
Di toko kue beberapa menit yang lalu.
Nara sudah tiba di sana lebih dulu, dia terlihat sangat tampan seperti biasanya. Yang berbeda dari nya hanya raut wajah yang bahagia dan sebuah senyuman yang terlukis di sana. Dia menjadi pusat perhatian para wanita yang berada disana, tetapi dia tidak perduli karena yang dia pikirkan hanyalah Reyna.
"Hmm... Si Ana make baju apa yah? Pasti kek biasanya deh, make kemeja atau nggak hoodie, tapi suasan di luar terik nih, pasti make kaos plus jaket. Hmm... Apapun itu, Reyna tetap Reyna. Dia punya auranya sendiri, gue lebih suka liat dia yang kek biasanya dari pada yang make baju pendek atau apalah" Batinnya sambil tersenyum semakin senang.
Saking senangnya dia merasa waktu 5 menit sangat lama sekali. Seandainya saja dia bisa menjemput Reyna, pasti tidak akan selama ini, fikir nya. Namun sayang, Reyna menolaknya katanya dia telalu berisik dan banyak bicara jika hanya berdua bersamanya.
"Yah emang bener sih, hehehe." Batinnya sambil tertawa geli.
"Wah! Padahal cuman mau makan kue doang, tapi kok gue senang banget?" Gumamnya pelan sambil geleng-geleng kepala.
Akhirnya waktu sudah menunjukkan pukul 4 sore, dia semakin sangat senang dan tidak sabar untuk bertemu Reyna.
Tring!
Sebuah notifikasi muncul di handopnenya, dia langsung membuka dan membacanya. Seketika senyuman nya pun hilang dan berubah menjadi rasa sedih dan kecewa.
Ana
"Nar sorry, gue nggak bisa datang. Soalnya Valisha tiba-tiba ngajakin gue nonton dan dia pengen banget gue bermain dia. Maaf banget."
Ana
"Next time deh kita ke sana, okay? Bye (^o^)/~~"
Setelah membaca isi chat tersebut, dia langsung membaringkan kepalanya di atas meja. Seolah-olah dia tidak memiliki semangat membara seperti tadi.
"Gue ngerasa kek tertusuk pedang dan kawan-kawannya. Gue duluan yang ngajak dari pada temennya dan dia tau gue juga mau banget ngajak dia ke sini, tapi temannya yang baru ngajak dia secara tiba-tiba langsung diiyain dong." Gumam nya pelan sambil tersenyum kecil.
"Nara?" Ucap seseorang.
Nara yang mendengar namanya disebut langsung bangkit dan menatap ke arah orang tersebut.
"Lu ngapain di sini?" Tanya nya
"Duduk" Jawabnya datar lalu kembali membaringkan kepalanya di atas meja.
Orang itu hanya menghembuskan nafas pelan dan setelahnya terkekeh geli, pasalnya ini pertama kalinya dia melihat Nara yang sepertinya tengah kesal.
"Kok dia ngegemesin kek gini yah, walaupun dia kadang ngeselin sih." Batinnya
"Hmm... Nar"
"Hm"
"Gue boleh duduk di sini nggak?"
"Duduk mah duduk ae, orang bangku sama meja nya bukan punya gue." Jawabnya acuh tak acuh.
"Lu mau sampe kapan kek begitu?"
"Nggak tau"
"Okay, lu mau pesen kue apa nih? Ntar sekalian gue pesenin."
"Nggak usah"
"Yakin?"
"Iya"
"Seriusan?"
"Stop deh Nia, gue lagi nggak mood. Tolong ngertiin gue." Ucapnya kesal.
"Nih anak ngambek yah? Kok kek ade gue yang lagi ngambek sih." Batinnya sambil geleng-geleng kepala.
Setelah itu, seorang pelayan menghampiri mereka dan mencatat pesanan yang disebutkan oleh Tania. Tak berapa lama, pesanannya sudah datang di sana.
"Lu yakin nggak mau?"
"Nggak"
Tania lalu merogoh sling bag nya dan memberikan sebungkus yupi yang pernah Nara makan di sekolah.
"Apanih?" Mengangkat kepalanya.
"Lu suka ini kan? Yang waktu itu Reyna kasih ke elu."
Nara hanya melirik permen tersebut dan menopang dagunya menatap keluar jendela. Sedangkan Tania masih menyodorkan permen tersebut ke arahnya. Ketika Tania sudah ingin menarik tangannya, Nara tiba-tiba mengambil permen tersebut.
"Makasih"
"Anytime." Tersenyum manis.
"Senyumnya jangan manis-manis, ntar yang liat bisa diabetes" Ucapnya sambil membuka bungkus permen tersebut dan melahapnya.
Nara tidak tau saja, kalimat yang dia keluarkan telah membuat jantung Tania berdegub kencang. Bahkan lebih kencang dari biasanya, entah Nara menyadarinya atau tidak, sekarang ini pipi Tania tengah merona.
"Haaaaaa.... Padahal cuaca hari ini cerah, tapi suasana hati gue mendung disertai badai petir." Ucapnya menatap keluar sambil menghembuskan nafas pelan.
"Ehem" Tania berdehem guna memperbaiki degupan jantungnya. "Lu yakin nggak mau makan ini? Bukannya lu ke sini buat makan kue yah?"
"Iya sih" Beralih menatap kue di depannya.
Cukup lama Nara berfikir dan akhirnya dia mengambil kue black forest lalu memotong dan memasukkannya ke dalam mulut.
"Hmm... Enak" Tersenyum
"Senyuman lu ternyata manis juga Nar, ini pertama kalinya gue liat senyuman lu yang ini. Walaupun biasanya senyum sih di kelas." Batinnya senang.
"Oh iya, lu kok bisa ada di sini?" Tanya Nara sambil sesekali memakan kuenya.
"Gue tadi janjian sama Nana, Sasha, sana Karina buat dateng ke sini. Pas gue udah di jalan, mereka ngebatalin ngumpulnya. Katanya ada urusan yang penting. Makanya gue ke sini, taunya ada elu." Jelas Tania.
"Ohh, gitu. Okay karena kita sama-sama korban pembatalan pertemuan, lu pesan apa aja yang lu mau biar gue yang teraktir." Ucapnya santai.
"Seriusan nih?"
"Iya serius, dia rius malah."
"Iya deh, iya gue percaya." Tersenyum manis.
Mereka pun ngobrol-ngobrol ringan, sambil seswlali tertawa kecil bersama.
Dari luar toko tersebut, terlihat sekelompok anak muda tengah memperhatikan mereka berdua, siapa lagu kalau bukan tim pengurus pendekatan Tania dan Nara.
"Yes, berjalan sesuai rencana." Sahut Nana senang.
"Iya nih, syukur yah gaes." Tambah Sasha antusias.
"Nah, sekarang kan udah berhasil. Terus kita ngapain?" Tanya Gabriel.
"Gue Nana, sama Sasha mau ke rumah gue aja, takutnya kalau kita keluar ntar nggak sengaja ketemu mereka, kan bisa jadi gagal. Ya... Walaupun belum tentu ketemu si." Jawab Karina.
"Okay, kalian mau gue anter nggak?" Tawar Gabriel.
"Nggak usah, kita naik taksi aja. Nah, itu taksinya." Tolak Karina. "Duluan ya guys." Mereka pun dan segera pergi dari sana, dengan Nana dan Shasa yang mengucapkan "bye bye" kepada mereka bertiga.
"Terus kita ngapain?" Tanya Reno.
"Mau ke rumah gue nggak maen PS?" Tawar Leon.
"Boleh tuh." Terima Gabriel
"Iya sih, tapi moon maap ni prend, ntar gue nebeng pulang yah?" Tawar Reno.
"Elah, No kirain apaan. Tenang aja, kalau ada kita berdua mah, aman." Ucap Gabriel sambil merangkulnya.
Setelah itu, mereka pun segera pergi dari sana dengan mobil terpisah.
...----------------...
Di mall
"Gila sih, film nya bagus banget Na." Ucap Valisha antusias.
"Iya-iya."
"Nggak nyesel kan lu nonton bareng gue?"
"Ntar kalau gue bilang nyesel, lu nya ngambek lagi."
"Hehehe... Tau aja lu."
Tring!
[Nana : Rencana kita berhasil cuy😍🥳]
Dia tidak membuka kesannya dan hanya melihatnya melalui notifikasi saja.
"Kenapa lu senyam-senyum?"
"Pemeran pria nya ganteng, Na." Ucapnya senang sambil memukul lengan Reyna.
"Eh, lu jangan mukul-mukul napa. Kesel gue." Protesnya kesal.
"Hehehe... Maaf, terlalu seneng gue."
"Serah lu deh, terus sekarang kita mau kemana? Balik?"
"Eh, kok balik sih? Makan dulu lah terus baru balik. Boleh kan?"
"Okelah."
Mereka pun segera memasuki salah satu restauran yang ada di sana dan langsung memesan makanan serta minumannya. Setelah selesai makan, mereka pun segera kembali pulang.
...----------------...
Mohon saran dan kritiknya semua🙏😊
Agar saya bisa memperbaiki tulisan saya ini
Terima kasih kepada pembaca yang sudah mampir untuk membaca hasil tulisan saya 🙏😊
💜💜💜💜💜💜💜