Could I Have This Feeling?

Could I Have This Feeling?
54



"Reyna"


"Hm"


Saat ini keduanya tengah berada di pinggir danau buatan yang terletak di kompleks rumah Alan. Dia meminta untuk bertemu dengan Reyna dan akan menghampirinya, tetapi Reyna tidak mau Alan datang ke rumahnya dan dia mengajukan diri untuk datang sendiri ke sana.


"Lu nggak ada niatan buat hubungin si Nara apa?"


Reyna memutar bola matanya jengah.


"Lu itu kenapa sih Lan? Hah?!"


"Tiap ketemu gue, lo itu selalu ngebahas si Nara. Padahal gue udah bilang sama lo, jangan pernah bahasa Nara lagi. Paham nggak?" Ujarnya Kesal


"Heran gue"


"Ya maap, gue kan cuman mau lu berdua itu temenan lagi kek dulu. Gitu doang kok"


"Serah lu dah"


Terjadi kehening di antara keduanya selama beberapa menit.


"Na"


"Apaan?"


"Semalam Rai datang ke rumah lo yah?" Tanyanya sambil menengok ke arah Reyna.


"Nggak"


"Tapi, dia semalam izin pulang duluan waktu kita lagi ngerjain tugas, katanya mau ke rumah lo"


"Oh"


"Bukan rumah gue sih, tapi rumahnya Lia. Semalam gue nginep di sana dan akan terus tinggal di sana sampai beberapa hari ke depan"


"Oh, gitu yah"


"Na"


"Hmm"


"Na"


"Apaan sih?!"


"Santai dong. Nggak usah ngegas, udah tau harga gas mahal masih aja ngegas"


"Iya iya maap, lagian lu ngeselin banget sih. Ngapain lu ngajak gue ketemuan?"


"Gini gue pen nanya sama lu soal temen gue, soalnya gue selama ini penasaran sama kaliamt yang pernah dia ucapin ke gue" jelas Alan


"Oh, apaan emang?"


"I wanna be at the top of the list"


"Elah... Sekarang mah udah canggih kali, kenapa nggak nanya mbah gulugulu aja sih? rempong amat"


"Udah, tapi gimana ya. Gue mau tau maksud kata itu dari sudut pandang lu gimana. Gitu."


"Hedeww... Ribet amat sih."


"Buruan jawab aja"


"Kalau menurut gue sih, dia itu mau jadi prioritas utama lo, begitu. Dia mau jadi yang paling diataslah kedudukannya."


"Ok deh, makasih"


"Sep. Ngomong-ngomong kalau boleh tau, cewek mana tuh Lan? kasih tau dong" Ucap Reyna dengan nada jahilnya.


"Apaan sih! Ini yang ngomong laki WOY!"


"Hedeeh... Kirain cewek. Nggak asik lu ah"


Alan hanya menatap Reyna datar.


"Udah ah, gue mau balik dulu. Kasian si Lia cuman sendirian doang"


"Okay dah"


Reyna pun segera pergi dari sana dan langsung meluncur ke rumah Lia.


...----------------...


"Nar"


"Hm"


"Nara"


"Apaan?" Tanya malas


"Lu ada niat nggak sih sebenarnya buat ngerjain tugas sejarah?!" Ujar Tania kesal.


"Nggak" Jawabnya santai sambil menguap "Hoam"


"Hadeh... Berantem lagi nih pasti" Ucap Leon, dan langsung mendapat persetujuan dari Gabriel dan Nana, sahabat Tania sekaligus teman sekelas mereka.


Kerjain nggak!" Pindah Tania


"Nggak dulu deh, gue ngantuk. Nggak bisa fokus soalnya"


"Lo tuh y-"


Ucapan Tania terpotong karena deringan handphone Nara. Ia hanya bisa menghembuskan nafas kasar dan lanjut meyelesaikan tugasnya.


"Hallo babuku" Ucap Nara santai dan senyuman merekah di wajahnya.


Ekspresi lesuhnya tadi telah hilang bagaikan tertiup angin. Keempat teman nya, heran melihat hal tersebut. Pasalnya, jika Nara mengatakan dia ngantuk dia tidak akan mau melakukan apa-apa.


"Gue bukan babu lu ye!" Ucap orang diseberang sana dengan kesal.


"Hahaha... Lan Lan, santai aja napa sih. Jangan ngegas gitu dong"


"Lu pasti kangen kan sama gue? Udah lama nggak liat muka tampan gue ini. Bener kan?" Tanya dengan pdnya.


"Big no, bro"


"Sialan emang. Ubah VC deh, sekalian gue mau ngerjain tugas kelompok gue nih"


Alan pun segera mengubah panggilan telfon tadi menjadi panggilan Video.


"Nah, gini kan jelas. Lu jadi bisa liat ketampanan gue yang nggak ada 2 nya" Ucapnya bangga.


"Dih, najis banget" Sewot Tania


Nara hanya mengabaikan nya saja.


"Huh?! Kok ada suara cewek?" Tanya Alan


"Temen gue. Kan gue lagi kerja kelompok Alan ku sayang" Ucapnya dengan senyuman manis.


"Si Nara nih homo apa?" Bisik Gabriel kepada Leon


"Gue juga nggak tau. Tapi dia nggak pernah kek gitu kalau sama cewek"


"Nah kan, ber-"


"Woy, ngerjain ae bagian lu berdua sono, nggak usah gibah deh. Kek cewek aja, gue normal kali" Ucap Nara sewot


"Iya-iya" Jawab mereka berdua kompak.


"Lu kerjain tugas aja deh, ntar gue telfon lagi" Saran Alan


"Nggak usah, lanjut ae kali. Gue bisa sambil ngerjain tugas kok" Tolaknya sambil mulai mengerjakan bagiannya.


"Tapi teman lu bisa keganggu kalau gue ngomong"


"Hedehhh... tenang aja kali gue bawa earphone, everything is gonna be okay, dude. Trust me, it works." Ucapnya sambil memasang earphone tersebut ke telinganya.


"Udah Lan"


"Bentar, gue mau ke toilet dulu soalnya kebelet" Ucapnya lansung hilang dari pandangan Nara.


Nara hanya menghembuskan nafas pelan dan memilih untuk mulai mengerjakan tugasnya. Dia mulai membaca halaman per halaman dan mulai menulisnya. Tak butuh waktu lama, dia sudah selesai dnegan jawabannya dan segera menyerahkannya kepada Tania yang notabene nya ketua kelompok.


"Kok cepet amat?" Tanya Tania curiga


"Ya iyalah, orang jawabannya ada di buku, jadi nggak perlu mikir berat kek bagian lu pada"


"Bingo! Jawaban lu 100% benar. You're really smart girl"


"Pantesan aja waktu pembagian tugas lu langsung milih, biasanya mah... Minta sisa doang" Ujar Gabriel


Nara hanya tersenyum menanggapi ucapan mereka.


"Udah yah, kalian ngerjain aja bagian masing-masing. Gue mau lanjut VC sama temen gue, jangan ganggu"


Nara pun kembali memfokuskan dirinya ke layar handphone.


"Si Alan mana sih, lama amat. Bertelur nih anak?" Batin nya.


"Gue buka IG aja dah, kali aja nemu yang menarik"


Nara pun mulai membuka IG nya yang sudah lama dia acuhkan. Senyuman yang tidak pernah dia tujukan pada siapapun mengembang di wajahnya, Tania yang ternyata diam-diam memperhatikan Nara melihat hal tersebut. Seketika, pandangannya terpaku pada Nara yang masih tersenyum, dia melihat ketulusan di sana. Dia mungkin akan terus terpaku ke sana jika Nana tidak menyenggol nya untuk menanyakan bagian yang kurang dia pahami.


"Nih bocah masak? Hahaha... Tumben. Padahal biasanya paling anti masak, katanya kalau bisa beli kenapa harus masak. Ckckck..." Batin Nara


"Na Na... Gue tau ego lu itu tinggi, dan gue tetep kekeh nggak mau hubungin lu, sebelum lu duluan yang ngehubungin gue" Batinnya sambil tersenyum.


"WOY!"


"Astagfirullah al adzim"


"Hedeh... kaget, padahal cuman "woy" doang"


"Eh Lan, lu nyebut woy nya make teriak, dan gue lagi ngescroll postingan IG. Lu dari mana sih lama amat ke toiletnya?"


"Sorry, lagi BAB soalnya. BTW lu ngescroll postingan IG apa ngestalk Reyna?" Tanya Alan menggoda Nara.


"L-lu ngomong apaan sih" Jawabnya gugup sambil salah tingkah.


Keempat orang yang berada di sana terheran-heran melihat kegugupan dan kesaltingan nya. Mereka hanya bisa saling bertanya melalui tatapan mata mereka, bukannya tidak berani bertanya. Hanya saja, Nara pasti akan menghindari pertanyaan mereka dengan 1001 cara nya. Yang bisa dilakukan hanya memperhatikan nya saja secara.


"HAHAHAHA..."


"Nggak usah gugup juga dong" Ejek Alan


"Sialan lu. Udah, nggak usah bahas itu dulu. Mending ngebahas soal lu aja, kan udah lama kita nggak ngobrol"


"Iya iya, tapi lu emang gila Nar. Bisa-bisanya lu ganti nomer nggak ngasih tau gue, padahal gue ini sohib lu yang paling top Nar. Cih! Gue kira gue ngga bakalan bisa ngontak lu lagi"


"Hehehe... Maaf deh Lan. Tapi kan gue udah ngasih nomer gue ke elu. Jadi, udah nggak ada masalah lagi dong"


"Iya emang nggak ada, tapi...." Ucap Alan menggantungkan kata-katanya.


"Apa?" Tanya Nara penasaran.


"Waktu lu masih make nomer lama lu itu, kan kita jarang kontakan kan. Nah gue chat Reyna, terus gue nanya soal elu dan dia malah marah-marah. Dan dia minta gue kasih tau ke elu, buat hapus nomernya. Sorry, gue baru ingat"


"Okay makasih deh. Jadi, sesuatu yang lu lupa waktu itu yg ini?"


"Hooh"


"Okay. Lan, yang tau lu kontakan sama gue ada nggak?" Tanya Nara penasaran


"Nggak ada satu orang pun"


"Okay, gue pen ngasih tau sesuatu sama lu. Tapi lewat chat aja yah, terus ntar kalau udah lu baca lu langusng hapus. Paham?"


"Iya-iya"


Mereka pun segera mengakhiri panggilan dan beralih ke chat pribadi.


Alan


"Jadi gimana bro?"


^^^Nara^^^


^^^"Gue udah kontakan sama Reyna"^^^


Alan


"WHAT! TAPI DIA BILANG UDAH NGGAK KONTAKAN SAMA LU LAGI."


"LU BOONG YA?"


^^^Nara^^^


^^^"Santai dulu nape sih? Gue belum selesai ngomong ini"^^^


Alan


"TERUS APAAN?"


^^^Nara^^^


^^^"Gue kontakan sama dia itu pake nama ade gue, Yasa"^^^


Tidak ada jawaban dari Alan, walaupun chat Nara sudah dibaca olehnya.


^^^Nara^^^


^^^"Buset dah Lan"^^^


^^^"Woy"^^^


^^^"Alan"^^^


Alan


"Sabar nape sih? Emak gue manggil tadi."


^^^Nara^^^


^^^"Oh"^^^


Alan


"Wah, gila lu Nar, mantep. Emang dia nggak tau apa model lu kalau ngechat kek gimana?"


^^^Nara^^^


^^^"Sejauh ini belum sih, nggak tau dah nanti"^^^


^^^"Tapi gue ngechat dia, beda dari model ketikan gue yang biasanya sih"^^^


Alan


"Iya deh iya, btw kemaren gue ketemuan sama dia. Mau nanya maksudnya kata "I wanna be at the top of the list".


^^^Nara^^^


^^^"Bodoh!"^^^


Alan


"Makanya lu waktu gue tanyain selalu aja nggak mau jawab. Dan itu bikin beban pikiran gue tau nggak, makanya gue tanyain ke dia"


^^^Nara^^^


^^^"Terus dia bilang apaan?"^^^


Alan


"Katanya dia, orang itu pengen jadi prioritas utama atau pen jadi yang paling atas lah dari pada apapun itu"


^^^Nara^^^


^^^"Oh, sabilah"^^^


Alan


"🙄"


"Gaje"


...----------------...


Mohon saran dan kritiknya semua🙏😊


Agar saya bisa memperbaiki tulisan saya ini


Terima kasih kepada pembaca yang sudah mampir untuk membaca hasil tulisan saya 🙏😊


💜💜💜💜💜💜💜