
"Ahhh! Badan gue panggil banget" Ucap Reyna sambil membantingkan dirinya ke kasur.
"Cih! Baru juga latihan silat sehari. Masa udah capek? Cemen lo!" Cibir Lia sambil meletakkan tasnya di atas meja belajarnya.
Saat ini Reyna tengah berada di rumah Lia dengan maksud untuk menemaninya tinggal sementara, sebab kedua orang tuanya berada di luar kota untuk menghadiri acara keluarga, kakak beserta adiknya pun ikut bersama orang tua mereka, hanya Lia saja yang tinggal di rumah, katanya malas, lagi banyak ujian, dan alasan-alasan lain yang dia buat.
"Hello! Nona Lia, ini tuh reaksi badan gue. Lu kira enak apa udah 2 bulan nggak latihan. Pasti otot gue pada kaget ini"
"Ya elah, itu salah loh sendiri lah. Nggak datang latihan"
"Emang selama 2 bulan kemarin lu latihan apa?"
"Nggak, sibuk sama kegiatan OSIS, pertemuan tiap hari sepulang sekolah dan nggak tau ngapain"
"Terus pas jadi anggota, makin ribet ya Li?"
"Nah! Itu lu tau, pinter lo"
"Iya dong, Reyna"
"BTW, bonyok lu ngizinin lu kan?"
"Hooh"
"Seriusan?"
"Yaiyalah... Kalau gue nggak diijinin, masa gue lagi rebahan di kasir lo sih? Ege!"
"Kan nggak ada salahnya nanya, kali aja lu kabur dari rumah, ya kan?"
"Gue tau gue rada gila, tapi akhlak gue masih bagus tau. Selama restu nyokap di tangan, bokap mah ngikut ae" Ucapnya dengan senyuman bangga.
"Iya deh"
"Udah sono mandi, lu bau keringat tau" Ucapnya sambil menutup hidungnya. Lia mendengus kesal mendengar ucapan Reyna, walaupun itu sebenarnya fakta.
Tring!
"Siapa sih?! Ganggu aja!" gerutunya kesal dan memilih untuk mengabaikan notifikasi pesannya.
Kali ini nada dering handphone nya berbunyi yang menandakan sebuah telfon dari seberang sana. Dengan kesal ia meraih handphone nya yang terletak di sebelah kanannya. Dia mengerutkan keningnya ketika, melihat panggilan masuk itu.
"Siapa sih? Kok nggak ada namanya?"
Cukup lama ia berfikir apakah harus mengangkatnya atau tidak. Telfon itu sudah keburu berakhir, tetapi panggilan tersebut kembali masuk ke handphone nya selang beberapa detik.
"Angkat ae dah, kali aja si Nara. Kan dia hobi tuh ngerjain gue, kali aja dia sedih kagak gue hubungin selama ini. Hahaha... Pokoknya gue harus ngomong make nada judes" Ucapnya sambil memegang handphone tersebut dan tersenyum miring.
"Kenapa!" Jawabnya ketus
"Widih... Akhirnya kak Reyna angkat juga"
Sialan! Here we go again! Kenan kampret! Batin Reyna kesal.
"Oh iya lupa, kita kan seumuran jadi gue nggak perlu make kakak. Hehehe..." Terdengar kekehan kecil dari seberang telfon sana.
"Halo? Kok diem sih?"
"Eyna"
"Na"
"Gue udah di depan rumah teman lu nih"
"WHATTT!! LO GILA YAH?!" Teriak Reyna
"Aduh! Jangan teriak-teriak lah, kuping gue sakit nih!"
"PULANG!"
"Nggak mau"
"PULANG NGGAK LO!"
"Aduh! Galak banget sih lo sama gue. Gue ini ade lo loh. Masa lo galak banget sih, tega lu biarin adek sendiri di depan gerbang kek gini? Malam lagi..." Ucapnya dramatis.
"Heh! Lo itu bukan ade gue yah!" Ucap Reyna berapi-api, dia ingin turun ke bawah untuk mengusirnya tetapi, dia terlalu malas untuk bertemu dengan orang tersebut.
"Siapa sih Na? Lo dari tadi teriak-teriak nyampe kedengaran tau di dalam kamar mandi" Ucap Lia yang sudah terlihat lebih segara setelah membersihkan dirinya.
"Halo~~~ Eyna, Capek nih, udah sejam gue berdiri di sini" Ucapnya lebih dramatis dari sebelumnya.
"WHAT?! SEJAM?! LO GILA YAH! SEKARANG MEND-"
"Halo"
Ucapan Reyna terpotong karena Lia tiba-tiba saja merebut ponselnya.
"Oh! Kamu temannya Eyna yah?" Ucap orang di seberang sana dengan semangat.
"Eyna?" Tanya Lia bingung
"Sorry, maksud gue Reyna"
"Oh. Lu siapa?"
"Pacarnya" Jawabnya dengan penuh semangat.
"APA?! PACAR?!" Ucap Lia terkejut sambil menatap tajam ke arah Reyna.
Sialan nih bocah! Nyari mati! Batin Reyna.
Tit! Lia langsung menutup telfon tersebut dan menatap Reyna meminta penjelasan sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
"Lo nggak percaya kan sama omongannya?" Tanya Reyna dengan hati-hati.
"Ya enggak lah" Ucap Lia santai dan sudah kembali normal. "Lo kan nggak doyan cowo" Ejeknya
"Bodo!"
"Buruan deh cerita. Dia itu siapa?"
"Okay jadi-"
"REYNA VERANIKA ANDINI" Teriak seseorang dari bawah sana.
"Kampret! Dia beneran ke sini!" Ucap Reyna kesal sambil segera berlari menuju lantai bawah dan diikuti oleh Lia.
Sesampainya di sana Reyna langsung membuka pintu tersebut dan terlihat seorang anak laki-laki dengan celana jins hitam, dan kaos putih yang dilapisi jaket jins berwarna hitam, tak lupa senyuman lebar terlukis di wajahnya, satu kata untuknya tampan.
Sayangnya ketampanan lu nggak mempan sama gue! Batin Reyna.
"Assalamualaikum" Ucapnya sopan
"Waalaikumsalam" Jawab Reyna dan Lia bersamaan.
"Silahkan masuk" Ucap Lia mempersilahkannya masuk dengan senyuman manisnya, yang sebenarnya dia lakukan untuk menutupi emosinya.
"Makasih"
Reyna hanya bisa menyingkir dari sana dan tidak bisa melakukan sesuatu, karena anak yang berada di antar mereka beribu-ribu kali lipat lebih gila dari pada orang sakit di RSJ sana.
Ketiganya pun duduk bersama di sofa ruang tamu Lia.
"Lo mau minum apa?"
"Nggak usah"
"Yakin?"
"Iya"
"Ngapain lo kesini?" Tanyanya judes
"Buset galak amat. Lo nggak kangen apa sama gue? Udah lama lo kita nggak ketemu"
"Nggak perduli gue"
Terdengar hembusan nafas kasar dari nya. "Sifat lo bisa nggak kek dulu lagi ke gue?"
"Bisa kok" Jawabnya santai sedangkan Lia masih setia menyimak.
"Serius?" Tanyanya dengan senang dan mata berbinar.
"Asal lo mau jadi ade gue, nggak lebih dari itu"
"Nggak mau!" Tolaknya disertai dengan perubahan ekspresinya yang menjadi datar.
"Wait!" Ucap Lia pada akhirnya.
"Nama lo siapa? Dan hubungan lo sama nih bocah apaan?" Ucapnya sambil menunjuk Reyna "Terus tadi, lu bilang kalau lu itu pacarnya Reyna, ya walaupun gue nggak percaya sih. Tapi, maksud perkataan Reyna barusan itu apa?"
Terdengar hembusan nafas kasar dari kedua orang tersebut.
"Dia sohib sepupu gue sekaligus ade kelas gue waktu SD. Dan gue udah anggap dia kek ade gue sendiri, tapi entah kenapa dia malah suka sama gue"
"Karena lu baik dan selalu ada 1×24 jam kalau gue butuhin" Ucapnya serius
"Okay... Ternyata lu itu anggota keamanan ya Rey. Nama lo siapa?" Ucapan Lia hanya mendapatkan tatapan kesal dari yang bersangkutan.
"Angga"
"Ohh... Waktu itu lo masih SD kali Nga, palingan itu cuman rada seneng punya kakak aja"
"Nggak kok, gue beneran suka sama dia" Ucapnya serius "Dan gue sebenarnya seumuran sama kalian, hanya saja gue lahir di akhir bulan"
"Tanggal berapa kalau boleh tau?"
Ini yang bego gue apa Lia sih? Dia kan bilang lahir di akhir bulan. Ngapain ditanyain lagi sih? Bukannya udah jelas yah? Akhir bulan itu udah tgl 31? Atau gue yang bego? Tau dah.... bingung gue. Batin Reyna.
"31 Desember"
"Hmm... Okay, santai aja ngomongnya"
"Lo tau gue di sini dari mana?"
"Dia ngomong apa?" Tanya Reyna datar.
"Dia bilang dia ada perlu sama lo dan nomor lo nggak bisa dihubungin"
"Okay, ade gue yang manis. Udah selesaikan kan?"
"Gue nggak mau jadi ade lo Eyn. Gue mau lebih dari ade lo!" Ucapnya kesal.
"Tapi gue cuman anggap lo sebagai adik, nggak lebih nggak kurang" Ucap Reyna santai "Bagus kan?"
"Nggak! Gue pokoknya mau lebih dari itu!"
Reyna menghembuskan nafasnya kasar, lalu dia bangkit dan berjalan ke arah Angga dan duduk tepat di sebelahnya, sedangkan Lia hanya duduk santai dan yakin jika Reyna bisa menyelesaikan semuanya dengan caranya.
"Nga" Ucap Reyna tenang sambil bersandar di sofa. Dan Angga yang segera menegok ke arahnya dengan tatapan yang hangat. Lia sadar akan hal itu, dia juga sudah melihat tekat anak itu yang kekeh akan keinginannya ketika mengatakan dia ingin lebih dari seorang adik.
"Sorry"
"Gue nggak mau denger" Ucapnya sambil menutup telinganya.
"Hey... Dengerin gue" Ucal Reyna lembut "Liat gue!" pintahnya.
"Nggak mau"
"Please! Lo mau bikin gue sedih?" Ucap Reyna dengan nada sedih.
"Nggak mau"
"Nah pinter! Sekarang lo liat mata gue"
"Nggak, gue nggak mau. Lo pasti mau ngomong itu lagi. Gue nggak mau denger" Ucapnya kekeh dengan pilihannya. Reyna hanya bisa menghembuskan nafasnya kasar, jika dia menerima perasaan Angga yang ada dia hanya akan memberikan harapan palsu. Reyna kemudian melihat ke arah Lia meminta bantuan, namun Lia hanya mengedikkan bahunya sebagai tanggapan.
Suasana di rumah itu cukup hening, sebab tak ada satupun dari mereka yang membuka pembicaraan.
"Nggak semua hal yang ada di dunia ini bisa sesuai dengan keinginan lo. Apalagi soal perasaan" Ujar seseorang yang tengah berdiri di ambang pintu.
Semua orang terkejut dengan kedatangannya. Orang tersebut langsung masuk dan duduk di sebelah Reyna dengan santainya.
"Lo siapa?" Tanya Angga dingin sambil menatap tajam ke arahnya.
"Siapa? Gue?" Tanyanya sambil menunjuk dirinya sendiri.
"Kenalin yah, nama gue Raihan Aldo Pratama. Lo boleh manggil gue Rai" Ucapnya dengan senyuman terukir di wajahnya.
"Oh"
"Nama lo siapa?" Tanyanya sambil merangkul Reyna.
Double ****! Senyumannya bikin jantung gue lost control. Mana sekarang ngerangkul lagi. Batin Reyna.
Sedangkan Lia tengah menikmati pertunjukkan di hadapannya, yakni Rai yang datang diwaktu yang tepat, Reyna yang tengah disibukkan dengan kegugupannya dan wajah nya yang memerah, dan Angga yang terlihat panas melihat Rai tengah merangkul Reyna dan tak ada penolakan dari yang bersangkutan.
"Harus ya pake ngerangkul segala?" Tanya nya sinis.
"Yeah harus lah, sama pacar sendiri masa nggak boleh, iya nggak Nana?" Tanyanya santai dengan senyuman manis dan menatap hangat ke arah Reyna. Reyna terkejut mendengar ucapan Rai, tetapi dia berusaha untuk tetap santai dan menatap ke arahnya, kemudian mengangguk sebagai tanda menyetujui ucapannya.
"Eyna! Kok lo malah pacaran sama dia sih?!" Tanyanya kesal.
"Sorry, Nga. Gue suka sama dia" Ucap Reyna dengan nada menyesal.
"Hahaha... Gila gila! Ternyata usaha gue selama ini sia-sia yah" Ucapnya kecewa sambil menghembuskan nafas pelan. "Okay, deh. Lo menang Na, gue stop sampe sini. Dan gue nggak mau jadi ade lo"
"Hmm... Sorry yah"
"Santai aja kali. Tapi gue maunya jadi teman lo, boleh?"
"Boleh kok" Jawab Reyna dengan senyuman tulus.
"Makasih. Nama gue Angga, Rai" Ucapnya sambil mengulurkan tangannya dan diterima Rai dengan senang hati "Jaga dia baik-baik ya bro, keknya dia sayang banget sama lo"
"Pasti" Jawabnya yakin
"Okay deh, gue sakit dulu ya Na, Rai...."
"Lia"
"Ah, Okay! Lia. Gue pamit, thanks yah. Assalamulaikum"
"Waalaikumsalam" Jawab ketiganya kompak
Angga pun segera melesat dari sana dan mereka semua bisa bernafas lega, kecuali Reyna. Sebab Tangan Rai masih bertengger manis di bahu kirinya.
"Untung lu datang tepat waktu Rai, kalau nggak bisa stres sih Reyna" Ucap Lia disertai kekehan belinya.
"Alhamdulillah deh kalau gitu. Dan dari yang gue liat, keknya dia naksir berat deh sama lo Na. Kok lo nggak mau sama dia?" Tanya Rai penasaran dan tak mendapat jawaban sama sekali dari yang bersangkutan, entah apa yang tengah dia pikirkan.
"Hello! Na" Ucap Rai sambil melambaikan tangannya di depan Reyna.
"Na"
Lia yang menyadari jika Reyna sekarang ini tengah bergulat dengan hati dan fikirannya memilih melemparkan bantal ke arahnya, dan benar saja. Reyna langsung terkejut dan terlihat seperti orang bodoh.
"Hah? Ya? Kenapa?" Tanyanya bingung
"Hahaha... Lucu lo" Ucap Rai santai sambil terkiki kecil.
Sedangkan Lia merasa puas akan hal tersebut.
"Ah! Gue bikinin minum aja ke belakang. Iya bener, kalian tunggu di sini yah" Ucapnya langsung ngibrit ke arah dapur.
"Hahaha.... Gila! Gila! Lucu banget tampang begonya Reyna" Ucap Lia diselingi tawanya.
"Setuju sih gue"
...----------------...
"Thanks yah teh angetnya, tau aja kalau gue haus" Ucap Rai sambil menyeruput teh nya.
"Okay, nggak kemanisan kan?"
"Nggak, pas kok" Jawab Rai dan ditanggapi Reyna dengan anggukkan.
"Lo tuh yah Na, main ngibrit aja. Yang punya rumah kan gue, bukan lo. Harusnya gue yang buat dong" Protes Lia
"Udah sih, santai aja. Gue juga sering ke rumah lo ini" Bela Reyna yang duduk di sebelah Reyna.
"Yayayaya..." Jawabnya malas "BTW, akting lo tadi bagus juga Rai"
"Makasih"
"Belajar dari Reno yah?" Tebak Lia
"Hahaha... Nggak kok, cuman sering denger Reno ngomong aja di telfon"
"Sama aja kali"
"Rai"
"Whut?"
"Kok lo bisa ke sini sih?" Tanya Reyna penasaran
"Oh, itu. Gue yang ngechat dia waktu lo sama Angga lagi adu mulut. Dan kebetulan posisi dia agak deket sama rumah gue makanya cepat nyampe sini"
"Oh gitu yah, thanks ya Rai" Ucap Reyna tulis yang dibalas senyuman manis dari Rai.
"Tapi, kok lo yang jawab sih Li? Kan yang gue tanyain si Rai bukan lo?" Cibirnya kesal
"Sama aja kali"
"Beda"
"Menurut gue sama, titik"
"Udah deh nggak usah berantem lu berdua, ganggu tetangga tau nggak"
"Dengerin tuh"
"Iya-Iya" Ucap Reyna kesal.
"BTW, akting lo barusan okay juga tuh Na. Dia aja sampe ketipu, jago lo Na" Ucap Rai santai.
"Oh gitu yah! Harus dong! Gue kan Reyna" Jawabnya dengan sombong.
Rai hanya bisa geleng-geleng kepala mendengar hal tersebut, sedangkan Lia hanya diam saja.
"Udah malam nih" Ucap Rai sambil beranjak dari tempat duduknya, diikuti oleh Reyna dan Lia.
"Yang bilang siang siapa?"
"Hehehe... Nggak ada kok. Gue cuman mau pamit aja"
"Yaudah, hati-hati ya bro" Ucap Lia ketika mereka berada di ambang pintu.
"Sekali lagi, thanks yah, Rai"
"Anytime Na"
Setelah Rai melesat dari sana, mereka berdua segera masuk ke dalam rumah, tak lupa untuk mengunci pintu terlebih dahulu. Lalu membereskan cangkir kotor tadi dan kembali ke kamar Lia untuk segera terbang ke alam mimpi.
...----------------...
Mohon saran dan kritiknya semua😊
Agar saya bisa memperbaiki tulisan saya ini
Terima kasih kepada pembaca yang sudah mampir untuk membaca hasil tulisan saya 😊
Maaf yah kalau kurang nyambung😅
💜💜💜💜💜💜💜