memilih untuk menyelesaikan sesi makannya saja.
"Ya ampun... Nara itu makanan. Kok kamu malah mainin"
Ucapan sang mama sontak membuatnya segera tersadar dari lamunannya.
"Eh mama, maaf ma" Ucapnya sambil memamerkan giginya
"Kamu ini, cepet habisin makanan kamu. Dari tadi mama tinggal nggak ada yang berkurang"
"Iya mama"
Ia pun segera memakan sarapannya dengan nikmat .
"Kok Reyna jarang main ke rumah Nar? Kamu berantem sama dia?"
"Nggak kok ma, kita udah beda kelas makanya jarang main ke sini dia"
"Oh, gitu. Tapi kalian masih temenan kan?"
"Iyalah mah, si Reyna itu manusia paling beruntung di bumi. Mama tau kenapa?"
"Kenapa?"
"Karena dia punya Nara sebagai sohibnya yang selalu ada 1x24 jam"
"Kek pak RT aja lu"
"Beuh... Ngajak ribut ya lu"
"Apa!? Lu pikir gue takut apa sama lo, sini maju" Ucap Diana menantang Nara.
Belum sempat ia berdiri dari kursinya, sang mama sudah lebih dulu melerai keduanya.
"Yasa mana ma?"
"Lagi di rumah tante mu"
"Kok nggak pulang sih dia?"
"Habisin aja sarapan kamu, nggak usah ngurusin adikmu"
"Iya ma"
...----------------...
"Woy! Ini bukan pasar kali. Nggak usah teriak-teriak!" Seru Anya yang baru saja keluar dari kamarnya.
"Iya iya maaf, kakak liat buku matematika ku nggak?"
"Nggak, makanya jangan ceroboh jadi orang"
"Iya iya"
Mereka berdua segera menuju ke ruang makan yang di sana sudah ada sang kakak dan kedua orang tua mereka.
"Eh, kamu tuh ya. Jangan teriak-teriak, ngeganggu tetangga tau" Tegur sang papa.
"Iya pa, maaf. Papa ada liat buku matematika ku nggak?"
"Oh itu, keknya diambil tikus"
"Ya ampun pa, Ali serius. Hari ini bu Ratna mau periksa catatan."
"Coba cari baik-baik di kamar kamu"
"Udah pa, tapi nggak ada"
"Coba kamu ingat-ingat dulu, mungkin aja keselip dibuku-buku kamu"
"Oh iya, ma... Aku belum periksa di situ"
"Li, ini kamu kasih ke Reyna yah. Kakak buat banyak semalam" Ucap Lisa meletakkan sebuah kotak di depan Ali.
"Siap kak"
Mereka pun melanjutkan sarapan mereka dengan hikmat.
...----------------...
Di sekolah
Saat ini Ayu dan Kiki sedang berjalan bersama menuju kelas mereka. Kebetulan mereka tiba di waktu yang bersamaan
"Yu, gelang lu bagus banget"
"Iya, dong"
"Beli dimana?"
"Dikasi Rai"
"Minta kali, bukan dikasi"
Celetuk Arsila dari belakang mereka.
"Maksud lu, Sil?"
"Ya itu, dia minta ke Rai. Waktu itu si Rai lagi buat gelang, katanya buat adiknya. Eh, malah diminta sama nih anak. Ya dikasi lah sama dia" Jelas Arsila
"Oh gitu, boong lu ye" Ucapnya sambil menunjuk Ayu.
"Tapi ya, anak-anak cewe yang lain pada minta dan nggak ada yang dikasi. Cuman gue doang yang dikasi, garis bawahi kata gue"
"Hm... Serius?" Tanya mereka berdua kompak
"Hooh"
"Cie cie ... Yang dapet gelang hasil minta dari Rai" Goda Arsila dan Kiki
Ayu hanya senyum-senyum malu saja.
"Walupun hasil minta, lu berdua ngecie-cie in gue? Sarap lu berdua"
"Yuk masuk" Ajak nya
"Oh dia dapat gelang dari si Rai, beruntung banget" Batin Reyna.
"Eh! Na! Udah datang aja lu" Ucap Kiki ketika dia sudah memasuki kelasnya.
"Hooh, lagi pengen dateng pagi aja gue"
"Ohh, majuin dulu bangku lu"
Reyna pun segera memajukan kursinya.
...----------------...
Sekarang para guru sedang ada acara, jadi mau tidak mau selama satu hari penuh ini, sudah dipastikan tidak akan ada pelajaran yang masuk.
Seperti biasa kelas Reyna tidak pernah sepi, sekarang saja mereka sedang sibuk dengan urusan masing-masing.
Saat ini Reyna, Kiki, dan Ara sedang ngobrol ringan dengan Devan, sang murid baru yang baru saja masuk ke kelas mereka ketika beberapa bulan setelah kenaikan kelas.
Dia pandai dalam berhitung dan juga pandai dalam hal menggambar. Alat gambarnya juga sangat lengkap. Dia sangat dekat dengan Nisa, Reyna, dan Kiki.
Biasanya mereka bertiga mengerjakan tugas bareng, main bareng, ataupun belajar bareng di rumah Nisa. Bukan hanya bertiga saja, melainkan ada Farhan, Wira, dan Reza. Ketika ujian, mereka juga saling membagikan jawaban bagi yang berada di ruangan yang sama.
Ketika sedang asik berbincang-bincang, mereka terganggu dengan datangnya seseorang.
...----------------...
Mohon saran dan kritiknya semuaππ
Agar saya bisa memperbaiki tulisan saya ini
Terima kasih kepada pembaca yang sudah mampir untuk membaca hasil tulisan saya ππ
Jangan lupa like nya dongπ
πππππππ