
Tibalah hari di mana Reyna akan pergi bersama Nara, lebih tepatnya lagi bertemu di toko kue yang sangat populer belakangan ini. Nara memberitahunya bahwa toko kue itu memiliki banyak varian rasa dan juga sangat enak. Dia pernah mampir atas permintaan kakaknya walaupun sebelumnya dia sudah menolak keras.
"Hadeh, berasa kek mau jalan sama bocil. Cuman mau makan kue doang ribetnya minta ampun. Capek kuping gue dengernya, tiap hari ngajakin mulu." Ujarnya kesal sambil mengikat rambutnya seperti biasanya.
"Nah, udah okelah"
Ketika Reyna sampai di ruang tamu, dia bertemu dengan Valisha yang sudah rapi menggunakan celana jeans denim dan atasan hoodie putih.
"Mau kemana lu?" Tanya Reyna
"Hmm.. Temenin gue nonton yuk!" Ajaknya
"Sorry Lis, gue nggak bisa, udah ada janji soalnya. Lain kali deh." Tolaknya
"Ayolah Na! Lu tinggal kasih tau aja ke dia bilang nggak bisa karena ada urusan mendadak. Simpel kan?"
"Simpel tetangga lu salto. Gue harus bohong dong gitu?"
"Yah nggak sih, kan emang gue ngajak lu dadakan, kan?"
"Nggak bisa, gue udah janji mau ketemu dia hari ini, lagian kan lu denger sendiri waktu itu di kantin. Gue bakalan pergi sama Nara, dan itu hari ini." Jelasnya
"APA?! HARI INI?!" Teriaknya membuat Reyna harus menutup telinganya.
"Oi! Nggak usah teriak-teriak dong, ini bukan hutan, gila lo!" Seru nya kesal. "Udah ah, gue mau pergi bye" Reyna pun segera berjalan meninggalkan Valisha.
"Hohoho... Gue harus pasang muka memelas biar dia setuju. Hahaha... Ini mah gampang." Batin Valisha.
Dia pun menyusul Reyna yang tengah menunggu taksi di depan rumah.
"Na"
"Hm"
"Ayolah Na! Please, gue udah ada tiket nontonnya nih." Ucapnya dengan wajah memelas sambil menunjukkan dua tiket nonton yang sebelumnya berada di dalam kantong hoodie nya.
"Nggak bisa Lis, gue udah janji. Lu kan tau gue kek gimana orangnya, kalau udah janji ya harus ditepati."
Bukannya berhenti, Valisha malah terus melakukannya dan Reyna juga tetap terus menolaknya.
"Keknya Lu udah nggak sayang deh sama gue." Ucapnya sedih.
"Haduh! Kenapa lagi dah nih?" Batin Reyna.
"Nggak Lis bukan gitu, masa-"
Belum sempat menyelesaikan kalimatnya, Valisha sudah lebih dulu memotong ucapan Reyna.
"Pergi aja deh nggak papa, gue bisa pergi lain kali." Ucapnya semakin sedih, bahkan matanya sudah berkaca-kaca. "Padahal dulu lu bilang bakalan nemenin gue kalau lagi butuh teman, keknya udah nggak berlaku yah?" Menatap Reyna sambil tersenyum kecut dan bulir air matanya sudah meluncur ke pipinya.
Reyna pun segera menghampirinya dan mengelus kepala Valisha.
"Okay deh, gue temenin lu" Jawabnya pada akhirnya.
"Beneran?"
"Iya"
Mendengar hal tersebut, Valisha sangat senang dan langsung memeluk Reyna erat sampai dia kesulitan untuk bernafas.
"Eh, nggak usah meluk-meluk dong." Protesnya
"Hehehe... Sorry Na" melepaskan pelukannya "Tapi, gimana janji lu sama Nara? Gue nggak tau kalau lu ada janji sama dia hari ini, soalnya waktu di kantin lu cuman bilang mau pergi aja."
"Iya sih. Tenang aja, bisa kok gue cancel. Bentar yah gue chat dulu."
Tint!
"Nah itu taksi gue, berangkat yuk ntar di jalan aja gue chat dia" Ajak Reyna.
"Okay "
Mereka pun segera keluar dari halaman rumah dan pergi menaiki taksi yang sudah Reyna pesan. Dan tanpa mereka sadari, sedari tadi ada 3 orang yang tengah memperhatikan mereka di sana, Lia, Rai dan Alan. Saat itu mereka tengah berdiskusi mengenai tugas yang diberikan oleh guru fisika. Pada saat itulah Reyna keluar dari rumah dan disusul oleh Valisha.
"Kasihan si Nara" Sahut Alan.
"Kenapa Lan?" Tanya Lia.
"Hari ini dia bakalan ke toko kue yang sering dia omongin bareng sama Reyna. Eh! Reyna nya malah pergi bareng Valisha, sungguh miris." Jelasnya.
"Ooh"
"Tapi agak aneh nggak sih si Valisha?" Tanya Rai tiba-tiba.
"Huh?! Aneh gimana maksud lu?" Tanya Lan balik.
"Itu tadi, dia keknya maksa si Reyna buat ikut sama dia. Padahal biasanya kalau mau pergi pasti dia bakalan ngasih tau Reyna, kek waktu mau beli buku waktu itu." Jelasnya.
"Hmm... Lu bener juga sih Rai. Walaupun dia sahabatan sama Reyna, kalau Reyna bilang nggak bisa ya dia nggak pernah maksa kok. Bahkan dia maklumi. Kok gue baru kepikiran yah?" Tambah Lia.
Sementara itu, Alan hanya membaca soal yang diberikan oleh guru mereka dan memasang telinganya lebar-lebar.
"Hehey... Udah mulai rencana nih mereka, semoga aja berhasil sih. Kasian sohib gue kalau harus jadi sad boy. Padahal sih, lebih bagus kalau mereka ngajak Reyna, dia pasti bakalan bantuin tuh." Batin Alan.
Mereka berdua yang masih membahas hal tersebut, tiba-tiba berhenti dan menatap curiga pada Alan. Karena biasanya dia pasti akan ikut nimbrung jika mereka tengah berbicara.
"Lu tau sesuatu yah?" Tanya Lia penuh selidik.
"Haaa... Kalau gue bilang nggak pasti lu berdua nggak percaya, kalau gue bilang iya pasti langsung percaya. Jadi, gue pilih iya aja." Jawabnya santai dan langsung mendapat pukulan dari Rai pada pahanya.
Plak!
"Aduh! Sakit ege!" Sahutnya sambil mengelus bekas pukulan Rai.
"Udahlah, lu berdua mana tertarik sama urusan kek beginian. Mendingan biarin aja" Ucapnya.
"Alan" Ucap Lia sambil tersenyum manis. Bukannya senang, Alan malah bergidik ngeri dan akhirnya memutuskan untuk memberitahukan mereka mengenai semua hal yang dia tau.
"Oohh... Gitu yoh" Sahut keduanya bersamaan.
"Terus, kenapa lu nggak ikutan?" Tanya Rai
"Nggak deh, gue masih ngeship Nara sama cewek yang nolak dia." Jawabnya dan langsung mendapatkan anggukan dari Rai.
"Tapi Lan, dia kan udah punya pacar. Masa lu ngedukung Nara sama pacar orang sih, gila lu!" Ucap Lia tak habis pikir dengan jalan pikirannya.
"Ya elah, Li. Selama janur kun-"
"Gue nggak pacaran sama Reyna" Ucapnya tiba-tiba memotong ucapan Alan. Hal ini membuat mereka berdua terkejut.
"Maksud lu apenih? Kenapa tiba-tiba jadi elu sama Reyna?" Tanya Lia.
"Bener tuh Li" Tambahan Alan.
"Hufff... Gue tau Nara suka sama Reyna, makanya gue ngasih tau ke lu berdua." Jelasnya sambil mengerjakan tugas fisikanya.
"Sejak kapan?" Tanya keduanya kompak.
"Sejak Reyna bilang gue sama dia pacaran waktu itu. Ntah kenapa gue selalu ngerasa kek ada yang natap tajam ke arah gue dari arah belakang, pas gue nengok ternyata dugaan gue bener, Nara natap gue kek gitu. Kadang dia juga bicara dingin ke gue." Jelasnya.
"Hmm... Gitu yah." Sahut Lia.
"Beuh, ternyata lu berdua nyadar toh. Kiraiin gue doang." Ucap Alan santai.
"Emang lu tau dari kapan?" Tanya Lia.
"Kelas 3 SMP"
"Seriusan Lan?" Tanya Rai
"Hooh, serius cuman sayangnya Reyna sukanya ke elu" Segera setelah dia mengucapkan hal tersebut, dia langusng menutup mulutnya. Sedangkan Lia hanya geleng-geleng kepala.
"Lu kok tau Reyna suka sama gue waktu SMP?" Tanyanya penuh curiga.
"Ah, anu bro itu...."
"Apaan?" Tanyanya semakin curiga.
"Haaaaa... Waktu Reyna nyatain perasaannya ke elu, kebetulan waktu itu gue lagi piket dan nggak sengaja ngelihat kalian. Tadinya pen gue sapa, tapi baru aja beberapa langkah gue jalan ke sana, gue malah denger deh di ngomong soal perasaannya ke elu." Jelas Alan.
"Haaa... Yg tau siapa aja?"
"Gue, Nara"
"Sama gue" Tambah Lia dengan cepat.
"Okay deh. Tapi jangan ngasih tau Nara ya kalau gue sama Reyna nggak pacaran, awas aja." Ancam nya.
"Emang kenapa?" Tanya Lia.
"Ya jangan lah, dia taunya gue pacaran sama Reyna aja dia deket Reyna mulu, apalagi kalau dia tau cuman pura-pura." Jelasnya.
"Lu suka sama Reyna?" Tanya Alan
"Nggak, gue cuman temenan aja sama dia."
"Yakin?" Tanya Lia penuh selidik
"Iya"
"Terus kenapa Nara nggak boleh tau?" Tanya Alan
"Gue mau liat sampai sejauh mana usaha Nara buat ngerebut hatinya Reyna, begitu." Jawabnya santai. Tetapi bukannya puas dengan jawaban Rai, mereka berdua malah menatap semakin curiga kepadanya.
"Ya elah, apaan lagi? Gue udah ngasih tau tuh."
"Pasti ada yang lain lagi kan?" Tanya mereka kompak.
Rai pun menghembuskan nafas pelan. "Lan, kalau Lia nanya sampe detail sih okay gue paham. Kalau lu? Gue nggak tau lu ini siapa."
"Sama gue juga nggak tau gue siapa, Kong mungkin." Ucapnya dengan wajah serius dan masih menatap curiga ke arah Rai.
"Haduh... Okay, gue bakalan ngasih tau kalian. Gue juga sebenarnya seneng ae liat tatapan kesal Nara kalau gue lagi bareng sama Reyna. Seru tau nggak!" Ucapnya sambil tersenyum bangga.
"Aaaa...Ternyata dia aneh" Ucap Alan dan Lia datar secara bersamaan.
"Emang lu pada nggak aneh apa? Hm?"
"Iya deh terserah, lu. Kan Lan?"
"Hooh, yang penting kita udah tau lah yah." Ucapnya santai "BTW, kita nggak mau nyusul si Nara ke toko kue gitu? Atau nyusul Reyna sama Valisha?"
"Nggak usah Lan, kan tadi lu bilang kita nggak usah tertarik sama urusan beginian." Ucap keduanya sambil tersenyum ke arahnya, dan lagi hal itu membuatnya lebih merinding lagi.
"Beuh, teman gue nggak ada yang kek manusia normal apa. Yang satu playboy cap swallow, yang satunya lagi psikopat berkulit anak bandel, yang ini iblis berselimut malaikat. Mantap betul circle pertemanan gue." Batin Alan sambil menghembuskan nafas pelan.
...----------------...
Mohon saran dan kritiknya semua🙏😊
Agar saya bisa memperbaiki tulisan saya ini
Terima kasih kepada pembaca yang sudah mampir untuk membaca hasil tulisan saya 🙏😊
💜💜💜💜💜💜💜