
Di sebuah SMA terlihat seorang anak laki-laki yang tengah bermain basket bersama kawan-kawannya. Dia terlihat tampak lihai memainkannya, seolah-olah dia seorang atlet basket. Padahal dia dulu nya tidak terlalu tertarik dengan pelajaran sekolah, baik itu akademik maupun non akademik, Nara. Itulah anak lelaki tersebut.
"Buset! Lincah bener lu Nar, padahal kemarin-kemarin diajak gabung susah banget" Ujar Leon
"Gue nggak suka menonjol aja. Makanya gue tolak. Walaupun sebenarnya gue itu jago olahraga sih" Jawabnya bangga dengan senyuman terlukis di wajahnya.
"Sombong amat lu!" Sahut Gabriel
"Harus dong! Gue makhluk langkah kali di sekolah ini" Ucapnya santai
"Iya sih" Ucap Gabriel
"Nah, pinter lu El. Nggak salah gue temenan sama lo" Ucapnya yang hanya mendapat dengusan kesal dari yang bersangkutan.
"Tapi, si Nara bener sih El"
"Iya, gue tau Le. Dia murid peringkat satu ujian masuk kemarin" Jelas Gabriel
"Dan dia ngalahin dua anak terpintar dari dua sekolah SMP terbaik se-Semarang" Tambah Leon
"Bener"
"Haduh! Nggak usah muji gue gitu dong. Ntar penggemar gue makin nambah banyak, kan kasian lu berdua kalah saing sama gue" Ucapnya sambil mengibaskan rambutnya kebelakang.
"Hedew... Nyesel gue muji lo" Jawab keduanya kompak dan langusng meninggalkan Nara sendirian di sana.
"Woy! Becanda doang gue! Lel! Yon!" Teriaknya lantang.
"Hedew... Lucu juga tuh bocah dua" Gumamnya sambil tertawa geli. Dia pun segera berlari menyusul keduanya dan langsung merangkul mereka, kemudian menuju ke arah kelas.
Setibanya di dalam kelas, pandang seluruh kaum hawa tertuju pada ketiganya, kecuali untuk satu orang, Tania. Anak itu tampaknya tidak tertarik dengan kedatangan tiga anak tersebut, ia lebih tertarik pada novel yang ada di tangannya.
Nara yang melihat hal tersebut, langsung bergerak ke arahnya dan mengambil novel tersebut tanpa izin.
"Widih! Judulnya "Just a friend to you". Kek lagunya Megan Trainor ae" Ucapnya sambil membolak-balikan halaman Novel tersebut.
Tania hanya bisa mendengus kesal. Jika dia melawan Nara, bisa-bisa tekanan darahnya naik dan bahkan bisa keluar dari kepalanya seperti air mancur. Dia sudah pernah merasakan hal tersebut, beberapa bulan lalu. Semakin dia melawan, Nara malah semakin menjadi-jadi. Dan sejak saat itu juga, Nara selalu mencari masalah padanya, dan hal yang bisa dia lakukan hanya sabar. Walaupun, terkadang dia juga melawan Nara. Tetapi itulah yang Nara harapkan.
"Udah deh. Gue lagi nggak mood ribut sama lo" Ucap Tania
"Bagus sih! Lagian gue juga bukan cokelat atau ice cream yang bisa meningkatkan mood lo" Jelasnya dengan watados andalannya, lalu meletakkan novel tersebut dan kembali ke arah tempat duduknya.
Tania hanya bisa mengusap-usap dadanya sambil berusaha meredam emosinya. "Lagian, kalau lo itu cokelat, gue pasti udah masak lo dari dulu, terus gue jadiin kue. Dan kalau lo itu es krim, gue pasti udah letakin lo di tengah jalan raya pas matahari lagi terik, biar meleleh dan nyatu sama aspal. Nyebelin!" Batinnya kesal sambil menghentak-hentakan kakinya.
Nara yang tengah duduk dibangkunya tersenyum puas melihat kekesalan Tania dari sana.
"Hedew... Jahat bener lo Nar" Ucap Leon
"Tau tuh, dari awal masuk lo selalu bikin si Tania kesal" Tambah Gabriel
Sedangkan Nara hanya mengangkat kedua bahunya menanggapi kedua orang tersebut.
"Lo suka sama dia Nar?"
Pertanyaan dari Leon sontak membuat Nara yang tadinya tersenyum puas, beralih menatapnya dengan raut wajah bingung.
"Hah? Maksud lo?"
"Lo suka nggak sama dia. Soalnya lo hobi banget gangguin dia, bahkan lo nggak pernah absen sehari pun"
"Ooo" Jawabnya ber oh ria
"Actually, she's not my cup of tea" Jawabnya santai sambil menyenderkan punggungnya ke bangkunya.
"Yeah~ For now" Celetuk Gabriel
"But, kedepannya bisa aja lo suka dia atau sebaliknya" Tambahnya.
"Bener tuh kata El" Sahut Leon menyetujui ucapan Gabriel
"Nggak bakalan dia suka sama gue. Jangan ngadi-ngadi deh lo" protes nya
"Serah lu dah Nar. Tapi kalau lo akhirnya kemakan sama omongan lu sendiri, gue nggak mau ikutan" Ucap Gabriel
"Sama, gue juga" Tambah Leon
"Iya-iya, kalau lo berdua ikutin gue. Jatuhnya gue kek induk bebek, yang kemana-mana selalu bareng anaknya. Ya kali gue lagi mau pipis atau boker bareng lo berdua. Gila kali gue"
"Duh! Sarapnya kambuh lagi" Celetuk Gabriel
"Udah belok yah dia? Dijelasin apaan, dia nanggepinnya apaan. Hedewww...." Tambah Leon
"Yang penting gue happy " Ucapnya santai tanpa beban.
"Apaan?"
"Ke belakang sekolah kuy, ngadem" Ajak Gabriel
"Gaskeun lah!"
Ketiganya beranjak dari bangku mereka masing-masing dan segera melesat dari sana.
...----------------...
"Lu yakin nggam tertarik sma dia?" Tanya Gabriel ketika mereka telah sampai di tujuan mereka.
"Gue nggak tertarik sama cewek" Jawabnya santai sembari menikmati angin sepoi-sepoi.
"Tapi, si Tania itu most wanted sekolah loh Nar, terus dia juga murid terpintar di salah satu SMP terbaik di sini. Masa lo nggak tertarik sih?" Tambah Leon
"Entah!" Ucapnya sambil mengangkat bahunya.
"Hedeww... Tania itu cewek Nar"
"Iya, gue tau El, yang bilang dia cowok siapa coba? Ngaco lo"
"Hadehhh! Obat nya keknya habis lagi dah Yon" Ucapannya hanya mendapatkan anggukan dari Leon.
"Tapi, yang El bilang beneran loh Nar"
"Woy! Lu berdua mau ngomong apaan sih?! Dari semalam, nggak! Dari kemarin-kemarin selalu aja bilang dia cewek. Gue tau dia cewek, gue nggak bilang dia cowok" Ujarnya kesal
"Santai, santai... Lo kalau marah serem Nar" Ucap Gabriel
"Yaudah! Buruan lu berdua mau ngomong apaan?!"
"Atau jangan-jangan, kalian berdua naksir sama Tania ya?" Tanya bingung
"Kagak" Jawab keduanya kompak
"Oh, kirain"
Keduanya saling tatap dan langsung bertanya kepada Nara.
"Kalau suka emangnya kenapa?" Tanya mereka dengan nada dan wajah yang menantang Nara.
"Yah... Gue bantuin lah. Make nanya lagi, tapi lo berdua bersaing secara sehat ye?"
"Dahlah... Lupain aja, bisa-bisa otak gue meledak sebelum ujian matematika"
"Setuju gue El. Tapi, kok lo nggak tertarik sama cewek si Nar. Normal kan lo?"
"Astagfirullah hal adzim, gue normal. Gue nggak mau ribet, gue yakin lo berdua tau maksud gue. Secara kalian kan berpengalaman, iya nggak?" Ucapnya dengan senyuman mengembang di wajahnya.
"Bodo amat!" Sahut keduanya kompak.
"Dari pada ngebahas si Tania, mendingan kita ngegame aja" Saran Nara "Gimana?"
"Nggak dulu deh gue" Tolak Leon
"Nape Yon?" Tanya Gabriel
"Lagi nggak ada kuota"
Mendengar jawaban tersebut, keduanya malah tertarwa terbahak-bahak.
"Hahaha..."
"Leon nak sultan kagak punya kuota. Padahal rumahnya ada di mana-mana, hahaha....."
"Bener El, hahaha...."
"Kampret! Nyesel gue ngomong" Ucap nya sambil mendengus kesal.
...----------------...
Mohon saran dan kritiknya semua🙏😊
Agar saya bisa memperbaiki tulisan saya ini
Terima kasih kepada pembaca yang sudah mampir untuk membaca hasil tulisan saya 🙏😊
💜💜💜💜💜💜💜