
Ketika dia sudah menemukan novel yang diinginkannya, diapun segera akan mengambilnya. Namun sayang, novel itu terletak di rak yang cukup tinggi. Sehingga sulit baginya untuk meraihnya.
"Aduh! Kok ada rak setinggi ini sih?" gumamnya kesal.
Sementara Tania tengah berusaha meraih buku tersebut, Nara malah asik membaca sinopsis novel-novel yang ada di depannya.
"Kok bisa cewek suka model cerita kek gini ya? Padahal seruan action, thriller, fantasi, misteri atau nggak komedi, atau apalah. Lah ini roman-ce roman-ce, kagak bosen apa?" gumamnya pelan.
"Tapi, si Reyna keknya suka novel beginian dah," tambahnya.
Pada saat Nara tengah sibuk dengan pikirannya mengenai novel-novel tersebut, Tania sudah menyerah dnegan usahanya, ketika dia menengok ke arah samping, dia melihat Nara yang tengah memengang sebuah novel sambil menggumamkan sesuatu.
Tania menghembuskan nafas kasar. "Nar lu bisa peka nggak?" ujarnya sedikit kesal.
"Hah? Maksud lu gimana?" tanya Nara bingung sambil menengok ke arah Tania.
"Lu nggak liat atau nyadar gitu? Kalau dari tadi gue lagi kesusahan buat ngambil novel itu," tanyanya sambil menunjuk novel di rak bagian atas.
"Yaaa... Mana gue tau, lu kan nggak ngasih tau gue. Lagian gue bukan peramal kali," jawabnya santai sambil meletakkan kembali novel yang dipegangnya ke rak dihadapannya, lalu dia berjalan mendekati Tania.
"Ya, lu coba dong peka walaupun dikit doang," ujar Tania.
"Novelnya yang mana?" tanya Nara.
"Itu yang sampul biru muda, ada corak putihnya," jawabnya.
Lalu, Nara pun mengambil novel tersebut sambil berkata, " lu nyuruh gue peka, sementara gue sendiri nggak pernah dipekain sama doi. Gimana dong tuh?" Menyerahkan novel kepada Tania.
Menerima novel yang Nara berikan. "Ya, karena lu udah ngerasain seharusnya lu jangan buat orang lain ngerasain juga dong."
"Yayaya... Cewek selalu benar." Melenggang pergi dari sana meninggalkan Tania.
"Nara!" seru Tania sambil menyusul Nara.
Setibanya di kasir, Tania baru menyadari jika dia lupa membawa dompetnya, sungguh sial fikir nya. Dia bingung harus melakukan apa, apakah dia harus mengembalikan buku ini atau tidak.
"Mbak, totalnya 59 ribu ya," ucap mba kasir ramah.
"Ah! Iya mbak," jawabnya sambil tersenyum canggung. Diapun berpura-pura merogoh tasnya, kemudian dia melirik Nara yang hanya berdiri sambil menatapnya.
Pada saat itu Tania memberikan kode kepadanya, sayangnya Nara tidak mengerti kode yang dia berikan.
"Mmm... Mbak, tunggu bentar ya," ucapnya pada mbak kasir lalu menarik Nara agak jauh dari tempat kasir tersebut.
"Apaan?" tanya Nara bingung.
"Gue lupa bawa dompet," jawabnya panik.
"Terus?" tanyanya bingung sambil menaikkan sebelah alisnya.
"Bayarin dong, besok gue ganti di sekolah, please" jawab Tania sambil memohon.
"Oh, bilang dong dari tadi. Terus nggak usah mohon-mohon kali, sama gue doang juga," ujarnya santai.
"Gue udah ngasih kode ke elu Nara, cuman lu nya aja yang nggak peka," ujarnya kesal sambil tersenyum.
"Lah, mana gue tau. Lu kira gue intel apa?" ujarnya santai bercampur kesal.
Nara pun segera kembali ke kasir bersama Tania dan langsung membayar novel tersebut, lalu keluar dari sana.
...----------------...
"Nar ini seriusan lu yang bayarin gue?" tanya Tania untuk memastikannya.
"Iya, santai aja. Lagian lu lagi kagak bawa duit," jawabnya santai.
Jleb! Tania merasakan sebuah panah menembus jantungnya.
"Nih anak nggak punya kata-kata manis apa? Haaa .. Sabar Nia, sabar," batinnya menenangkan diri.
Saat ini keduanya tengah berada di toko kue yang pernah menjadi tempat Nara dan Reyna janjian untuk bertemu, namun tidak terjadi.
"Kan dulu kita pernah janjian mau kesini lagi tuh, yaudah sekalian aja mumpung lagi di luar," celetuk Nara santai sambil memakan kue brownies di hadapannya.
"Lu inget?" tanya Tania dengan terkejut. Nara pun menatapnya aneh, sambil mengangkat sebelah alisnya.
"Emang kenapa?" bukannya menjawab, dia malah bertanya balik dengan ekspresinya itu.
"Ya... Nggak papa sih sebenarnya. Cuman waktu itu gue mikirnyaa kalau lu bakalan lupa sama omongan waktu itu," jelas Tania.
"Oh, gitu."
"Btw, lu nggak dimarahin bokap lu apa bawa motor tapi belum ada SIM?" tanya Tania penasaran.
"Nggak, asal kalau ditilang bayar sendiri," jawabnya enteng.
"Serius?"
"Wah! Anak pak polisi emang beda."
"Beda apaan! Orang kalau lagi razia anak polisi pun tiada bedanya. Sama rata, jadi nggak usah ngomong kek gitu," omelnya.
"Iya-iya, maap. Btw habis ini kita mau ke mana lagi? Mumpung masih sore nih," tanya Tania.
"Pulang," jawab Nara singkat padat dan jelas.
"Hmmm... Lu nggak ada niat mau pergi ke mana gitu?"
"Nggak! Bokap gue nyuruh balik sebelum magrib."
"Masih ada sejam lagi kok sebelum magrib," ujarnya meyakinkan Nara.
"Sorry gue egois Nar, habisnya ini mungkin bisa jadi yang pertama dan terakhir gue bisa jalan sama lu," batin Tania.
"Haaaa...." Menghembuskan nafas pelan. "Lu mau kemana emang?" tanya Nara.
"Seriusan?" tanyanya antusias.
"Iya, habisnya kasian juga sama si anak angsa yang selalu tinggal dikurungannya mulu, nggak pernah liat dunia luar," jawabnya santai dengan watados andalannya.
"Yeee... Jahat banget sih lu, masa gue disamakan sama angsa sih, mana bawa-bawa kandang lagi," protes Tania.
Nara memutar bola matanya malas. "Tetep mau jalan nggak jadinya?" tanyanya.
"Jadi!" jawabnya dengan penuh antusias.
Mereka pun segera menghabiskan makanan mereka, lalu segera keluar dari sana. Nara pun menstater motornya dan memberikan sebuah helm kepada Tania. Lalu, Tania naik dan mereka pun segera melesat dari sana.
Tanpa Nara sadari, Tania yang sedang di boncengnya merasa sangat senang.
"Kalau gue egois buat bisa kek gini seterusnya, bisa nggak yah?" batinnya berangan-angan.
"Kita mau kemana Tan?" tanya Nara sedikit menaikkan nada suaranya.
"Terserah!"
"Yeee! Dasar cewek!" cibir Nara.
Sesuai perkataan Tania, dia hanya membawanya jalan-jalan ke daerah yang cukup dekat dengan kompleks rumah Tania. Setelah puas berkeliling, diapun langsung mengantar Tania pulang.
"Aaaaa~ Thanks ya Nar, gue seneng banget!" ujarnya antusias.
"Iya, tau kok. Dari muka lu ae keliatan," jawabnya santai.
"Terus kenapa tadi lu nggak peka waktu gue butuh pertolongan lu?" tanyanya sambil menatap penuh selidik.
Nara menstater motornya. "Karena gue pengen aja, bleee," ucapnya sambil memeletkan lidahnya dan langsung pergi dari sana.
"NARAAAAAA!" teriak Tania kesal.
γFlash back offγ
"Wah! Tadi gue pen takjub pas di nawarin lu jalan, tapi pas denger bagian akhir ceritanya. Niat gue ilang," celetuk Nana.
"Yaaa... Lu tau lah tuh anak kek gimana, dia nggak bisa sehari aja nggak isengin Tania," sahut Sasha.
"Terus setelah jalan sama dia, giamana menurut lu soal si Nara?" tanya Valisha penasaran.
"Kalau menurut gue, keknya dia masang tembok yang lebih tinggi dan kokoh dari pada sebelumnya," jawab Tania.
"Maksud lu?" Tanya Karina.
"Jadi gini, meskipun dari awal dia cuman suka ngobrol plus isengin gue dari sekian banyaknya anak cewek di sekolah, dia usah masang tembok pembatas, tapi nggak setinggi dan kokoh sekarang," jelas Tania.
"Jadi, dari awal dia suka isengin atau ngobrol yang nggak penting sama lu itu, dia udah buat batasan, gitu?" tanya Karina setelah menyimpulkannya.
"Yups!"
"Semangat Nia! Perjalanan lu masih panjang," sahut keempatnya memberi semangat kepada Tania.
"Semangat!" jawabnya penuh semangat.
...----------------...
Mohon saran dan kritiknya semuaππ
Agar saya bisa memperbaiki tulisan saya ini
Terima kasih kepada pembaca yang sudah mampir untuk membaca hasil tulisan saya ππ
πππππππ