Could I Have This Feeling?

Could I Have This Feeling?
71



"Oh, makasih," jawabnya dingin.


Reyna tidak tau lagi, apa yang harus dia lakukan pada anak ini. Akhirnya dia memutuskan untuk segera pergi dari sana.


Namun, belum baru saja dia berbalik dan ingin pergi sari sana, Nara sudah menahan tangannya lebih dulu.


"Lu duduk di sini temenin gue!" pintahnya dingin sambil berpindah ke bangku kosong di sebelahnya, lalu menarik Reyna agar duduk di bangku miliknya.


"Lu kenapa sih? Obat lu habis ya?" Ingin sekali rasanya Reyna mengatakan hal tersebut. Namun, dia tidak bisa.


"Haaa... Huh! Harusnya gue nggak usah ikut pertukaran pelajar! Arggh!" batinnya kesal.


Reyna hanya duduk diam saja di sana, dan hal ini membuat orang di sebelahnya terusik.


"Kenapa lu diam?" tanyanya ketus.


"Karena gue malas ngomong sama lu!" batinnya kesal.


"Hmmm... Gue nggak mau buat lu makin marah, makanya gue diem," ucapnya lembut sambil tersenyum dan menatap tepat ke mata Nara.


"Ah! Gue pen bat mukul lu tau nggak, dan sementara itu, gue juga harus tetep bersikap manis sama lu! Iiihhh! Gue pen pulang aja," batinnya frustasi dan kesal bersamaan.


"Akhirnya lu natap gue juga Na, gue berharap bisa kek gini bareng lu. Berduaan, senyuman dan perhatian lu cuman buat gue seorang," batinnya senang, dan tanpa sepengetahuan Reyna sebuah senyuman tipis terbit di wajah Nara.


"Oh."


"Ya Allah, berikanlah kesabaran yang melimpah pada hamba ini untuk menghadapi orang di sebelah hamba Ya Allah, hamba tidak ingin ada pertumpahan darah di antara kami," batinnya sambil berdoa.


"Coba lu ambil kotak makan di laci gue!" pintah nya.


Reyna pun merogoh lacinya lalu mengambil kotak makan tersebut. Kemudian, dia memberikannya kepada Nara.


"Gue cuman nyuruh lu cuman ambil doang, ngapain lu kasih ke gue? Lu budeg ya?" tanyanya ketus.


"Kan gue kira lu mau makan, makanya gue kasiin ke elu," jawabnya lembut. Namun, di dalam hati dia sudah mengucapkan banyak kata-kata mutiara.


"Makan!" pintah Nara dingin.


"Huh? Kenapa?" tanya Reyna bingung.


"Lu belum makan kan?


"Iya sih, terus lu gimana?"


"Gue udah kenyang," jawabnya dingin.


Reyna pun akhirnya memakan bekal tersebut, lumayan bisa menghemat uang jajan. Satu suapan masuk ke dalam mulutnya.


"Hmm... Enak! Nasi gorengnya pas sama selera gue, tapi keknya ini bukan buatan nyokap nya deh. Soalnya rasanya beda, atau... mungkin buatan kakaknya kali ya? Hmmm.. pokoknya top deh." batinnya memuji nasi goreng tersebut sambil menebak siapa yang membuatnya.


Reyna pun terus memakannya dengan hati yang gembira, dan tentu saja hal itu membuat Nara semakin senang.


"Suapin gue!" pintah Nara ditengah kesenangan Reyna yang tengah makan. Reyna pun menatapnya bingung sambil mengunyah nasi gorengnya.


"Nih anak kenapa sih? Katanya udah kenyang, kok sekarang minta disuapin?" batinnya bingung dengan orang di sebelahnya ini.


"Buruan!" pintahnya sekali lagi.


"Iya. Lu bawa sendok lagi nggak?"


"Sendok? Buat apaan?"


"Buat lu pake makan gitu, soalnya yang ini udah gue pake."


"Terus? Emang kenapa kalau udah lu pake? Gue nggak perlu pake juga apa? Huh?"


"Nggak, bukan kek gitu. Lu nggak jijik apa?"


"Emang kalau orang lapar harus ngurus jijik-jijik an apa, hah? Udah buruan!"


Akhirnya mau tidak mau, Reyna pun harus menyuapinya. Setelah itu, diam diam menatap kotak makan tersebut.


"Kenapa nggak dimakan? Lu nggak suka 1 sendok sama gue?"


"Nggak-nggak, bukan kek gitu."


"Iyasih."


"Makan!" pintahnya untuk yang kesekian kalinya.


Akhirnya Reyna pun kembali memakan nasi goreng tersbeut. Dia juga terus menyuapi orang di sebelahnya.


Setelah isinya telah habis, Reyna pun mengambil air minum di tempat duduknya lalu kembali duduk di sebelah Nara.


Dia membuka tutup botolnya dan meneguk isinya sesuai kebutuhan. Namun, ketika dia hendak menutupnya, Nara langsung mengambilnya tanpa permisi dan meneguk habis isinya.


Reyna hanya terdiam melihat hal tersebut.


"Thanks," ucap Nara sambil mengembalikan botol air minumnya.


"Nar, ini baru jam istirahat pertama loh, dan lu udah habisin isi botol air minum gue," ujarnya datar.


"Tenang aja. Lu tinggal ambil aja air mineral dalam tas gue," jawabnya enteng dengan watados andalannya.


Reyna menatap tidak percaya dengan manusia di sebelahnya ini. Bisa-bisanya dia menghabiskan air minum orang lain, sementara dia sendiri mempunyai air mineral di dalam tasnya.


"Nggak usah liatin gue kek gitu kali, gue tau kok gue itu tampan, menawan, keren, pintar dan sholeh," ujarnya penuh percaya diri sambil memakan permen yuppy yang Reyna berikan sebelumnya.


"Dih! Narsis," gumam Reyna pelan.


"Huh? Lu ngomong apa barusan?" tanyanya bingung.


"Nggak kok. Gue cuman mau bilang, nggak usah lebay deh," jawabnya santai dengan watados nya.


Reyna pun mengambil botol air mineral yang Nara sebutkan tadi.


"Makasih air mineralnya."


"Anytime."


Tak berapa lama kemudian bel masuk pun berbunyi anak kelas MIPA 2 sudah mulai berdatangan satu persatu. Reyna pun segera kembali ke tempat duduknya.


Tepat pada saat semua murid sudah berkumpul, ibu Sonia selaku guru sejarah pun tiba di sana. Lalu, beliau meminta para siswa untuk mempresentasikan tugas kelompok di depan kelas.


Seluruh siswa pun memulai presentasi di depan kelas sesuai dengan urutan nama kelompok. Selama presentasi berlangsung, terdapat beberapa siswa yang berdebat, dan ada juga yang hanya mengajukan pertanyaan saja.


Tak terasa jam pelajaran telah selesai, dan tibalah sekarang waktu istirahat kedua. Seluruh siswa bernafas lega, bahkan ada diantar mereka yang sudah melenggang pergi ke luar kelas.


Pada saat jam istirahat ini, Reyna dan para teman-temannya hanya berkumpul di dalam kelas, tepatnya di barisan kelompok Reyna.


Mereka tengah ngobrol bersama di sana diselingi gelak tawa akibat candaan receh Alan dan Leon. Tak hanya sekali, mereka bahkan melakukannya berkali-kali.


Reyna yang merasa haus akibat tertawa segera mengambil air mineral dari dalam lacinya. Kebetulan dia belum sempat minum setelah presentasi di jam pelajaran sejarah.


Dia pun membuka segel botolnya, dan langsung meneguknya. Segera setelah dia hendak menutup botolnya, Nara dengan seenak jidatnya langsung mengambil air tersebut dan meneguknya habis.


"Hmm... Ada manis-manisnya. Emang bener kata iklannya," ujarnya santai, lalu mengembalikan botol air mineral yang kosong ke tangan Reyna sambil tersenyum.


Reyna hanya menatap malas kepadanya. Tetapi, semua yang ada di sana terkejut dengan apa yang barusan terjadi. Apalagi, kalimat yang baru saja Nara lontarkan dengan santai. Entah Reyna tidak menyadarinya atau dia tidak tau, tetapi mereka yang ada di sana memiliki pemikiran yang sama, yakni "ciuman tidak langsung".


"Kalau lu haus, bilang. Ntar gue beliin," ujarnya santai.


"Nggak mau, ntar lu habisin lagi," tolak Reyna mentah-mentah, dan Nara hanya tersenyum bangga.


Sedangkan semua orang yang berada di sana masih mantap bingung ke arah mereka. Tetapi, mereka berdua tidak menyadarinya.


"Gilak! Nih manusia agresif amat!" batin Alan nggak habis fikir.


...----------------...


Mohon saran dan kritiknya semua🙏😊


Agar saya bisa memperbaiki tulisan saya ini


Terima kasih kepada pembaca yang sudah mampir untuk membaca hasil tulisan saya 🙏😊


💜💜💜💜💜💜💜