Could I Have This Feeling?

Could I Have This Feeling?
74



"Reyna gue mau ngajak lu jalan ntar sore, mau nggak?" tawar Nara.


"Kalau gue tolak, pasti lu marah. Jadi, yaudah... Hayulah," jawabnya menerima ajakan Nara.


"Yang ikhlas dong," protes Nara.


"Ini udah ikhlas," jawabnya santai.


"Yayaya.... Hari yang damai tanpa pertengkaran keduanya akhirnya berakhir," celetuk Alan santai.


Saat ini mereka semua sedang berada di kantin, meskipun sekarang bukanlah jam istirahat melainkan jam kosong.


Setelah bel masuk berbunyi mereka semua pun kembali masuk ke dalam kelas. Dan ketika pelajaran sedang berlangsung, guru mata pelajaran yang bersangkutan memberikan tugas kelompok kepada mereka.


Tak sampai di situ, guru mata pelajaran berikutnya juga memberikan tugas serupa. Namun, tak hanya hari itu saja, beberapa hari kemudian mereka juga mendapatkan tugas serupa. Alhasil Reyna dan Nara tidak jadi jalan berdua.


"Ah! Sial! Nggak jadi dah rencana gue," gerutu Nara.


Plak!


Rai memukulnya, "Buruan kerjain, jangan ngeluh!"


"Ya, sabar dong, ini lagi dikerjain. Jangan mukul-mukul kali, ini kepala bukan samsak," protesnya. Bukannya menanggapi Nara, Rai malah mengabaikannya.


"Kerja lembur bagai kuda, sampai lupa waktu luang," nyanyi Alan bersama Reno sambil berjoget ria di dalam kelas.


"Lu berdua bisa diam nggak sih? Ganggu tau nggak," tegur Reyna ketus. Keduanya pun segera berhenti dan kembali duduk ke bangku mereka.


...----------------...


Dua bulan telah berlalu, dan hanya tinggal sebulan lagi mereka berada di sana. Hubungan pertemanan antara Rai dan Reyna semakin dekat. Jantungnya sudah tidak berdebar lagi ketika berdekatan dengan Rai dan dia sangat mensyukuri hal itu. Baginya berteman dengan Rai sudah cukup.


Sementara itu, Lia dan Valisha sudah berteman dengan Tania dkk. Begitu pula dengan Reno, Alan, Leon dan Gabriel.


Mereka semua selalu menghabiskan waktu bersama, baik di dalam sekolah maupun di luar sekolah.


Di kantin, terlihat dua orang remaja berbeda gender tengah duduk bersampingan. Saat ini kondisi kantin sangat sepi, hanya ada penjaga kantin dan mereka. Mereka tidak berbicara satu kata pun dan malah sibuk melakukan aktifitas masing-masing.


"Oi,Nar!"


"Hm"


"Gue yakin sih, bukan cuman gue doang yang ngerasa belakangan ini lu kek nggak semangat gitu di sekolah" ujar Lia. "Yaa~ Walaupun biasanya emang nggak semangat sih," tambahnya.


Omongan orang itu tidak ditanggapi oleh Nara, ia tengah sibuk mengaduk-aduk es teh nya.


"Oi gila! Ini masih pagi dan lu mesen es teh?! Wah...! emang gila nggak ada obat lu" ujar Lia tak habis fikir dengan orang di sebelahnya.


Sama seperti sebelumnya, Nara tidak menanggapi perkataan orang tersebut. Orang itu hanya bisa memutar bola matanya malas, ia juga sudah mulai kesal karena sedari tadi tidak ditanggapi oleh Nara.


"Ngeselin lu, gue balik ke kelas aja deh," ucapnya kesal dan beranjak dari tempat duduknya dan berjalan pelan meninggalkan Nara.


Setibanya di luar kantin, handphone nya berbunyi yang menandakan ada telfon dari seseorang, dan dia pun mengangkat telfon tersebut.


"APA?! MAU NYARI RIBUT?! IYA?!" ucapnya sambil marah-marah segera setelah ia menerima telfon tersebut.


"Tega banget lu Lia! Masa temen lu ditinggal sendirian kek gini sih. Punya hati nggak sih lu! Kejam amat!" teriak seseorang dari dalam kantinbdengan dramatis. Entah itu hanya pura-pura atau sungguhan, yang jelas Lia kembali masuk ke dalam kantin dan duduk di tempatnya semula.


"Nah gitu dong, baru namanya teman," ucapnya santai sambil memutuskan sambungan yang sebelumnya belum diputuskan oleh Lia.


"Cih! Tadi gue ada di samping lu, lu anggurin. Gue pergi lu malah nyari. Mau lu apa sih? Hah?!" seru Lia kesal.


"Ya~ Lu temenin gue di sini lah Lia. Cuman lu doang temen gue sis. Hufff...." ucapnya sedih sambil menghembuskan nafas kasar.


"Nggak usah sok dramatis deh Nar. Nggak cocok tau nggak buat lo," ucap Lia sarkas.


"Beuh... Bibirnya sama omongannya. Suka seenak jidat kalau ngomong"


"Suka-suka gue lah, bibir bibir gue. Emang masalah buat situ?"


"Hadewww... Dasar betina!"


"Barusan lu bilang, temen lu cuman gue doang kan ya?"


"Yup!" ucapnya santai kemudian meminum es teh nya.


"Terus si bestie lu mana?"


"Hm? Siapa?"


"Ya si Alan lah, siapa lagi. Orang yang bantuin lu supaya bisa baikan sama Reyna, walaupun hasil nya enol gede."


"Eh, sembarangan lu ya kalau ngomong. Nggak sia-sia tau usahanya dia, buktinya gue temenan lagi sama Reyna. Jangan sembarangan lu!" protesnya kesal.


"Santai santai, kalem bro. Maaf deh, btw dia kemana?"


"Nggak tau, lagi sibuk mungkin. Soalnya dia udah nggak ada ngasih info ke gue lagi soal Reyna."


"Eh, dodol. Ngapain juga dia ngasih info ke elu, kalau Reyna nya ada di depan mata lu. Ya Allah... Punya temen gini amat bego nya. Ampun deh!" ucapnya sambil menggeleng-gelengkan kepala.


“Oi Lia, ini si Reyna sama Rai beneran pacaran nggak sih?”


“Gue nggak tau, dia nggak pernah ngomong apa-apa lagi ke gue, kecuali waktu dia terus terang soal perasaannya ke Rai."


"Hmmm... Berarti ini cuman rahasia mereka berdua dong. Berarti gue masih ada peluang... Wakakakakaka!" batinnya senang.


“Ah elah! Punya temen gini amat deh, nggak guna."


Bugh!


Lia yang geram langsung memukul lengan sebelah kiri Nara sekuat tenaga, yang mengakibatkan sang empu nya hanya bisa mengaduh kesakitan sambil marah-marah.


“Woy! Gila lu ya! Bisa-bisa nya mukul gue sekuat tenaga, emang gue samsak apa! Aduh... Mana sakit lagi!" ucapnya kesal


"Makanya jangan nyari masalah ke gue kalau nggak mau kena batunya," ucapnya santai sambil tersenyum manis.


"Lagian lu itu, cowok bukan sih? Masa dipukul kek gitu aja bilang nya sakit. Cemen lu!" ejek Lia sambil menatap Nara.


"Bukan kek gitu Lia, lu itu tenaganya udah kuat plus anak silat. Ya wajar lah gue ngerasa sakit, toh nya lu biasa mukul si samsak juga"


"Tetep aja, lu kan cowok masa dipukul cewek aja sakit, lemah! Dan satu lagi, gue ikut silat itu cuman 3 bulan, 3 bulan. Paham lu?"


"Jangan iya-iya aja dong!"


"Iya, tapi kan gue juga manusia kali. Ya wajar aja kalau ngerasain sakit, logis dong lu!"


"Yaudah, berarti wajar dong kalau Reyna pacaran sama Rai."


"Nggak!" ucapnya tegas.


"Beuh, giliran Reyna aja lu cepet. Bau-bauh bucin nih," sindir nya


"Nggak papa bucin, bucin sama calon ibu dari anak-anak gue juga."


"Dih! Halu-halu, bangun bro bangun, udah pagi nih!" ucapnya dengan nada mengejek sambil menepuk-nepuk punggu Nara santai.


"Cih!"


"HAHAHAHA.... PUAS BANGET GUE LIAT BUKA LU... HAHAHA...."


"Ketawa terus Lia, ketawa... Ketawa aja, gue udah biasa kok tersakiti. Ketawa aja, gue nggak papa kok."


"Dih ambekan, cowok bukan lu?" tanyanya diselingi kekehan kecil.


"Setengah!" jawabnya kesal dengan wajah sebalnya. Bukannya berhenti, tawa Lia semakin pecah dan membuat para penjaga kantin menatap bingung ke arah mereka.


"Woy! Berenti napa, diliatin noh," ucap Nara sambil menunjuk menggunakan dagunya ke arah orang yang melihat mereka. Lia pun mengikuti arah tunjuk Nara sambil terkekeh pelan.


"Iya-iya. Malu ya lu?"


"Ya iyalah... Malu banget malah, berasa lagi duduk bareng orang sinting sambil minum es teh pagi-pagi."


"Oi!" seru Lia santai sambil memukul lengan kiri Nara untuk kedua kalinya.


"Eh! Nggak usah mukul-mukul dong, lu sekolah mau jadi preman apa?!" protesnya kesal


"Makanya lu kalau mau ngomong mikir dong, kalau gue sinting lu apaan? Mana ada orang minum es teh pagi-pagi, mana semalam ujan deres lagi ampe subuh. Hadeh...."


"Ya udah sih, suka-suka gue."


"Iya deh iya, gue ngalah aja sama bocil."


"Saya bukan bocil tante," sanggahnya sambil tersenyum manis dan memasang muka polosnya.


"Hadeh... Mukanya polos bak malaikat tapi isi nya kek set*n!"


"Iri lu sama gue?"


"Ngapain gue iri sama orang yg nembak langsung ditolak. Duh nggak level tau sama gue."


"Cialan lu Lia!"


"Bodo amat. Btw si temen lu itu keknya suka deh sama lu."


"Hah? Siapa?" tanya nya bingung.


"Wakil ketua kelas kita."


"Tania?"


"Hooh."


"Nggak mungkin dia suka sama gue, palingan dia merasa utang budi doang ke gue karena udah nolongin dia waktu di bully sama si Bimo."


"Gimana tuh ceritanya?"


"Mau tau lu?


"Hooh!" ucapnya antusias


"Yakin?"


"Huh! Ribet banget sih, tinggal cerita doang juga."


"Beneran nih?"


"Ya Allah, buruan deh!"


"Kepo lu."


"Kampret!"


"Hahaha...."


"Bodo amat! Btw lu kenapa sih?" tanya Lia penasaran.


Nara menghembuskan nafas kasar. "Gue nggak jadi pergi jalan bareng Reyna, gegara tugas-tugas sialan!" ucapnya kesal.


"Sudah ku duga!" sahut Lia santai. "Ya lu tinggal ajak lagi lah, kan masih ada waktu sebulan ini," saran Lia.


"Lah, bener juga omongan lu." ujar Nara dengan gembira.


"Iyalah!"


Seperti yang kita ketahui, manusia hanya bisa berencana dan Tuhanlah yang memutuskan. Seperti yang tengah Nara alami, pada saat dia mengajak Reyna jalan, tugas-tugas yang sudah mereka lalui kembali berdatangan lagi. Alhasil, waktu satu bulan tersebut berlalu begitu cepat hanya dengan menyelesaikan tugas-tugas sekolah, sehingga apa yang sudah dia rencanakan tidak bisa terealisasikan.


Dan sekarang tibalah saatnya bagi Reyna, Lia, Valisha, Reno dan Alan untuk kembali ke sekolah mereka. Tak lupa mereka berpamitan dengan Nara dkk. Bahkan Valisha, Nana dan Sasha saling berpelukan sambil berlinang air mata.


Setelah puas mengucapkan salam perpisahan, mereka pun segera berangkat meninggalkan kota Semarang.


...----------------...


Mohon saran dan kritiknya semua🙏😊


Agar saya bisa memperbaiki tulisan saya ini


Terima kasih kepada pembaca yang sudah mampir untuk membaca hasil tulisan saya 🙏😊


💜💜💜💜💜💜💜