Could I Have This Feeling?

Could I Have This Feeling?
43



Di pinggir lapangan


"Ya ampun, kalian keren banget sumpah!" Ucap Tania


"Ber tuh Ni, gue setuju. Pas kalian main kita pada greget, bisa-bisanya kalian dengan mudahnya bolanya direbut lawan" Tambah Alena


"Hebat! Banget lu pada bro" Ujar salah 1 teman mereka


"B aja ah, mereka juga mainnya jago kok" Rendah Rio


"Walupun kita lebih jago sih" Tambahnya


"Elah... Merendah ingin meninggi kan lo? Gue tau isi otak lu, secara udah sekelas setahun sama lu"


"Nape sih lu? Sewot amat"


"Berantem ae terus, mau gue ambilin pisaunya bu kantin nggak?" Tawar Gerry


"Begok!" Ujar Rizky sambil menjitak Gerry


"Lu apaan sih Ki?"


"Ntara kalau mereka sekarat siapa yang bakalan gantiin mereka? Masih mau tanding lagi kita besok sore kalau hari ini nggak kelar" Jelas Rizky


"Lah iya, untung lu ngingetin. Nggak jadi deh, lu berdua adu mulut aja, nggak jadi gue ambilin pisaunya bu kantin"


"Elah... Lu berdua emang ya, bener-bener tega. Apalagi lu Ki, gue kira lu mau leraiin gue sama Rio. Eh, taunya malah mikirin pertandingan. Parah!" Ucap Yudistira panjang lebar dengan gaya bicara yang dibuat sedramatis mungkin.


"Nggak usah drama deh, jijik tau nggak" Protes Rio


"Hedew... Nggak salah sih kalian itu biang rusuh di kelas" Ujar Tania yang masih berada di sana bersama Alena


"Biasalah Ni, kakak adek. Maklumi aja" Ucap Rai dengan senyumannya.


Mereka pun terus mengobrol sambil tertawa bebrapa kali. Saat ini sedang waktu istirahat, makanya mereka masih masih mengobrol di pinggir jalan.


"Brother!" Seru Nara berlari ke arah Rai dan langsung merangkulnya.


"Kalau ngehomo, jangan di sini. Ntar pulang sekolah aja, dibelakang sekolah noh" Ujar Farel yang datang bersama Reno.


"Sewot amat sih!" Ujar Nara masih merangkul Rai, sedangkan yang dirangkul hanya bisa geleng-geleng kepala saja. Semenjak Adrian pindah ke luar kota, lambeturahnya pindah kepada Farel dan ia selalu adu mulut bersama Nara menggantikan Adrian.


"Udah deh nggak usah berantem. Malu-maluin aja lu berdua. Noh ada cewek" Ucap Reno ketika tiba di sana "Golnya mantep bro" Tambahnya


"Hahaha... Nggak usah sok cool deh lu No!" Ujar Alena


"Satu sekolah juga tau, kalau lu itu playboy" Tambah Tania


"Jujur baget sih" Ujarnya dengan nada sedih yang dibuat-buat.


"Duh jijik banget gue!"


"Sialan, pen muntah gue Rel. Lu bawa kantongan nggak?"


"Lah gue lupa, sorry Nar. Muntah ke si Reno aja gimana?" Tawar Nara


"Boleh, boleh"


"Nggak usah lebay deh" Ujar Rai yang sedari tadi hanya menyimak "Heran, gue semenjak si Adrian nggak ada, kok lamberturah dan kelebayan nya pindah ke lu berdua sih?" Tambahnya


"Karena sepuh kita udah ngomong, jadi kita diam aja" Pintah Farel dan mendapat anggukan setuju dari Nara.


Rai hanya bisa menghembuskan nafasnya dengan kasar.


"Eh, No... Lu main juga kan?" Tanya Rizky


"Yoii"


"Kalau lu berdua gimana?" Tanya pada Nara dan Farel


"Gue main kok, setim bareng Reno" Jawab Farel


"Gue ogah, nggak tertarik. Lagi seru-serunya main, eh malah disuruh joget. No no no... Bisa jadi bahan bulian gue ntar" Jawab Nara


"Alah, lebay lu Nar. Bilang aja lu nggak bisa maen kan?" ~Yudistira


"Hehey... Jangan salah paham ya lu. Kalau gue mau, gue bisa kok ngalahin lo" ~Nara "Buktinya, waktu main bola pas jam istirahat lalu, tim gue menang kok lawan tim lu" Ucapnya dengan nada sombong


Yudis hanya bisa terdiam dan menghembuskan nafasnya kasar, sebab apa yang dibilang oleh Nara benar adanya. Mereka semua tertawa melihat ekspresi kekalahan Yudis.


"Rai, si Ana mana?" Tanya ketika mereka sudah luas tertawa


"Tapi kan lu tetangganya"


"Elu juga tetangganya eee"


"Kelas gue kepisah sama ruang BK ege"


"Kan lu bisa datang sendiri ke kelasnya, susah amat sih"


"Iya tau, tapi kan gue malu. Nggak ada yang gue kenal di sana"


"Emang lu punya urat malu?" Pertanyaan Rai, membuat Nara mati kutu. Skakmat!


Farel dan Reno yang melihat hal tersebut langsung tertawa terbahak-bahak. Nara hanya menghembuskan nafasnya kasar, dan memasang muka kasalnya.


"Hahahahahaha...."


Sedangkan Gerry, Rizky, Rio, Yudis, Alena dan Tania hanya biasa melongo. Pasalnya kali ini Rai menjawabnya dengan nada santai, dan smirik yang baru pertama kali mereka liat.


Yang mereka tau, jika Rai adu argumen dia pasti akan kekeuh sama jawabannya jika itu benar dan akan menerima masukkan dari orang lain jika jawabannya salah.


"Elah... Lu nyerimin tau nggak kalau smirik kek gitu" Ujar Nara santai dan kembali ke keadaannya sebelumnya


"Oh"


"Elah... Dasar pelit. Ngomongnya ngirit, nggak seru ah, gue mau ke kelas Ana dah" Ujarnya santai, belum sempat melangkah kan kakinya, ia sudah melihat Reyna keluar dari kelasnya dan lewat di depannya.


"Siang my lovely" Ucapnya dengan senyuman manis


Semua orang yang ada di sana terkejut mendengar hal tersebut, pasalnya Nara tidak pernah mengatakan hal-hal manis kepada anak perempuan mana pun. Tak terkecuali Rai dan Reno, Ini sudah ketiga kalinya bagi Nara, dan kedua kalinya bagi Reno. Sedangkan Farel, ini pertama kalinya sama seperti teman kelas Rai.


Mendengar suara itu, Reyna hanya menghembuskan nafas kasar dan dia menatap Nara dengan muka kesalnya.


"Apaan?"


"Nyapa my lovely emang nggak boleh?" Tanyanya balik


Jeda selama beberapa menit dan semua orang fokus pada keduanya.


"Ihhh, minum obat sono. Lu aneh kalau belum minum obat" Jawabnya lalu melangkahkan kakinya pergi tanpa memperdulikan Nara.


Mereka yang ada di sana tertawa terbahak-bahak dan juga merasa kasihan pada Nara.


"Sorry, bro nggak maksud ngetawain lu"


"Bener tuh, Ki. Jangan marah ya Nar" Bujuk Alena


"Lu berantem yah sama Reyna?" Tanya Rai dan Reno bersamaan. Mereka yang mendengar hal tersebut hanya kebingungan.


"Nggak kok" Jawab nya dengan wajah kebingungan. Pasalnya ini pertama kalinya Reyna menjawabnya tidak seperti biasanya.


"Lah kok lu berdua nanyanya soal berantemsih?" Tanya Farel "Kan udah biasa ngeliat si Reyna jutek sama orang" Tambahnya.


Sedangkan yang lainnya hanya kembali menyimak, sebab mereka tidak tau menau soal apa yang mereka bicarakan.


Beberapa menit pun berlalu, mereka pun hanya berbincang-bincang. Dan tanpa mereka sadari Reyna sudah berada di depan mereka.


"Panik nggak? Panik lah masa nggak" Ucapnya dengan nada mengejek dan memeletkan lidahnya kepada Nara, lalu segera beranjak pergi.


"Kampret!!! Kena tipu gue" Ucapnya pasrah


Rai dan Reno yang mendengar hal tersebut hanya tertawa ringan saja.


"Sabar Nar, lu pasti bisa kok mengahadapi kenyataan pahit ini" Tenang Reno dan Rai disertai dengan tawa mereka.


Sedangkan mereka yang lain hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala mereka dengan ketidakjelasan ini.


γ€ŠFlash back off》


...----------------...


Mohon saran dan kritiknya semuaπŸ™πŸ˜Š


Agar saya bisa memperbaiki tulisan saya ini


Terima kasih kepada pembaca yang sudah mampir untuk membaca hasil tulisan saya πŸ™πŸ˜Š


Jangan lupa like nya ya!😁


πŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ