Could I Have This Feeling?

Could I Have This Feeling?
79



Reyna baru saja memasuki kelas, dan dia menjadi orang pertama yang tiba di sana.


"Waduh! Gue datengnya kepagian apa mereka yang datangnya terlalu kesiangan? Ah elah..." ujarnya sambil berjalan ke arah bangkunya.


Setibanya di sana, dia langsung duduk dan membaringkan kepalanya di atas tumpuan tangannya yang berada di atas meja.


Dia mendengar sebuah langkah kaki memasuki kelasnya, dan tidak perduli akan hal itu. Dia sudah berada dalam posisi nyaman.


"Oi Na, masih pagi loh ini. Bisa-bisanya udah lemes aja lu," sahut orang tersebut. Dan suara yang terdengar familiar oleh Reyna.


Deg!


"Aduh! Jantung gue kenapa lagi sih? Perasaan kemaren baik-baik aja, gegara si Nara semalam nih pasti," batinnya bingung bercampur rasa kesal.


Hening, tidak ada jawaban dari Reyna.


"Oi, Na!" sapa anak tersebut sambil menendang pelan bangku Reyna yang ada di depannya.


bukh! bukh!


"Na!"


"Lu bisa diem nggak Rai?!" ujar Reyna kesal sambil berbalik ke arah belakang, meskipun jantungnya saat ini masih berdegup kencang.


Deg!


Jantungnya semakin berdegub kencang lagi pada saat dia berbalik ke belakang, Rai tengah memasang senyuman manisnya.


"Ihhh! Gue kenapa lagi sih? Masa gue masih suka sih sama nih anak? Nggak-nggak, pasti ini cuman kebetulan aja, iya pasti," batinnya meyakinkan dirinya sendiri.


"Elah, jangan galak-galak bestie, ntar nggak ada yang mau temenan loh sama lu," ujar Rai santai.


"Terus? Gue harus peduli? Gitu?" tanya Reyna sewot, "nggak penting amat."


"Ya ampun Na, ini masih pagi, jawabnya santai dibarengi dengan senyuman bisa kan?" saran Rai.


Bukannya menjawab, Reyna malah memutar bola matanya malas dan segera melenggang pergi dari sana.


"Oi Na!" sahut Rai dari arah bangkunya.


"Makin aneh aja lu Na, makin hari," ujarnya sambil geleng-geleng kepala.


...----------------...


Tak hanya hari itu saja, hari-hari berikutnya Reyna masih merasakan hal yang sama. Dia juga menceritakan hal ini kepada Lia dan langsung mendapatkan ucapan pedas dari yang bersangkutan.


Belum lagi, dia harus meladeni Nara yang terus-menerus memintanya untuk menemaninya pada saat latihan basket.


Ingin rasanya Reyna menghilang dari sana sekejab saja, dia lelah dengan semuanya.


Hari ini adalah hari dimana Nara akan membuktikan ucapannya waktu itu. Pertandingan persahabatan sekolah mereka dan SMA Melati.


Saat ini, Reyna tengah duduk di kursi penonton dengan wajah datar nya. Sementara orang-orang di sekitarnya sedang bersorak sorai mendukung tim favoritnya.


Jujur saja, dia sangat malas dan tidak tertarik dengan pertandingan itu. Dia hanya ingin segera pulang dan langsung merebahkan diri di kasur kesayangannya, tak lupa menonton serial anime favoritnya.


"Haaa... Rame amat dah. Mana berisik lagi," gumamnya kesal.


Di saat dia sedang kesal, kedua tim yang akan bertanding sudah memasuki lapangan. Dia bisa melihat para murid perwakilan dari sekolahnya di sana. Namun, pandangannya hanya fokus pada satu orang, Nara. Dia melakukannya bukan karena terpesona seperti orang-orang di sekitarnya yang tengah menatap Nara. Melainkan karena orang itu yang memintanya untuk datang, jadi untuk apa dia memperhatikan yang lain?


Dia bisa mendengar jeritan para anak perempuan yang sedang menatap Nara. Dia juga bisa mendengar pembicaraan mereka yang akan meminta nomor Nara setelah pertandingan selesai.


"Apa gantengnya coba tuh anak? Biasa aja tuh, mereka keknya harus periksa mata deh. Buat rencananya mendingan jangan direalisasikan deh mbak, takutnya mbak nya langsung transit beda dunia saking terkejutnya liat muka seramnya," batin Reyna sambil menatap kelompok anak perempuan tersebut.


Peluit wasit telah berbunyi menandakan pertandingan telah dimulai. Reyna melihat tim sekolahnya saling mengoper. Ketika bola berada di tangan Nara, dia tanpa ragu langsung melakukan shoot dan berhasil mencetak angka.


Pada saat berhasil, dia langsung mencari keberadaan Reyna, dan setelah menemukannya dia langsung tersenyum.


Karena hal itu, Reyna bisa mendengar suara jeritan para anak perempuan di sebelahnya, dia hanya bisa mendengus kesal. Sedangkan kelompok anak perempuan di belakangnya saling mengatakan jika Nara tengah tersenyum pada mereka.


Tak berapa lama kemudian dia mulai fokus dengan pertandingan tersebut. Bahkan dia hendak bersorak ketika tim sekolahnya berhasil mencetak skor, tetapi dia menahannya. Karena image nomor satu dalam hidupnya.


...----------------...


Setelah pertandingan berakhir Reyna segera keluar meninggalkan bangku penonton dan berjalan ke arah parkiran. Dia memutuskan untuk menunggu Nara di sana, sebab dia kurang nyaman bertemu dengan rekan setim Nara, jika saja ada Alan dia pasti akan menghampirinya segera setelah pertandingan selesai.


Sudah sekitar 10 menit dia berada di sana, orang yang ditunggunya tengah berjalan menghampirinya dengan senyuman penuh kemenangan tercetak jelas di wajahnya.


"Gimana pertandingannya? Seru kan?" tanyanya dengan penuh kegembiraan.


Mendengar jawaban tersebut, senyuman di wajah Nara semakin lebar.


"Seruan mana sama futsal?"


"Futsal," jawab Reyna dengan wajah polosnya.


Seketika senyuman Nara pudar dari wajahnya. Dan memilih untuk mengajak Reyna pulang, karena sebentar lagi akan masuk waktu magrib.


Sepanjang perjalanan mereka hanya diam, padahal ketika mereka berangkat Nara terus mengoceh tidak jelas tentang kemampuan basketnya. Dia bahkan bilang jika tim nya akan meraih kemenangan hari ini.


"Nar!"


"Hm"


"Kok lu diem? Biasanya kan lu selalu pamer."


"Nggak papa, capek aja."


Reyna tidak bertanya lagi dan kembali memilih untuk diam.


Setibanya di rumah Reyna, Nara masih diam dan hanya mengangguk ketika Reyna berterimakasih, lalu pergi begitu saja dari sana.


Malam harinya, Reyna memilih untuk menghubungi Lia, karena dia selalu bisa memberikan solusi kepadanya.


"Hallo, Li"


Kenapa?


Segara setelahnya, dia langsung menceritakan segalanya kepada Lia.


Bego!


"Lah? Kok lu ngatain gue sih? Gue ada salah apa?" ucap Reyna kesal.


Pokoknya lu bego! Tol*l tau nggak!, ucap orang di seberang sana dengan kesal.


"Lu kok marah-marah nggak jelas? Mana maki-maki lagi," tanya Reyna bingung.


Terus? Lu nggak ada muji dia setelah tanding atau ngomong apa kek gitu?


"Hmmm....," Reyna terlihat berfikir sebentar, "nggak ada."


Fix! Lu emang bodoh! Tol*l lagi! Udah mati aja sono lu!, ucap Lia semakin kesal.


"Lu apaan sih? Kok jadi kek gini?"


Lu yang apa-apaan?! Lu tau kalau Rai nggak suka sama lu, dan lu tau kalau lu itu bukan tipenya! Dan kemaren dulu lu bilang, kalau lu suka lagi sama dia?! Hah! Mikir dong! Buka hati lu, liat! Di sekitar lu masih ada orang yang care sama lu atau nggak!


Reyna terdiam mendengarkan ocehan Lia.


"Kok jadi bahas Rai sih? Emang apa hubungannya?" batinnya bingung.


Jangan cuman stuck di satu orang doang, nggak ada salahnya lu buka hati lo, paham?, ucapnya dengan nada normal seperti biasanya.


"Mau dibuka buat siapa neng? Boro-boro ada yang suka, yang tertarik aja nggak, udah nggak usah marah-marah nggak jelas, ntar muka lu bisa keriput."


Reyna mendengar hembusan nafas kasar dari seberang sana.


Perasaan nggak peka lu emang udah nggak tertolong sih.


"Apaan sih? Tiba-tiba bahas peka nggak peka, random banget lu."


Terserah lu mau ngomong apaan, yang jelas gue cuman mau bilang. Coba lu perhatiin orang-orang yang ada di sekitar lu, mungkin lu bakalan nemu jawaban dari pertanyan "mau dibuka buat siapa?".


Belum sempat Reyna menimpali ucapan Lia, yang bersangkutan sudah memutuskan sambungan tanpa permisi.


...----------------...


Mohon saran dan kritiknya semua🙏😊


Agar saya bisa memperbaiki tulisan saya ini


Terima kasih kepada pembaca yang sudah mampir untuk membaca hasil tulisan saya 🙏😊


💜💜💜💜💜💜💜