Could I Have This Feeling?

Could I Have This Feeling?
72



Reyna berfikir jika hal itu hanya akan berlangsung pada hari itu saja. Sayang hal itu salah, pasalnya hal itu berlangsung lagi selama 4 hari berturut-turut, sehingga terjadi selama sepekan, sebab sekolah hanya berlangsung selama 5 hari.


Bagaimana bisa dia tidak melakukannya? Sedangkan sehari setelah kejadian tersebut, Nara kembali bersikap dingin dan kembali menyinggungnya. Yang mana hal ini membuat Reyna mau tidak mau harus kembali membujuknya sampai normal.


Selama sepekan itu, dia selalu membawa makanan dan minuman favorit Nara, ya... untungnya apa yang Nara sukai ramah dikantong, sehingga tidak membebaninya.


Meskipun begitu, selama dia selalu berada di sisi Nara. Dia juga mendapatkan nasi goreng yang telah menjadi makanan favoritnya itu, jadi baginya itu merupakan suatu keuntungan. Walaupun, dia harus menyuapinya lagi dengan sendok yang sama.


"Aaaa~ Akhirnya gue bebas!" serunya.


"Emang habis di penjara Na?" celetuk Alan.


"Hooh, gue dipenjara sama bestie lu noh. Mana gue nggak bisa ngebantah lagi," jawabnya dengan raut wajah kesalnya.


"Kan lu bisa ngebantah Rey," ujar Rai yang duduk di sebelah Alan.


"Rai, kalau gue bisa pasti gue lakuin lah. Gue bersikap baik, manis dan nurut ke dia aja, hasilnya baru keliatan setelah sepekan, gimana kalau gue ngebantah? Yang ada dia nggak berenti-berenti," jelasnya.


"Lagian lu ngapain sih mau aja ngebujuk dia?" tanya Lia ketus, "kek nggak ada pekerjaan lain aja."


"Lia sayang, kalau gue duduk jauh dari dia, gue nggak bakalan mau ngebujuk dialah. Gue aja nggak tau salah gue apaan," jawab Reyna kesal.


Segera setelah Reyna menyelesaikan ucapannya, Rai, Alan dan Lia memukul pelan jidat mereka kompak. Sungguh mereka tidak habis fikir dengan manusia bernama Reyna ini.


"Lu beneran nggak tau salah lu apa gitu?" tanya Rai bingung.


"Nggak tuh. Kan tadinya gue marah karena gue waktu itu pergi bareng Lisa. Tapi, dia udah normal lagi waktu pelajaran matematika. Habis itu besoknya, dia marah lagi. Gue kan jadi bingung," jelas Reyna.


"Na, lu udah minta maaf ke dia belum?" tanya Alan.


"Belum sih, soalnya gue nggak tau salah gue apaan, terus dia udah normal lagi tuh," jawabnya santai.


"Guys, tolong maafin kebodohan bestie gue," ujar Lia yang sudah tidak tahan, "dia masih marah tau gara-gara lu waktu itu nggak datang, ditambah lu cuman minta maaf lewat chat doang waktu itu. Parahnya pas di sekolah lu nggak ngomong apa-apa soal kejadian itu, lu bias aja. Siapa coba yang nggak mau marah kalau kek gitu?"


"Jadi dia masih marah karena itu?" tanya Reyna bingung.


"Iya," jawab ketiganya kompak.


"Okay, nanti gue minta maaf deh. Mendingan sekarang kita makan aja deh, kasian mie nya udah mau ngembang," saran Reyna.


Mereka pun melanjutkan sesi makan mereka di kantin. Hanya mereka berempat, sedangkan yang lainnya sedang mengurus sesuatu.


...----------------...


Di taman belakang sekolah, grup mak comblang NaraXTania sedang berkumpul. Tania juga berada di sana, sedangkan Nara tengah pergi menghadiri rapat klub basket bersama Gabriel dan Leon.


"Okay guys, gue udah nanya ke si Alan, dia bilang Nara habis ditolak sama cewek yang dia suka, tapi Nara nggak ngasih tau ke dia siapa orangnya," jelas Reni panjang Γ— lebar.


"Bukannya Reyna ya?" celetuk Nana.


"Nah, gue juga udah nanya itu ke Alan. Dia bilang, "mana mungkin, soalnya mereka udah temenan dari bocah, dan lagi mereka berdua nggak ada manis-manisnya tuh kalau lagi ngobrol. Apalagi kalau ngomong yang manis-manis, ntar ujung-ujungnya pada jijik sendiri." gitu kata dia, " jawabnya.


"Emang beneran ya?" tanya Tania yang sedari tadi hanya berdiam diri saja.


"Iya sih, waktu SMP gitu. Suka aneh-aneh mereka." jawabnya.


"Tapi kemaren gue tanya Reyna, katanya dia nggak suka sama Nara," tambah Tania.


"Berarti sekarang, kita tinggal nanya langsung ke Nara aja," saran Valisha.


"Val kalau lu mau di terkam silahkan aja, gue nggak mau," tolak Sasha tanpa pikir panjang.


"Udah, udah," Gimana PDKT an lu sama Nara Tan?" tanya Karina.


"Nah iya bener, kita udah ngasih lu waktu buat berduaan sama dia loh semalam beberapa hari lalu," ujar Sasha.


Tania pun menceritakannya kepada mereka semua, bahwa Nara masih sama menyebalkannya, bahkan bisa dibilang lebih parah lagi.


γ€ŠFlash back on》


"Nar, ini seriusan kita nonton film perang-perang kek gini?" tanya Tania bingung.


"Yaiyalah..." jawabnya santuy.


"Nggak bisa nonton yang lain apa? Horor kek atau apa gitu," saran Tania.


"Gue udah terlanjur beli tiketnya jadi nggak bisa, lagian lu nggak nanya dulu gue ngajak nonton film apaan, main langsung ikut-ikut aja."


"Iya deh," ujarnya sambil cemberut.


"Kalau lu mau marah, lu marahin aja si Leon, ini tuh salahnya dia," ujar Nara menyalahkan Leon, "dia bilang, dia bisa ikut nemenin gue nonton, tapi tiba-tiba ada urusan mendadak, jadinya gue terpaksa harus ngajak orang lain biar tiketnya nggak mubazir."


"Lu nggak nggak Reyna?" tanya Tania bingung.


"Nggak, gue masih marah sama dia, lagian dia cepet bosen kalau nonton film kek gini," jelasnya.


"Lu kek nya kenal dia banget ya," ujar Tania.


"Udah deh, nggak usah ngomongin dia mendingan kita masuk aja," ajaknya sambil menarik lengan baju Tania.


Setibanya di dalam sana, Nara sangat menikmati film tersebut, sementara Tania hanya fokus mencuri-curi pandang padanya dengan sesekali ia terkejut karena mendengar suara bom dan tembakan di dalam film tersebut.


Dia melihat betapa Nara sangat serius melihat film tersebut, sambil memakan pop corn nya. Tiba-tiba saja dia menengok dan menatap Tania, sontak Tania yang tertangkap basah tengah memperhatikannya hanya bisa salah tingkah dan menutupi kegugupanya.


Lalu, tiba-tiba Nara mengulurkan tangannya dengan earphone digenggamannya.


Tania menatap bingung ke arahnya, "Buat apaan?"


"Biar lu nggak kaget, ambil tuh! Lumayan lu bisa denger musik," jawabnya santai "Buruan ambil!"


"Lu bego ya, ini bioskop say, tolong. Begonya jangan dibagi-bagi," tolak Tania.


"Okay, gue juga baru ingat. Biasanya gue make earphone kalau nemenin sepupu gue nonton frozen, terus gue tinggal tidur deh," jelasnya kau memakai memasukkan earphone tadi ke kantong jaketnya. Dan kembali menikmati film nya.


Setelah selesai menonton, Tania meminta Nara untuk menemaninya ke gramedia, karena ada novel yang sangat ingin dia beli.


Tania pun menelusuri rak-rak buku yang ada di sana dengan Nara yang masih setia mengikutinya dari belakang.


Ketika dia sudah menemukan novel yang diinginkannya, diapun segera akan mengambilnya. Namun sayang, novel itu terletak di rak yang cukup tinggi. Sehingga sulit baginya untuk meraihnya.


...----------------...


Mohon saran dan kritiknya semuaπŸ™πŸ˜Š


Agar saya bisa memperbaiki tulisan saya ini


Terima kasih kepada pembaca yang sudah mampir untuk membaca hasil tulisan saya πŸ™πŸ˜Š


πŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ