
"Taniaaaaaaa" Seru Reyna sambil berlari dan menghampirinya.
"Nih, makasih ya" Reyna menyerahkan sebuah tas kain kepadanya.
"Hah? Apaan nih Na?" Tanya nya bingung tetapi menerima tas tersebut.
"Itu, hoodie temen lu yang gue pinjem di UKS kemarin" Jelas Reyna
"Oalah... Okay deh. Makasih Na"
"Gue kali yang harus bilang makasih"
Tuk!
"Ngobrolnya nanti di kelas aja kali" Ucapnya santai sambil tersenyum setelah memukul kepala Reyna, dan melewatinya.
"Elah... Rai Rai. Ntar si Reyna makin ogeb gimana?" Celetuk Lia yang berada di belakangnya bersama dengan Valisha.
"Pagi Na, Tan"
"Hm"
"Pagi Valisha"
"Kita duluan ya, Tan, Na" Ucap Valisha yang langsung mendapatkan anggukkan dari mereka.
"Lanjut kelas yuk!" Ajak Tania
"Sip"
"Kalian ke sini naik apaan?" Tanya Tania
"Waktu pertama dateng naik bus sekolah sih, tapi agak muter jauh sih. Karena udah beberapa pekan di beberapa hari di sini jadi jalan kaki aja. Nggak jauh juga jaraknya dari rumah sewaan kami." Jelas Reyna
"Gitu ya"
"Pagi my lovely" Ucap Nara dengan lembut dan hangat, ketika melihat Reyna dan Tania berada di tempat parkir sekolah.
Leon, Gabriel, dan Tania terkejut mendengar ucapan Nara, sedangkan Reyna hanya menatapnya datar.
"Dih! Apaan lu?! Masa lu manggil pacaran orang make lovely lovely! Gila lu!" Protes Reyna kesal dan langsung pergi dari sana meninggalkan Tania yang masih bingung dengan keadaan.
"Rey"
"Na"
"Wah di cuekin nih, gue duluan ya bray. Bye, Bye Tania" Ucapnya dan langsung berlari menyusul Reyna yang sudah hilang dari pandangannya.
"My lovely? Nara suka sama Reyna? Masa sih? Tapi, kok, gue ngerasa nggak nyaman sama ucapannya dua barusan. Gue kenapa sih?" Batin Tania bingung.
"Oi Tan, gue tau lu bingung dan ngerasa aneh sama kek kita. Tapi, lu mau sampe kapan berdiri di situ" Tegur Leon yang sudah berada di depan nya bersama dengan Gabriel.
Hal itu membuatnya tersentak, dan kembali kedunia nyata.
"Terkejut sih boleh, asal jangan jadi patung" Tambah Gabriel.
"Lu apaan sih Lel, gaje tau nggak" Ucapan Tania sambil tersenyum dan berjalan bergabung bersama mereka berdua.
...----------------...
"Na, Na"
"Ah bukan, bukan... Nara"
Perkataan Nara membuat Reyna menghentikan langkahnya.
"Dari tadi kek"
"Lu ngapain manggil nama lu sendiri? Sarap ya lu?" Tanyanya heran.
"Enak aja, gue waras kok"
"Lah, terus itu apaan tadi?"
"Gue kan manggil nama lu"
"Hah? Nama gue?"
Reyna makin bingung dengan jawaban yang dilontarkan oleh Nara yang tengah tersenyum di hadapannya.
"Keren kan? Biar couple samaan kek gue. Hehehe..."
"Coupelan apaan? Ngawur lu" Ucapnya dan segera pergi meninggalkan Nara dan langsung masuk ke dalam kelas.
"Yaelah... Ditinggal lagi gue" Ucapnya sambil tersenyum dan menggelengkan kepalanya seraya melanjutkan langkah menuju kelasnya.
Sementara itu, dari kejauhan Leo, Lel, dan Tania terdiam melihat pemandangan yang barusan ada di depan mata mereka.
"Harus ya kek gitu?" Ucap Tania tanpa sadar memecahkan keheningan diantara mereka bertiga.
"Huh?! Maksud lu?" Tanya Leon penasaran
Mendengar pernyataan dari Leon membuat Tania bingung sendiri.
"Hah? Apaan Yon?" Tanyanya
"Itu yang lu sebutin tadi"
"Lah, gue nggak ngomong apa-apa tuh, cuman diem doang gue dari tadi. Halu lu Yon, bener kan Lel?" Tanya nya kepada Gabriel berharap mendapatkan persetujuan.
"Lu suka Nara kan?" Tanya Gabriel to the point.
Deg!
Deg!
"L-l-lu ngomong apaan sih, nggak mungkin lah" Jawabnya gugup.
"Tapi, belakangan ini gue sering liat lu perhatiin si Nara tuh" Tambah Leon yang semakin membuat Tania gugup.
"Salah liat kali lu berdua, nggak mungkin lah gue merhatiin si Nara, apalagi sampe suka. Ngawur lu pada" Protes nya dan setelahnya langsung pergi meninggalkan mereka berdua di sana.
"Hmmm... Laku juga tuh si Nara" Ucap Reno santai yang membuat kedua anak lelaki di sampingnya terkejut.
"Astagfirullah, lu kalau datang nyapa dulu dong atau nggak ngucapin salam." Ujar Gabriel sambil mengelus dadanya.
"Tau nih, untung jantung gue kuat" Tambah Leon.
"Sorry, bro dari tadi kita liat lu bertiga lagi serius ngobrolnya. Bener nggak Lan?"
"Bener banget" Jawab Alan menyetujui pernyataan Reno.
"Btw, emang si Nara nggak pernah ditaksir cewek apa?" Tanya Gabriel penasaran.
"Pernah sih, tapi nggak ada yang nyantol di hatinya" Jawab Reno santai.
"Seriusan?" Tanya Leon
"Hooh, seriusan ini" Jawab Alan.
"Kok bisa si?" Tanya keduanya kompak.
"Karena dia nggak tertarik sama cewek. Kita doain deh semoga temen lu bisa buka pintu hatinya si Nara" Jelas Reno dan langsung mendapat anggukkan dari Alan.
"Okay deh, kita berdua juga mau ngedukung si Tania sama Nara. Keknya dia belum nyadar aja deh sama perasaannya. Kalian mau bantu nggak?" Tawar Leon.
"Gimana Lan?" Tanya Reno
"Hmm... Gue nggak ikutan deh, kalian aja" Tolak Alan.
"Kenapa?" Tanya mereka bertiga kompak.
"Nggak papa, gue males aja ngurus urusan begitu. Tenang aja gue bantu doa kok" Jelasnya.
"Okay, kalau lu nggak mau nggak papa sih, lu gimana No?" Tanya Leon.
"Gue bantuin, tenang aja" Jawab Reno dengan semangat.
"Yaudah... Kalau gitu kita ngobrolin ini di kantin aja yok. Kebetulan hari ini jam pelajaran pertama kosong" Saran Gabriel
"Gaskeunnn" Sahut mereka bersamaan.
...----------------...
Di dalam kelas
"Nara"
"Nara"
"Nara"
"Ni anak kenapa lagi sih? Obatnya habis apa gimana? Rusuh bener!" Batinnya kesal.
"Nara kalau dipanggil nengok dong, jangan di cuekin dong" Ucapnya dari belakang sana.
"Nar, lu salah makan apa gimana?" Tanya Rai dengan nada bercanda nya.
"Bukan urusan lu" Jawabnya dingin.
"Lah, gue salah apa?" Tanya nya pada diri sendiri.
Tuk!
Rai menendang pelan kursi Reyna, dan memberi kode padanya untuk segera mengikutinya. Setelah itu, Reyna pun mengikutinya.
Nara yang melihat hal tersebut hendak menyusul keduanya, tetapi Lia dan Valisha menahannya.
"Nggak usah ganggu deh!" Ucap Lia sebagai peringatan.
"Udah sih, biarin aja. Nggak usah ganggu deh!" Protes nya.
Lia yang kesal bangkit dari posisi duduknya dan menarik Nara keluar kelas, meninggalkan Valisha sendirian di sana.
"Yah... Gue ditinggalin. Nasib, nasib"
"Lis" Seru Nana dari bangkunya.
"Gabung sini aja!" Ajak Nana.
Valisha yang ditinggal oleh teman-temannya pun segera pergi ke sana dan bercengkrama dengan mereka.
...----------------...
Di Taman Sekolah
"Kenapa bro?" Tanya Reyna segera setelah mereka tiba di sana.
"Gue mau bahas soal pernyataan lu waktu itu"
Deg!
"Hadeehhh... Oi Jantung, tolong dong jangan katro deh kalau ngeliat si Rai dari dekat. Udah sering ketemu juga. Padahal kemaren nggak ginu deh." Batinnya.
"Oi" Ucap Rai membuat Reyna kembali tersadar dari pikiran nya.
"Hm? Gimana?"
"Ucapan lu waktu di belakang sekolah sebelum ke sini. Itu seriusan? Lu nggak ngerjain gue kan?" Tanya Rai
Bugh!
Reyna memukul lengan Rai sekuat tenaga, dia cukup kesal mendengar hal tersebut. Bisa-bisanya dia mengatakan hal seperti itu pada orang yang sudah mengumpulkan keberaniannya untuk berkata jujur.
"Aw, sakit Rey"
"Sorry, gue nggak maksud ngomong kek gitu. Beneran"
"Hm, oke"
"Sorry nih Na, gue nggak ada maksud apa-apa, tapi lu jangan marah, bisa?"
"Hm, apaan?"
"Kalau lu mau jadi pacar gue nggak papa sih, gue kasih kesempatan ke elu buat nerobos masuk hati gue" Ucapnya penuh dengan kehati-hati karena takut membuat Reyna tersinggung. "Gue nggak ngelakuin ini karena kasian sama lu ya" Tambahnya.
"Makasih tawarannya, tapi gue nggak mau jadi pacar lu kok, beneran yang gue omongin waktu di belakang sekolah bener kok." Jelasnya
"Hmm... Okay."
Terjadi keheningan di sana sebab tidak ada yang membuka pembicaraan.
"Rai"
"Kenapa?"
"Lu masih mau kan temenan sama gue?" Tanya Reyna serius.
"Lu nanya apaan sih? Hah? Selama ini lu anggap gue apaan namanya Na kalau bukan teman?"
"Nggak, maksud gue. Kan Lu tau gue suka sama lu, lu masih mau nggak temenan sama gue. Soalnya ada beberapa orang di luaran sana yang tadinya temenan, tapi setelah salah satunya ngungkapin perasaan sukanya. Mereka udah nggak temenan lagi. Makanya gue nanya kek gitu sama lu"
"Oh gitu. BTW, kalau lu butuh bantuan atau teman ngobrol, lu bisa hubungin gue"
"Sip. Makasih Rai"
"Yooi..... Dan soal ucapan yang lu bilang kalau kita berdua pacaran sama anak-anak waktu itu, biarin aja. Cukup lu dan gue aja yang tau kalau itu bohong."
"Lah? Kok gitu?"
"Soalnya anak cewek di sekolah sini pada suka ngedeketin gue. Gue risih Na"
"Oalah... Okay dah."
"Sekalian gue juga udah nemuin sesuatu yang menarik" Ucapnya sambil tersenyum manis.
"Apaan?" Tanya Reyna penasaran.
"Kepo lu" Ucap Rai mengejek dan langsung pergi dari sana dengan berlari dan di susul oleh Reyna.
...----------------...
Di belakang sekolah
"Ngapain ngajak gue ke sini?! Mau duel lu sama gue?!" Tanyanya kesal.
"Hadeehhh... Santai dong. Galak amat kek gitu tetangga gue" Sahut Lia tak kesal.
"Oi Nar, di sini nggak ada bangku atau tempat duduk apa?" Tanyanya.
"Ada"
"Mana?"
"Nih, rumput" Ucapnya sambil menunjuk ke bawah.
Ctak!
Lia menjitaknya dengan sekuat tenaga, sedangkan yang bersangkutan hanya bisa mengadu kesakitan sambil mengelus kepalanya yang menjadi sasaran kemarahan Lia.
"Parah lu Li, laki berkulit perempuan lu" Cibir nya kesal.
"Makanya nggak usah mancing-mancing deh!"
"Iya, iya maap. Btw ngapain lu nyeret gue ke sini?" Tanyanya penasaran.
"Lu suka sama Reyna?"
"Hooh"
"HAH!" Lia terkejut mendengar jawaban Nar.
"Aduh! Biasa aja dong, nih telinga nggak ada cadangannya, kalau rusak lu mau ganti apa?" Ucapnya sambil mendengus kesal.
"Sorry, sorry, gue nggak bermaksud kek gitu. Gue cuman kaget aja sama jawaban lu, padahal gue cuman nanya asal doang" Jelas Lia.
"Lu seriusan suka sama Reyna?"
"Iya, gue serius"
"Lu nggak bohong kan?"
"Nggak lah, memangnya gue lu apa, tukang bohong"
"Heh, gue bukan tukang boong ye" Protes Lia kesal
"Lah itu tadi apaan? Lu bilang mu iseng doang ngasih pertanyaan itu ke gue, bullshit tau nggak. Gue tau kok pengamatan lu itu selalu akurat, lu nanya cuman buat buktiin pengamatan dana asumsi lu kan?"
"Iya deh iya, yang lu bilang bener. Sejak kapan?"
"Nggak tau"
"Lah, aneh lu!"
Nara hanya menatapnya kesal.
"Terserah lu deh mau bilang apaan, yang jelas kalau lu minta gue buat jauhin dia, gue nggak mau" Ucapnya tegas.
"Yeee... Siapa juga, yang mau nyuruh lu buat jauhin dia. Gue cuman mau ngasih tau kalau hatinya Reyna udah buat orang lain, jadi lu harus kuatin hati lu aja"
"Gue tau kok"
Perkataan Nara membuat Lia bingung, pasalnya Reyna menutup rapat-rapat soal perasaannya itu. Dia bahkan tidak memberi tahukan hal ini pada sahabat nya yang lain, selain Lia.
"Kalau lu emang tau, siapa coba?" Tantang Lia
"Raihan Aldo Pratama. Bener kan?"
"Katanya tau, kok nanya?"
"Udah deh tinggal jawab iya aja susah amat. Gue juga tau kok kalau Reyna udah ngasih tau ke Rai soal perasaannya" Ucap Nara santai
"Kok lu tau sih?" Lia menatap bingung ke arahnya dan Nara menatapnya santai sambil tersenyum ke arahnya.
"Alan kan?"
"Kok lu nanya sih?" Ucapnya santai
"Tinggal jawab iya aja susah amat sih lu."
"Bodo amat!"
"Alan tau dari mana btw?"
"Bentar, ini lu seriusan kita ngobrol berdiri kek gini? Kaki lu nggak pegel emang?"
Lia memutar bola matanya malas, sudah cukup lama mereka berada di sana, kenapa baru sekarang dia menanyakan hal itu.
"Dasar bego! Gue tau peka lu cuman buat Reyna seorang" Cibir Lia kesal.
"Hehehe... Bener kok" Ucapnya sambil tersenyum lebar.
"Dasar gila!"
"Serah deh, btw ini lu beneran nggak capek apa berdiri? Gue seriusan nanya nih."
"Nggak sans aja, udah lanjutin buru. Jangan ngalihin pembicaraan deh lu."
"Jadi, waktu Reyna ngungkapin perasaannya ke Rai si Alan kebetulan lagi piket di belakang sekolah dan tanpa sengaja dia denger, terus dia ngasih tau ke gue dong. Begitu!" Jelas nya.
"Oh, btw jangan bilang lu juga nyuruh Alan buat ngajak Reno sama Rai ke sini?" Tanya sambil menatap penuh selidik ke arah Nara.
"Nggak lah, kalau mereka berdua mah emang mau ke sini kali, barengan sama Alan."
"Berarti yang minta si Alan buat mohon-mohon dan minta bantuan ke gue biar Reyna ikut itu elu?"
"Nggak tuh, itu inisiatifnya dia doang"
"Wahhhh.... " Ucapnya sambil bertepuk tangan.
*Prok!
Prok!
Prok*!
"Lu kenapa sih? waras lu?"
"Alhamdulillah iya, gue nggak nyangka si Alan punya inisiatif kek gitu. Diam-diam ngerencanain temen ketemu gebetan! Boleh juga tuh anak"
"Lia, gimana caranya dia ngebujuk lu?"
"Dia nggak ngebujuk gue langsung"
"Lah, terus?"
"Di ngebujuk lewat cowok gue, dia ngasih tau ke cowok gue katanya ada manga Jepang yang bakalan rilis bulan ini di Semarang dan cowok gue penasaran sama tuh manga. Dia mohon-mohon ke gue buat pergi pertukaran pelajar ke sini soalnya dia nggak bisa. Katanya ada tanding bola, dan gue tolak dong. Tapi dia terus usaha, dan akhirnya gue luluh. Alhasil gue ada di sini deh" Jelas Lia.
"Jauh-jauh ke sini cuman gegara manga buat pacar lu? Dasar bucin kolbog! Hahahaha...." Ucapnya mengejek sambil tertawa.
"Serah lu deh Nar, terus lu tau nggak pas gue datangin tempat yang di bilangnya tempat perilisan tuh manga"
"Apa tuh?"
"Manga nya nggak ada, dan ternyata gue ditipu."
"HAHAHAHAHA...."
Nara tertawa terbahak-bahak mendengar cerita Lia.
"Cerita lu datang ke sini gegara Alan ngehasut pacar lu sama endingnya nggak masuk akal tau nggak, haduhh.... perut gue sakit" Ucapnya masih tertawa ringan.
"Terserah mau masuk akal atau nggak, gue nggak peduli. Berarti si Alan selalu ngasih tau ke elu dong soal si Reyna."
"Hooh"
"Wahhh.... Si Alan."
"Nggak nyangka kan lu?" Tanya Nara sambil tertawa tanpa suara.
"Hooh"
"Ya sama, gue juga"
"Iya iya, tapi lu berenti ketawa deh. Kesel gue liatnya."
"Iya-Iya, balik yuk" Ajak Nara.
"Kuy lah"
...----------------...
Mohon saran dan kritiknya semua🙏😊
Agar saya bisa memperbaiki tulisan saya ini
Terima kasih kepada pembaca yang sudah mampir untuk membaca hasil tulisan saya 🙏😊
💜💜💜💜💜💜💜