
Reyna POV
Sebenarnya gue nggak niat buat ikut pertukaran pelajar. Tapi Lia dan Valisha dengan seenak jidatnya daftarin nama gue di sana. Arrgghhh! Hal paling mengesalkan lagi, ternyata Rai ikut 1 rombongan barengan gue. Sial!
Padahal baru tadi pagi gue nyatain perasaan gue ke Rai, karena gue kemakan sama omongannya si Lia, tapi Apa?! Semuanya tidak terjadi seperti apa yang dia katakan.
Flash back on!
Saat ini Reyna tengah membantu Lia merapikan barang-barang yang akan dibawa pada saat pertukaran pelajar.
"Na, na"
"Hm"
"Kan ntar kita di Semarang selama 3-4 bulan kan tuh"
"Terus?"
"Ntar kita jalan-jalan deh kalau udah di sana, pasti seru." Ucapnya dengan semangat
"Ha...Ha...Ha... Iya pasti seru" Ucap Reyna dengan nada datar. "Lagian lu ngapain nulis nama gue didaftar siswa yang mau ikut, ngerepotin tau nggak. Gue harus nyiapin ini, itu. Huh?!" Tambahnya dengan nada kesal.
"Eh!" Ucap Lia sambil memukul pelan pundak Reyna.
"Lu pasti bakalan berterimakasih ke gue, gue jamin deh"
"Berterimakasih apaan maksud lo Li, hah?! Berterimakasih kalau ntar di Semarang gue ketemu sama Nara, gitu? Cih!" Ucapnya kesal
"Woy! Lu tuh ya, kalau denger Semarang kenapa langsung bahas si Nara sih. Lu rindu sama dia? Atau jangan-jangan lu naksir sama dia? hm?"
"Lu ngomong apaan sih, nggak usah aneh-aneh deh"
"Elo yang aneh Na. Emang lu itu siapanya dia?! Sampe dia harus ngasih tau dulu ke elu kalau dia mau pindah atau kemana! Lu tuh ya! Saudara bukan, sepupu bukan, pacar apalagi!" Ucap Lia dengan kekesalannya "Sadar diri Na, lu itu bukan siapa-siapa nya dia, jadi lu nggak berhak marah kalau dia nggak ngasih tau apa-apa ke elu! Kesel bat deh gue!"
"Iya deh iya... Tapi gue kan temannya, senggaknya-"
"Dia harus ngasih tau lu, gitu?! Hah! Dasar gila, teman nggak harus tau segala hal tentang urusan pribadi lo, ingat Na!"
"Iya-iya, tapi tetep aja kenapa lu harus milih semarang sih? Emang nggak ada tempat lain apa?"
"Bisa nggak?! Lu nggak usah bawel, gue cincang juga lu!"
Reyna hanya bisa diam dan tidak melakukan apapun. Dan terjadilah keheningan selama beberapa menit.
"Na"
"Apa lagi? Mau ngomelin gue lagi? Iya?"
"Apaan sih"
"Gini ya Na kita kan ke Semarang itu buat belajar, dan belum tentu juga kali sekolah yang bakalan kita datengin sekolahnya si Nara, Semarang kan luas Na"
"Iya-iya"
"Na"
"Apaan lagi?"
"Lu mau sampai kapan mendam perasaan lu sama Rai?"
"Nggak tau deh" Ucapnya sambil mengedikkan bahu.
"Gini ya Na, mendingan lu terus terang aja deh sama dia, ya walaupun dia bakalan nolak lo sih"
Reyna mengalihkan pandangannya ke arah Lia dan metapnya datar.
"Sungguh! Manisnya omongan bestie gue ini" Ucapnya sambil tersenyum manis. "Nggak mau!" Tambahnya dengan nada tegas.
"Eh ogeb! Mendingan besok lu terus terang deh sama dia, kan besok sore kita udah mau berangkat ke Semarang. Jadi, kalau pun lo "ditolak" kan lu bisa nggak ketemu dia selama beberapa bulan dan pasti dia bakalan lupa juga kan? Toh udah banyak cewek yang pernah nembak dia" Jelas Lia santai sambil menekan kata "ditolak" dalam kalimatnya. "Ralat, lu bukan nembak, tapi terus terang"
"Hmm... Apa bedanya?
"Huh... Udah, nggak usah dipikirin"
"Gimana ya? Ide lu gila sih"
"Hedewww... lakuin aja sih, biar beban lu berkurang dikit. Lu kan tau gue pernah ada di posisi lu juga. Dan gue juga udah terus terang tuh sama orangnya, dan masih temenan sampe sekarang"
"Iya, tau. Lu mah nggak dapet adeknya, kakanya lu sikat ... Hadew"
Sebuah bantal mendarat tepat diwajah Reyna segera setelah dia menyelesaikan kalimatnya.
"Woy woyyy! Nyantai dong, lu tau muka gue pas-pasan malah lu lemparin bantal. Gila!!!"
"Halah... Udah pokoknya lu kasih tau aja ke dia biar lu berhenti berharap"
"Lu cuman ngomong doang mah enak, lah gue? Orang yang ngelakuin coy"
Lia hanya memutar bola mata nya jengah, jujur saja dia sudah lelah melihat tingkah laku Reyna ketika melihat Rai. Walaupun Reyna tidak menceritakan apa-apa kepadanya, tapi dia selalu melihat Reyna mencari-cari kesempatan untuk memperhatikan Rai. Dari mereka SMP, mungkin saja orang lain tidak menyadarinya, tapi tidak dengan Lia. Yaa... Walaupun pada awalnya dia juga tidak menyadarinya, tetapi seiring berjalannya waktu akhirnya dia menemukan hal tersebut.
"Yaudah deh terserah, lu mau jujur atau nggak. Bodo amat!"
Setelah itu, mereka berdua kembali melanjutkan aktivitas yang sempat tertunda karena perdebatan.
"Li"
"Apaan?!" Jawabnya dengan nada ketus
"Santai dong"
"Buruan apaan?!"
"Lu waktu jujur ke Vandi, langsung apa lewat chat?"
"Lewat chat si, terus gue bilang ke dia buat lupain apa yang udah gue omongin"
"Oh, okay dah"
...----------------...
"Gue utarain nggak yah?"
"Tapi gue suka nya selatan, selalu ada tantangan. Apaan dah, gaje banget deh gue"
Gue sedang mondar-mandir di kamar setelah kembali dari rumah Lia, jujurly gue masih kepikiran dengan saran yang diberikan Lia. Cukup lama gue berfikir dan memutuskan untuk melakukannya.
^^^Reyna^^^
^^^"Hi"^^^
Rai
"Hi, kenapa?"
"Buset cepet amat dibalasnya. Ini gue bilang lewat chat apa langsung ya?"
"Gila, bingung banget. Apa gue spin aja kali ya sama mbah gulu-gulu?"
Gue pun segera menuliskan pilihan yang udah gue buat dan langsung memutar lingkaran tersebut sambil menutup mata, selamat beberapa detik, gue pun membuka mata dan langusng terkejut dengan hasilnya.
"Wah gila, harga diri gue ditentukan sama spin mbah gulu-gulu" Ucapnya sedih
Rai
"Oi, ada apaan?"
^^^Reyna^^^
^^^"Besok kita ketemuan di belakang sekolah jam 6 pagigue tunggu, jangan telat. Nggak usah nanya ada apa. Okay? Bye"^^^
"Hufftt... Sep kelar. Gue mau bobo, walaupun nggak terima sama hasilnya sih. Yeahhh... Bisa dicancel sih, tapi gue udah minta bantuan mbah gulu, ntar kalau gue khianatin bisa ngambek dia. Dahlah capek mau kaya aja"
...----------------...
Di halaman belakang sekolah gue tengah duduk di bawah pohon sambil menunggu kedatangan Rai. Sudah lewat 5 menit dari jam yang ditentukan, Rai belum juga datang.
"Elah... Lama amat nih bocah, mana jam 6 begini sepi lagi, hadeehhh.... Nasib nasib"
"Woy"
Suara berat yang sangat gue kenali dan sebuah senyuman yang seketika langsung muncul di kepala gue.
"Woy"
Sapaan itu membuat gue terkejut dan seketika kembali ke dunia nyata setelah sebelumnya terjun ke jurang perhaluan.
"Duh... Apaan sih?! Jangan ngagetin dong, nih jantung cuman satu!" Ucap gue kesal
"Iya iya maaf, jadi ada apaan?" Tanyanya penasaran
"Rai, gue cuman bakalan ngucapin ini sekali dan nggak ada pengulangan"
"Hm"
Gue mulai menarik nafas dalam-dalam guna menenangkan diri. "Okay" Batin Reyna
Dengan penuh keberanian gue mengatakannya sambil menatap mata Rai.
"Gue udah suka sama lu dari kita SMP sampai sekarang" Rai yang mendengar pernyataan gue, hanya diam membisu, mungkin saja dia tidak menyangka gue bakalan mengatakan hal yang tidak terbayangkan seperti itu.
"Hahaha... Lu tenang aja bro nggak usah tegang. Gue nggak berharap bisa jadi pacar lu atau apalah itu, gue cuman pen jujur aja. Dan lu bisa lupain apa yang barusan gue omongin, jangan jadiin beban pikiran ya... Hehehe...." Ucap gue santai dan langsung segera pergi dari sana meninggalkan Rai yang masih diam membisu di tempatnya.
Sedangkan dari kejauhan terlihat seseorang yang telah mendengarkan semua pembicaraan mereka.
...----------------...
Flash back off
Setelah ngungkapin perasaan gue, gue nggak pernah ketemu si Rai seharian penuh di sekolah, gue juga udah nyeritain ke Lia mengenai kejadian tersebut. Dan sekarang tibalah saatnya bagi gue untuk bersiap pergi. Tak lupa pamit kepada kedua orang tua, dan meminta mereka untuk hanya mengantar gue ke sekolah saja dan tidak perlu menemani sampai ke bandara.
Setibanya di sana gue terkejut saat melihat Rai tengah bersama dengan Lia dan Valisha, entah kenapa seketika gue berharap hujan segera turun beserta dengan angin dan petir yang menyambar dan langsung meluluhlantakkan bumi.
"Lia kampret emang" Gumam gue pelan
"Reynaaaaa" Panggil Valisha
Mau tidak mau, suka tidak suka pun, gue harus segera bergabung ke sana dan menyapa mereka 1 per 1, selang beberapa menit gue datang, Reno dan Alan pun datang dan segera menghampiri kami. Setelah 15 menit berlalu, kami pun segera pergi ke bandara dan langsung terbang menuju ke Semarang. Setibanya di sana, kami semua segera beristirahat agar esok hari bisa berangkat ke sekolah dalam kondisi bugar.
Ketika ingin berangkat ke sekolah kami menggunakan kendaraan umum, dan sialnya lagi, gue harus duduk di sebelah Rai. Gila nggak sih?! Sungguh pagi yang sangat buruk. Gue ngerasa canggung banget dan Rai pasti merasakan hal yang sama.
Setibanya di sekolah tujuan kami, seorang guru mengarahkan kamu ke kelas yang akan kami gunakan.
Damn it! Pada saat gue masuk ke kelas itu, manusia pertama yang gue liat adalah manusia yang sangat sangat pengen gue remukin kek kertas, Nara. Dan paling sialnya lagi, dia natap ke arah gue. Pengen banget gue colok tuh matanya.
Ketika giliran gue perkenalan diri, anak kelasnya Nara malah nyungsep lagi, Ya Allah... Ada aja hambatan. Untungnya nggak lama sih. Belum lagi pengaturan tempat duduk yang ada masalah, eh pada akhirnya gue harus duduk di sebelah Rai dan duduk tepat di depan Nara. Oh... Sungguh sial hidup ku ini. Baru ngungkapin perasaan ehh, malah duduk sebangku sama yang bersangkutan, sungguh gilaaaaa... Gue pen teriak.... Huwaaa... Valisha kampret, pen gue pukul tapi nggak bisa. Mamaaaaa.... Ana mau pulang.
Karena gue benturin kepala gue ke meja dengan cukup kuat, wali kelasnya si Nara ngira gue kenapa-napa, dan juga ntah kenapa gue suka aja gitu benturin kepala gue di meja. Si Rai malah nahan lagi, kan bego, senang sih gue tapi ya itu, ege. Dan pada saat itu juga gue tau fakta bahwa, Nara si tukang pembuat onar adalah ketua kelas dari kelas ini dan dia dapat amanah buat jagain kami, anak sekolah lain. Sungguh sangat mengoik-oik.
Untungnya ada soal matematika, jadi gue bisa ngalahin perhatian lah yah. Soalnya juga nggak susah-susah amat.
Beberapa menit kemudian, ntah kenapa soalnya berubah menjadi sulit. Biasanya kalau gue kesulitan sama soal matematika, pasti gue selalu nanya ke Nara. Tapi kan nggak mungkin gue nanya ke dia, tatapan matanya aja not friendly begitu ke gue. Dan dengan mengumpulkan segenap keberanian gue memutuskan untuk meminta bantuan sama Rai.
"Rai"
"Rey"
Waaaaa... Kok barengan sih mana jantung gue jadi lost control lagi, dan jujur gue kaget tiba-tiba bisa samaan. Dan karena gue gugup gue milih angkat kepala gue yang tadi sempat nengok ke dia dan langsung mandang ke arah lain. Gilaaaa!!!
Lia dan Lisa yang duduk di depan gue langsung nengok ke belakang, dan dari tatapanya gue tau kalau mereka berdua pasti mau ngomong "apa yang terjadi?". Gue memilih diam dan membiarkan Rai yang menjelaskannya karena gue juga penasaran kenapa dia manggil gue.
"Gue mau nanya ke Reyna, dia bingung dibagian mana. Kali aja gue bisa bantu." Jelas Rai.
"Oh... Jadi dia merhatiin gue, aduh! Please jangan buat gue berharap sama lu" Batin gue.
"Soalnya dia dari tadi kek orang frustasi" Tambah Rai yang pada bagian akhir kalimatnya terdengar seperti nada mengejek.
"Wah... Nih anak udah bikin jantung gue mau lompat, malah ngejek lagi. Mana gue kalau mau
ngomong ke dia susah banget nih mulut sama lidah" Batin Reyna
"Kalau gue bisa, ngapain gue mau minta bantuan sama lo?" Ucap gue dengan nada sombong.
"Oh, yaudah. Nggak ada ruginya juga buat gue." Ucap Rai kesal.
"No"
"Huh?"
"Lo udah belom?"
"Lima nomer lagi bro"
"Mau gue bantuin nggak?"
"Boleh banget, sini lo!"
Rai pun segera bangkit, ya langsung gue tahanlah. Kalau dia cabut ke sana, ntar gue gimana dong, walaupun ada si Lia tapi dia juga kesulitan jawab yg nomer ini.
"No, lo nanya ke Alan aja. Rai harus ngajarin gue, okay" Ucap gue yang hanya bisa diangguki oleh Reno.
"Duduk lo!" Pintah gue.
"Iya" Ucapnya langsung duduk dibangkunya dan mulai menjelaskan cara pengerjaan soalnya kepada gue.
...----------------...
Akhirnya jam istirahat pun datang, sungguh surga dunia, gue bisa langsung ke kantin deh. Sesampainya di kantin, gue sama temen-temen langsung mengambil tempat duduk.
Selang beberapa menit kami ke kantin, teman Nara, Leon minta gabung bareng kami. Dan teman-teman gue pada setuju. Sungguh malas, ketika gue ngeliatin si Nara gue memberikan tatapan permusuhan begitupun dengan dia. Gue nggak memperdulikan tatapan orang-orang itu. Dan karena gue males berada di tempat yang sama dengan Nara, akhirnya gue pergi dari sana.
"Si Nara ngapain sih make datang segala, ngeselin deh" Gumam ku "Udahlah yah, udah lewat juga. Mendingan gue bobo ae di kelas"
...----------------...
Mohon saran dan kritiknya semua🙏😊
Agar saya bisa memperbaiki tulisan saya ini
Terima kasih kepada pembaca yang sudah mampir untuk membaca hasil tulisan saya 🙏😊
💜💜💜💜💜💜💜