Could I Have This Feeling?

Could I Have This Feeling?
50



"Ah! Udah mau SMA aja, padahal baru aja kemarin dulu pengumuman kelulusan!" Keluh Reyna, Afifa hanya menepuk-nepuk pundaknya.


"Kalau lu masih mau di SMP, mendingan protes aja sono di sekolah. Bilang lu belum mau lulus. Gampang kan?" Ucap Afifa santai sambil menyeruput minuman dinginnya.


"Nggak gitu juga kali. BTW pengumuman lulus ujian masuknya kapan ini?" Tanya Reyna


"Sabar napa sih. Bentar juga keluar, tunggu aja kali"


"Eh! Kita udah dari jam 7 pagi tau datang ke sini. Tumben lu nggak ngomel-ngomel, sehat kan lu?"


"Kampret nih bocah! Gue sedang berusaha sabar tau nggak"


"Kiraiin udah tobat ngomel-ngomel"


"Nggak"


Saat ini mereka tengah berada di SMA Pemuda Bangsa untuk menunggu pengumuman hasil tes ujian masuk sepekan lalu. Reyna memutuskan masuk di sana, karena Afifa memilih masuk ke sana.


Bagi Reyna selama bersama Afifa, tidak masalah dia mau bersekolah dimana. Pasalnya sahabat perempuan yang selama ini dia harapkan, tepat berada di dekatnya. Walaupun Afifa terkadang suka marah-marah, apalagi jika sudah bertemu dengan Dede.


Tidak hanya mereka saja, tetapi Iki dan Dede juga mengikuti ujian bersama dengan mereka, walaupun mereka berada di ruangan yang berbeda.


"Halo kawan-kawan ku" Sapa Dede yang datang menghampiri mereka bersama Iki.


Bukannya membalas sapaannya, mereka berdua malah mengabaikannya. Seolah-olah dia adalah hantu penunggu sekolah.


"Astagfirullah" Ucap Dede sambil mengusap dadanya.


"Lu berdua kenapa sih? Kalau disapa sama orang yang gatengnya tujuh kuadrat itu harusnya dijawab. Ini malah dicuekin." Tambahnya dengan nada kesal sambil duduk di sebelah Reyna, diikuti dengan Iki di sebelah Dede.


"Dede, sapaan dari lo itu NGGAK MUTU tau nggak" Celetuk Afifa dengan menekankan pada kata "nggak mutu"


"Bibir lu nomer berapa sih?! Hah?! Kalau ngomong suka seenak jidat" Ujarnya kesal


"Emang kenapa lu nanya-nanya nomer bibir gue? Ada masalah?"


"Ya Allah, make ditanya lagi. Ya adalah, lo kalau ngomong itu nggak make rem. Makanya gue nanya bibir lo nomer berapa? Biar gue beliin rem" Ucapnya sambil tersenyum bangga


"Sialan nih anak! Nyari masalah nih" Ucapnya sambil tersenyum miring.


Afifa sudah siapa ingin menghajarnya dan Dede juga langsung berpindah tempat dengan berlindung di belakang Iki, tetapi pengumuman panitia penerimaan siswa baru menghentikan niatnya.


"Bagi para peserta ujian masuk tahun ajaran baru. Pengumuman hasil ujian dapat dicek langsung di website sekolah yang tertera pada berkas kemarin. Terimakasih atas perhatiannya" Ucap sang panitia.


"Kampret! Gue udah lima jam nunggu! Lima jam! Dan mereka bilang pengumumannya di website?! Damn it!" Omelnya.


"Udah pipa, sabar sabar" Ucap Reyna menenangkannya sambil menepuk pundaknya pelan.


"Bodo amat! Mendingan kita balik sekarang!"


Afifa pun segera melangkahkan kakinya keluar dari dalam SMA Pemuda Bangsa tanpa persetujuan teman-temannya. Sementara Reyna, Iki, dan Dede mengikuti langkahnya dari belakang.


...----------------...


"Pipa, pipa, pipa" Panggilan Iki sanggup menghentikan langkah kakinya.


"Apa?!"


"Buset dah nih anak, galak bener kek singa" Ujar Dede dan langsung segera berlindung di belakang Reyna.


"Mendingan langsung cek di sini aja kali pip, dari pada di rumah. Kan bagus tuh kita ngeceknya bareng-bareng" Saran Iki.


Afifa terlihat berfikir selama beberapa detik. "Boleh juga ide lo Ki. Lo berdua sini buruan! Kita periksa pengumumannya sekarang!" Pintahnya.


Mereka pun segera membuka web tersebut dan langsung memeriksa nama mereka.


"Alhamdulillah, Dede yang gantengnya tujuh kuadrat lolos" Teriaknya sambil berjoget ria.


"Yes, gue lolos juga" Ucapan Iki dengan raut wajah gembira.


Sementara itu, Afifa hanya menatap hasil pengumuman tersebut dan mengangguk-anggukkan kepalanya dengan senyuman lebar. Sedangkan Reyna hanya melihat pengumuman itu datar dan tidak ada tanggapan setelahnya.


Mereka bertiga yang bingung dengan reaksi Reyna, sontak bertanya kepadanya.


"Lo gimana? Lulus nggak?"


"Hm... Lulus kok. Nih" Menunjukkan hasil pengumuman tersebut.


"Kok lo biasa aja sih?" Tanya Pipa


"Soalnya, gue yakin bakalan lolos sih" Jawabnya dengan nada santai.


"Sombong lu Na" Sahut Dede dan Iki bersamaan dan hanya dibalas dengan mengedikan bahu oleh Reyna.


"Udahlah... Balik yuk. Udah muak gue di sini"


"Santai pipa santai, Dede yang tampannya tujuh kuadrat ini dan Iki yang kegantengannya nggak nyampe 1 kuadrat bakalan antar kalian selamat sampai tujuan"


Sedetik setelahnya, tangan Iki sudah melayang tanpa beban tepat di kepala Dede. Dia hanya bisa mengadu kesakitan, sebab Iki memukulnya dengan setengah kekuatannya. Afifa dan Reyna yang melihat hal tersebut tertawa terbahak-bahak. Entah kenapa mereka berdua sangat senang bisa melihat Dede yang menderita.


...----------------...


Saat ini, Reyna sedang berada di kamarnya dan ia tengah membaca syarat-syarat dan ketentuan yang harus diikuti oleh para siswa baru untuk pralos senin nanti. Dia baru saja mendapatkan syarat dan ketentuan tersebut dari Afifa, kebetulan kakak sepupunya salah satu siswi yang bersekolah di sana.


Setelah selesai membacanya, dia lalu memutuskan untuk membagikan informasi yang dia peroleh kepada seseorang di seberang chat sana. Beberapa menit setelahnya muncul sebuah notifikasi chat dari nomor orang yang dihubunginya tadi. "Thanks" isi dari notifikasi tersebut. Setelahnya tak ada notifikasi apapun.


"Okay, sekarang gue ngapain?"


"Nonton anime?"


"Nggak dulu deh, ditabung dulu aja epsnya"


"Ngedrakor?"


"Nggak ah, males. Terus gue ngapain dong?"


Bukanlah hal baru bagi Reyna untuk berbicara dengan dirinya sendiri, lalu kemudian menjawabnya. Itu sudah menjadi kebiasaannya sehari-hari. Karena bingung mau melakukan sesuatu, dia memilih untuk merebahkan dirinya ke atas kasur lalu menutup matanya sambil memeluk guling kesayangannya.


Tring!


Sebuah notifikasi itu sontak membuatnya membuka mata dan segera mengecek hp nya dengan senyuman yang merekah di wajahnya.


Tak berlangsung lama, senyuman yang merekah di wajahnya langsung luntur ketika melihat nama orang yang menghubunginya, ia juga sempat menghembuskan nafasnya kasar.


"Kiraiin orang yang diharapin yang ngechat. Ternyata malah si Alan. Haduh Na Na, lo itu harus sadar diri, lo itu bukan tipe dia. Stop ngehalu deh! Nggak bagus buat kesehatan jantung, hati, otak, dan paru-paru" Ucapnya pada dirinya sendiri sambil menepuk ringan kepalanya.


"Tapi tumben nih si Alan ngechat. Buka aja dah"


Alan


"Reyna"


^^^Reyna^^^


^^^"?"^^^


Alan


"Lo lagi ngapain? Sibuk nggak?"


^^^Reyna^^^


^^^"Lagi bernafas. Nggak. Ngapain sih lu nanya-nanya?"^^^


Alan


"Wih! Jawabannya pintar banget, nggak salah lo dulu masuk kelas unggulan waktu SMP."


^^^Reyna^^^


^^^"πŸ˜’"^^^


^^^"Lo juga anak kelas unggulan kali bareng gue"^^^


Alan


"Iya juga yah 😁"


^^^Reyna^^^


^^^"Nggak usah basa basi deh lo. Mendingan lo langsung ngasih tau aja, ada perlu apa sampe ngechat gue. Buruan!"^^^


Alan


"Iya-iya"


"Lo udah tau kan kalau si Nara pindah ke Semarang?"


^^^Reyna^^^


^^^"Oh, Udah. Kenapa?"^^^


Alan


"Lo tau dari mana?"


^^^Reyna^^^


^^^"Dari sepupu gue sekaligus sepupunya temen kesayangan lo itu"^^^


Alan


"Jadi, lo tau nya bukan dari dia?"


^^^Reyna^^^


^^^"Bukan"^^^


Alan


"Lo taunya kapan?"


^^^Reyna^^^


^^^"Tiga hari lalu, waktu gue maen ke rumah tante gue"^^^


Alan


"Berarti lo taunya nanti beberapa bulan setelah dia cabut dong?"


^^^Reyna^^^


^^^"Iya. Kenapa sih?"^^^


Alan


"Nggak, gue kira waktu lo bilang lo tau. Yang ngasih tau si Nara. Ternyata bukan"


Reyna hanya melihat isi chat Alan dan tidak berniat untuk membalasnya. Jujur saja, dia sangat kesal karena Nara tidak mengatakan apapun jika dia akan pindah dari sana. Sungguh, mood nya menjadi buruk setelah bertukar pesan bersama Alan.


Tring!


Dengan malas, ia meraih ponselnya dan segera membuka chat tersebut.


Alan


"Lo udah kontakan sama dia kan?"


^^^Reyna^^^


^^^"πŸ˜’"^^^


^^^"Lo ege atau gimana sih Lan? Kalau gue udah kontakan sama dia, pasti gue nggak bakalan bilang kalau gue taunya dia pindah itu dari sepupu gue. Paham?!"^^^


Alan


"Hehehe... Maaf Na, kurang minum air putih πŸ˜…"


"Jadi belum kontakan?"


^^^Reyna^^^


^^^"Hm"^^^


Alan


"Lo nggak pengen nyoba buat ngontak dia duluan?"


^^^Reyna^^^


^^^"No, thanks. Nggak lagi"^^^


Alan


"Kenapa?"


^^^Reyna^^^


^^^"Karena nggak bakalan dibales sama dia, boro-boro deh. Di baca juga pasti nggak. Udah yah, gue nggak mau bahas Nara lagi. Bikin mood gue makin buruk aja lo"^^^


Alan


"Sorry Na"


^^^Reyna^^^


^^^"Lo kontakan sama dia?"^^^


Alan


"Hooh, jarang tapi"


^^^Reyna^^^


^^^"Okay, bilang sama dia. Tolong hapus nomer gue dari hpnya dia kalau cuman dijadiin pajangan. Sekalian lu tanyain ke dia, gue punya salah apa sampe-sampe dia cuekin gue.^^^


^^^"Okay? Makasih Lan😊. BYE!!!!"^^^


Setelah itu dia memilih untuk memejamkan matanya dan menuju ke alam mimpi. Hanya itu satu-satunya yang bisa ia lakukan untuk melampiaskan kekesalannya. Dan dia selalu berdoa agar di dalam mimpinya, ia bisa bertemu dengan Nara. Kenapa harus Nara? Karena dia sangat ingin memukulnya tepat di wajahnya itu. Bukan hanya sekali ini saja dia berdoa seperti itu, melainkan sudah berkali-kali.


...----------------...


Hari ini adalah hari pertama Pralos untuk para murid baru SMA Pemuda Bangsa. Terlihat para siswa menggunakan sebuah papan nama beserta nama kelasnya yang sudah dibagikan beberapa hari lalu. Atribut yang mereka gunakan tidak terlalu banyak. Hanya ada papan nama beserta kelasnya, dan juga meguncir rambut menjadi dua bagi anak perempuan dengan menggunakan pita merah-putih. Untuk anak laki-laki, harus menggunting rambutnya dengan model 1:3:1.


Setelah memasuki ruangan Pralos untuk meletakkan tas, mereka semua akan berkumpul kembali ke lapangan untuk apel pagi sekaligus pembukaan untuk kegiatan Pralos ini.


Terlihat seorang anak osis yang tengah membaca susunan tata upacara pembukaannya. Lalu setelahnya terdengar suara komando yang dipimpin oleh seorang Paskibraka. Tak berapa lama setelahnya terdengar sebuah sambutan dan rasa terimakasih dari kepala sekolah atas partisipasi para murid baru.Setelahnya terdapat pula beberapa sambutan dari para guru-guru dan juga sedikit pengenalan diri yang dilakukan secara singkat.


Lalu upacara pembukaan itu ditutup dengan majunya dua perwakilan siswa baru yang kemudian dipakaikan sebuah papan nama milik mereka oleh kepala sekolah. Kemudian upacara tersebut dibubarkan oleh petugas upacara.


Seluruh siswa-siswi segera menuju ke aula sekolah yang terletak di lantai dua. Setelah semuanya telah tiba di sana, para anggota osis yang bertugas sebagai ketua dan wakil regu dari masing-masing kelas, segera mengabsen satu persatu anggotanya.


Pralos hari pertama ini diisi dengan penyambutan yang dilakukan oleh ketua osis. Lalu dilanjutkan lagi dengan pengenalan singkat mengenai SMA Pemuda Bangsa dan perangkat-perangkat yang bertugas di dalamnya yang dilakukan oleh pemateri yang berasal dari beberapa wakasek kesiswaan.


...----------------...


Sedangkan Pralos hari kedua membahas mengenai organisasi apa saja yang berada di sekolah beserta susunan kedudukan organisasi yang berkedudukan tinggi sampai seterusnya.


Pengenalan pertama ini dilakukan oleh MPK (Majelis Permusyawaratan Kelas). Terlihat seorang anak laki-laki yang diketahui namanya adalah Dio, selaku ketua organisasi tersebut tengah menjelaskan apa saja tugas yang harus dilakukan oleh organisasi tersebut. Ia juga memperkenalkan para anggota-anggotanya. Kemudian dilanjutkan oleh organisasi SIPALA. Reyna mengerutkan keningnya ketika melihat Dede tengah bertanya mengenai organisasi ini. Dan terlihat juga jika dia sangat tertarik dengan organisasi tersebut.


Setelah selesai, dilanjutkan dengan pengenalan oleh organisasi PMR. Sama halnya dengan organisasi yang pertama, organisasi ini juga memaparkan hal yang sama pula, hanya saja isinya yang berbeda.


Terlihat juga ada beberapa murid yang bertanya kepada para pengurus organisasi tersebut yang diterima dengan senang hati oleh mereka.


"Haduh... Istirahat nya lama bener dah. Gue udah capek duduk mulu dari pagi. Mana istirahat tadi cuman 15 menit. Pelit banget!" Gerutunya dalam hati.


Ketika tengah memperhatikan satu persatu anak PMR di depannya, ia melihat sosok yang sangat familiar di sana. Tetapi dia tidak ingat, dan karena malas, dia memilih untuk tidak memikirkan hal tersebut.


"Lu kenapa sih? Keknya lemes amat?" Tanya Lia sahabat SMP nya dulu. Kebetulan waktu pembagian regu sekaligus kelas kemarin, mereka berada di tempat yang sama. Tetapi, Lia ngomel-ngomel sepanjang hari karena siswa yang berada di peringkat 10 besar waktu kelulusan SMP kemarin, semuanya berada di kelas X MIPA 1. Hanya dia saja yang tidak masuk di sana. Menurutnya dia layak bersaing dengan mereka, sayangnya pihak sekolah tidak merestui hal tersebut. Alhasil, dia berada di kelas X MIPA 2 bersama dengan Reyna. Jujur saja, Reyna sangat senang bisa satu kelas bersama nya lagi. Tetapi dia tidak menunjukkan hal tersebut, dia memilih menyimpannya saja, dan pada saat Lia ngomel-ngomel dia hanya mendengarnya saja.


"Bedain lemes sama malas"


"Serah deh! Btw sekarang jam berapa?"


"11.45"


"Hmm... Tenang Na, bentar lagi istirahat. Tinggal lima belas menit lagi" Ucapnya sambil menepuk bahu Reyna ala bapak-bapak.


"Hahaha... Santai, santai. Kalau modelan lu kek gini, nggak bakalan ada yang mau temenan sama lo" Diiringi kekehan geli Lia


"Bodo amat"


"Baiklah, sepertinya tidak ada yang ingin bertanya kami sudahi dulu sampai di sini-"


"Kak" Seru Lia, Reyna hanya menatapnya malas, dia tidak perduli apa yang ingin dilakukannya.


"Iya"


"Teman saya mau nanya nih kak" Ucapnya berdiri sambil menarik Reyna.


"Perasaan gue nggak enak" Batinnya


"Buruan tanya sono. Makasih kak" Ucapnya dengan senyuman manis.


Terlihat anggukan dari sang ketua organisasi dan seorang anggota lainnya memberikan sebuah mic pada Reyna. Dia sudah menyebutkan sumpah serapah ketika Lia dengan seenak jidatnya membuatnya seperti ini.


"Baik, silahkan ditanyakan" Ucap sang ketua PMR dengan senyuman ramah.


"Mampus gue, dari tadi semua materinya lewat aja dikepala gue. Nggak ada yang gue tangkep, mampus dah! Lia kampret!" Batinnya sambil melirik ke arah liat yang tengah tersenyum tanpa dosa padanya.


"Ah itu kak! Anu...."


"Iya?"


"Itu kak... Kalau yang belum ada pengalaman bisa ikut gabung juga nggak? Terimakasih" Ucapnya dan segera duduk kembali ke kursinya.


"Okay, sepertinya ade ini tadi sudah lupa dengan pertanyaan adik perempuan yang disebelah sana. Oleh karena itu, saya akan kembali menjawabnya"


Mendengar hal itu Reyna hanya busa mengerutuki kebodohannya dan tak lupa melontarkan sumpah serapahnya kepada Lia dengan menggerakan bibirnya tanpa mengeluarkan suara. Lia hanya mengabaikan hal tersebut dengan memasang senyuman manisnya.


Setelah itu terlihat seorang anak laki-laki anggota PMR berjalan ke arah Reyna yang diketahui akan mengambil mic tersebut. Sebelum pergi, dia sempat berbisik "Malu-maluin aja lo", dan mendapatkan balasan dengan bisikan yang pelan dari Reyna "Gue tau".


"Organisasi kami terbuka untuk siapa saja, mau kalian berpengalaman atau tidak, itu tidak masalah. Di sini itu, kita belajar bareng-bareng dari yang tadinya tidak tau, pasti bisa menjadi tau. Bagaimana dek?" Tanya lagi


"Paham kak, terimakasih"


"Okay, terimakasih atas perhatian adik-adik sekalian, kurang lebihnya mohon dimaafkan. Dan selamat pagi"


Setelah penutupan tersebut semua anggota PMR keluar dari ruangan dan hanya menyisakan anggota OSIS saja. Dan karena waktu sudah menunjukkan pukul 12.00, mereka dipersilahkan untuk beristirahat.


...----------------...


"Hahaha..." Tawa Lia pecah sambil menepuk-nepuk pahanya.


"Gila-gila. Lo keren banget tadi"


"Serah lo! Gue nggak perduli"


Saat ini mereka tengah berada di kantin sekolah karena kebetulan mereka lagi tidak diwajibkan untuk melakukan ibadah sholat dzuhur.


"Lu dari tadi bengong aja apa?"


"Hooh, malas gue. Soalnya ngebosenin"


"Hedew... Btw tadi lu bisik-bisik apaan sama kakel yang anak PMR itu?"


"Hah?! Yang mana?"


"Yang ngasih mic"


"Oh"


"Nggak tau gue"


"Hah?Ih... bego banget nih temen gue. Udahlah Na, kita nggak usah temenan."


Mendengar perkataan Lia, Reyna hanya memutar bola matanya malas. Dia lagi tidak ingin melakukan apapun, yang ada di kepalanya saat ini hanya ingin pulang dan rebahan saja.


Tak berapa lama kemudian bel istirahat pun sudah selesai. Mereka berdua segera kembali ke ruang Pralos.


...----------------...


Saat ini adalah giliran anak Pramuka yang akan menjelaskan mengenai organisasi mereka. Setelah presentasi itu selesai terlihat banyak murid baru yang berminat, hal ini bisa dilihat dari antusias mereka yang banyak bertanya mengenai organisasi itu.


Kemudian setelahnya disusul oleh OSIS. Bagi Reyna durasi presentasi yang dilakukan oleh anak OSIS sangat lama. "Jadi karena ini, OSIS belakangan sosialisasinya?" Batin Reyna. Dan pada saat ini, terlihat banyak dari para murid baru yang bertanya mengenai organisasi tersebut. Mereka sepertinya sangat tertarik dengan organisasi ini.


...----------------...


Hari terakhir Pralos diisi dengan pengenalan dari setiap ekskul yang ada di sekolah. Mulai dari voli, sepak bola, tari,musik,bulu tangkis, basket, dan masih banyak lagi.


Setelah itu pada siang harinya, para ketua organisasi membagikan angket organisasi mereka kepada murid baru yang ingin bergabung. Reyna mengambil 2 angket, yakni PMR dan SIPALA. Dia hanya ikut-ikutan dengan Afifa yang semalam mengajaknya masuk PMR, untuk SIPALA dia ingin mengikutinya dengan sukarela.


Pada saat itu juga, mereka diminta untuk mencari tanda tangan dari setiap nama-nama anggota organisasi yang ada di buku tulis mereka sebanyak-banyaknya.


Reyna masih berada di lantai atas dan duduk di bangku depan aula. Dia baru saja memperoleh 7 tanda tangan, masing-masing berasal dari setiap ketua organisasi sekolah dan beberapa pengurus intinya. Dia juga tidak tau bagaimana caranya bisa memperolehnya.


Jujur saja, dia sangat tidak suka dengan hal ini. Karena anggota OSIS yang selalu muncul di ruang Pralos tiba-tiba menghilang. Mereka terlihat seperti menghindari para anak baru yang akan meminta tanda tangan mereka. Padahal, Reyna sudah mengincar mereka dari dua hari sebelumnya.


"Hedew... Nyusahin aja. Kalau nggak mau ngasih jangan disuruh minta dong. Terus kadang suka nyuruh-nyuruh lagi, buang-buang waktu aja" Gumannya kesal.


"Eyn" Ucap seseorang dengan menepuk bahunya. Reyna pun segera menengok ke arah orang tersebut dengan wajah datarnya.


"Hehehe... Akhirnya ketemu juga lo."


"Lo ingat gue kan?"


"Nggak"


Terlihat orang itu sangat terkejut dengan jawaban Reyna, seakan-akan dia tidak percaya dengan jawaban yang terlontar dari mulutnya. Reyna hanya bisa menatapnya bingung. Dia juga tersadar jika orang yang di hadapannya adalah anak PMR yang mengambil mic dari tangannya kemarin, dan anak ini juga anggota tim sepak bola.


"Gue Gavin, anaknya bu Rosa wali kelas lo selama 4 tahun di SD. Ingat nggak?"


Mendengar hal tersebut Reyna langsung berfikir selama beberapa detik, dan terlihat sebuah senyuman lebar di wajahnya.


"Abang!"


"Widdih, udah gede aja lu bang. Kiraiin masih pendek aja. Tapi... " Reyna segera berdiri dari bangku tersebut dan mulai menyamakan tingginya.


"Buset... Dulu gue sedagu lu, sekarang malah jadi sebahu. Makan tiang listrik lu?"


"Sembarangan aja lo. Udah nanti aja kangen-kangenannya. Siniin buku lo" pintahnya


Reyna hanya menuruti permintaannya dan segera menyerahkan bukunya. Terlihat dia tengah menuliskan sebuah nomor hp di sana dan Reyna yakin jika itu adalah miliknya. Lalu dia juga melihat Gavin tengah menuliskan tanda tangannya di salah satu nama yang Reyna tulis.


"Hmm... Masih dikit juga punya lo"


"Gue males bang, ngejar-ngejar kakel. Bikin capek ae" Serunya malas dan kembali duduk dibangkunya.


"Okay. Berhubung kita satu sekolah sebagai abang lo, lo bisa minta bantuan gue kapan pun dan dimana pun. Tenang aja, geu bakalan nyariin tanda tangan buat lo deh. Dan lo tunggu di sini aja"


"Widdih.... Bae bener, makasih ya bang"


"Sep, sebagai gantinya lo traktir gue"


"Lah... Nggak gratis dong?"


"Bukan gitu, anggap aja kita ngerayain pertemuan kita setelah hampir 4 tahun nggak ketemu"


"Terus gue yang bayar?"


"Yoi"


"Yeee... Itu mah sama aja"


"Bodo amat" Ucap Gavin sambil memeletkan lidahnya dan segera beranjak pergi dari sana.


...----------------...


Beberapa menit setelah kepergian Gavin, Alan, Rai dan Reno datang menghampiri Reyna dan menyapanya. Namun, Reyna hanya mengabaikan mereka.


"Buset dah, galak bener lo" Sahut Reno sambil mengambil tempat di sebelahnya diikuti oleh Rai, sedangkan Alan memilih untuk berdiri di depan Reyna.


"Bodo amat" Jawabnya acuh.


"Na" Panggil Alan


"Apaan?"


"Lo sama Na-" Belum sempat menyelesaikan ucapannya, Reyna sudah memotongnya.


"Nggak usah bahas Nara deh, lo bikin mood gue makin tambah buruk tau nggak" Ucapnya kesal.


"Sorry Na"


"Tapi Na, lo kok marah sih?" Tambah Reno


"Reno, emang ada kakak yang nggak pamit sama adenya kalau dia mau pergi dan nggak bakalan balik? Ada nggak?"


"Lu sepupuan sama Nara?" Tanya Alan


"Nggak"


"Terus?"


"Gue sama dia itu kayak kakak sama adil. Dia dulu pengen banget punya adik cewe, tapi yang lahir malah cowok. Sejak saat itu gue sama dia sepakat kalau kita berdua bakalan jadi kakak adik dan kalau ada masalah kita bisa saling membantu. Sampai sini paham?" Jelas Reyna panjang lebar dan mendapatkan anggukan dari ketiganya.


"Eyn" Teriak seseorang dari arah sebelah kiri mereka sambil melambaikan tangannya.


"Nih, gue udah dapat. Nggak nyampe penuh gue cariinnya. Soalnya orangnya ngilang, nggak papa?"


"Nggak, santai aja"


"Okay, gue cabut dulu ye"


"Yoi, thanks bang"


Gavin hanya mengguk, kemudian menyapa Alan, Reno, dan Rai. Setelah itu ia segera pergi dari sana.


"Siapa tu Na?" Tanya mereka bertiga kompak


"Kepo lo pada, ayo buruan masuk"


Ajaknya sambil berjalan terlebih dahulu dan masuk ke dalam aula.


Sekarang adalah waktunya penutupan acara Pralos ini yang diakhiri dengan ucapan terimakasih oleh kepala sekolah dan anggota organisasi. Setelahnya semua siswa sudah pergi meninggalkan ruangan tersebut.


...----------------...


"Hmmm... Anu kak... Itu..." Ucap Dede sambil mengikuti cara bicara Reyna beserta dengan gerak-geriknya.


Sementara Afifa dan Iki tengah tertawa terbahak-bahak karena ulah Dede dan mereka juga kembali teringat akan hal tersebut.


"Hahahaha.... Lo emang yang terbaik Na" Tambahnya sambil merangkul Reyna dan langsung mendapatkan cubitan di lengannya.


"Adudu!!! Na sakit tau!" Keluh Dede sambil mengelus lengannya.


"Bodo amat"


"Tapi beneran na, lo luar biasa tadi" Ucap Afifa masih tertawa kecil.


"Gue setuju sama lo pip" Tambah Iki sambil mengatur nafasnya


"Luar biasa malu-maluin yah?"


"Bener banget" Jawab ketiganya kompak diiringi dengan tawa mereka.


Reyna hanya bisa mendengus kesal, karena itulah faktanya. Dia sangat ingin memberi pelajaran kepada Lia, namun sayang sekali dia sudah pulang lebih dulu.


...----------------...


"Haaaa.... Capek banget gue. Padahal duduk doang" Ucapnya sambil merebahkan badannya setelah tadi selesai bersih-bersih badan.


Tring!


"Siapa lagi dah ini? Kalau sampe Alan lagi, gue blokir deh" Ucapnya sambil mengambil hp nya. Namun, tak ada nama siapapun di sana, yang menandakan jika nomor itu adalah nomor asing, Reyna memilih untuk membuka isi pesannya"


+0852998*****


"Kak Reyna"


^^^Reyna^^^


^^^"Maaf, ini siapa yah?"^^^


+0852998*****


"Ini Yasa kak. Masa kakak nggak ingat?"


^^^Reyna^^^


^^^"Ya ampun... Maaf Yas, habisnya kamu kan kemarin nggak punya nomer hp"^^^


Yasa


"Nggak papa kak"


^^^Reyna^^^


^^^"Ahhhhhh!!!! Yasa, kakak kangen banget sama kamu 😭"^^^


Yasa


"Yasa juga kok kak 😁"


^^^Reyna^^^


^^^"Kok kamu nggak pamit dulu sama kakak sih sebelum pergi?"^^^


Yasa


"Maaf kak, aku kira mama sama Bang Nara aja yang pergi, taunya aku juga diminta pergi. Hehehe... Maaf ya kakaku yang manis"


^^^Reyna^^^


^^^"Ohh, gitu yah... Nggak papa kok ade ku yang tampan, manis, imut dan lucu 😘"^^^


Yasa


"Tapi kakak kan punya Yuki"


^^^Reyna^^^


^^^"Dia beda server sama kakak Yas, nggak mau denger kalau kau dibilangin"^^^


Yasa


"Emang gitu kok kak kalau jadi adik, aku aja kadang suka begitu"


^^^Reyna^^^


^^^"Betul juga si... BTW kamu apa kabar?"^^^


Yasa


"Alhamdulillah sehat, kakak gimana?"


^^^Reyna^^^


^^^"Alhamdulillah sehat juga"^^^


Percakapannya dengan Yasa terus berlanjut, seolah-olah tak ada hari esok lagi.


...----------------...


Mohon saran dan kritiknya semuaπŸ™πŸ˜Š


Agar saya bisa memperbaiki tulisan saya ini


Terima kasih kepada pembaca yang sudah mampir untuk membaca hasil tulisan saya πŸ™πŸ˜Š


πŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ