
"Si Reyna ngeselin banget sih, bisa-bisanya dia cuman minta maaf lewat chat doang! Ngomong langsung lagi bisa kan?!" Ucapnya kesal.
Tuk!
Nara menendang kaleng minum di dekatnya dan tanpa sengaja mengenai orang di depannya.
"Apa?! Mau marah lu sama gue?! Hah?!" Ucapnya kesal sambil menatap tajam ke arah orang itu, lalu pergi begitu saja tanpa meminta maaf. Sedangkan anak tersebut hanya bisa menatap Nara dangan heran dan memilih untuk memunggut kaleng minuman tersebut.
Nara terus berjalan sampai di taman sekolah yang sejuk dan damai. Dia pun segera menghampiri bangku kosong yang ada di sana dan langsung berbaring di atasnya sambil menutup matanya dengan lengan sebelah kanan.
Di sisi lain
"Si Nara kenapa sih? Ngeselin banget!"
"Kalau ada masalah bilang dong, jangan main ngutik jidat aja dong. Mana ngelakuinnya make sekuat tenaga lagi. Ngeselin banget, banget banget." Ucap Reyna kesal.
"Gue ke taman belakang deh, kan enak tuh ngadem." Ucapnya santai.
Reyna pun langsung menuju ke sana sambil bersenandung pelan.
"Reyna" Sahut seseorang.
Reyna pun menghentikan langkahnya dan menengok ke belakang, dia melihat Tania yang sedang berlari ke arahnya.
"Na." Ucapnya ketika tiba di dekat Reyna.
"Kenapa Tan?"
"Lu liat Nara nggak?"
Reyna memutar bola matanya malas sambil menyapa kesal ke arah Tania.
"Nggak tau!" Jawabnya kesal "Kenapa sih?! Setiap ada yang nyariin si Nara selalu aja nanya ke gue?! Emang gue selalu barengan sama Nara apa? Gue itu bukan temannya, ngapain selalu nanya dua ke gue. Ngeselin banget tau nggak?!" Ucapnya kesal.
"Sorry Na, gue nggak maksud buat ganggu lu. Soalnya gue nggak nemu di dalem kelas, kalu aja lu liat dia dimana gitu." Jelas Tania.
"Oh gitu, dia nggak ada di kelas kan?"
"Iya."
"Okay deh, gue ke kelas aja kalau gitu. Oh iya gue nggak ada liat si Nara dari tadi. Btw thanks ya, jadi gue nggak perlu ke taman sekolah lu.
"Okay, thanks ya."
Mereka pun segera berpisah dan segera melangkah menuju ke tujuan masing-masing.
"Tania!" Seru Reyna yang membuat Tania berhenti dan menengok ke arahnya.
"Coba liat di taman sekolah, kali aja dia ada di sana!" Ucapnya dan langsung mendapat anggukkan dari Tania.
...----------------...
Sesampainya di taman Tania langsung mengedarkan pandangannya ke segala arah. Tak butuh waktu yang lama, dia sudah menemukan sosok yang dia cari. Tania pun segera menghampirinya.
Dia berdiri tepat di bagian atas kepala Nara, dia bisa melihat yang tengah berbaring sambil menutup matanya dnegan lengannya. Bukannya memanggilnya, dia malah terus menatap nya.
"Natap gue biasa aja dong, gue tau kok kalau gue ganteng." Ucap Nara sambil menurunkan lengannya dan menatap langsung ke mata Tania. Hal itu pun langsung mengejutkan Tania dan membuatnya salah tingkah.
"Apaansih Nar! Pede banget." Ucapnya sambil membuang wajahnya ke samping.
"Lah, dari tadi lu liatin gue mulu, berarti gue ganteng dong. Gimana sih."
"Ya... Gue kan ngeliat lu itu karena lagi mikir, gue harus bangunin lu atau nggak. Nggak usah kepada deh." Ucap Tania kesal.
"Oooooo."
"Nara."
"Hm."
"Bangun gih."
"Lah? Ini gue udah bangun kali, buta lo?!"
Tania pun menghembuskan nafasnya kasar dan menatapa kesal ke arahnya.
"Gue tau lu bego Nar, tapi bisa tolong dikondisiin nggak begonya?! Bandan lu itu nutupin semua bagian kursinya tau dan gue mau duduk!" Ucapnya kesal.
"Oohhhh... Bilang dong kalau mau duduk, kan lu punya mulut. Susah amat." Ucapnya santai sambil mengubah posisinya ke posisi duduk.
"Lu tuh kenapa sih ngeselin banget?! Sekali-kali nggak ngeselin bisa nggak?!" Ucapnya kesal sambil duduk di dekat Nara.
"Aduh! Emang ye cewek, apa aja salah dimatanya. Nggak habis fikir gue, walaupun kakak gue cewek sih."
"Nara, cewek itu maunya dingertiin. Lu harus paham dong, peka kek."
"Ihhhhh! Lu tuh ya makin ngeselin aja tau nggak, gue kira belakangan ini lu bakalan berubah jadi lebih ramah semenjak teman-teman lu ikut program pertukaran pelajar, taunya masih sama, bahkan malah lebih ngeselin." Omelnya.
Tania pun menatap Nara yang juga tengah menatapnya sambil tersenyum. Dia merasakan jantungnya mulai berdebar.
"Lu kangen sama gue?" Tanya Nara dengan raut wajah yang serius.
Dag!
Dig!
Dug!
"Aduh jantung, jangan sekarang dong. Kalau dua denger gimana?" Batinnya.
"Nggak tuh, gue b aja." Ucapnya sesantai mungkin guna menutupi debaran jantungnya.
"Udahlah Nia, jujur aja kalau lu kangen sama gue, nggak usah boong."
"Iya gue kangen sama lu Nar, tapi... Nggak mungkin gue bilang, kan malu Nar." Batinnya.
"Gue tau Nia, gue itu baik, pintar, rajin nabung dan ramah lingkungan." Ucapnya percaya diri.
Tania langsung menatapnya datar walaupun jantungnya sendiri masih berdebar. "Nggak usah ngomongin hal diluar nalar deh Nar. Malas tau nggak." Ucapnya datar.
"Astagfirullah, natapnya biasa aja kali. Ini fakta Ni, gue masuk ke sini tuh dapat juara 1 loh, terus gue populer juga dikalangan ciwi-ciwi, gue juga ramah sama penjaga kantin dan penjaga sekolah. Bener kan?"
Bukannya menjawab Tania malah menatapnya datar.
"Hadeh... Biasa aja kali liat gue." Ucap Nara santai.
"Duh! Gue dari tadi ba aja tuh ngeliatin lu."
"Iya deh iya, cewek selalu benar."
"Itu lu tau."
"Nar"
"Apaan?" Tanya Nara sambil menengok ke arah Tania.
"Lu kenapa tiba-tiba pergi gitu aja dari kantin? Lu ada masalah?"
"Nggak ada, lagi pen cabut aja sih."
"Yakin?" Tanya Tania untuk kedua kalinya dan mendapat anggukkan dari Nara.
"Kalau lu butuh temen ngobrol, lu bisa ngasih tau gue, okay?" Ucap Tania
"Iya-iya. Lu kek pembeli aja make nawar-nawar." Nara pun tertawa kecil, sedangkan Tania hanya bisa mendengus kesal.
Walaupun begitu dia sangat senang, sebab sudah cukup lama dia tidak mengobrol seperti itu bersama Nara. Ralat, ngobrol sambil berantem.
"Thanks Nar, gue akhirnya bisa ngobrol berdua sama lu plus berantem dikit karena gue yang sensi. Tapi, gue seneng banget. Gue bakalan berusaha supaya lu bisa buka hati lu buat gue." Batin Tania senang.
"Nar nanti kapan-kapan kita balik ke toko kue yabg waktu itu yuk!" Ajak Tania sambil tersenyum manis kepada Nara, dan dengan spontan Nara langsung meletakkan tangannya ke jidat Tania.
"Lu sakit Ni?" Tanyanya dengan wajah kebingungan.
Plak!
Tania memukul lengan Nara cukup kuat. Namun, bukannya mengaduh kesakitan Nara malah tertawa terbahak-bahak dan hal tersebut membuatnya semakin bertambah kesal.
"Hahaha... Lu mukul gue make tangan apa make bulu sih? Nggak berasa tau nggak." Ucapnya sambil mengejek. Tania hanya bisa menatapnya kesal karena jika dia membalas ucapan Nara, bisa-bisa darahnya naik keluar menembus tengkorak kepalanya.
Tak sampai di situ Nara kembali melontarkan ucapanya sambil tertawa. "Nia, lu dirumah kurang makan ya? Hahaha... Nak holkay masa kurang makan, nggak mungkin lah yah."
Cukup! Tania sudah tidak tahan dengan manusia menyebalkan ini. "Lu mau gue pukul lagi? Hm?"
"Jangan deh, ntar tulang lu patah lagi pas mukul gue. Soalnya tulang lu rapuh kek kayu dimakan rayap." Setelah mengucapkan kata tersebut, Nara langsung lari dari sana sambil tertawa.
Tik!
Batas kesabaran Tania sudah putus, dia pun mengejar Nara dengan sekuat tenaga dan terjadilah aksi kejar-kejaran seperi Tom & Jerry.
...----------------...
Mohon saran dan kritiknya semua🙏😊
Agar saya bisa memperbaiki tulisan saya ini
Terima kasih kepada pembaca yang sudah mampir untuk membaca hasil tulisan saya 🙏😊
💜💜💜💜💜💜💜