Could I Have This Feeling?

Could I Have This Feeling?
44



"Woy! Mikirin apaan lu?" Seru Kiki membuat Reyna kembali ke dunia nyata


"Tau tuh, mana nengok ke jendela lagi. Please jangan ngedrama lu" Tambah Nisa


Reyna hanya memutar bola matanya jengah.


"Lu mikirin apaan?" Tanya Kiki


"Nggak ada, cuman pen liat ke luar aja" Jawab Reyna


"Elah sih ege, mana bisa lu kita ke luar jendela. Hello!!! Sadar dong anda, tinggi bangku kita sama jendela itu, lebih tinggi tuh jendela. Lu cuman bisa liat plafon sama langit doang kalau duduk di kursi, kalau lu duduk di meja atau berdiri, baru dah agak masuk akal" Jelas Nisa panjang kali lebar kali tunggi


"Lah iya, lu bener Nis. Bego lu Na!" Ucap Kiki sambil mendorong bahu Reyna pelan.


"Udahlah... Males gue" Ucapnya sambil meletakkan kepalanya pada tumpukan 2 lengannya di atas meja.


"Hedeuuuuu.... Kambuh lagi dah" Ujar Kiki


"Gampang sis!" Seru Nisa "Na kantin kuy, lapar nih!" Ajak Nisa


"Ini masih pagi kali, baru juga jam setengah 9. Perut gua masih penuh" Jawabnya masih dengan posisi yang sama.


"Elah... Buruan dah!" Ajak Kiki "Eh Na, gue mau beli nasi kuning di kantinnya bu Rina nih. Ayolah! Ntar kehabisan loh" Peringat Kiki


"Yaudah, lu beliin gue aja. Nih uang nya" Ucapnya sambil meletakkan uang lima ribu rupiah di atas mejanya.


"Nggak bisa nih Ki"


"Iya nih, udahlah biarin aja dia"


"Kita cabut ya Na"


"Hm... Jangan lupa nasi kuning gue" pintanya


"Iya ihhh, ini lagi mau beli juga. Udah nitip nyuruh lagi" Ujar Kiki sambil mengambil uang tersebut dan beranjak pergi bersama Nisa.


Selepas mereka pergi


"Woy!"


"Sut sut"


*Tok!


Tok!


Tok*!


"Woy!"


"Siapa sih, ganggu aja. Orang lagi bad mood juga" Gumam Reyna masih pada posisi yang sama.


"Ya Allah, budeg banget nih bocah"


"Kurang kenceng lu memanggilnya" Tambahan teman orang itu.


"Sut! Sut"


"Lagi? Nggak liat apa orang lagi PW. Cih! Satu-satunya orang yang berani gangguin gue lagi PW gini cuman dia doang" Batin Reyna, kemudian mendongakkan kapalnya ke arah mereka yang merupakan sumber dari suara tersebut.


"Hehehe...."


"Hai Na"


"Nah kan sudah ku duga" Batinnya sambil menatap mereka kesal


"Lu pada sekolah kan?"


"Ya Allah, Ihhh.... Teman hamba kenapa bodo kek gini Ya Allah?"


"Sungguh, pertanyaan yang nggak perlu dijawab"


Reyna hanya memutar bola matanya malas.


"Gini yah, gue tau kok kalau lu berdua itu sekolah. Maksud gue itu, lu tau kan KEGUNAAN pintu?" Ucapnya sambil menekankan pada kata kegunaan.


Mereka berdua hanya menganggukkan kepalanya saja.


"Nah, kalau gitu lu berdua tinggal gunain aja. Kan gampang"


"Mager" Jawab keduanya kompak.


"Lan, mendingan lu nggak usah temenan saya Nara deh" Saran Reyna


"Kenapa?"


"Resenya mulai nular ke elu"


"Heheheyyy.... Anda jangan memfitnah saya yah. Ingat! Fitnah lebih kejam dari pada pembunuhan"


"Iyain aja dah biar cepet kelar" ~Reyna


"Mau ngapain lu berdua kemarin" Tanya Reyna


"Gabut" Jawab keduanya kompak


"Hedehhh... Yaudah masuk ae sini, ngapain di jendela kek cicak aja"


"My lovely Reyna" Ucap Nara jeda beberapa detik


"HOEKKKKK!!!" Ujar keduanya


"Ini masih pagi, lu jangan aneh-aneh deh, please" Ujar Reyna


"Sama euy, salah ngomong. Bibir dan lidah lagi lost control dan lagi lost contact sama otak" Tambah Nara


"Oi, pertanyaan gue belum lu berdua jawab"


"Apaan?" Tanya keduanya kompak


"Lu berdua kenapa sih? Emang harus hoek hoek gitu yah?" Tanyanya dan langsung diangguki oleh Reyna dan Nara


"Heh! Gila!" Seru Alan


"Serah, masuk ae sini buruan!" Pinta Reyna "Ngapain di jendela coba, kek cicak aja" Tambahnya.


"Woy! My prend! Cicak itu di dinding, bukan di jendela. Gimana sih lu, jangan ganti-ganti dong. Kan nggak enak dengernya kalau kek gini. Cicak cicak di jendela diam-diam merayap, kan nggak enak atuh" Jelas Nara Sambil menyanyi pada bagian lirik lagunya. "Jangan-jangan nggak tamat Paud sama TK lagi lu" Tambahnya


"Enak aja! Gue udah tamat dua-duanya ye. Sembarangan!" Ujar Reyna


Alan hanya bisa menyimak saja, ia tidak tau akan membicarakan apa. Sebab, tidak ada ruang baginya untuk berbicara dan cara terbaik adalah diam dan memperhatikan.


...----------------...


"Rai, ntar sore ngikut futsal nggak?" Tanya Rizky


"Nggak dulu deh, gue lagi ada ujian kenaikan sabuk ntar sore" Jawabnya


"Okay, smengaat bro" Ujar Rizky


"Widddiiiihhhhhh .... Jago berantem dong lu. Salut dah gue" Ujar Yudis bangga


"Lebay lu! Katro!" Seru Rio


"Nggak usah sewot dong bro, gue tau kok lu itu gagal ujian mulu tiap mau naik sabuk. Kalem ae" Bela Gerry


"Beuh! Emang ya lu berdua, ntar gue nikahin baru tau rasa lu" Ancam Rio


"Hahaha... sabar Yo, lagian yang mereka bilang juga bener kok. Lu kan gagal mulu tiap ujian" Ucap Rizky


Mendengar hal tersebut Gerry dan Yudistira tertawa terbahak-bahak, begitu pula dengan Rizky. Mereka sangat puas mengusik Rio. Sedangkan Rai hanya menatap mereka bingung, pasalnya inu pertama kalinya ia mendengar hal tersebut.


"Lu ikut bela diri?" Tanya Rai yang membuat tawa mereka terhenti.


"Hooh" Jawab Rio


"Bela diri apaan?" Tanya nya lagi


"Imgination" Jawab Rio singkat


"Hah?! Bela diri apaan namanya kek gitu?" Tanyanya dengan wajah semakin bingung.


"Hufffttt...." Rio menghembuskan nafasnya pelan "Bela diri In my imagination" Tambahnya


"HAHAHAHA" Mereka semua tertawa dengan terbahak-bahak lagi, apalagi ketika melihat ekspresi wajah kesal Rai. Terkhususnya Rio


"Kampret!" Ujar nya dan memilih beranjak dari tempat duduknya


"Woy! Lu gue seriusan nih, gue ikut bela diri lu mau tau nggak apaan?" Tanya Rio


"Woy! Rai!"


Rai tidak menanggapinya dan memilih untuk terus berjalan keluar kelas.


"Hahaha... Parah lu Yo. Dia seriusan loh tadi nanya nya" Ucar Gerry


"Bener tuh, haduhhhh ... perut gue sakit banget woy" Tambah Yudistira sambil tertawa kecil


"Parah lu Yo!" ~Rizky


"Ya maap, habisnya lu bertiga ngeselin. Gue gagal ujian baru sekali doang" Bela Rio


"Iya sih, sekali doang. Tapi dikali tujuh"


"Hahaha... Para lu Ger, ntar si Rio ngambek lagi"


"Eh udah dong, jangan ngelawak mulu. Sakit nih perut gue" Ucap Yudis sambil tertawa tanpa suara dan memegangi perutnya.


"Hedewwww... Nasib dah" Ujar Rio Pasrah


...----------------...


Di luar kelas


Rai melihat Nara dan Alan sedang berdiri di sana jendela kelas 8E. Ketika ia hendak melangkahkan kakinya, Reyna keluar dari kelas itu dan menghampiri Nara.


Nara yang ketika berbalik ke arah Reyna melihat Rai, langsung memanggilnya.


"MY BROTHER" Teriak Nara dan kemudian menghampirinya.


...----------------...


Mohon saran dan kritiknya semuaπŸ™πŸ˜Š


Agar saya bisa memperbaiki tulisan saya ini


Terima kasih kepada pembaca yang sudah mampir untuk membaca hasil tulisan saya πŸ™πŸ˜Š


Jangan lupa like nya ya! Hehehehe😁


πŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ