Could I Have This Feeling?

Could I Have This Feeling?
80



Sepekan telah berlalu semenjak pertandingan persahabatan klub basket. Dan sudah selama itu juga Reyna tidak berbicara dengan Nara. Dia selalu tersenyum atau menegur Nara setiap berpapasan, dan dia hanya mendapatkan anggukan, bahkan pengabaian.


"Haaa... Dia kenapa sih? Perasaan gua nggak buat salah sama dia. Aisshh!" ucapnya frustasi.


Saat ini dia tengah berada di dalam kelas sendirian, para teman-temannya sedang berada di kantin. Mereka telah mengajaknya, namun ia menolak dengan alasan sudah kenyang. Padahal tadi pagi dia tidak sempat sarapan.


"Mati, mati deh. Gue nggak peduli, udah capek hidup!" gumamnya kesal.


Di saat Reyna tengah marah-marah tidak jelas, tiba-tiba Nara masuk ke dalam kelas seorang diri dengan ekspresi datar. Bahkan ketika Reyna tersenyum dan menyapanya, dia tidak menanggapinya dan juga tidak meliriknya sedikit pun. Dia malah melewati Reyna begitu saja dan langsung duduk dibangkunya.


"Haaa... Gue emang kek setan, nggak kasat mata," gumamnya.


Reyna duduk diam sambil berharap jika Nara akan mengajaknya ngobrol. Namun, sayang semuanya hanya harapan yang sia-sia.


Reyna memutar badannya mengahadap Nara, dia melihat Nara sedang membuka buku matematika dan mencoret-coret kertas di sebelahnya. Reyna masih diam dan memperhatikannya, walaupun dia tau jika yang bersangkutan tidak akan menanggapinya.


"Kalau butuh sesuatu bilang, jangan ngeliatin gua terus. Soalnya gua risih," ucapnya dingin.


Deg!


Reyna terkejut, pasalnya ini pertama kalinya Nara berbicara seperti itu kepadanya.


"Ah! Sorry gua nggak bermaksud buat gangguin lu," ucapnya.


Tak ada jawaban dari yang bersangkutan. Dan akhirnya Reyna memutuskan untuk kembali ke posisinya semula. Diapun memilih menumpuk kedua tangannya ke atas meja lalu berbaring di sana.


Tak lama kemudian, Reyna mendengar suara yang sangat familiar memanggil Nara. Lalu Nara menanggapi panggilan orang tersebut seperti dia menanggapi panggilan dirinya dulu, sebelum dia cuek. Dia adalah Vanka, sahabat Reyna.


Semenjak Nara kembali lagi ke sana, dia selalu berbincang dengan Ivanka dengan santai, bahkan terkadang mereka melontarkan lelucon dan tertawa bersama. Dan semakin hari Reyna memperhatikannya, mereka terlihat semakin dekat, terutama selama sepekan dia diabaikan oleh Nara, mereka terlihat lebih dekat lagi dari sebelumya.


Sebagai teman masa kecil Nara, dia hanya bisa diam dan tidak perlu tau apa yang terjadi di antara keduanya.


Reyna pun bangkit dan hendak pergi dari sana, dia tidak ingin mendengarkan pembicaraan mereka yang diiringi dengan canda tawa, dia merasa hatinya yang santuy terusik oleh sesuatu. Bahkan ketika dia berdiri, Ivanka baru menyadari keberadaannya di sana.


Dia hanya tersenyum sambil menatap keduanya dan segera pergi dari sana. Namun, betapa sialnya dirinya, baru saja dia keluar dari dalam kelas, Lia dan Alan kembali menyeretnya masuk ke dalam kelas.


"Oh Tuhan, cobaan apalagi ini?" batinnya frustasi.


Mereka berdua mendudukan Reyna di kursi guru, dia bisa melihat keduanya tengah menyeret kursi ke arah nya. Dan langsung mengambil posisi yang pas menurut mereka.


Sedangkan Nara dan Ivanka hanya menyapa mereka berdua sesaat dan kembali ke topik pembicaraan mereka lagi.


"Lu berantem sama Nara?" tanya Alan to the point dengan berbisik.


"Nggak tau," jawabnya sambil berbisik.


"Masasi?"


Reyna mengangguk menanggapi pertanyaan Alan, sedangkan Lia hanya diam dan memperhatikan saja.


"Emang kenapa?"


Reyna bisa melihat dan mendengar Alan menghembuskan nafasnya kasar.


"Soalnya belakangan ini dia murung, dan nggak fokus latihan, bahkan dia juga sempat bolos," jelas Alan.


"Hah? Lu bilang apaan? Murung?" Reyna mengerutkan keningnya.


"Kalau bolos sama nggak fokus latihan sih wajar, dia kan manusia. Coba deh, lu pikirin lagi kata murung lu itu. Emang itu cocok sama situasi dia sekarang?" tanyanya sambil menatap ke arah Nara yang menandakan kepada Alan untuk mengikuti arah pandangnya.


"Oh, mungkin di mata lu dia keliatan bahagia," celetuk Alan sambil kambali menatap Reyna "tapi dimata gue nggak."


"Lan... Lan... Sekarang lu udah menyaksikan sendirikan bagaimana kebodohan, ketol*lan, dan ketidak pekaan sahabat gue?" sahut Lia sambil menekan setiap katanya.


"Aduh! Nih anak kenapa lagi sih? Sudah sepekan berlalu, dan akhirnya gue denger kata itu lagi hari ini. Tolong seseorang jelaskan kepadaku, apa maksud perkataannya," batinnya bingung dan penuh kesesatan.


Reyna bisa mendengar hembusan nafas kasar Alan, lagi.


"Iya, lu bener Li. Kasian Nara, perjalanannya masih panjang," ujarnya.


"Mereka ngomong apaan sih? Gue makin nggak ngerti, lagian ngapain bawa-bawa si Nara sih?" batinnya semakin bingung.


"Na, lu nggak ngerasa ada yang care sama lu lebih dari teman gitu?" tanya Alan sedikit berbisik.


Dengan mantap dan tanpa keragu-raguan dia langsung menggelengkan kepalanya dengan wajah polosnya.


Dia bisa melihat wajah frustasi dan kesal Alan berpadu menjadi satu. Sedangkan Lia yang berada di hadapan Reyna hanya tersenyum miring, seolah mengatakan "seperti yang gue duga."


"Yaudahlah yah, biarin aja. Ntar juga nyadar diri sendiri. Udahlah Lan, biarin aja," sahut Lia sinis.


Alan hanya bisa pasrah dan mengiyakan ucapan Lia.


Lalu, Lia menyodorkan kantongan berisi nasi bungkus dan air mineral kepada Reyna.


"Gue tau lu belum makan, bego, tol*l dan nggak peka boleh. Tapi jangan lupa makan, soalnya kalau lu nggak makan terus sakit, kebegoan, ketol*lan dan ketidak pekaan lu nggak bakalan bisa dilanjutkan lagi," ucap Lia tersenyum manis. Yang Reyna tau perkataannya berisi sindiran untuk dirinya.


"Iya, makasih ya," ucapnya sambil menerima pemberian Lia.


Tak lama kemudian Ivanka menghampiri mereka bertiga bersama dengan Nara dan ikut bergabung.


"Oh iya, kalian nonton tim basket Nara waktu tanding sepekan lalu nggak?" tanya Vanka membuka pembicaraan.


"Gue nggak, soalnya waktu itu ada urusan keluarga," jawab Alan enteng.


"Kalau gua lagi ngedate bareng pacaran gue," jawab Lia.


"Gue kirain bareng ayang Li," timpal Reyna di sela-sela makannya dan mendapat tatapan horor dari yang bersangkutan. Pasalnya dia tau jika Lia, merasa geli jika memanggil pacarannya dengan sebutan seperti itu.


"Lu nggak usah sewotin Lia deh, bilang aja lu iri nggak punya ayang, dan lu pengen punya. Udah ngaku aja," ucap Alan santai Reyna hanya diam dan pura-pura tidak mendengarnya.


Lalu, Ivanka pun menceritakan bagaimana pertandingan itu berlangsung, dia juga menceritakan betapa kerennya Nara ketika berada di lapangan basket.


Nara juga bertanya kenapa dia tidak melihat Vanka di sana, dan Vankan mengatakan jika pada saat itu dia ada urusan mendadak makanya tidak sempat menyapa Nara dan timnya.


Reyna hanya diam dan fokus memakan makanannya, sejujurnya dia sangat malas mendengar ocehan Ivanka. Dia sangat ingin menutup kedua telinganya, tetapi tidak bisa. Jadi mau tidak mau dia harus mendengarkannya.


Setelah dia sudah menghabiskan makananya, dia segera pergi dari sana tanpa sepatah kata pun da membuat semua orang menatapnya, bahkan Ivanka menghentikan obrolannya.


Sementara itu, Reyna tidak tau jika sedari tadi Nara tengah mencuri-curi pandang kepadanya.


...----------------...


Mohon saran dan kritiknya semua🙏😊


Agar saya bisa memperbaiki tulisan saya ini


Terima kasih kepada pembaca yang sudah mampir untuk membaca hasil tulisan saya 🙏😊


💜💜💜💜💜💜💜