
"Eh eh Nia"
"Apaan Na?"
"Murid cowok yang ikut pertukaran pelajar di kelas kita tampan-tampan ya" Ucap Nana sambil senyam-senyum.
Mendengar pernyataan tersebut, Tania hanya bisa mengiyakannya saja, maklum sahabatnya itu tidak bisa melihat yang bening-bening.
"Lu jangan iya iya aja aja dong Ni, gue seriusan ini. Apalagi yang namanya Rai itu, beuh... Damage nya nggak ngotak, belum lagi pas dia senyum. Ihhh.. Senyumnya manis banget.... Aaaahhhhh..." Ucap Nana dengan kegirangan "Coba aja dia anak sekolah sini, pasti udah gue lebel jadi cowok gue" Terdengar kekecewaan diakhir kalimat tersebut.
"Udah si Na, masih ada Leon, Gabriel, Ilham, Zaky, masih banyak deh pokoknya" Ucap Tania menghibur Nana.
"Ihhh... Lu mah ngasih saran cowok nggak ada yang bener deh"
"Haaaaaa.... Terserah lu deh" Ucap Tania sambil menghembuskan nafas. "Tapi lu masih bisa PDKT sama dia kan? Toh nya mereka masih ada di sini selama beberapa bulan kedepan" Ucap Tania bermaksud menghibur sahabatnya.
"Iya sih, ntar gue coba deh. Hehehe... Makasih sarannya. Tapi dia jomblo nggak yah?"
"Nah kalau masalah itu gue juga nggak tau" Ucap Tania sambil memamerkan gigi rapi nya.
"Yeee.... Ngasih sarannya sih oke, tapi nggak bisa jawab pertanyaan yang gue kasih. Cemen lu"
" Hehehe... Ya maap. Kantin yuk"
"Yaudah... Hayuk dah... Udah pusing gue belajar itungan dari tadi pagi."
Ketika mereka berdua hendak beranjak dari bangkunya, mereka melihat Reyna masuk ke dalam kelas disusul oleh Nara.
Dan akhirnya mereka berdua mengurungkan niat untuk pergi ke kantin dan memilih untuk melihat apa yang akan terjadi. Ralat, bukan berdua tetapi hanya Nana, sedangkan Tania tidak bisa pergi karena ditahan oleh Nana yang mengakibatkan mau tidak mau dia harus stay di sana.
...----------------...
"Woy" Sapa Nara dari tempat duduk nya.
Hening, tak ada jawaban apapun dari orang di depannya, Reyna.
"Woy Rey" Ucapnya sambil meninggikan sedikit volume suaranya.
"WOY Na"
Tuk!
Kali ini Nara memanggilnya sambil menendang belakang kursi Reyna, dan hal ini membuatnya mau tidak mau harus berbalik dan meladeninya.
"Apaan sih?! Ganggu aja!" Ucap Reyna sewot sambil berbalik ke arah Nara.
"Nih"
Nara menyodorkan sebuah roti dan air mineral ke arah Reyna. Reyna yang heran dengan hal tersebut, merubah arah kursinya menjadi menghadap ke arah Nara.
"Lu sakit yah?" Tanya Reyna sambil meletakkan tangannya di dahi Nara.
Tak!
Nara memukul tangan Reyna dengan tenaganya dan tidak ada kata pelan di sana.
"Aw... Sakit bego" Ucap Reyna sambil mengaduh kesakitan.
"Tinggal ambil aja susah amat, bersyukur dong lu, gue udah baik nih sama loh" Ucapnya sambil menganggap angin lalu omongan Reyna.
"Hah?! Baik lu bilang. Hello! Sadar diri dong, kemaren waktu gue masuk ke kelas ini cuman lu doang orang yang natap tajam ke arah gue, dan lu bilang sekarang gue harus berterimakasih atas kebaikan lu? Lucu tau nggak" Ucap Reyna sambil marah-marah.
"Lu nggak natap tajam gue sih, cuman gue aja yang risih ditatap mulu sama lu. Coba lu yang ada di posisi gue deh, baru masuk kelas udah ditatap kek gitu. Jadi, lu terima aja deh yah ucapan gue. Gue masih malas ketemu lu!" Batin Reyna.
Sebenarnya dia sudah pergi ke kantin bersama teman-temannya, tetapi seperti kemarin, Nara dkk bergabung bersama mereka. Jadi, Reyna memilih untuk pergi lagi dari sana alhasil batal lah sesi makan Reyna, padahal dia baru saja ingin memesan makanannya.
Nara yang mendengar hal tersebut hanya bisa memutar bola matanya malas. Padahal dia sudah bermaksud baik untuk membantu Reyna dan memutuskan ego nya sendiri, ehhh... Taunya malah kena semprot.
"Matanya burem apa gimana sih? Bisa-bisanya dia bilang gue natap dia tajam. Perasaan gue natapnya biasa aja tuh. Aneh!" Batin Nara kesal.
Sementara itu, Tania dan Nana masih berada di dalam sana dan memperhatikan kedua orang tersebut yang tengah saling menatap tajam satu sama lain.
"Ni, si Nara bisa serem juga ya. Kalau anak cewek yang itu, dari awal masuk ke kelas kita udah serem sih. Jadi gue nggak heran." Celetuk Nana
Tak!
Tania memukul lengan Nana pelan dan yang bersangkutan hanya bisa menatap Tania dengan tatapan "Apa gue salah?". Keduanya pun kembali beralih ke arah dua orang tersebut.
Terjadi keheningan diantara dua orang berbeda gender itu, sampai Nara yang lebih dulu membuka suara.
"Na" Ucapnya pelan dan lembut sambil menatap ke arah Reyna sambil tersenyum hangat.
Hal tersebut membuat Tania dan Nana terkejut, pasalnya selama mereka sekelas dengannya, dia tidak pernah berkata seperti itu pada cewek-cewek di kelasnya apalagi sambil tersenyum hangat. Tania dan Nana terkejut mendengar jawaban Reyna.
"Udah deh, nggak usah senyum-seyum kek gitu, gue berasa kayak lagi ngomong sama si Rai tau nggak. Mending jadi diri lu sendiri aja deh, bisa kan?" Ucapnya kesal.
Reyna kembali diam membisu, tetapi tatapannya seriusnya mulai memudar dan hanya menatap datar ke arah Nara.
"Rai lagi Rai lagi, emang dia udah masuk sejauh apaan di hati lu? Ngeselin banget lu Na" Batinnya kesal, namun tertutupi dengan senyuman dan tatapan hangatnya.
"Na"
Reyna masih berdiam diri dan menatapnya datar.
"Gue capek" Ucapnya lesuh
"Lah, kalau capek istirahatlah, ngapain laporan ke gue. Hadeehhh.... Keknya otaknya makin geser nih. Ya Allah... Tolong kembalikan Nara seperti semula Ya Allah... Aamiin" Batin Reyna.
Masih tak ada jawaban dari Reyna, dia hanya menatapnya saja, namun sambil memakan roti yang Nara berikan tadi.
"Na... Huffff...." Ucapnya sambil menghembuskan nafas kasar.
Sekali lagi, terjadi keheningan di sana, Tania dan Nana masih setia di tempat duduk mereka yang terletak agak jauh dari bangku Nara. Reyna sudah menghabiskan roti yang diberikan oleh Nara, dan akan meminum air mineral.
"Pacaran yuk" Ucap Nara yang langsung mendapatkan semburan air dari Reyna.
Reyna sangat terkejut dan menatap Nara tidak percaya. Bisa-bisanya orang yang tidak pernah tertarik kepada perempuan sedikit pun mengajaknya pacaran? Sungguh aneh.
Sedangkan Nara hanya bisa pasrah menerima semburan air tersebut.
Tania dan Nana sangat terkejut melihat hal tersebut. Dan hal itu sangat membuat mereka penasaran, pasalnya mereka tidak bisa mendengar apa yang Nara katakan.
Nara masih menatap Reyna dengan tatapan yang sama, sedangkan Reyna sudah menatap ke arah lain.
"Dia ngomong apaan sih tadi? Pasti gue salah dengar nih. Iyalah, pasti salah. Dia kan lagi marah ke gue gegara gue marah-marah waktu dia ngechat. Hooh! pasti salah." Batin Reyna.
Ketika Nara hendak membuka suara Reyna segera pergi dari sana dengan wajah datarnya setelah memberikan sebuah sapu tangan kepada Nara dan mengambil sampah pembungkus roti nya.
Nara pun segera mengambil sapu tangan tersebut dan membersihkan wajahnya.
"Hadeehhh... Nasib, nasib. Ditolak deh gue" Batin Nara. Terdengar sebuah hembusan nafas kasar darinya.
Nana yang sudah tidak bisa menahan rasa penasarannya segera menghampiri Nara dan meninggalkan Tania di bangku mereka.
"Nar, lu kok bisa disemburin aer sama dia?" Tanyanya.
"Kepo banget sih!" Jawabnya sewot.
"Ya, gue kan penasaran, makanya gue tanya. Habisnya dari tadi gue sama Tania liat lu berdua marah-marah, terus ngasih tatapan tajam satu sama lain lagi. Kan serem"
"Wah... Nguping ya lu, oi Nia, mendingan lu berenti deh temenan sama nih anak. Bawa pengaruh buruk tau nggak"
"Heh! Apaan lu! Jangan ngehasut Tania deh, nggak usah dengerin dia Ni"
"Eh, jangan ngalihin pembicaraan ya lu. Buruan jawab!" Pintah nya
"Apaan sih! Kepo lu!"
Tania yang sudah malas berada di sana, segera menarik Nana pergi meninggalkan Nara sendirian di dalam kelas.
...----------------...
Saat ini Reyna tengah duduk di bangku taman sekolah Nara. Jujur saja, teman sekolah ini sangat indah dan sejuk. Tanamannya pun tertata dengan rapi, pokoknya sangat bisa menenangkan pikiran kita.
"Haaaaa.... Emang tempat paling baik buat nenangin diri nih. Betah deh gue lama-lama di sini"
Ketika dia hendak menutup matanya, ucapan yang Nara lontarkan kembali muncul di kepalanya.
"Pacaran yuk"
"Astagfirullah... Kok malah keingat sama ucapannya sih."
"Baru juga habis ngutarain perasaan ke Rai, ini lagi. Malah dapat pengakuan isi hati dari si Nara"
"Tapi nggak mungkin sih, pasti gue salah denger nih, iya bener pasti salah. Hahaha... Seorang Nara ngajak cewek pacaran? Bukan dia banget, hedewww..."
Tiba-tiba, Reyna teringat masa SMP dimana Nara mengatakan jika dia habis ditolak oleh Nadine.
"Lah iya, dia pernah nembak cewek waktu SMP, dan dia bilang katanya dia dapat tantangan dari temennya. Bisa jadi, tadi dia lagi ditantangin sih sama temennya. Bagus deh kalau gitu, gue bisa bernafas lega" Ucap Reyna sambil tersenyum lebar seolah-olah ucapan Nara yang menjadi beban fikiran nya, sudah terbang ke luar angkasa.
Karena keasyikan berada di taman, Reyna pun tertidur sebentar dan tidak menyadari jika bel masuk telah berbunyi.
Tak jauh dari sana Rai tengah dihadang oleh lima anak cowok di sekolah itu dan mereka tidak terlihat bersahabat. Mereka menatap tajam ke arah Rai, sedangkan yang ditatap hanya tersenyum ramah.
"Sorry nih, ada urusan apa kalian manggil gue?" Tanyanya santai.
"Gue nggak suka basa basi yah. Gue cuman mau bilang lu jangan sok kegantengan deh, mentang-mentang anak cewek pada kagum sama lo" Ucap anak laki-laki yang bernama Bimo pada name tag nya.
"Oh, okay. Sorry deh kalau misalnya gue sok kegantengan, gue nggak ada maksud kek gitu kok" Ucapnya santai disertai dengan senyuman andalannya dan tak lupa dia menekankan omongannya pada kata "sok kegantengan".
"Lah... Gue kan emang ganteng dari lahir, apa salahnya coba? Muka muka gue, situ yang sewot. Kalau si Nara atau Adri, pasti jawabnya kek gini dah. Kalau gue jawab kek gini beuuhhh... Bisa terjadi pertumpahan darah" Batin Rai.
"Wah... Songong banget nih anak" Ucap salah satu teman mereka.
"Tau tuh, lu tuh harusnya bersyukur kita nggak ngehajar lu akibat omongan lu ini, karena lu tamu di sekolah kita"
"Lu dengarkan? Apa kata temen-temen gue? Buruan bilang terimakasih terus cabut dari sini" Pintah Bimo.
Rai hanya bisa menghembuskan nafasnya kasar dan menatap mereka datar.
Sementara itu, tak jauh dari posisi Rai, Reyna baru saja bangun.
"Haaaaaaa.... Enakan juga, walaupun agak pegel sih. Heran gue, si Valisha duduk nyender kek gue sambil tidur nyaman-nyaman aja. Emang ya, tukang tidur" Ucapnya santai.
Ketika hendak meninggalkan taman itu, tanpa sengaja dia melihat Rai tengah berhadapan dengan 5 orang anak cowok. Reyna bisa saja menghampiri mereka, tetapi dia berfikir mungkin saja Rai tengah ada urusan dengan mereka, maklumlah Rai orangnya friendly. Reyna pun segera memutuskan untuk pergi dari sana.
"Gue mau ke kelas dulu ya, soalnya udah masuk jam pelajaran nih" Ucap Rai santai dan hendak pergi dari sana. Namun, Bimo mendorongnya sehingga dia tersungkur ke tanah.
"Sialan nih anak. Songong banget ye" Ucap salah satu teman Bimo.
"Tau nih, udah dikasih hati malah minta jantung, dasar nggak tau diri."
"Hahaha...." Mereka semua tertawa terbahak-bahak sambil melihat Rai yang masih belum bangkit dari tempatnya.
"Haaaaaaa.... Keknya gue udah cukup baik deh sama lu pada" Ucap Rai dengan senyumannya sambil bangkit dari posisinya tadi. Dia juga menatap reneh ke arah mereka semua.
Mereka tidak terima dengan apa yang Rai lakukan dan langsung menyerang Rai.
Di sisi lain
"Aduh, kok gue kepikiran sama si Rai sih. Itu beneran dia cuman ngobrol biasa atau ada apa-apanya. Gue balik lagi deh, lagian gue jalan belum jauh juga" Ucap Reyna dan langsung berlari pelan kembali ke sana.
Bugh!
Rai melayangkan tinjunya kepada salah seorang diantara mereka. Rai tidak terlihat kewalahan melawan mereka. Dia terus melayangkan pukulan demi pukulan ke arah mereka, dan beberapa kali dia terlihat melayangkan tendangannya. Walaupun, dia juga mendapatkan beberapa pukulan dari Bimo dkk. Dia masih bisa melawan dan bajakan membalas mereka berkali-kali lipat dari apa yang dia dapatkan. Alhasil... Tepat pada saat Reyna sampai di sana, perkelahian itu sudah selesai dan dimenangkan oleh Rai.
"Awas ya lu! Urusan kita belum selesai!" Ancam Bimo dan hanya mendapatkan senyuman manis dan kibasan tangan dari Rai yang menyuruh mereka untuk pergi.
"Lu nggak papa kan?" Tanya Reyna khawatir
"Loh, kok lu ada di sini sih? Dan lagi, lu nggak liat muka gue? Huh?"
"Huh! Jawaban pertanyaan pertama, gue tadi nggak sengaja tidur di taman terus gue ngeliat lu bareng sama mereka. Gue kira lu lagi ngobrol baik-baik sama mereka, taunya malah berantem. Kedua, keknya nggak baik-baik aja sih, tapi mereka yang lebih parah." Jelas Reyna panjang lebar "Kasian ya mereka" Tambahnya dengan nada sedih.
Tak!
Reyna langsung mendapatkan jitakan dari Rai untuk pertama kalinya dalam hidup, dia tercengang akan hal itu.
"Kekhawatiran lu yang tadi mana? Udah terbang? Iya? Bisa-bisanya lu malah mikirin nasib mereka, gila lu Na" Ucapnya kesal.
Reyna juga terkejut ketika mendapatkan omelan dari Rai. Dia heran dengan dirinya sendiri, hari ini ia mendapatkan 3 hal aneh dalam hidupnya. Yang pertama, ajakan pacaran dari orang yang tidak tertarik sedikit pun kepada perempuan. Yang kedua, Rai si makhluk ramah dan selalu tersenyum ngehajar anak orang habis-habisan dan malah ngejitak dia. Yang ketiga dia dapet omelan Rai karena kasihan sama anak-anak yang dihajar Rai.
"Wahhhhhh.... Sungguh hari yang bersejarah dalam hidup gue"
"Hah?! Lu kenapa sih?" Tanya Rai bingung.
Reyna pun memegang pundak Rai dan menatap matanya. Rai yang kebingungan menatap Reyna dan tengah menunggu apa yang akan Reyna katakan.
"Nggak nyangka gue, ternyata lu itu singa berbulu domba, ckckck!" Ucapnya santai sambil menepuk punggung Rai. Rai hanya memutar bola matanya malas, terlalu malas untuk menanggapinya dengan sebuah ucapan.
"Hayuklah... Gue bantu obatin tuh memar di wajah lu, kebetulan gue bawa kotak P3K, kadi kita nggak perlu ke UKS" Ucapnya dan langsung menyeret Rai pergi dari sana, dan yang bersangkutan hanya bisa pasrah.
...----------------...
Setibanya mereka di depan kelas, Reyna menghentikan langkahnya.
"Kok berenti? Kan nggak ada guru punya di dalem, kelas kita jamkos kali Rey" Celetuk Rai.
Reyna hanya menatapnya heran, seolah-olah mengatakan "Kok lu manggil gue Rey?". Namun, Rai hanya mengedikkan kedua bahunya acuh tak acuh.
"Oi Rey, ngapain sih berenti di sini, kek orang bego aja" Rai pun memutuskan untuk masuk, baru satu langkah dia menginjakkan kaki ke dalam kelas, Reyna sudah menariknya kembali.
"Lu apa-apaan sih?" Protes Rai dengan kesal. Dan hal itu bisa didengar oleh masyarakat kelas X MIPA 2.
"Ya sabar keles"
"Iya Reyna, ini udah sabar gue dari tadi, kalau lu nggak mau ngobatin luka gue, ya nggak papa. Gue nggak keberatan"
"Hedewww... Iya-iya, ntar gue obatin. Sekarang lu berdiri ngebelakangin gue, cepetan" Pintahnya.
"Hah? Ngapain?"
"Udah, lakuin aja sih. Susah amat!"
"Ya iyalah susah, orang ntar gue jalannya mundur, kalau nabrak meja gimana? Aneh deh lo" Protesnya
"Ih, lu tuh yah cerewet banget sih. Percaya aja sama gue."
Cukup dia sudah lelah dengan perdebatan tidak berguna ini, lebih baik dia mengikuti perintah Reyna, fikir nya. Benar saja, Rai harus berjalan mundur dengan di tuntun oleh Reyna.
"Dari mana lu berdua?" Tanya Lia begitu keduanya memasuki kelas.
"Pacaran"
"HAH! APA?! PACARAN?!" Seru Reno, Alan, Nara, Lia dan Valisha bersamaan.
Tuk!
Rey menendang pelan kaki Reyna.
"Diem aja sih, susah amat. Anggap angin lalu aja omongan gue" Bisik Reyna dan mendapat dengusan kesal dari Rai.
Melihat teman-teman nya terkejut membuat Reyna sangat puas, tidak hanya temannya. Seluruh anak kesal ikut terkejut karena ulahnya.
"Wah... Parah, Rai lu kok diem doang sih? Ini beneran?" Tanya Reno penasaran.
"Tau nih, nyahut napa Rai. Lagian lu ngapain berdiri ngebelakangin kita?" Tambah Alan.
"Hadeehhh.... Alan kampret dia bilang Rai nggak ngejawab pernyataannya si Reyna. Lah ini apaan? Awas aja lu Lan. Padahal gue udah mikir mateng-mateng buat jujur ke dia. Haissshh!" Batinnya kesal .
"Rey, mendingan lu balik badan deh, nggak usah ngikutin perintah konyolnya" Pintah Lia. "Na, stop ngebodohin anak orang deh. Lu juga Rai mau aja dibodoh-bidohin Reyna" Tambahnya.
Rai pun segera membalikkan badannya tanoa persetujuan Reyna. Lia dkk, makin terkejut ketika melihat lebam di wajah Rai.
"Rai, muka lu kenapa?" Tanya Valisha
"Wah... Jangan bilang Reyna ngehajar lu yah?" Tanya Alan penasaran
"Aduh! Parah lu Na"
"Nggak usah ngaco deh" Sanggah Rai dan langsung menatap Reyna "Jadi nggak?"
Reyna pun menganggukkan kepalanya dan mendorong pelan Rai ke arah tempat duduk mereka. Dia pun segera mengeluarkan kotak P3K nya dan segera mengobati lebam dan beberapa luka di wajah Rai.
"Aw... Pelan-pelan dong, jangan make tenaga dalam"
"Cih! Ini udah pelan kali, lu nya aja yang cemen"
Mendengar hal tersebut Rai memilih untuk diam, dan membiarkan Reyna mengobatinya. Sedangkan anak-anak di dalam kelas sibuk memperhatikan mereka.
"Nah, selesai juga"
"Makasih Rey"
"Yoi Rai. BTW, muka lu ada lebam plus luka kek gini keren tau, bad boy nya dapet, makin ganteng tau nggak sih" Celetuk nya tanpa dosa. "Sering-sering ya Rai"
"Ngapain?"
"Nyungsep di selokan sekolah, hahahaha...."
Lagi-lagi Reyna mendapatkan jitakan dari Rai dan yang kali ini lebih kuat dari pada yang tadi.
"Woy gi-"
Belum sempat Reyna menyelesaikan kalimatnya, Nara sudah lebih dulu memotongnya.
"Siapa yang mukulin lu?" Tanya nya dingin dan sorot matanya yang tajam.
"Udah, kasih tau aja kali Rai, nggak sok baik deh. Lumayan udah lama juga gue nggak berantem. Hehehe..." Ucap Reno yang terdengar santai dan terdapat tawa diakhir kalimatnya, namun dari tatapan matanya terpancar sebuah kemarahan. Alan yang berada di sebelah Reno pun tengah merasa kesal, tetapi dia memilih untuk tenang dan mencoba untuk menenangkannya.
"Udahlah gaes, gue nggak berantem kok. Nggak denger tadi Reyna bilang apaan? Huh?" Ucapnya santai " Tadi gue lagi pacaran sama Reyna, ehhh... malah nggak sengaja masuk ke selokan, jadinya muka gue kek gini deh... hehehe" Tambahnya dengan cengiran.
"Oi bego, lu kalau boong yang pinteran dikit kali, mana ada yang percaya. Lagian baju lu nggak ada yg kotor" Bisik Reyna
"Lah iya, bego bat gue" Ucapnya sambil menepuk jidatnya.
"Gue tau kok siapa yang ngehajar lu, Yon, Lel. Kalau 5 menit gue nggak balik susulin gue ya" Ucapnya dan langsung mendapat persetujuan dari keduanya.
Nara pun bangkit dari bangkunya, dan sudah melangkahkan kakinya, namun Tania langsung menahannya.
"Lepasin nggak!" Pintahnya dingin.
"Nggak mau!" Ucap Tania dengan tegas. "Kalau gue lepasin, lu pasti bakalan ngamuk lagi sama Bimo cs kan? Jadi buat apa juga gue ngikutin perintah lu" Tambahnya sambil menatap ke arah Nara dengan serius.
"Tapi dia udah sering gangguin anak kelas kita Nia, dan dia juga udah buat perjanjian sama gue. Sekali lagi dia ganguin anak kelas sini, gue yang bakalan ngasih dia pelajaran"
Semua anak di kelas itu terdiam, khususnya anak kelas X MIPA 2 yang untuk kedua kalinya melihat kemarahan Nara yang bahkan lebih besar dari yang pertama kalinya.
"Iya gue tau, tapi udahlah... Nanti lu bisa kena skors"
"Gue nggak perduli, jadi lepasin!"
"Nggak bakalan!"
Keheningan pun terjadi, dan hanya perdebatan antara kedua orang itu saja yang terdengar. Sampai...
"Udah sih lepasin aja, biar dia ngeluapin amarahnya" Celetuk Reyna santai memecahkan keheningan itu. Dia pun menjadi pusat perhatian dari semuanya, bahkan kedua orang yang tengah berdebat.
"Alvaro Narendra Farras" Ucapnya santai dan berjalan ke arah mereka berdua, sesampainya di sana di memberikan sebuah gunting ke tangan Nara.
"Al" Ucapnya sambil melepaskan genggaman tangan Tania dari Nara.
Deg!
"Al? " Batin Nara
" Kalau lu udah di sana, sekalian aja lu tusuk pake gunting dada kirinya, atau nggak lu congkel matanya, okay?"
"Have fun, Al" Ucapnya sambil tersenyum manis dan segera keluar dari kelas.
Alan yang melihat kemarahan Nara mulai redah, langusng segera menghampirinya dan membawanya kembali ke bangkunya. Sedangkan Tania sudah di bawa oleh Nana.
...----------------...
Kelas X MIPA 2 kembali normal seperti biasanya.
"Si Reyna gila banget sih! Bisa-bisanya dia nyuruh si Nara kek gitu" Protes Nana
"Iya bener, Na. Kalau si Nara jadi beneran ngelakuin gimana? Kan Nara yang kesulitan nantinya" Tambah Sasha.
"Udah deh, lagian nggak terjadi juga kan? Udahlah..." Lerai Karina.
Sedangkan Tania tengah memikirkan tindakan yang dilakukan oleh Reyna, bagaimana bisa dia membuat Nara berhenti. Pasalnya tidak pernah ada satu orang pun yang bisa menghentikan dia.
"Gaes gue keluar bentar ya" Pamit Tania dan langsung pergi dari sana.
"Kenapa dah tuh anak?" Tanya Sasha
"Udahlah... Mungkin dia ada urusan, namanya juga Tania, makhluk tersibuk sejagat raya" Jawab Karina
Di sisi lain kelas
"Oi Nar, gila lu yah! Bisa-bisanya lu mau ngehajar anak orang! Lu mikirin bonyok lu nggak sih?! Kalau lu sampe beneran mukul, terus orang tua dia laporin lu ke polisi gimana? Mikir dong lu! LU dikasih otak itu buat mikir! Jangan cuman dijadiin pajangan dong! Lu juga Reno, ngapain coba mau ikut-ikutan! Kita di sini itu buat belajar bukan buat adu kekuatan tau nggak! Lu juga Rai, kenapa sih pake lu ladenin tuh orang hah?! Nggak habis pikir gue sama lu pada" Omel Lia pada ketiganya dan dia langsung menjadi pusat perhatian anak di kelasnya.
"Iya-iya maaf, lagian kan nggak terjadi juga. Udahlah" Bela Nara
"Benar tuh Nar, udah lewat juga" Tambah Reni dan langsung mendapat anggukan dari keduanya.
"Haaaaaaa.... Kapok deh gue, harusnya gue milih Yogya atau nggak Bandung buat tempat pertukaran pelajarnya, capek gue" Ucap Lia lesuh dan mendapatkan tepukan ringan dari Valisha yang duduk di sebelahnya.
"Mulai sekarang, lu pada jangan berantem-berantem lagi, paham nggak?!"
"Paham bu!" Sahut ketiganya kompak
"Satu lagi, kalau ada diantara kalian yang mau berantem, kalian harus tenangin dia, Paham?!"
"Paham bu!"
"Bagus deh!"
"Jangan bilang si Reyna keluar kelas karena ini?" Batin Rai.
"Gila, gila, si Lia kok makin galak sih? Mana ngomelnya panjang lagi, berasa kek diomelin sama emak sendiri. Serem!" Batin Reni sambil bergidik ngeri.
"Untung Gue nggak ikutan, selamat selamat" Batin Alan sambil mengusap dadanya.
Baru beberapa menit berlalu Lia kembali membuka suara.
"Gue paling heran ya sama lu" Ucapnya sambil pindah ke tempat duduk Reyna yang berada di depan Nara. Nara menatapnya bingung.
"Kok bisa ya, lu nggak jadi nyamperin orang yang mukulin si Rai karena ucapannya Reyna?" Tanyanya penasaran.
"Harusnya lu makin terpacu dong buat nyamperin tuh orang" Tambahnya santai.
"Wah gila nih cewek, udah syukur si Nara tenang kek gini. Ngapain lu bahas lagi sih? Kalau dia ngamuk lagi gimana?" Batin Leo.
"Busettt, nih cewek ngapain nyiram minyak tanah di api yang udah agak redup sih. Semoga aja nih anak nggak kumat lagi deh" Batin Gabriel.
"Karena dia manggil gue Al" Ucapnya santai menanggapi pertanyaan Lia.
Terjadi keheningan di sana, mereka semua mentapa Nara tak percaya, bahkan Leon sampai menganga lebar. Anak kelas yang memperhatikan mereka bingung melihat mereka yang tiba-tiba diam mematung.
"Lu bisa ulangin nggak?" Pintah Valisha
"Ya karena dia manggil gue Al"
"Haaaaaaa....." Terdengar helaan nafas dari mereka semua.
"Udahlah... Nyesel gue nanya ke lu" Ucap Lia yang langsung kembali ke bakungnya dan kembali mengobrol bersama Valisha. Sedangkan yang lainnya kembali ke aktivitas masing-masing.
Di kantin
"Hmm... Emang paling enak makan es krim panas-panas kek gini" Ucapnya santai.
"Pasti mereka dapet omelan hangat dari Lia, beuuhhh... Pasti mantep banget deh."
Ketika dia tengah asik memakan es krimnya, tiba-tiba segerombolan anak laki-laki memasuki kantin dan langsung duduk di tempat yang kosong.
Reyna mulai memperhatikan mereka baik-baik dan langsung teringat kepada Rai.
"Wah... Manusia yang dihajar sama si Rai nih. Bodo amat lah! Mendingan gue makan es krim terus balik ke kelas deh, perasaan gue juga nggak enak lama-lama di sini" Batin Reyna.
Dia pun segera menghabiskan es krimnya, tak lupa untuk membuang sampah nya ke tong sampah. Dia mulai melangkahkan kakinya dan melewati meja yang digunakan oleh Bimo cs.
"Woy! Anak titipan" Ucap Bimo membuat Reyna berhenti dan membalikkan badannya.
"Gue?" Tanya sambil menunjuk ke arahnya.
"Ya iyalah elu, emang siapa lagi"
"Oh" Jawabnya santai
"Ada apa manggil gue?" Tanya santai masih berdiri di posisinya.
"Wah... Nggak sopan banget lu. Harusnya kalau orang manggil lu, lu harus datang nyamperin dong. Gimana sih?" Protes salah satu teman Bimo.
Reyna hanya mengabaikannya saja dan hendak pergi dari sana. Namun, ditahan oleh salah seorang dari mereka, Reyna tidak tau kapan orang itu mendekat ke arahnya dan orang itu langsung membawanya ke arah Bimo.
"Nih Bim, harus dijemput dulu baru mau jalan ke sini"
"Hahaha... Duduk gih!" Pintanya
"Nggak deh makasih" Jawabnya jutek.
"Widih... Ternyata orangnya jutek bro, boljug nih. Jadi pacar abang yuk!" Ucap salah satu teman Bimo dan hendak merangkul Reyna. Namun sayang, belum sempat tangannya sampai ke bahu Reyna, dia sudah menangkap tangan itu dan memelintirnya sednahkan yang punya tangan ga nya bisa mengadih kesakitan, semakin dia melawan Reyna semakin membuatnya kesakitan, dia menendang bagian belakang kaki orang tersebut, sehingga membuatnya bertekuk lutut telat dihadapan Bimo cs.
"Haaaaaa.... Gue udah sabar ngadepin lu pada, eh ni semut malah nggak sopan banget. Ckckck!" Ucapnya santai.
Prok!
Prok!
Prok!
Bimo cs bertepuk tangan untuk mengapresiasi keberanian Reyna, sedangkan yang bersangkutan hanya menatap malas ke arah mereka.
"Ngapain sih tepuk tangan, kek habis denger pidato aja. Cih! Gue ngantuk ini pen bobo, duh! Nyesel gue lewat di samping mereka tadi, bego bego!" Batin Reyna merutuki kebodohannya.
Bimo pun bangkit dari posisi duduknya, dan bergerak ke arah Reyna. Reyna melihat sekelilingnya dan melihat para penjual kantin yang menatapnya khawatir, tetapi tidak bisa melakukan apapun.
"Hmmm... Anak holkay deh keknya. Soalnya nggak ada yang berani ngelawan, hadeeeeehhh.... Ngerepotin banget sih" Batinnya kesal.
"Lepasin nggak tangan lu dari teman gue?!" Pintahnya dengan nada dan tatapan yang dingin ke arah Reyna.
Reyna pun mengikuti perintahnya.
"Nih udah, sorry yah. Gue nggak bermaksud ngelakuin itu ke elu. Dan gue juga minta maaf kalau gue ngegangguin lu pada" Ucapnya santai.
"Okay nggak masalah" Ucap Bimo sambil ternyemun miring. Sedangkan Reyna hanya mengangguk paham.
"Hahahaha...." Terdengar tawa dari arah belakang Bimo.
"Hadeh, keknya bakalan panjang nih urusannya, mana gue lagi di tempat orang lagi. Kalau di tempat sendiri, udah gue hajar nih bocah! Ngerepotin banget sih!" Batinnya kesal.
Sementara itu, Tania pergi keluar kelas untuk mencari Reyna.
"Duh, dia dimana yah? Gue harus nyari dimana nih?" Ucapnya bingung.
Akhirnya dia memutuskan untuk mengelilingi sekolah. Dan menyisahkan kantin sebagai tuh Ya terakhir, atau mungkin dia tidak akan pergi ke sana di jam segini. Karena Bimo cs pasti sedang berada di sana sana.
Dia berjalan ke taman depan sekolah, tapi tak kunjung menemukan Reyna, dia juga sudah memeriksa semua tempat yang memungkinkan Reyna berada di sana. Akhirnya dia memutuskan untuk naik ke lantai dua, yang merupakan letak dari perpustakaan.
"Haduh... Capek banget!" Ucapnya ketika sudah tiba di lantai atas. Dia pun segera masuk ke dalam perpustakaan yang berada tepat di sebelah kirinya. Sesampainya di sana dia tidak menemukan Reyna. Akhirnya ia kembali menyusuri ruang klub yang ada di lantai 2, mungkin saja Reyna berada di sana. Ia pun melanjutkan langkahnya ke lantai 3 dan Roof top , tetapi tidak menemukan Reyna dimana pun.
"Aduh, Reyna dimana sih? Tinggal kantin doang yang belum gue datengin, apa dia ada di sana?"
"Tapi kan? Jam segini, Bimo cs ada di kantin. Aduh! Gimana dong? Apa gue balik ke kelas aja, terus minta ditemenin si Nara? Nggak nggak?"
Cukup lama dia melakukan perang batin dan akhirnya memutuskan untuk segera pergi ke kantin sekolah dengan berat hati. FYI, setiap lantai di sekolah ini memiliki kantin masing-masing yang bertujuan untuk memudahkan para siswa ketika ingin pergi membeli makan.
Deg! Sesampainya di sana, dia melihat Reyna tengah bertatapan dengan Bimo cs, badannya membeku dia tidak bisa melakukan apapun.
"Aduh! Gimana nih? Maafin gue Na, gue nggak bisa apa-apa" Gumam nya pelan. Jujur saja dia, sangat takut jika bertemu dengan mereka. Karena pada awal masuk sekolah, dia menjadi bahan bulian dari Bimo cs, dia sempat melawan, namun sayang, hal yang dilakukan malah makin memperparah keadaanya. Dia sempat ingin pindah sekolah karena hal tersebut tetapi tidak bisa, sekolah itu adalah sekolah impiannya.
Flash back on
Suatu hari ketika, awal masuk sekolah dia sangat senang, walaupun agak sedikit kecewa karena dia berada di posisi kedua oada saat pengumuman hasil ujian kelulusan. Walaupun begitu, hal itu tisak dapat menutupi kegembiraannya.
Dia melihat daftar nama-nama siswa dan mendapatkan kelas X MIPA 2. Betapa terkejutnya dia ketika melihat ke dalam kelas itu, sangat ribut dan berantakan, tetapi bersih. Ketika dia masuk, dua melihat orang yang merupakan peringkat pertama ternyata berada di dalam kelasnya dan tengah bermain permaianan yang absurd menurutnya. Satu kata terlintas di kepalanya "Aneh".
Tania tidak memusingkan hal tersebut, dia cukup senang melihat orang itu berada di kelasnya jadi dia bisa lebih semangat.
Hari ini adalah hari pertama mereka belajar, semuanya memperhatikan sang guru yang tengah menjelaskan materi pelajaran fisika. Namun, hanya ada satu orang yang tengah tidur di dalam kelas, Nara. Sang guru yang melihat hal tersebut, meminta Teman sebangkunya, Leon, untuk membangunkannya. Leon pun mengikuti perintah sabar guru, tetapi yang bersangkutan tidak mau bangun.
"Alvaro Narendra Farras" Ucapan bu guru dengan nada tinggi.
Nara yang mendengar hal tersebut langsung bangkit dari tidurnya dan menatap ke arah gurunya sambil cengar cengir. Sang guru pun menanyakan apa saja materi yang sudah ia jelaskan, tetapi Nara tidak bisa menjawabnya dan akhirnya dia dikeluarkan dari kelas.
"Katanya peringkat 1 kok kek gitu sih" Batin Tania.
Saat inu Tania tengah mengerjakan tugasnya di taman belakang sekolah, tempatnya sangat rindang dan cocok sebagai tempat untuk belajar. Kenapa dia sendirian? Karena teman-teman nya sedang pergi ke kantin, katanya takut nggak kebagian makanan.
Ketika tengah asik belajar, datanglah rombongan anak cowok yang dia tau, mereka adalah murid baru seperti dirinya.
"Widih, ada cewek nih" Ucap salah seorang di antara mereka.
"Ntar pulang bareng abang yuk!"
"Jyahahahahha.... Mana mau dia sama lu, muka lu pas pasan bro"
"Hahahaha...." Tawa teman-teman anak itu.
"Kok belajarnya asik banget sih, nama gue Bimo" Ucap anak tersebut sambil mengulurkan tangannya. Tania yang notabene nya anak ramah, menanggapi ucapan Bimo dan mengatakan namanya. Semenjak saat itu, Tania selalu menyapanya ketika mereka tidak sengaja bertemu.
Lama kelamaan, dia tidak merasa nyaman kepada mereka, bagaimana tidak. Mereka selalu meninta Tamia untuk mengerjakan tugasnya, Tania sempat menolak, tetapi dia tidak berhasil karena mereka mengancam akan mengganggunya jika tidak melakukan hal tersebut. Alhasil, tujuan mereka pun tercapai.
Namun, pada suatu hari Tania menolak permintaan mereka dengan tegas, dia sudah lelah diperalat. Saat ia tengah duduk santai di taman belakang sekolah. Tiba-tiba...
Byur!
"Sorry, nggak sengaja, hehehe...."
Ucap salah satu teman Bimo dan langsung melenggang pergi dari sana.
"Aduh! Buku gue basah gimana nih! Ngeselin banget sih"
Hari kedua, hal yang sama pun terjadi, begitu pun dengan hari-hari berikutnya. Kenapa hal itu masih berlanjut? Kenapa tidak ada yang mengatakan apa yang dialami Tania? Karena hal itu terjadi sepulang sekolah dan belakangan orang tuanya sibuk jadi agama telat untuk menjemputnya, Tania juga sudah menyiapkan baju cadangan untuknya agar tidak membuat orang tuanya khawatir.
Tania tengah berjalan ke arah kantin bersama teman-teman nya, mereka bercanda dan tertawa bersama. Tiba-tiba tawa mereka terhenti ketika sekelompok anak laki-laki menghampirinya. Tania menatap mereka tajam, yang membuat teman-teman nya heran. Dan ia mengatakan kepada anak laki-laki tersebut untuk menemuinya nanti saja. Bimo yang kesal, langsung menarik paksa Tania dan membawanya pergi dari sana, tak lupa dia mengancam akan melakukan hal yang kejam kepada Tania jika mereka melaporkannya pada guru.
"Mau kalian apa?" Ucapnya dingin dan menatap tajam ke arah mereka, setelah tiba di belakang sekolah.
"Bersihin sepatu gue dong!" Pindah Bimo
"Apa?! Bersihin sepatu lu?! Lu kira gue babu lu? Iya?!"
"Hahaha.... Sorry, gue udah nggak mau ada urusan sama lu pada, okay. Enyah deh dari hadapan gue" Ucapnya tegas.
Ketika hendak pergi dari sana, Bimo menariknya dan mendorongnya ke tanah, teman-temannya pun menyiram nya dengan air bekas cucian kain pel. Mereka pun mengolok-ngolok Tania, sebagai balasan karena sudah berbicara hal yang tidak pantas menurut mereka.
Bukannya takut, Tania malah lebih melawan lagi.
"Lu pada sadar nggak sih hah?! Mama kalian itu perempuan, dan kalian memperlakukan perempuan kayak gini?! Sampah tau nggak!"
Ucapan Tania membuat Bimo marah besar, dia menarik rambut Tania dan menghempaskannya ke tanah, tetapi Tania tidak putus ada dia kembali melawan.
Plak!
Bimo menamparnya dengan kuat dan terlihat darah segar keluar di ujung bibir nya.
"Rasain lo!" Ucap salah seorang diantara mereka.
Bimo menarik Tania paksa dan memasukkannya ke dalam gudang dan menguncinya rapat-rapat. Seketika terdengar jeritan dari dalam sana, Tania sangat ketakutan. Dia tidak suka tempat yang gelap, akhirnya dia duduk sambil melipat kakinya dan menangis sekencang-kencangnya berharap ada yang bisa mendengaranya, sebab ia sudah sangat lemas.
Selang beberapa menit setelah orang itu berteriak terdengar suara pikulan dari sana. Dan terjadi selama beberapa saat, Tania semakin ketakutan dan memeluk erat kedia lututnya dan menenggelamkan kepalanya di sana.
Cklek!
Terdengar suara pintu terbuka, dia pun mendongakan kepalanya ke atas dan melihat Nara tengah menatap ke arahnya, dan dia menuntun Tania untuk segera keluar dari sana.
Saat keluarga dari sana, Tania langsung melihat seluruh teman kelasnya berada di sana, dia yakin Nana, Sasha dan Karina memberitahukan hal ini pada mereka semua. Tania segera pergi menghampiri mereka.
"Nia, maaf ya kita nggak tau kalau lu sering diganguin merek" Ucap Nana
Tidak hanya Nana, beberapa teman kelasnya juga menyesal karena tidak mengetahui apa yang tengah dialami olehnya.
"Nggak papa, maksih gaes udah nolongin gue" Ucapnya sambil tersenyum hangat. Yang ditanggapi dengan senyuman dan anggukkan dari mereka.
"Tapi yang nolongin lu si Nara sih, kita cuman ikut aja" Ucap Ilham yang langsung mendapat persetujuan dari mereka.
"Maka-"
Belum sempat dia melanjutkan perkataannya Nara sudah memegang dagunya dan memperhatikan sudut bibirnya.
"Mendingan lu semua balik ke kelas deh, dan kalian yang anak cewek bantuin si Tania buat ngebersihin dirinya, Ham, Ki lu temenin mereka bantuin Tania ya, tapi jangan masuk ke WC lu berdua" Pintanya
"Ya elah... Kita tau kali, nggak usah diingetin lagi" Protes Ilham.
"Hahaha.... Dasar cewek mura**n lu, lu apain mereka sampai sebaik ini ke elu hah!? Dasar set*n lu" Ucapnya marah
Semua anak kelas X MIPA 2 ingin mengmukulnya tapi ditahan oleh Leon dan Gabriel.
"Emang dasar ja-" Ucapannya langusng terpotong karena Nara langsung menghajarnya. Tidak hanya sekali, tapi Nara memukulinya berkali-kali.
Anak kelasnya meminta Leon dan Gabriel serta anak laki-lakinya untuk membuat Nara berhenti, tetapi tidak ada yang bisa melakukannya.
Setelah puas memukuli mereka, Nara pergi meninggalkan Bimo cs bersama dengan teman kelasnya.
Namun, setelah beberapa langkah, dia berbalik dan kembali ke tempat Bimo cs. Bimo yang masih sadarkan diri menatap ke arahnya.
"Sekali lagi lu gangguin anak kelas gue, habis lu sama gue!"
Setelah mengancamnya, dia kembali berjalan ke arah teman kelasnya. Bimo hanya bisa marah tanpa ada yang dengar.
Setibanya di kelas, Tania sudah rapi seperti biasanya dan luka nya sudah dibersihkan di UKS.
"INI SEKOLAH, SEKOLAH APAAAN?! HAH?! PERCUMA FASILITASNYA LENGKAP KALAU MURID KURANG AJAR KEK DIA BISA BERKELIARAN BEBAS, TANPA ADA SATU ORANG PUN YANG NGASIH PERINGATAN ATAU HUKUMAN KE DIA. CIH!!! BRENGS*K"
Nara sangat marah besar, dia membanting barang-barang yang ada di kelasnya. Entah sudah sumpah serapah apa yang keluar dari mulutnya.
"Leon kok kalian diem aja sih" Bisik Nana
"Nggak bisa Na, dia kalau ngamuk kek gini susah ditenangnin" Bisik Leon dan mendapat anggukkan dari Gabriel.
Tania yang melihat teman-teman nya yang diam ketakutan, memberanikan diri menghampiri Nara.
"Nara" Ucapnya dengan lembut dan langsung mendapat tatapan tajam dan menusuk dari yah ga bersangkutan. Tania pun menarik nafas panjang dan menghembuskannya pelan.
"Makasih lu udah nolongin gue"
Nara masih diam menatapnya dengan tatapan yang sama.
"Ayo Nia, lu pasti bisa bikin Nara tenang, kalau pun nggak, lu harus bisa. Demi teman-teman lu" Batinnya.
"Nara, stop ya" Ucapnya lembut "Anak kelas pada khawatir sama lo, dan....." Tania menjedah ucapannya.
"Dan apa?" Tanya Nara dengan nada seperti biasa, walaupun matanya masih menatap nya tajam.
"T-Tapi lu jangan marah ya?" Tanya Tania gugup
"Hm"
"Anak kelas pada takut ngeliat lu kek gini" Ucapnya cepat sambil menutup mata.
Mendengar hal tersebut, Nara kembali mengantri emosinya dan langsung meminta maaf kepada mereka semua. Tak berapa lama Nara dipanggil ke ruang BK dan mendapatkan peringatan atas perkelahian yang terjadi. Dia hanya mengiyakan saja apa yang gurunya katakan dan kembali lagi ke kelasnya.
Semenjak saat itu, Tania mulai berteman dengan Nara. Dan seluruh warga kelas X MIPA dua sudah berjanji, untuk tidak membuat Nara seperti itu lagi, karena mereka harus mengganti batang yang sudah di rusak oleh Nara. Walaupun Nara mempertanggung jawabkan perbuatannya, tetapi ujung-ujungnya anak kelasnya yang harus membenahinya.
Flash back off
...----------------...
"Terus mau lu pada apaan?Hem?" Tanya Reyna malas.
"Wah, berani juga nih cewek" Ucap Bimo diselingi dengan tawa.
Bimo menarik rambut Reyna dan mendekatkan wajahnya ke arahnya.
"Lu nggak tau siapa gue? Hah?" Tanya dengan menatap tajam kearah Reyna.
Crek!
Retak sudah cawan kesabaran Reyna, dan kesabarannya itu sudah mengalir keluar dari tempatnya.
"Hah! Lu cewek yah! Maenbya jambak-jambakkan iya?" Ucapnya sambil tersenyum meremehkan Bimo.
Tania hanya bisa melihatnya, hatinya mengatakan untuk membantu Reyna agar apa yang dia alami tidak di alami oleh orang lain, tetapi tubuhnya mengatakan hal yang berlawanan.
"Sialan lu" Bimo mendorong Reyna ke lantai dan menatapnya rendah.
Cukup dia sudah tidak bisa menahan kemarahannya lagi.
"Woy! Sampah masyarakat sini lu!" Provokasi Reyna
"Wah, sialan nih cewek"
"Punya nyali juga lu"
Ucapan teman-teman Bimo yang lain. Mereka segera melawan Reyna, Reyna tau walaupun dia jago bela diri, kekuatan mereka lebih besar dari dirinya. Dia melawan mereka satu persatu, dan menghindari setiap pukul yang mereka lontarkan karena bisa membuatnya mengalami luka yang cukup untuk membuatnya dalam kondisi yang tidak dia inginkan. Sementara itu, dari kejauhan Tania yang hanya bisa melihat kejaidan tersebut, berdoa kepada Tuhan dan meminta keselamatan untuk Reyna.
"Sialan nih cewek" Mereka mulai menyerang Reyna membabi buta, dan Reyna pun menyerang titik lemah yang mereka miliki dan membuat mereka semua kesakitan.
Ketika ia baru saja menuju teman-teman Bimo, Bimo memanfaatkan kelengahan Reyna dan melayangkan satu pukul di sudut bibir sebelah kirinya yang membuat darah segar keluar dari sana dan juga meninggalkan lebam.
"BAJING*N!"
Reyna berdiri dan mulai memukul Bimo yang terus menghindar, melihat ada celah yang Reyna tidkq sadari, Bimo kembali memukul pipi sebelah kanan Reyna, tetapi meleset.
"Brengs*k!"
Bimo mengambil salah satu piring kaca milik ibu kantin dan hendak melemparanya kepada Reyna, namun dia urungkan. Dia terus berlari mengitari kantin sampai berhenti di pojokan, Reyna tidak menyia-nyiakam kesempatan tersebut dan hendak memukul Bimo. Namun, sayang pukulannya meleset ke arah dinding dan meninggalkan bercak darah karena Reyna memukulnya dengan sangat kuat. Cukup sudah dia mulai geram dan ingin memukul Bimo si brengs*k sekarang juga.
Reyna sudah membulatkan tekadnya dan menurunkan pertahanannya dan membuatkan kekuatan pertahanan menjadi kekuatannya. Ketika dia fokus ke arah Bimo, dia tidak memperhatikan jika bimo melemoara piring Kaca tersebut ke arahnya, karena refleks Reyna pun memukul piring tersebut dan hancur menjadi beberapa bagian. Hal ini membuat tangan kanan Reyna luka dan berdarah.
"Hahaha... Ternyata lu iti selain bajing*n brengs*k, tenyata pengecut juga yah. Ckckck!"
"Jaga ya mulut lu!" Ucap Bimo kesal
"Kalau bukan pengecut, terus apa namanya hah? Buktinya lu lari dari gue, yg otabenenya cewek. Banci lu! Cemen!"
Provokatif yang Reyna lakukan membuahkan hasil, Bimo datang ke arahnya dengan amarah yang menggebu-gebu. Bimo pun melayangkan tinjunya ke arah Reyna, dan berhasil dia hindari.
Bugh!
Reyna memukul perut bagian kanan Bimo, karena dia hanya bisa menggunakan tangan kirinya. Tindak hanya itu, dia juga menendang Bimo. Entah keberanian dari mana, Tania yang tadinnya hanya diam dan berdoa, mengambil balok yang merupakan pengganjal pinti kantin dan memukul tengkuk Bimo yang tengah dihajar oleh Reyna. Pukulan Tania membuat Bimo pingsan, dan dia bersorak sangat senang.
"Yeaahhhhh... Akhirnya gue berhasil" Ucapnya senang sambil melompat-lompat kegirangan.
Reyna heran melihat Tania, pasalnya ini pertama kalinya dia melihat orang yang habis membuat orang lain pingsan, malah sangat bahagia seperti orang yang mendapatkan uang milyaran rupiah secara cuma-cuma. Tidak, lebih tepatnya seperti anak kecil yang keinginannya dipenuhi oleh orang tuanya.
Kesadaran Tania yang sudah kembali, membuatnya kembali bersikap normal dan mulai menatap Reyna setelah sudah mengumpulkan kepercayaan dirinya.
"Gue ber-"
Belum sempat dia menyelesaikan kalimatnya Tania dikejutkan dengan sebuah darah yang menetes dari tangan kanan Reyna.
"Ikut gue ke UKS sekarang!" Pintahnya dan langsung menarik Reyna.
"Pak, Bu, tolong beresin 5 berandalan itu yah, terimakasih" Ucapaannya membuat para penjaga kantin yang masih syok sehabis melihat kejadian tersebut langsung kembali ke realita dan mengikuti permintaan Tania.
...----------------...
Di dalam kelas
"Si Rey kok nggak balik-balik sih?" Tanya Rai pada teman-teman nya
"Kok lu manggil Ana, Rey sih?" Tanya Valisha bingung
"Nggak papa" Jawabnya sambil tersenyum manis.
"Iya bener, tuh anak kemana aja sih" Seru Reno
"Tuh dia" Ucap Alan yang melihat Reyna yang tengah berjalan di luar kelas mereka.
"Yakin tangan lu nggak papa?" Tanya Tania di depan pintu kelasnya.
"Nggak papa kok, tenang aja" Ucap Reyna sambil memperlihatkan tangannya
"Yaudah gue balik duluan ke bangku gue ya, kalau ada apa-apa langsung kasih tau gue, nomer gua yang PP nya kucing" Ucap Tania. Dan langsung mendapatkan anggukkan dari Reyna.
"Woy Na!" Seru Alan dari belakang kelas.
"Apaan sih lu kek di hutan aja teriak-teriak!" Ucap Rai kesal.
"Bisa diem nggak Lan?! lagi mau naikin rank nih!" Seru Nara kesal.
Saat itu, Nara, Leon, Gabriel, Rai, dan Reno tengah asik bermain game online, dan tidak menyadari kedatangan Reyna. Sedangkan Valisha sudah kembali ke alam tidur, setelah tadi terbangun hanya untuk menanyakan keberadaan Reyna. Sedangkan Lia masih tertidur pulas setelah puas mengomeli Nara, Rai dan Reno.
Reyna berbalik dan tak lupa dia menyembunyikan tangannya yang terluka ke dalam hoodie nya, sambil tersenyum manis ke arah Alan.Dia pun segera menghampiri Alan.
"Hehehe... Sorry Lan, tadi gue keasikan makan es krim di kantin. Habis 5 cup loh" Ucapnya bangga.
"Huh! Lu-"
"Lo Na, muka lo kok ada plester sama lebam nya sih!" Teriak Alan khawatir. Sontak Nara dan kawan-kawan langsung menatap Reyna. Lia dan Valisha yang tengah berada di alam tidur refleks langsing menghampiri Reyna.
"Lu bilang apaan Lan?" Tanya Lia
"Nih, lu liat sendiri" Ucapnya sambil membalikkan badan Reyna ke arah Lia. Reyna yang ditatap serius oleh Lia hanya bisa memberikan tanda peace (β) ke arahnya sambil memperlihatkan cengirannya.
"Loh! Kok muka lo banyak plesternya sih? Terus kok ada lebam kek gini?!" Tanya Valisha panik yang baru saja nyawanya ke kumpul.
"Telat lu Lis" Ucap Nara .
"Bodo amat! Kita ke UKS yah?" Tawar Reyna.
"Tadi udah ke UKS kok, santai aja"
"Syukur deh"
"Muka lu kenapa Na?" Tanya Rai penasaran sambil menatap serius ke arahnya.
Tatapan dari Alan, Nara, Reno, Leon dan Gabriel yang sempat teralihkan karena Valisha yang baru sadar dengan keadaan Reyna, malah kembali menatapnya sambil menunggu jawaban yang keluar.
"Hadewww... Lu ngapain nanya lagi Rai ogeb! Ini juga si Alan padahal biasanya dia nggak telitiin penampilan orang, kenapa sekrang malah di teliti sih, biasanya biar ada jerawat atau luka gores kagak diperhatiin, sia-sia dah usaha gue" Batinnya dengan pasrah.
"Hahaha... Eh Rai tadi waktu kita lagi pacaran, lu jatuh ke selokan kan yah, masa lu lupa sih habis lu jatuh gue juga ikutan jatuh, makanya muka gue kek gini. Hadewww... Pikun lu Rai" Jelas Reyna panjang lebar.
"Oh, ****! Gue barusan ngomong apaan?! Ogeb bener! Mampus dah!" Batinnya merutuki kebodohannya.
"Perasaan tadi lu bilang ke gue kalau mau boong, yang lebih pintaran dikit, terus yang lu lakuin sekarang ini apaan?" Tanya Rai mengejek.
"Udahlah yah, lupain aja" Ucap Reyna mengalihkan pembicaraan.
"Lu kok make hoodie?" Tanya Gabriel
"Beuh, mampus gue" Batinnya merutuki dirinya untuk yang kesekian kalinya.
"Lah emang si Reyna tadi nggak pake hoodie yah?" Tanya Rai, Reno, Lia, Leon, Alan dan Valisha secara bersamaan.
"Iya serius, masa lu pada nggak ada yang nyadar sih. Tadi dia cuman ngasih gunting ke Nara, terus langsung keluar kelas" Jelas Gabriel yanga mendapatkan anggukan dari mereka.
"Udahlah... Bentar lagi udah mau pulang nih, ngapain juga mikirin gue make hoodie atau nggak" Ucap Reyna santai "Nggak penting tau nggak, bubar bubar" Tambahnya.
"Yang mana Lan, sini gue jelasin tentang materi fisika tadi pagi kan?"
"Hooh"
Lia dan Valisha sudah berjalan kembali ke bangku mereka. Reno, Gabriel, dan Rai kembali ke aktivitas mereka yang tertunda. Sedangkan Nara masih fokus memperhatikan Reyna, lebih tepatnya ke arah tangan yang berada di dalam kantong hoodie.
"Bentar, bentar" Ucap Leon tiba-tiba
"Ya Tuhan... Apaan lagi Yon?" Tanya Reno kesal.
"Kok lu pada udah puas sih sama jawaban yang tidak masuk akal dari si Reyna" Protes Leon.
"Ya Allah... Kenapa nih manusia ngebahas lagi sih? Udah capek-capek gue berusaha ngalihin pembicaraan, malah dibahas lagi. Kampret lu,Yon! Sorry gue ngatain lu, padahal baru kemaren kita kenalan." Batin Reyna.
"Iya juga sih ya, Lu ngebodohin kita ya Na?" Tanya Valisha
"Ya kitanya aja yang lebih bodoh, mau aja ditipu sama dia" Tambah Lia sinis.
"Beuh... Si lidah silet udah keluar. Mampus!" Batin Reyna untuk yang kesekian kalinya.
"Udahlah, Reyna juga punya urusan pribadi iya kan na?" Tanya Nara sambil berdiri di sebelah Reyna.
"I-I-Iya, bener. It's privasi gaes" Jawabnya sambil tersenyum.
"Kok perasaan gue nggak enak ya? Au dah bodoh" Batin Reyna.
"Nggak semua urusan Reyna harus kita tahu, kalian paham kan?"
"Iya sih, lu bener Nar" Sahut Lia dari bangku nya tetapi dengan wajah serius.
"Beuh... Kasian nih si Bimo kalau di gebukin sama teman-teman gue. Semoga aja nggak ketahuan dah. Dan disituasi gue sekarang, gue cuman bisa ngomong sama diri gue sendiri. Sedih banget " Batin Reyna.
"Udah ya gaes, kita nggak usah tanyain lagi soal plester sama lebam di mukanya Reyna, setuju nggak?" Tanya Nara pada teman-temannya.
"Setuju" Jawab mereka kompak.
"Lu udah denger kan Na? Jadi lu nggak perlu sembunyiin apapun lagi" Ucap Nara dengan senyuman manisnya.
"Hmm... Makasih Nar"
"Anytime" Ucapnya sambil mengangkat tangannya berpose meminta tos dari Reyna. "Buruan dong"
Karena refleks Reyna malah mengeluarkan tangan kanannya, sebab Nara menggunakan tangan kanannya untuk bertos bersama nya. (Tos nya itu kek yang model panco gitu loh, aku nggak tau namanya π).
"Wah... Trend lagi nih, tangan dibungkus make perban. Wah... Ada betadine nya lagi. Lucu ya Na... Hahaha...." Ucap Nara ceria disertai dengan tawa bahagia nya.
Namun, para anak kelas X MIPA 2 merasa tertekan dengan suasananya begitu pula dengan teman-teman Reyna yang notabene nya teman SMP Nara, kecuali Valisha. Tekanan yang tadi saja sudah sangat gelap dan menusuk, apalagi yanga sekarang. Tidak ada satupun yang berani bersuara, siapapun itu, sedangkan Reyna masih menatap penuh selidik ke arah Nara.
"Wihhhh.... Bagus nih. Lu kok inisiatif sih buat kek ginian? Kan trend nya udah lewat" Tanyanya dengan lembut sambil tersenyum manis dan menatap tepat ke arah mata Reyna.
"Mampus dah lu Bim, Bim. Masuk UGD, bye bye" Batin Reyna.
"Loh? Lu kok diam sih Na? Ini lu kenapa ada inisiatif buat ginian? Masa lu nggak jawab sih?" Tanya masih sana seperti sebelumnya.
Cukup sudah, Reyna sudah kesal dengan kelakuan Bimo tadi, dan sekarang? Dia kembali dihadapkan dengan manusia bertempramen buruk yang tengah berada dalam suasana hati yang sangat buruk.
"Bac*t lu" Ucap Reyna santai.
Ucapan Reyna membuat orang yang ada di dalam kelas terkejut dan menatap tidak percaya ke arahnya, bagaimana bisa dia berkata seperti itu kepada orang seperti Nara. Tetapi, mereka tidak berani membuka mulut.
"Hahaha.... Lucu lu" Ucap Nara disertai dengan tawanya yang pecah.
"Woy!"
"Nggak usah basa basi deh, langsung ngomong ke intinya aja!" Ucapnya dengan ketus.
"Haaaaaaa.... Lu tau gue banget. Okay, siapa yang lakuin ini ke elu?!" Tanyanya dengan sorot matanya yang tajam dan nada dinginnya.
Terdengar bisik-bisik anak dari anak kelas di samping mereka.
"Aduh! Gimana nih, ntar si Nara ngamuk lagi"
"Ada yang bisa lerai nggak tuh?"
"Gimana dong nih?!"
"Aduh! Lu jangan natap gue kek gini dong, gue berasa lagi berhadapan sama psikopat tau nggak. Coba deh lu ulangin lagi nanya, pake nada lu yang biasa jangan kek gini lah. Lu liat nih, anak-anak kelas pada takut sama lu" Jelasnya dengan nada bercanda sambil menangkup kedua pipi Nara dan mengarahkannya untuk melihat ekspresi anak kelasnya.
"Na! Nggak udah bercanda deh" Ucapnya dingin dan dengan sorot matanya yang tajam. Reyna pun segera menurunkan tangannya dari wajah Nara.
"Ini nih, kalau gue komporin kek tadi. Beuuhhh... Makin menjadi-jadi deh, terus gue harus ngapain? Nggak kuat, mak" Batinnya frustasi.
"Okay, kalau lu nggak mau jawab nggak papa, gue bisa nyari tau sendiri kok. Tenang aja" Nara hendak pergi dari sana tetapi tidak jadi, karena ----
"Aduh! Duh! Aduh! Tangan gue sakit nih, Nara ini tangan gue sakit banget, gimana dong?"
"Lu pikir gue bakalan ketipu sama akting lu yang buruk ini? Hah?!"
"Nah kan, udah gue duga ini pasti nggak bakalan mempan. Gue udah buntu, udah nggak ada ide. Masa gue harus meluk dia dulu buat nenangin sih? nggak bisa lah. Kalau bonyok gue tau, bisa didepak gue dari KK. Aduh! Nggak dulu deh, terserah dah dia mau ngamuk. Bodo amat, dari pada gue didepak dari KK, kan nggak lucu. Sorey guys, gue nggak bisa bantu apa-apa" Batinnya makin frustasi.
"Kenapa diem? Bener yah?" Tanyanya sambil tersenyum miring ke arah Reyna dan Reyna masih menatapnya, tetapi dengan wajah datar. Nara hendak kembali melangkah.
Puk!
"Hmm... My sweety boy, udah ya marahnya, biar Tuhan aja yang balas perbuatan mereka" Ucap Reyna lembut sambil memegang kedua pipi Nara dan tersenyum hangat. Dia juga sesekali mengusap dan menepuk pelan kepala Nara.
"Apa ini?" Ucap anak sekelas secara bersamaan tanpa terkecuali.
"Ya ampun, Na. Lu pikir dia ana kecil apa?" Gumam Lia frustasi.
Nara hanya terdiam, dan suasana mencekam di sana sudah hilang, tinggal si sumber suasana itu yang masih terdiam.
"....."
"Kok lu diem sih? Tadi perasaan marah-marah bahkan sampai buat anak sekelas hampir mati gegara ketakutan. Emang gila lu!" Ucap Reyna santai.
"Kenapa lu pancing lagi?" Gumam anak kelas secara bersamaan. "Lu beneran mau ngancurin sekolah?"
"Wah... Nara lu li-" Reyna pun menghentikan kata-katanya dan segera menarik Nara keluar dari sana.
...----------------...
"Alhamdulillah, akhirnya bisa bernafas lega" Ucap Gabriel dengan sangat lantang.
"Lebay lu, Lel" Sahut Sasha dari seberang sana.
"Udah si, Sha. Lagian bener kok yang dibilang si Lel" Bela Zacky.
Shasa hanya bisa mendengus kesal mendengar hal tersebut.
Nana, Tania, Shasa, dan Karina berjalan ke arah bangku Leon dkk.
"Bisa ngejamin nggak kalau temen lu pada bisa nenangin Nara?" Tanyanya kepada Alan dkk.
"Yakin kok, emang kenapa?" Tanya Alan.
"Gimana yah? Gue udah temenan sama Nara berbulan-bulan dan ka-"
"Kita udah temenan sama dia selama 3 tahun, paham lu" Ucap Lia sinis membuat Nana mati kutuk.
"Udah, udah, nggak usah berantem. Lu tenang aja kok Reyna bisa nenangin si Nara. Kalau Reyna yang ngamuk itu yang bahaya, soalnya susah nenanginnya. Pawangnya ada di Bandung" Lerai Reno.
"Lu, Tania" Ucap Rai sambil menunjuk ke arah Tania, "Lu udah liat kan dengan mata kepala lu sendiri, gimana kebar-bar-an dan kebrutalannya si Reyna?"
"Iya" Jawab Tania.
"Ya tapi kan-"
Ucapan Shasa langsung dipotong oleh Lia.
"Mendingan kita liat langsung aja gimana? Mereka pasti lagi di taman." Ajak Lia dan langsung segera pergi dari sana, disusul oleh Reno, Alan, Valisha, dan Rai.
"Lu berdua sih, liat kan? Mereka jadi marah" Omel Karina.
"Ya maaf" Ucap keduanya kompak.
"Hadewww.... Cewek emang ribet dah" Ucap Leon asal dan segera pergi dari sana.
"Buruan gih" Ajak Gabriel yang segera pergi dari sana.
"Gimana dong ini?"
"Iya, giamana dong?"
"Udah, Na, Sha. Kita liat aja dulu."
"Iya, tapi-"
"Jadi nggak?" Tanya Lia dari arah pintu dengan sinis memotong ucapan Shasa.
"Jadi kok" Jawab Karina ramah
Lia pun berbalik dan segera pergi dari sana diikuti mereka berempat.
...----------------...
"Udahlah... Nggak usah sedih. Makan aja tuh es krimnya" Ucap Reyna dengan nada menyesal. "Lu pasti malu kan gegara gue?" Tambahnya.
Ctak!
"Aw... Kok lu jitak sih?!" Protes Reyna sambil menganduh kesakitan.
"Hodob lu"
"Huh?! Hodob apaan?" Tanya Reyna bingung.
"Bodoh"
"Asem lu!"
"Lagian lu sih, gue sedih bukan karena malu kali. Gue sedih karena nggak bisa ngelindungi lu, padahal gue ada di dekat lu" Ucapanya sedih sambil tersenyum miris.
Reyna pun menangkup kedua pipi Nara.
"Gue nggak papa kok, tenang aja. Gue bisa jaga diri, jadi lu nggak perlu khawatir gue, lu hanya perlu khawatirin diri lu sendiri. Slow dong bro! Life goes on, man"
"Oh iya, lu coba deh hilang tuh sifat temperamen lu. Anak kelas lu takut loh" Saran Reyna sambil membuka pembungkus es krim Nara dan mengambalikannya kepada sang pemilik yang langsung menyantapnya.
"Masasi?"
"Hooh, seriusan. Coba deh lu kalau marah tahan-tahan deh, kesian tau mereka."
"Gue pikir mereka b aja tuh, dan lagi gue nggak ada tuh mukulin anak kelas gue. Satu lagi, marah nggak bisa ditahan, Na"
"Terus kalau lu marah lu ngapain?"
"Hmmm... Gue ngancurin barang-barang yang ada di sekitar gue, tapi gue tanggung jawab kol. Gue ganti rugi" Jelasnya dengan wajah polos.
"Serah lu deh Nar"
"Lu bisa ceritakan kronoligis kejadiannya nggak?" Tabya Nara.
"Nanti deh, lagi males cerita gue"
"Janji ya, lu bakalan ceritain ke gue?
"Iya, iya. Lu juga janji jangan mukulin dia kalau udah gue ceritain. Okay?"
"Yaaaahhhhh.... Kalau itu nggak janji"
"Hadewww.... Nih janji sama gue" Ucapnya sambil mengulurkan jari kelingkingnya.
"Aapaan nih? Nggak nggak, gue nggak mau janji kalau nggak bisa nepatin!" Tolak Nara mentah-mentah.
"Cih! Udah buruan. WOY!"
Tidak ada tanggapan dari yang bersangkutan.
"Yaudah deh, kita nggak usah temen aja kek kemaren-kemaren" Ucapnya santai yang Nara yakin itu adalah sebuah ancaman.
"Huh! Bisanya ngancem doang"
"Bodo amat!"
Akhirnya Nara menyetujui permintaan Reyna. Terjadi keheningan selama beberapa menit, dan hanya terdengar suara Nara mengigit corn es krimnya saja.
Reyna menyenderkan kepalanya ke pundak Nara, dan diterima dengan senang hati oleh yang bersangkutan, tidak ada yang membuka suara. Mereka tengah menikmati kenyamanan yang tengah mereka rasakan.
"Nar"
"Hm" Jawabnya sambil menyantap es krim nya.
"Lu bisa nahan pipis kan?"
"Ihhh.... Jorok lu Na, ngapain bahas pipis sih? Jauh-jauh deh lu sono" Protesnya sambil mendorong pelan Reyna untuk menjauh, tetapi Reyna tidak bergerak sedikit pun dari tempatnya, masih stuck di pundak Nara.
"Iya, iya sorry. Lupain aja"
"Hm"
"Oi" Sapa sekelompok anak laki-laki.
Reyna pun menatap mereka dengan heran, sedangkan Nara tidak memperdulikan kehadiran mereka, bersyukurlah mereka karena ada Reyna, jika tidak dia pasti sudah menghajar mereka.
"Kita ganggu nggak?" Tanya salah seorang di antara mereka.
"Nggak kok, emang ada apa?" Tanya nya dan mulai memperbaiki posisi duduknya menjadi tegak dan bersandar ke kursi taman.
Mereka terlihat ragu untuk berbicara dengan Reyna, karena sedari tadi Nara yang berada di sebelahnya hanya diam sambil memakan es krimnya, dan terlihat tidak memperdulikan keberadaan mereka.
"Nggak usah perduliin dia, dia nggak bakalan ngapa-ngapain lu pada kok"
"Oh, gitu yah"
"Hooh"
"Hmm... Gue mau minta maaf soalnya kejadian tadi" Ucap Bimo disertai dengan rasa bersalahnya.
Tidak hanya Bimo, semua teman-temannya juga melakukan hal yang sama.
"Elah... Kirain apaan, udahlah gue udah maafin kalian. Santai aja kali ke gue."
"Seriusan lu udah maafin kita?" Tanya salah seorang diantara mereka.
"Kok cepet banget?" Tanya Bimo
"Emang kenapa? Salah?"
"Bukan gitu, gue udah bikin tangan lu kek gitu. Teman-teman gue juga udah gangguin lu, bahkan sambil ngeroyok lu" Jelasnya
"Nggak udah dengerin mereka Na, palingan minta maaf biar nggak di keluarin dari sekolah" Ucap Nara santai.
"Huh! Lu apain sih! Nggak usah ngompor deh, kebanyakan bergaul sama Adri tau nggak!"
"Terserah deh, kalian beneran serius minta maaf atau cuman karena takut di keluarin. Gue nggak perduli, intinya gue tetap maafin kalian tenang aja" Ucapnya santai
"Makasih banyak, ntar pulang sekolah gue anterin ke dokter yah, biar luka lu diperiksa?" Tawar Bimo.
"Nggak usah deh, gue nggak papa kok. Oh iya, gue juga mau minta maaf sama teman-teman lu, gue nggak bermaksud nyerang ke titik lemah lu pada, tapi... Yah.... gitu lah pokoknya" Jelas Reyna
Nara mengerutkan keningnya dan menatap Reyna penuh curiga.
"Ah- oh itu nggak papa kok, ya kan guys?" Seru salah seorang dari merek.
"Iya nggak papa, santai aja" Sahut salah seorang diantara mereka dan diikuti oleh yang lain.
"Okay deh kalau gitu" Ucap Reyna lega
Setelah itu Bimo dan kawan-kawan pun pergi dari sana. Sedangkan Nara masih menatap curiga ke arah Reyna.
"Lu habis ngapain mereka sampe harus minta maaf? Kan lu korbannya. Terus maksud lu titik lemah apaan sih?" Tanyanya penasaran.
"Nggak papa lah, sama-sama salah juga. Udahlah...."
"Terus titik lemah yang lu maksud apaan? Kalau mereka ngeroyok lu, lu kan nggak bisa nyerang titik lemahnya"
"Hadeehhh.... Masa gue harus jelasin sih ke lu, titik lemah yang gue maksud. Lu nggak malu kalau gue bahasa di depan lu?"
Seketika wajah Nara berubah menjadi merah padam, dia juga menatap horor ke arah Reyna. Reyna yang melihat hal tersebut tertawa terbahak-bahak.
"Na, Gila lu. Bisa-bisa nya...... Ahhh! Jauh-jauh deh lu dari gue sono" Ucapnya sambil menjauh dari Reyna.
Sementara itu, setelah kepergian Bimo cs, teman Reyna dan Nara tiba di taman. Dan jelas saja, mereka melihat apa yang tengah kedua orang itu lakukan.
"Udah liat kan?" Tanya Lia sarkasme
"Iya, gue nggak bermaksud buat ngeraguin teman kalian kok" Jawab Nana dan Shasa menyesal.
"Udahlah Lia lupain aja, ngapain sih pada ributin masalah itu." Lerai Valisha
"Betul tuh Sa" Tambah Reno
"Btw mereka berdua ngebahas apaan sih? Itu si Nara kek gimana gitu modelnya, kek berasa terzolimi" Celetuk Gabriel tanpa dosa sambil menunjuk ke arah mereka berdua. Terlihat Reyna yang masih tertawa terbahak-bahak dan Nara yang menutupi tubuhnya dengan tangannya.
"Samperin skuy !" Ajak Lia yang langusung berjalan lebih dulu, dan disusul oleh mereka.
"Na, lu bisa stop nggak natap gue? Nggak nyaman tau nggak sih?" Pintah Nara. "Jauh-jauh sono lu!"
"Dih... Lu apaan sih, gue berasa kek om-om yang baru pertama kali ngeliat darah muda tau nggak." Bantah Reyna yang masih berusaha untuk menghilangkan tawanya.
"Na... Please stop deh ketawa lu!"
"Nggak bisa, lu lucu banget. Hahahah..."
"Widihhhhh.... Lagi asik banget nih, dari tadi ketawa-ketawa muliblu berdua. Ngobrolin apaan tuh?" Tanya Leon
Reyna dan Nara Refleks menatap mereka dan tawa Reyna pun sudah hilang. Reyna melihat ke sekelilingnya, dan ingin membuka mulut, tetapi dengan sigap Nara membekap mulutnya dan membawanya pergi dari sana meninggalkan mereka semua.
"Mereka kenapa sih?" Tanya Karina
"Nggak tau, yang pasti hal itu tidak bagus untuk kesehatan" Jawab Lia.
"Yaa bener banget" Tambah Reno.
"Entah kenapa gue lebih suka ngeliat mereka musuhan dari pada akur kek gini" Ujar Alan tiba-tiba.
Semua orang yang ada di sana menatap bingung ke arah Alan, terkecuali Reno, Lia, dan Rai.
"Memangnya kenapa?" Tanya Tania penasaran
"Lu bakalan liat keanehan mereka hampir setiap detik" Jawab Rai dan segera pergi dari sana.
"Udahlah... Kalian nggak usah mikirin itu, ntar kalian ngalamin sendiri kok." Tambah Lia.
"Gimana sih maksudnya?" Tanya Nara bingung.
"Liat aja deh ntar kek gimana, balik yukkk" Ucap Reno sambil mengajak mereka kembali.
Mereka pun pergi dari sana dan kembali ke kelas mereka.
...----------------...
Mohon saran dan kritiknya semuaππ
Agar saya bisa memperbaiki tulisan saya ini
Terima kasih kepada pembaca yang sudah mampir untuk membaca hasil tulisan saya ππ
Maaf kalau ceritanya nggak masuk akalπ
πππππππ