Could I Have This Feeling?

Could I Have This Feeling?
88



Saat ini Reyna sedang berbaring manis di atas kasur milik Lia. Sepulang sekolah tadi, dia memutuskan untuk berkunjung ke sana sekalian menemani Lia yang sedang ditinggal sendirian oleh kedua orang tuanya.


"Na lu nginep di sini kan?" tanya Lia.


"Iya, tenang aja." jawabnya santai.


"Terus seragam sama buku pelajaran buat besok gimana?" tanya nya bingung sambil menatap televisi di hadapannya.


"Gampang! Gua bisa pulang besok pagi-pagi buta."


"Ambil sekarang aja deh Na, mumpung masih agak sore, kalau besok pagi takutnya kesiangan."


"Iya deh, bentaran aja deh habis maghrib, sekalian makan di luar."


"Okay deh."


Suasana kamar Lia seketika menjadi hening, hanya suara TV saja yang terdengar jelas di dalam sana. Reyna tengah berbaring dengan mata terpejam, Lia yang setia menatap televisi di hadapannya.


Saat Reyna memejamkan matanya, dia kembali lagi melihat kejadian sore itu untuk yang kesekian kalinya.


"HUWAAAAA... bisa gila gua lama-lama. Masa merem doang masih bisa terbayang-bayang sih? Nggak adil banget," batinnya frustasi.


"Bukan cuman kali ini aja, bahkan waktu belajar tadi gua juga kebayang hal yang sama, ya Tuhan... Tolong hilangkan bayangan ini dari dalam kepala hamba ya Tuhan, amin." tambahnya.


Di tempat lain diwaktu yang sama, Nara tengah berbaring di sofa ruang keluarga rumahnya. Dia menutup wajah nya dengan kedua tangannya, karena rasa malu yang sudah dia tahan tidak bisa dibendung lagi.


"Akhh! Gua malu banget!!!" teriaknya pelan dibalik tangannya yang menutupi wajah.


Nara menurunkan tangannya lalu menatap pelafon rumahnya dengan wajah dan telinga yang sedang memerah. Dia kembali berfikir jika apa yang dia lakukan sore itu tidaklah benar, seharusnya dia tidak pernah mengungkapkannya pada Reyna.


"Gegara keegoisan gua, hubungan kami jadi canggung," gumamnya pelan.


"Tapi... Gua juga capek karena nggak pernah dilirik Reyna."


"Kalau misalnya dia ntar nanya kenapa gua bisa suka kedia gua harus jawab apaan? Emang kalau suka harus ada alasan ya?"


"Kalau gua ingat-ingat kejadian sore itu, gua ngerasa kurang gentle," ucapnya sambil menghembuskan nafas kasar, "harusnya gua tetep natap dia waktu itu bukannya malah ke tempat lain."


"Emang cuman Reyna doang yang bisa bikin gua kek gini. Padahal dulu, gua ngira dia sukanya sama si Zayn, ternyata sama si Rai. Padahal menurut gua Zayn lebih oke sih daripada si Rai, dan gua ngakuin hal itu," ucapnya santai sambil menyalakan televisi.


"Gua nggak masalah sih sebenarnya Reyna mau suka siapapun, tapi... masa suka sama si Rai sih? Bentukannya kurus kering begitu," ucapnya nggak habis fikir.


"Bisa-bisanya gua salah anggap saingan selama ini, dan bisa-bisanya gua kalah saing sama si Rai. Padahal lawan yang cocok buat gua mah si Zayn, bukan Rai. Tapi... Gua akuin sih, si Rai jago kalau olahraga, dan sekarang udah nggak sekurus dulu sih. Yaaaaa... pokoknya gua yang lebih oke dari si Rai," ucapnya penuh percaya diri sambil tersenyum bangga.


Tring!


Nara mengambil handphonenya yang berada di atas meja di hadapannya.


Lia


Lu sama Reyna baik-baik aja kan? Kok gua ngerasa kalian agak canggung ya?


"Aduh... Si cuy keknya kagak dikasih tau sama Reyna nih. Kalau gua kasih tau sekarang sih, pasti Reyna bisa dicabik-cabik nih sama dia. Apalagi sekarang Reyna lagi di rumahnya, nggak usah jawab deh biarin aja," meletakkan kembali handphonenya ke atas meja, lalu memilih menonton tv di hadapannya.


"Kalau Lia yang marah si bodo amat, asal Reyna nggak marah sama gua," ucapnya sambil senyam-senyum sendiri, " nggak sabar besok mau datang ke sekolah buat ketemu sang pujaan hati semoga besok gua bisa balik normal dah."


...----------------...


"Na kita makan di sini aja gimana?" tanya Lia setelah sebelumnya memarkirkan motornya.


"Harusnya lu nanya dulu kali sebelum markir motor, gimana si?" celetuknya kesal.


"Lu tuh cerewet banget sih? Udah ayok buruan!" ucapnya sambil menarik tangan Reyna.


Reyna hanya bisa pasrah dengan apa yang dilakukan sahabatnya itu. "Bisa-bisanya dia nanya padahal udah fix milih makan di sini, dasar cewek!" batinnya kesal.


Setelah masuk di dalam, Lia langsung mengedarkan pandangannya untuk mencari bangku yang masih kosong, sebab saat ini restoran itu agak cukup ramai. Saat dia tengah mencari bangku kosong, dia menyipitkan matanya ke arah orang yang duduk membelakanginya.


"Kok kek kenal ya?" batinnya bertanya-tanya.


Brak!


Lia memukul meja pelan dan seketika keduanya kembali ke dunia nyata.


"Udah selesai tatap-tatapan manja nya?" tanyanya.


"Lu ngomong apaan sih," elak Reyna dan orang tersebut bersamaan.


Lia tidak memperdulikan ucapan keduanya, dan dengan seenak jidatnya dia meminta orang tersebut untuk bergeser ke bangku yang ada di sebelahnya, lalu menyusul Reyna untuk duduk di sebelah orang tersebut.


Setelah itu, dia memanggil pelayan dan langsung memesan makanannya, begitu pula dengan Reyna. Ketika pelayan itu selesai mencatat pesanan mereka, dia pamit undur diri. Tak berapa lama, pesan keduanya pun datang.


Selama menunggu pesan datang, dia memperhatikan suasana dua orang dihadapannya terlihat sangat canggung. Bahkan orang yang duduk di sengaja Reyna, Nara, sedari tadi hanya menatap makanannya.


Akhirnya dia memutuskan untuk berbicara lebih dulu.


"Kalian pacaran ya?" celetuknya asal.


"N-Nggak kok!" jawab keduanya kompak.


"Nara nggak papa kan, gua bilang kek gini? Soalnya ini kan fakta," batin Reyna bingung.


"Beuh... Sakit sih dengernya, tapi gua nggak mau pacaran, maunya langsung nikah. Jadi gua nggak apa-apa," batinnya penuh percaya diri.


"Jujur aja deh, gua capek sama tingkah lu berdua selama seharian ini," ucapnya sebal.


Nara dan Reyna saling melirik, lalu menganggukkan kepala. Yang mana hal ini semakin membuatnya bertanya-tanya.


Keduanya menghembuskan nafas pelan, lalu menceritakan apa yang sudah terjadi di antara mereka. Entah apa yang ada dipikirkan Nara, dia juga bahakan memberitahu Lia jika dia akan menunggu Reyna memberikan jawabannya sampai kapan pun.


"Bego!" celetuk Lia santai setelah mendengar cerita keduanya.


"Kok bego?" tanya keduanya kompak.


"Seharusnya langsung dijawab aja, suka bilang suka, nggak ya nggak. Lu gila ya Nar? Emang nggak capek apa? Selalu harus lu mulu yang nunggu Reyna sadar sama perasan lu. Dan lu Na? Lu nggak mikirin perasaan dia apa? Terus lu masih nggak mau buka hati lu buat dia? Haduh... Gua paham dah sama isi kepala lu berdua," jawabnya kesal bercampur bingung.


"Terus kita harus gimana?" tanya Reyna bingung.


"Ya lu jawablah Na!" jawab Lia greget.


"Kok lu jadi maksa dia si Li?" tanya Nara.


"Lu diem deh!" pintah Lia.


Terjadi keheningan seketika sebelum Reyna membuka suara.


"Gua bingung Li," jawabnya sambil menundukkan kepala.


"Nggak usah dijawab Na, nggak papa kok," ucap Nara sambil tersenyum dan menatapnya.


Reyna yang mendengar ucapan Nara langsung beralih menatapnya. Dia terpaku melihat senyuman Nara, dia juga melihat sorotan sedih dari matanya walaupun hanya sekilas.


Lalu mereka bertiga kembali melanjutkan sesi makan mereka dengan diam hingga selesai. Terlihat raut wajah tidak puas dari Lia, tetapi dia memilih diam. Walupun dia sangat gemas dengan dua orang di hadapannya.


Namun, setelah mereka keluarga dari restoran itu, Nara mengajak Reyna untuk ngobrol sebentar, karena Lia adalah orang yang peka diapun langsung beralasan untuk pergi sebentar. Tetapi, Nara langsung mengatakan kepada Lia untuk kembali lebih dulu, biar dirinya yang akan mengantar Reyna. Lia pun menyetujuinya dan langsung pergi dari sana.


...----------------...


Mohon saran dan kritiknya semua🙏😊


Agar saya bisa memperbaiki tulisan saya ini


Terima kasih kepada pembaca yang sudah mampir untuk membaca hasil tulisan saya 🙏😊


💜💜💜💜💜💜💜