
“Gaes, sekarang kita udah kumpul nih, terus kita bakalan ngerencanain apaan?” Tanya Nana. “Sebenarnya gue nggak suka sama temen kalian, Reyna” Tambahnya santai sambil memakan baksonya.
“Emangnya kenapa?” Tanya Valisha mengerutkan keningnya.
“Reyna nggak papa tuh” Sahut Reno santai dan langsung mendapat anggukan dari Gabriel dan Leon.
“Sama, gue juga nggak suka sama dia” Ucap Sasha.
“Emang dia ada buat salah sama kalian?” Tanyanya dengan wajah datar.
“Santai Lis, nggak suka belum berarti benci kali. Gue cuman ngasih tau apa yang gue rasain aja.”
“Okay,seenggaknya kalian nggak ngejelek-jelekin apalagi ngehina dia. Sorry gue yang sensi”
“HAH!” Teriakan sekelompok orang membuat mereka semua terkejut dan segera melihat kearah sumber suara tersebut.
“Mereka kenapa?” Tanya Gabriel penasaran
“Kagak tau, tapi biasanya kalau ada Alan sama Nara di tempat yang sama. Sudah dipastikan bakalan ada hal spektakuler yang terjadi” Jawab Reno.
”Seriusan?” Tanya mereka semua kompak.
“Hooh, waktu SMP mereka sempet ngikut balapan liar dan dibawa ke kantor polisi. Untungnya waktu itu, anak bokapnya Nara. Kalau nggak, beuhh… Nyokapnya mungkin udah gadaiin dia kali” Jelas Reno santai.
“L-lu seriusan No?” Tanya Karina terggap-gagap saking terkejutnya
“Seriusan”
“Tapi No, biar pun modelannya kek anak nakal dia nggak pernah buat ulah tuh” Sahut Shasa.
“Iya bener, gue sama Lel sering kok ke rumahnya, tapi dia nggak ada buat apa-apa. Cuman main game doing” Tambah Leon.
“Huffff….” Reno menghembuskan nafasnya pelan.
“Lu kenapa No?” Tanya Valisha
“Gue tanya deh ke kalian semua kecuali lu Lis. Nara pernah buat onar nggak selama di sekolah ini?”
“Dibilang buat onar si nggak, cuman kadang-kadang dia suka aja datang telat dan ngasih alassn yang nggak masuk akal ke guru piket.” Jelas Karina
“Hmm… Terus?” Tanya Reno sambil mencomot gorengan milik Valisha.
“Dia pernah mukulin Bimo cs sampe masuk rumah sakit selama sebulan penuh” Ucap Sasha yang lamgsung mendapatkan pelototan dari Karina, Nana, Gabriel, dan Leon.
“Hahaha….” Bukannya terkejut,Reno malah tertawa.
“Lu kenapa?” Tanya Nana
“Masih waras kan lu No?” Tambah Valisha.
Reno langsung menjitak Valisha dan menatapnya kesal.
“Sakit bego, makanya jangan tiba-tiba ketawa dong kalau orang lagi ngomongin cerita serem kek Sasha” Omel Valisha.
“Udah buruan jawab kenapa?” Pintah Nana.
“Iya-iya. Gue ketawa karena si Nara makin parah aja. Emang kenapa dia ngehajar Bimo cs?”
Karina pun menjelaskan kronologi kejadian tersebut dengan detail, sedangkan Reno hanya mennggapinya sambil mengganggukan kepalanya dan sesekali menanyakan penjelasana yang kurang jelas.
“Pantesan dia ngamuk, anak kelasnya digangguin. Bodoh!” Ucap nya santai.
“Udah? Gitu doang tanggapan lu?”
“Terus gue harus gimana? Nangis sambil guling-guling? Atau, sambil kayang?”
Plak!
“Oi Na, lu kok nampar gue sih?”
“Nggak papa, gabut aja gue liat lu”
“Untung aja lu cewek, kalau lu cowok udah gue hajar lu”.
“No, Nara pernah punya pacar nggak atau gebetan mungkin?” Tanya Karina
“Nggak ada dan tidak mungkin ada” Jawabnya
“Maksud lu?” Tanya Leon
“Dia nggak pernah tertarik sama cewek manapun, most wanted sekolah gue waktu SMP aja dia tolak. Ya walaupun Rai lebih populer sih dari dia.” Jelasnya.
“Rai pernah punya mantan nggak?” Tanya Nana tiba-tiba.
“Lu ngapain jadi bahas Rai sih?” Protes Valisha
"Nggak papa, gue cuman nanya doang. Hehehe..." Ucap Nana sambil senyam-senyum.
"Ada, namanya Delisha" Jawab Reno
"Cantik nggak?"
"Udah deh, nggak usah ngebahas si Rai. Mending ngebahas si Nara aja."
"Dengerin tuh, Na" Sahut Leon
"Iya-iya"
"Btw makanan sama minuman favorite nya Nara apaan?" Tanya Sasha.
"Hmmm... Setau gue, dia suka sama makanan dan minuman yang biasa dikonsumsi bocil-bocil sih" Jawab Reno santai. "Kan Le, Yon?" .
"Nggak tau, kita nggak pernah nanya" Jawab Leon.
"Hooh" Tambah Gabriel.
"Yaudah deh, tunggu bentar ya" Reno berdiri dari bangku nya dan segera melangkah menuju ke meja tempat Alan, Nara dan teman-teman mereka berada.
"Mau ngapain dia?" Tanya Karina.
"Nggak tau, kita liat aja deh" Jawab Valisha.
...----------------...
"Widih! Lagi seru ngomongin apaan nih?" Tanyanya basa basi.
"Ngapain lu di sini?" Tanya Lia.
"Mau pinjam nih" Jawabnya sambil menunjuk Alan.
"Ngapain lu pinjem Alan?" Tanya Nara
"Kepo lu Nar" Ucapnya santai "Udah ah, gue pinjem dia dulu. Lu sama dia kalau mau pacaran masih bisa tuh pas pulang sekolah"
"Wah nyari masalah nih!" Nara sudah bersiap untuk memukul Reno, tetapi tidak jadi karena Reyna.
"Nih! Permen yupi favorit lu kan? Masih suka nggak?" Ucapnya sambil menyodorkan permen tersebut dan langsung diambil oleh Nara. Alhasil, Nara kembali duduk di tempatnya.
"Beuh! Nurut amat, modal yupi doang. Harga diri brother gue hanya sebatas yupi doang, mana bentuknya sapi lagi, bahkan ada kadal. Aish! Orang temperamen buruk tapi suka makan permen kek begituan, hahaha... lucu ae gitu." Batin Alan.
"Yaudah deh, kita cabut dulu ya. Bye!" Ucap Reno dan hanya mendapatkan anggukkan sebagai tanggapannya.
...----------------...
"Nah gaes, nih sumber informan kita" Jelas Reno.
"Hah? Informan apaan nih?" Tanyanya bingung.
"Duduk dulu deh Lan." Ucap Karina, Alan pun segera duduk dibangku kosong yang ada di sana.
"Mau nanya apaan?"
"Makanan sama minuman favorite nya Nara apaan?" Tanya Sasha antusias.
"Ya elah, ini mereka juga ngikut rencana lu bertiga?" Tanyanya pada Leon, Gabriel, dan Reno yang langsung mendapatkan anggukkan persetujuan dari mereka. Alan pun menghembuskan nafasnya pelan.
"Serius" Jawab mereka kompak.
"Okay. Dia itu suka--" Alan menghentikan ucapannya.
"Kok lu berenti sih Lan?" Tanya Sasha penasaran.
"Gue nggak tau namanya apaan, tapi yang jelas dia suka itu makanan sama minuman yang biasa di konsumsi sama anak-anak sih." Jelas Alan.
"Nah kan, apa gue bilang ke elu pada. Dia suka sama makannya bocil-bocil." Sahut Reno.
"Iya-iya" Ucap mereka semua.
"Kalau makanan yang buatan sendiri dia sukanya apaan?" Tanya Valisha
"Hmm... Yang biasa aja sih dia sukanya, apa aja dia makan kok. Yang penting halal." Jawab Alan "Ah! iya, dia suka banget sama permen yupi"
"Huh?" Mereka semua bingung, kecuali Reno. "Seriusan lu?"
"Iya, dia suka banget sama itu"
"Tapi, kan gue sama Leon nggak pernah liat dia makan kok"
"Yaelah... Kan kalian nggak mungkin setiap saat ada di rumahnya dia." Ucap Reno.
"Intinya kebiasaan Nara yang kek bocah, cuman ada kalau dia lagi sendiri atau..." Alan menggantung ucapannya yang mengakibatkan mereka semua penasaran dan menatapnya dengan seksama.
"Serius amat muka lu pada, lebih serius dari ngadepin ujian sekolah" Menggelengkan kepala karena tak habis pikir dengan mereka semua.
"Udah, buruan jawab. Jangan bikin penasaran deh" Pintah Nana.
"Iya-iya"
"Waktu dia bareng Reyna. Pengen banget gue jawab kek gini, tapi yaaahhh... Ntar kasian Reyna nya ditanya-tanyain mereka." Batin Alan.
"Buruan napa" Sahut Gabriel.
"Hmm... Sama kalau dia nyaman sama orang, dia pasti bakalan mungkin sisi bocah nya dia itu." Jelas Alan.
"Bohong deng! Manna ada, gue temenan dari SMP sama dia baru aja tau dia kek bocah nanti datang ke sini, itupun karena Reyna. Padahal dia nyaman temenan sama gue, sama Lia juga. Isi kepala sama hatinya emang cuman Reyna doang, sama yupi" Batin Alan.
"Ohhhh.... Gitu yaaa" Sahut mereka kompak.
"Oi! Kagak balik kelas lu pada?" Tanya Rai yang baru saja menghampiri mereka bersama dengan Nara, Reyna, Lia dan Tania.
"Kalian duluan aja, ya kan gaes?" Ucap Nan dan meminta persetujuan dari yang lainnya.
"Hooh, ntar kita nyusul kok" Tambah Karina dan mendapatkan anggukan dari mereka.
"Okay, kita duluan yah" Rai pun bergegas pergi dari sana bersama dengan Tania dan Lia, dan hanya menyisahkan Nara dan Reyna.
"Na, ayolah"
"Dih ogah!"
Mereka pun menengok ke arah mereka.
"Kalian kenapa?" Tabya Nana "Kok masih di sini?"
"Ada deh, kepo lu" Jawab Nara.
"Eh! Bocah" menepuk pelan kepala Nara "Lu kalau mau pergi, barengan si Alan aja ngapain bareng gue. Lu juga kemana-mana sering sama Alan, nggak usah ribet deh."
"Oi Na! Ya kali gue ke toko yang jual makanan manis pergi bareng Alan. Mau taro dimana muka gue? Ada cowok berduaan makan makanan manis. Ihhh! Nggak deh. Ayolah Na!"
"Lu malu kalau bareng Alan? Ntar harga diri lu jatoh, gitu?"
"Hooh"
"Terus lu barusan ngomong loh di depan mereka" menunjuk Nana dan kawan-kawan "Nggak malu?"
Nara pun menatap mereka datar dan langsung menggelengkan kepalanya.
"Haaa.... Yaudah okay." Ucap Reyna sambil menghembuskan nafas pelan.
"Yes. Kita cabut dulu gaes, bye bye"
"Duluan ya"
Mereka pun akhirnya pergi dari sana. Setelah kepergian mereka, Nana dan kawan-kawan sudah mendapatkan ide bagaimana cara untuk membuat Tania dan Nara menjadi dekat.
"Nah, gaes kalian udah tau kan mau ngelakuin apaan?" Tanya Nana antusias.
"Yoii, kita tinggal bikin mereka berdua aja ketemuan di sana" Jawab Sasha tak kalah antusias.
"Okay, ntar gue yang bawa Reyna jalan-jalan, biar ntar Tania sama Nara yang ketemuan di sana." Saran Valisha.
"Bentar, bukannya Nara bakalan jemput Reyna yah?" Tanya Leon.
"Nggak, bakal Yon. Reyna pasti bakalan langsung minta Nara buat nunggu di sana aja. Dia nggak suka berada dalam 1 kendaraan yang sama dengan cowok, apalagi cuman berdua" Jelas Reno panjang lebar.
"Lah? Bukannya mereka udah lama temenan?" Tanya Gabriel bingung.
"Woy! Jawaban pertanyaan dari si Leon bener setengah tuh No. Yang bener Reyna males di jemput Nara, dia sih b aja kalau sama Nara. Cuman kalau dia pergi bareng Nara, sepanjang perjalanan Nara bakalan ngomong nggak berenti-berenti dan itu bikin kupingnya capek." Jelas Alan yang mendapatkan anggukan dari mereka sambil ber oh ria.
"Btw Lan, lu gabung bareng kita yuk!" Ajak Valisha yang langsung mendapatkan penolakkan darinya.
"Nggak deh."
"Emang kenapa?" Tanya Nana
"Gue nggak mau"
"Lu nggak ngedukung Nara sama Tania ya?" Tanya Sasha dengan ketus.
"Hooh, soalnya berat. Mana bisa gue ngedukung mereka berdua, bisa-bisa punggung gue patah." Jelas Alan yang langsung mendapatkan jitakan gratis dari Reno.
"Yang serius dong Lan" Sahut Gabriel.
"Iya-iya, habis muka lu pada lucu sih. Okay, gue ngedukung kok cuman nggak pen terlibat aja kek kalian." Jelas Alan.
"Emang kenapa?" Tanya Nana
"Gue males ngurus gituan"
"Lah? Kan barengan juga Kita nyusun rencana nya." Jelas Sasha
"Iya Lan, gabung aja yuk. Makin banyak yang ngebantu, makin tinggi tingkat keberhasilannya." Tambah Karina.
"Ayolah bro! Apa yang mereka bilang bener, walaupun lu bilang lu bantu lewat doa, tapi kalau lu bantuin juga kan makin klop tuh. Doa sama usaha, pasti hasilnya bagus" Ajak Reno sambil merangkulnya.
"Makasih yah gaes, tapi beneran gue nggak ikutan." Tolaknya.
Namun, Nana dan Sasha terus menerus meminta Alan untuk bergabung dan langsung ditolaknya.
"Ayolah Lan!"
"Udah-udah, jangan dipaksain kalau dia nggak mau." Lerai Karina sementara Alan hanya cengar cengir saja.
"Huh! Nggak seru lu Lan!" Ucap Sasha kesal.
Neng nong! Bel masuk pun berbunyi dan mereka memutuskan untuk segera kembali ke kelasnya.
...----------------...
Mohon saran dan kritiknya semua🙏😊
Agar saya bisa memperbaiki tulisan saya ini
Terima kasih kepada pembaca yang sudah mampir untuk membaca hasil tulisan saya 🙏😊
Bagi like nya dong gaes😁
💜💜💜💜💜💜💜