
"Lari lu kurang kenceng Ni." Seru Nara sambil berlari.
"Berisik lu!"
Mereka berdua terus berlari menuju ke arah kelas mereka. "Haduh Ni! Kita udah deket nih sama posisi kelas dan lu nggak bisa nangkap gue? Cemen lu." Ucapnya mengejek lalu membalikkan badan nya menghadap Tania dan berlari dengan cara mundur ke belakang.
"Awas aja lu!" Seru Tania kesal, diapun semakin mempercepat kecepatan larinya karena jaraknya dan Nara cukup jauh.
"Hahaha... Coba aja. Bleeeeee..." Ejek Nara sambil memeletkan lidahnya.
"Kampret lu, Nar!" Teriak Tania. Lalu, dia pun berhenti sejenak untuk mengambil nafas, dan Nara yang berada di depannya juga ikut berhenti sambil mengejeknya.
"Cemen lu! Masa gitu aja capek, dikit lagi nyampe nih kita. Gue cukup lari mundur beberapa langkah aja udah langsung nyampe, lah lu? Butuh beribu-ribu langkah. Hahaha...." Ejeknya sambil tertawa meremehkan Tania.
"Cukup! Nih anak makin lama mankin ngeselin, suka banget nyari masalah!" Batinnya kesal.
"NARA! GUE PUKUL LU YA!" Teriaknya kesal dan langsung berlari dengan kencang ke arah Nara. Nara yang tadi posisinya masih tertawa, terkejut mendengar teriakan tersebut. Spontan dia pun langsung berlari dengan posisi mundur seperti tadi.
Sekarang mereka sudah dekat dengan pintu masuk kelas. Ketika dua orang tersebut tengah fokus satu sama lain dengan orang di depan mereka, terlihat seorang anak perempuan tengah keluar dari dalam kelas. Nara yang tidak memperhatikan hal tersebut langsung menabrak anak tersebut.
Bugh!
Beruntungnya anak itu berhasil menangkap Nara sehingga dia tidak jatuh ke lantai. Tania yang melihat hal tersebut langsung berhenti tepat di depan kedua orang tersebut.
Di saat yang bersamaan, teman-teman mereka tiba di sana, mereka terlihat kebingungan dengan apa yang ada di hadapannya. Namun, kedua orang tersebut malah sibuk saling menatap.
"Hadeh... Nih anak lagi! Ngerusak mood gue aja, kalau gue lepasin ntar malu lagi dia. Cih! Nyusahin aja!" Batinnya kesal.
" ****! Kenapa harus sekarang coba gue ketemu dia?! Ah! Sialan! Gue masih kesel juga sama nih anak! Tapi di satu sisi gue seneng, arrgghhh! Kampret!" Batin Nara kesal dan bingung secara bersamaan.
"Woy! Mau sampe kapan kalian kek gitu?" Sahut Rai dari arah belakang mereka.
"Tau nih. Na ingat, cowok lu ada di sini." Tambah Gabriel.
"Berisik banget sih lu! Bisa diam nggak?!" Seru keduanya judes.
"Buset! Serem amat." Protes Gabriel dan langsung memeluk lengan Alan yang berada di sebelahnya.
"Woy! Bangun gih! Nggak usah drama, gue nggak suka!" Ucap Reyna ketus.
Mendengar hal tersebut, Nara langsung tersenyum miring dan menatapnya datar. "Gue juga nggak minta lu buat nangkap gue biar nggak jatuh." Ucapnya dingin sambil berdiri dengan tegak dan menatap intens kedua bola mata Reyna.
"Apa lu liat-liat?! Ada masalah?! Hm?" Tanyanya ketus.
"Dih, apaan sih! Siapa yang ngeliatin lu coba, kek nggak ada pemandangan lain aja." Jawabnya tak kalah ketus.
"Yaudah sih, nggak usah ngeliatin gue. Risih tau nggak."
"Aduh! Eyn Eyn! Stop halu deh! Gue tau diri kali, ngapain gue ngeliatin pacar orang."
"Okay, gue lagi males ngomong sama lu. Jadi, gue ngalah aja. Dan Elu Alvaro Narendra Farras " menunjuk Nara sambil tersenyum miring " Lu harus tau, kalau lu itu udah buang-buang waktu gue dengan percuma." Setelah ucapannya selesai raut wajahnya berubah menjadi dingin dan segera pergi dari sana.
Deg!
"Ah! Kok sakit Ya?" Batinnya sambil menatap kepergian Reyna dan sekilas tersenyum miris tanpa ada yang menyadarinya.
...----------------...
Drit! Drit! Drit!
Handphone Reyna bergetar, menandakan ada sebuah panggilan masuk. Reyna pun mengambilnya dan langsung mengangkat telfon tersebut.
"Apaan?!"
"Assalamualaikum"
"Waalaikumussalam. Apaaan?!"
"Santai dong, nggak usah ngegas."
"Oh, buruan apaan?" Tanyanya judes.
"Nggak usah judes-judes kali, ntar lu naksir lagi sama gue." Ucapnya sinis sambil tersenyum miring di seberang sana.
"Gue? Naksir sama lu?" Tanyanya.
"Iya, emang salah?"
"Hahaha... Ngimpi lu Nar, tenang aja gue nggak bakalan suka sama lu kok, dan nggak akan pernah." Ucapnya sinis.
"Wah! Kejam amat kalimatnya. Dia nolak gue nih jadinya? 2 kali? Haaaaaa...." Batin Nara sedih.
"Serah lu deh. Nonton yuk!" Ajaknya.
"Nggak bisa, gue udah janjian sama Rai. Lu denger sendiri kan tadi di kantin?"
"Iya, tapi sekarang lu nonton bareng sama gue aja, okay? Besoknya baru bareng Rai." Tawarnya.
"Gue nggak bisa malam ini. Besok aja kalau lu mau nonton bareng sama gue." Tolaknya.
"Tapi gue maunya malam ini, Eyn"
"Gue nggak bisa Nar, gue udah lebih dulu janjian mau nonton bareng dia dari pada sama lu. Jadi, gue bakalan nonton bareng dia." Jelas Reyna.
"Hahaha...."
"Lu lucu Eyn."
"Apaan sih?! Nggak jelas lu."
"Lu lucu Na! Kemaren gue duluan yang ngajak lu keluar bareng, tapi lu lebih milih ikutin ajakan Valisha dari pada gue. Padahal dia baru ngajak lu pergi ketika lu udah mau berangkat nyamperin gue. Lucu tau nggak Eyn." Ucap Nara sinis dan langsung mematikan telfonnya.
Tut! Tut! Tut!
Reyna memukul pelan jidatnya. "Astagfirullah, jangan bilang dia marah karena itu?", tanyanya pada dirinya sendiri. "Aduh! Gue harus ngebujuk dia besok."
"Na, buruan yok!" Teriak Rai di luar kamar Reyna.
"Iya, bro" Reyna pun segera menghampirinya dan mereka segera pergi ke tempat tujuan mereka.
...----------------...
POV Nara
"Hahaha... Kesian amat gue." Ucapnya sambil tersenyum kecut.
"Yayaya... Senggaknya lu harus tau diri Nar, dia udah punya Rai sebagai pacarnya. Tau diri Nar." Ucapnya pada dirinya sendiri sambil tersenyum kecut.
Nara pun bangkit dari posisi duduknya dan berdiri di depan cermin, sambil menatap tajam dirinya.
"Pacar darimana?" tersenyum miring "Pacar pura-pura sih, iya."
"Pokoknya gue bakalan bisa dapetin Reyna, titik nggak pake koma." Ucapnya serius sambil menatap sosok dirinya yang terpantul di cermin.
"Masalahnya, dia bilang dia nggak bakalan pernah suka sama gue. Haaaaa...." Ucapnya frustasi "Gue kurang apa coba Na? Tinggi? iya, pintar? iya, cakep? beuh nggak perlu ditanya lagi, berduit? iya, walaupun duit punya bonyok sih. Kalau olahraga? Gue nggak kalah jago tuh sama si Rai, cuman gue nggak mau unjuk diri. Haaaaaahhh.... Tipe lu kek gimana si Eyn?" Ucapnya santai sambil mengacak rambutnya.
Ceklek!
Suara pintu kamar terbuka, Nara yang mendengar hal tesebut langsung menatap ke arah pintu.
"Apaan?!" Tanyanya Judes.
"Santai dong, kata mama besok ajak temen kelas lu datang ke rumah."
"Ngapain si Yas?"
"Mama ngundang mereka makan malam."
"Oh, okay."
"Tapi gue nggak mau!" Tolak Nara setelah diam beberapa saat.
"Serah lu deh bang, yang penting gue udah kasih tau ke elu. Btw model lu kek orang gila sih sekarang ini." Ejeknya.
Nara yang mendengar hal tersebut, langsung melemparkan barang yang ada di dekatnya. Dengan gesit, Yasa menghindari lemparannya dan langsung lari dari sana.
"Haaa.... Untung gue lagi nggak fokus, coba aja kalau gue fokus, udah pasti kena dia tuh." Ucapnya santai sambil berjalan ke dekat tempat tidurnya dan langsung berbaring di sana. "Emang ye, kasur itu tempat healing terbaik."
Ceklek!
"Aduh! Apaan lagi sih?!" Serunya kesal sambil bangkit dari posisi tidurnya, lalu duduk menatap pintu kamarnya. yang terbuka.
"Santai bang."
"Buruan apaan?"
"Bagi nomer kak Reyna dong bang."
"Buat apaan?" Menatap Yasa curiga.
"Mau ngajak main PS bang, mumpung dia ada di sini. Kan udah lama kita berdua nggak main PS bareng."
"Oh."
Yasa pun masuk ke dalam sana dan menyodorkan tangannya. "Apaan nih?" Tanya Nara bingung.
"Nomernya kak Reyna."
"Ogah! Keluar gih!" Tolaknya sambil mengusir sang adik pergi dari sana.
"Nggak!" Tolak Yasa "Ayolah bang! Cuman nomer kak Reyna doang kok. Habis itu aku langsung keluar, beneran." Bujuk Yasa.
Nara pun segera berdiri, lalu menyeret paksa sang adik keluar dari sana dan langsung mengunci pintu nya. Dia juga tidak memperdulikan adiknya yang tengah berteriak sambil menggedor-gedor pintunya.
"Kalau lu minta nomernya dia, nanti dia tau dong kalau Yasa yang pernah ngechat dia dulu itu bukan lu." Gumam Nara.
"Mana susah lagi ngebujuknya kalau dia marah."
...----------------...
Mohon saran dan kritiknya semua🙏😊
Agar saya bisa memperbaiki tulisan saya ini
Terima kasih kepada pembaca yang sudah mampir untuk membaca hasil tulisan saya 🙏😊
💜💜💜💜💜💜💜