
Tak terasa, sekarang Reyna sudah berada di semester akhir SMP nya. Dan beberapa bulan lagi dia akan mengikuti Ujian Nasional. Dia masih belum memutuskan untuk lanjut kemana nantinya.
Dia kembali teringat mengenai pesan Nara sepekan lalu.
γFlash back onγ
Nara
"Sisterrrrr"
"Woy!!!"
Reyna
"Apaan? Ngeganggu aja lu"
"Lagi main game juga"
Nara
"Oh, gitu yah. Jadi game lu lebih penting dari gue? Ok, fine... Silahkan lanjutkan"
"Aduh! Marah lagi dah nih anak. Semenjak ditolak sama Nadine dia jadi sensitif. Kalau ditanya "Lu ada masalah?" Jawabnya selalu "B aja", kan kampret. Mana kadang kalau ngechat isinya cuman random doang lagi. Ihhh... Pen W remukin nih bocah." Batin Reyna
Reyna
"Nggak usah ngambek deh. Yaudah maaf"
"Kenapa?"
Dibaca
"Buset dah dibaca doang. Hedewww.... Balas dendam ya nih bocah. Kejam amat"
"Huffff... Lu kenapa si Nara? Kalau lu nggak ngomonglah. Gue mana tau, ihhh.... Ngeselin banget deh"
γFlash back off γ
"Na, lu denger gue ngomong nggak?"
"Na"
"Ana" Ucap seseorang di sebelah Reyna sambil menepuk pundaknya.
"Apaan si De? Lu kalau ngajak ngobrol kenapa setiap pelajaran si? Mana harus ditatap lagi, hedewwww... Gue pites juga lo"
"Astagfirullah, Na hey... Gue ini teman lu yang ganteng, pintar, sholeh, baik lagi. Harusnya lu bersyukur, orang setampan gue mau ngajak lu ngobrol"
"Id'dih... Jijik gue dengernya De" Ucap Afifa yang duduk di depan Reyna.
"Sewot aja lu, kalau iri bilang dong"
"Sabar Na, sabar" Ucap Reyna sambil mengusap dadanya. Kemudian ia menggulung buku tulisnya nya.
Tuk!
"Tapi lu kalau ngajak ngobrol, jangan jam pelajaran juga dong. Bodoh!"
"Nggak asik lu!"
"Bodo amat"
...----------------...
"Eh, ntar kita ngerjain tugas bareng lagi nggak nih?" Tanya Farhan
"Gue ngikut aja sih, kalau mau ayok kalau nggak gue bisa nyalin di sekolah." Jawab Wira
"Enak aja! Itu mah maunya elu." Sahut Fifa sewot
"Heh Pip! Lu itu harus beramal dong, sekali-kali bagi-bagi tugas sekolah ke gue"
"Woy! Bibir lu nomer berapa hah?! Sekali-kali lu bilang?! Hey! Sadar diri dong, lu tuh sering nyalin punya gue!"
"Wah! Make perhitungan ya, gini yah Pipa. Gue juga bantuin lu kalau ngerjain tugas di sekolah yah!" Ucap Wira tak kalah nyolot dari Afifa.
"Mohon maaf, KERJA BARENG-BARENG lebih tepatnya" Ucapnya sambil menekankan kata kerja dan bareng-bareng.
Sementara dua orang di belakang mereka hanya menyimak dan terlihat seperti sudah biasa melihat perdebatan di depan mereka.
"De"
"Hm"
"Berantem lagi nih keknya"
"Seperti biasalah Na. Terus Pipa, pukul Pip!"
"Tonjok ae Pip!"
Mereka mengompori Pipa dari belakang sana dengan suara berbisik, dan juga mereka sesekali tertawa ringan.
...----------------...
Setiap kenaikan kelas, Reyna selalu gonta-ganti teman. Entah apa maunya pihak sekolah, dan setelah berpisah kelas dengan teman akrabnya dulu, dia jarang berinteraksi dengan mereka lagi. Alhasil, dia tidak punya teman yang sangat dekat dengannya, hanya teman dekat yang sekedar lewat saja.
Terkadang dia merasa iri dengan pertemanan anak-anak lain yang sangat akrab dengan sahabat mereka, walupun tidak berada di dalam kelas yang sama.
Nara? Ya memang mereka akrab, tetapi Reyna menginginkan sahabat perempuan. Dia selalu berharap semoga saja bisa mendapatkan sahabat yang diinginkannya itu.
...----------------...
Saat ini anak kelas 9E sedang pergi ke kantin untuk mengisi perut kosong mereka. Hanya ada beberapa murid saja yang masih tinggal, karena membawa bekal dari rumah.
Reyna yang sedang malas ke kantin, memilih untuk tetap di dalam kelas. Sekarang ini ia sedang duduk di atas meja nya untuk bisa melihat keluar jendela sambil menongkak dagunya dengan sebelah tangannya. Sebab jendela kelasnya cukup tinggi, dan untuk melihat keluar dalam posisi duduk, harus duduk di sana atau di kepala kursi.
"Nara kenapa sih? Kok marahnya lama, biasanya cuman saat itu doang marahnya" Gumamnya
Pada saat itu Rai tiba-tiba keluar dari kelasnya sambil tertawa, tetapi sepertinya ia hanya seorang diri sebab tak ada tawa lain di sana.
"Rai"
Ia pun segera menengok ke arah Reyna.
"Salam dari Tasya, katanya dia suka sama lu"
Dia hanya menganggukkan kepalanya dan tersenyum seperti biasa nya. Lalu, Reyna memutuskan untuk beranjak dari tempat duduknya dan pergi ke arah meja guru untuk memejamkan matanya.
Di sisi lain
"Eh, tumben lu nggak ke kelas Reyna atau ngomongin dia? Biasanya mah sibuk kesana-kemari nyariin dy, bahkan kalau gue ngajak ke kantin waktu lu lagi ngobrol, malah lu tolak. Sekarang malah nggak ada heboh bahas Reyna lagi. Lu berdua kenapa sih? Berantem?" Tanya Alan
"Nggak usah bahas itu deh Lan. Gue lagi nggak mood bahas soal dia" Jawab Nara
"Elah... Lu maunya si Reyna yang nyamperin lu terus minta maaf, gitu?"
"Nggak juga sih."
"Lah... Terus gimana mau lu?"
"I wanna be at the top of the list"
"Hah?! Nggak bisa bahasa inggris gue, suer" Ucap Alan sambil mengangkat kedua tangannya membentuk huruf V.
"Dahlah... Ngeselin lu, gue mau ke kantin aja" Ucapnya segera beranjak dari tempat duduknya dan melangkah keluar kelas meninggalkan Alan yang masih, menerka-nerka apa maksud dari kalimat yang diucapkan Nara.
Dalam perjalanannya ia melihat Reyna yang tengah memperhatikan Rai, yang sedang menjuggling bola dengan teman-temannya di depan kelas 9G. Tatapan mata yang berbeda dengan, tatapannya yang biasa.
Ia memilih melanjutkan langkahnya ke kantin yang terletak di dekat kelas Reyna. Karena dia yakin jika Reyna tidak mungkin menyadarinya berada di sana.
Tak berapa lama setelah Nara pergi, Alan datang menyusulnya. Tanpa sengaja dia melihat Reyna yang sedang berada di jendela kelasnya.
"Reyna!" Teriaknya kencang, semua orang yang berada di sana langsung menengok ke arahnya.
Alan dengan santai nya melangkahkan kakinya ke arah Reyna. Nara yang melihat Alan mulai mendekat ke arah Reyna, segera buru-buru membayar minumannya, dan langsung bergerak kearah Alan.
"Apaan? Nggak usah teriak-teriak kali. Lu kira gue budek apa?" Ucapnya kesal
"Kali aja"
"Bodolah, ada apaan?"
"Itu gue mau-"
Alan belum sempat menyelesaikan ucapannya karena Nara sudah merangkul dan membawanya pergi menjauh dari sana tanpa menengok sedikit pun ke arah Reyna.
"Tuh anak kenapa dah? Heran gue"
"Mungkin dia lagi nahan berak Na"
Celetuk Dede yang tiba-tiba saja sudah muncul tanpa permisi di sana.
"Astagfirullah, ngagetin aja lu. Kalau jantung gue copot gimana?"
"Ya matilah, bego" Reyna hanya memutar bola matanya malas, lalu kembali duduk ke bangku nya.
"Pipa mana?"
"Lagi setoran di WC"
"Heh! Gue nanya nya serius ini, jangan bercanda dong"
"Lah... Gue juga serius ini. Emang muka gue kurang serius apa?"
"Hooh, walaupun pasang muka serius, percuma. muka lu nggak ada serius-seriusan nya"
"Gue tau kok. Gue itu orangnya emang nggak serius, tapi gue itu ganteng, ganteng, ganteng, ganteng, ganteng, ganteng, ganteng, keren, baik, pintar" Ucap Dede sambil menggerakan jari-jari nya ke arah telapak tangan.
"Kurang apa lagi coba?"
"Kurang waras"
Mendengar jawaban Reyna, Dede merasa kesal. Bukannya mengiyakan ucapannya, tapi Reyna malah mengatakan dia kurang waras. Dede si anak yang ganteng nya 7 kuadrat.
"Eh, gue kan udah ngasih tau lu. Siapa cewe yang gue suka kan. Sekarang gantian, lu yang ngasih tau gue"
"Ogah" Ucapnya acuh
"Hmm,... Na"
"Apaan?"
"Keeping promises is proof that you are a great person"
"Iya,iya, nggak usah sok inggris deh lu. Tau nggak apaan artinya?"
"Nggak usah dibahas, mendingan lu ngasih tau gue who is your crush?, buruan"
"Dia itu tinggi, putih, pinter, murah senyum. That's the clues."
"Anak kelas sini ?"
"Bukan"
"Nara?"
"Bukan"
Dede sudah menyebutkan satu persatu anak laki-laki kenalan Reyna, tetapi tidak ada satupun dari mereka yang sesuai dengan perkataan Reyna. Sampai Afifa tiba di sana dan memilih menyimak pembicaraan keduanya.
"Tinggi, putih, pinter, murah senyum. Siapa yah?"
"Hmmm... Gue tau siapa" Celetuk Afifa dengan senyuman jahilnya. Reyna yang melihat hal tersebut langsung memelototinya.
"Lu tau Pip?" Tanya Dede penasaran
"Ya iyalah gue tau, Afifa gitu loh" Jawabnya bangga
"Siapa?"
"Tebak sendiri dong"
"Hais! Nggak asik lu"
"Bodo amat! Coba lu tebak-tebak"
"Siapa yah?"
"Lu lupa nyebutin 1 orang lagi"
"Siapa?"
"Anak kelas sebelah" Ucapnya santai tanpa beban. Reyna hanya menatapnya tidak percaya, bisa-bisanya Afifa mengatakannya semudah itu. Terlebih kepada Dede, manusia yang selalu memiliki 1000 cerita setiap harinya.
"Oops! My bad"
"Siapa yah?"
Dede terus berfikir keras untuk menemukan jawabannya. Dia melakukan ini karena bisa menyerang balik Reyna yang selalu saja mengungkit-ungkit crushnya. Belum lagi, crush nya Dede itu ada 2 dan kebetulan keduanya berteman baik.
"Rai"
"Nah, iya dia" Ucapnya dengan semangat, lalu tiba-tiba berhenti dan menatap Reyna.
"Kenapa lu sebut, kalau ujung-ujungnya lu kasih tau?"
"Nggak papa, gabut aja gue" Jawabnya random
"Welcome to your bad dreams" Ucap Afifa santai
Reyna hanya bisa pasrah, sudah pasti Dede akan membalasnya besok pagi. Jika tidak membalasnya berarti dia akan mengancamnya menggunakan nama itu. Reyna hanya bisa merutuki kebodohannya itu.
...----------------...
Dede
"Woy! Besok lengkapin catatan gue yah"
^^^Reyna^^^
^^^"Ogah"^^^
Dede
"Okay, kalau lu nggak mau. Gue bisa ngasih tau ke Raiπ"
^^^Reyna^^^
^^^"Fine! Besok gue tulisin, tapi nggak gratis!"^^^
Dede
"Astagfirullah, Na. Sebagai makhluk ciptaan Allah kita harus saling tolong menolong dengan ikhlas dan tanpa mengharapkan imbalan Na. Astagfirullah"
"Nggak patut dicontoh"
^^^Reyna^^^
^^^"Hedewww... Lu tuh maksa yah, bukan minta tolong!"^^^
Dede
"Berhubung Dede yang ganteng ini baik, besok W kasih susu kotak dah"
^^^Reyna^^^
^^^"Gitu dong, ini baru namanya simbiosis mutualisme.^^^
Dede
"Yoai... Ngegame kuy, gue udah di lobi"
^^^Reyna^^^
^^^"Sep, OTW"^^^
...----------------...
...21.30...
^^^Reyna ^^^
^^^"Sya"^^^
Tasya
"Iya, Na?"
^^^Reyna ^^^
^^^"Gue udah nyampein pesan lo ke dia"^^^
Tasya
"Terus dia ngomong apaan?"
^^^Reyna ^^^
^^^"Dia ngangguk terus habis itu, dia senyum kek biasanya"^^^
Tasya
"Oh, gitu yah. Btw, thanks yah. Lo emang bisa diandelin"
^^^Reyna ^^^
^^^"Santai ae kali. Kek baru temenan kemarin aja wkwkwk"^^^
"Seandainya lu tau Sya, kalau gue juga suka sama dia. Lu bakalan tetap kek gini nggak ke gue? Gue tau kok, gue yang salah" Batin Reyna sambil menghembuskan nafas kasar.
Tasya
"Hehehe iya... Btw lu lanjut mana?"
^^^Reyna^^^
^^^"Hmmm... Gue masih bingung sih mau lanjut kemana. Tapi, gue bakalan ikut teman gue aja deh, lanjutnya ke mana"^^^
Tasya
"Gitu yah"
^^^Reyna ^^^
^^^"Yoai, lu lanjut mana, Sya?"^^^
Tasya
"Biasalah, yang dekat sama kompleks"
^^^Reyna ^^^
^^^"Ah! Biar cepat pulang yah? wkwkwk"^^^
Tasya
"Ih... Tau aja lu. Hahaha...."
^^^Reyna ^^^
^^^"Becanda gue"^^^
Tasya
"Btw, lu satu sekolah sama Nara kan?"
^^^Reyna ^^^
^^^"Hooh, kenapa?"^^^
Tasya
"Hmm... Titip salam ya ke Nara, dari Salsaπ"
^^^Reyna ^^^
^^^"Belum nyerah juga dia?"^^^
Tasya
"Yups... Katanya cinta harus diperjuangkan. Tolong, sampein ya Naππ"
^^^Reyna ^^^
^^^"Yaudah deh, ntar gue sampein. Tapi, nggak janji ya kalau dibales sama Nara"^^^
Tasya
"Lah... Emang kenapa? Setahu gue dia selalu fast respon ke lu? Walaupun lu biasanya cuman nyampein salam dari anak cewek ke Nara sih"
^^^Reyna ^^^
^^^"Sibuk belajar dia Sya"^^^
"Sorry, Sya gue boong. Maafin yah hehehe..." Batin Reyna
Tasya
"Wih... Dah berubah ternyata"
^^^Reyna ^^^
^^^"Belajar main game maksud gue wkwkwk"^^^
Tasya
"Elah... Masih sama ternyata wkwkwk"
^^^Reyna ^^^
^^^"Canda cuy, beneran kok dia lagi sibuk belajar"^^^
^^^"Udah yah... Bentar gue chat lagi. Gue mau ngasih tau salamnya Salsa dulu."^^^
Tasya
"Okay deh"
...----------------...
^^^Reyna ^^^
^^^"Nara"^^^
"Nah kan. Kemarin cuman diread, sekarang nggak diread padahal lagi online" menghembuskan nafas kasar.
^^^Reyna ^^^
^^^"Nara, gue cuman mau nyampein pesan dari Tasya. Katanya dia, salam dari Salsa"^^^
Nara
"Okay"
"Hah? Okay doang? Dia kenapa sih? Aneh banget, masa gegara waktu itu dia masih ngambek sih?" Pertanyaan-pertanyaan terus berputar di kepalanya, tapi tak juga kunjung menemukan jawabannya.
^^^Reyna^^^
^^^"Nar, lu masih marah sama gue?^^^
"Sudah ku duga nggak bakalan dia read." menghembuskan nafas kasar.
...----------------...
^^^Reyna ^^^
^^^"Tasya gue udah nyampein nih"^^^
Tasya
"Apa katanya?"
^^^Reyna ^^^
^^^"Okay"^^^
Tasya
"Hah?! Okay doang?"
"Serius loh?"
^^^Reyna ^^^
^^^"Iya, aneh kan?"^^^
Tasya
"Banget, biasa dia pasti ngomel-ngomel kan?"
^^^Reyna ^^^
^^^"Iya sih. Atau, mungkin dia udah dapat hidayah kali yah?"^^^
Tasya
"Bisa jadi sih. Yaudah, thanks yah. Gue mau nyampein ke Salsa dulu"
"Bye"
^^^Reyna ^^^
^^^"Okay, bye"^^^
...----------------...
Mohon saran dan kritiknya semuaππ
Agar saya bisa memperbaiki tulisan saya ini
Terima kasih kepada pembaca yang sudah mampir untuk membaca hasil tulisan saya ππ
πππππππ