
Keesokan harinya, mereka semua berkumpul di kantin dan duduk terpisah dari Alan, Lia, Rai, Nara dan Reyna.
"Temen lu kenapa Nia? Tumben pisah sama lu, biasanya nempel mulu kek kutu air" Ucap Nara santai.
Bugh!
Bugh!
Nara langsung mendapatkan pukulan pada lengan sebelah kiri dan kanannya.
"Aduh! Lu berdua kalau mukul yang kira-kira dong, kalau lengan gue patah lu pada mau tanggung jawab apa?!" Ucapnya kesal.
"Makanya kalau ngomong itu jangan sembarangan, apalagi sama cewek. Ya kan Na?" Ucap Lia langsung mendapatkan acungan jempol dari Reyna.
"Iya-iya, sorry Nia, nggak bermaksud"
"Nggak papa kok, santai aja. Gue kurang tau juga sih kenapa mereka duduknya pisah sama gue, tapi nggak ada masalah apa-apa kok" Jelas Tania.
"Hmm... Okay" Sahut Nara.
"Lan, tumben lu nggak bareng Reno. Biasanya nempel mulu kek perangko" Ucap Rai
"Oh itu, nggak papa sih. Cuman gue lebih suka aja didekat Nara dari pada Reno." Jawab Alan sambil mengedipkan sebelah matanya dan memonyongkan bibirnya kepada Nara yang duduk tepat di depannya.
"Iyuhhhh" Sahut Reyna dan Lia bersamaan.
"Ihhhh... Homo" Ucap Rai sambil mengubah posisi duduknya agak menjauh dari Alan yang duduk di sebelah kanan nya. Sedangkan Tania hanya tersenyum sambil geleng-geleng kepala.
"Najis lu Lan" Ucap Nara kesal. "Jauh-jauh deh lu dari gue, nyeremin tau nggak" Tambahnya sambil bergidik ngeri.
"Yeee... Santai dong. Gue masih suka cewek kok, emangnya elu apa? Cih!" Ucap nya santai sambil menyindir Nara.
Bugh!
"Aw... Sakit bego" Ucap Alan sambil mengangkat kakinya ke atas kursi serta mengelus tulang keringnya yang mendapat tendangan gratis dari Nara.
"Makanya kalau mau ngomong itu disaring dulu, jangan asal jeplak doang" Ucap Nara santai tanpa rasa bersalah sedikit pun dan malah menyesap minumannya. Sedangkan Tania, Rai, Reyna, dan Lia hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah mereka berdua.
"Tapi itu faktanya brother" Ucap Alan sebal sambil menekankan kata fakta dalam kalimatnya.
"Wah! Lu tuh yah Lan!" Ucap Nara kesal sambil menunjuk-nunjuk Alan.
"Apa?! Mau ngelak lu? Mana buktinya? Sampe sekarang aja lu nggak punya pacar" Ucap Alan kesal sambil menantang Nara.
"Wahhhh! Lu tu-" Ucapannya terpotong karena Alan yang tiba-tiba menyahut.
"Nggak usah, gue percaya kok. Santai dong, gampang amat ke pancing" Ucapnya santai sambil terkekeh kecil, begitu pula dengan Lia.
"Cih!"
Sedangkan Rai, Reyna dan Tania hanya bisa mentap bingung pada ketiga orang tersebut.
"Aduh Lan Lan, jangan kek gitu lah Lan. Brother kita ini baru aja ditolak loh, makanya dia sensi kalau lu bahas gituan" Ucap Lia santai tanpa memperdulikan situasi sekitarnya dan orang yang bersangkutan sambil terkekeh geli.
"HAH?!" Seru Alan, Rai, dan Reyna secara bersamaan.
Deg!
"Kok gue ngerasa sakit ya? Apa gue beneran suka sama dia? Jika memang benar begitu, teryata gini ya rasanya patah hati. Apa mungkin waktu itu si Nara nembak Reyna ya?" Batinnya sambil tersenyum kecut.
"Ah! Berarti waktu itu gue nggak salah denger dong? Jadi Nara lagi latihan buat nembak orang yang dia taksir toh. Kalau aja gue tau, pasti tetep nggak gue bantuin jga sih. Tapi bakalan gue semangatin tentunya. Sayang banget, gue nggak ngeh." Batin Reyna.
"Tunggu, tunggu jadi maksud lu, nih anak udah ngasih tau ke orangnya tapi langsung ditolak?" Tanya Alan sambil menunjuk ke arah Nara yang sedang mendengus kesal.
"Yups..."
"Kapan dia nembaknya? Kok gue nggak tau?" Batin Rai bertanya-tanya.
Sementara itu, tiga orang lainnya hanya bisa menyimak pembicaraan mereka tanpa memahami siapa yang bersangkutan itu.
"Aduh! Kesian amat, sabar ya bro. Tapi kok lu tau sih Lia?"
"Yaiyalah... Seorang Triliana Hanindiyah Wibowo nih bos" Jawabnya sombong.
"Parah! Parah! Keren lu Lia, tau gini gue minta bantuan lu juga. Keren lu" Puji Alan.
"Oi Li, ini makhluk yang nipu lu bareng cowok lu kan? Kenapa nggak ku hajar sekarang aja? Kan lumayan tuh" Ucap Nara tiba-tiba memprovokasi Lia.
"Aduh! Mampus gue!" Batin Alan.
"Sama-sama"
Lia sudah berdiri dari bangkunya dan mulai berjalan mendekati Alan, tetapi dia tidak jadi melakukannya dan kembali lagi.
"Loh, kok nggak jadi Li?" Tanya Nara bingung.
"Nggak deh, makasih ya Lan. Kalau bukan gara-gara lu gue pasti nggak bakalan dapat informasi menarik" Jelas Lia sambil tersenyum.
"Hmm... Okay?" Jawab Alan dengan wajah bingung nya.
"Lia"
"Hm?"
"Lu udah tau?"
"Hooh"
"Sejauh mana?"
"Semuanya"
Alan terkejut mendengar jawaban dari Lia. "Wah! Kok bisa sih?"
"Gue yang ngasih tau ke dia" Sambung Nara pada akhirnya.
"Oi, lu bertiga kalau mau ngomong liat orang sekitar dong" Protes Rai.
"Tau nih, di dunia manusia bukan cuman lu bertiga doang. Masih ada yang lain juga nih." Tambah Reyna.
"Gila! Gue penasaran sama orang yang dia taksir, emang orangnya sehebat apa sih sampai nolak sohib gue. Udah nggak bisa gue tahan, siplah langsung gas tanya aja!" Batin Reyna.
"Iya-iya, maap" Ucap Alan.
"Eh eh... Emang si Nara habis nembak siapa?" Tanya Reyna penasaran.
"Hah?!" Seru Alan dan Lia bersamaan "Emang lu nggak tau!"
"Nggak" Jawab Reyna
Alan dan Lia saling bertatapan beberapa saat, dan kemudian membuang nafas secara bersamaan.
"Tunggu, dari yang gue liat si Reyna beneran nggak tau apa-apa soal ini. Dan dia juga baru tau nanti barusan, apa mungkin Nara sukanya sama yang lain? Tapi tatapan dia ke Reyna kan beda sama ke anak cewek lain. Gimana Reyna bisa tolak kalau dia baru taunya sekarang? Arrgghhh! Pusing gue!" Batin Tania.
"Kalian kenapa?" Tanya Rai dan Reyna bersamaan.
Bukannya menjawab, mereka berdua malah saling bertatapan untuk berkomunikasi melalui pikiran, tak lupa mereka juga melakukan hal yang sama bersama Nara.
"Lu gimana sih Nar?" Ucap Alan melalui tatapan matanya.
"Tau tuh, katanya udah nembak. Kok dia malah bingung sih? Lu nggak halu kan?" Tambah Lia.
"Gila lu berdua! Gue serius, ngapain gue halu, emang gue sarap apa?!" Ucapnya kesal.
"Ya emang lu sarap!" Seru Alan dan Lia secara bersamaan.
"Ah! Udahlah gaes, nggak usah didengerin omongan mereka berdua, suka ngelantur kemana-mana. Mendingan kita lanjut makan aja, ntar keburu masuk lagi." Ucap Nara dengan tujuan untuk mengalihkan pembicaraan.
"Nggak usah ngalihin pembicaraan deh, buruan jawab pertanyaan gue. Gue yakin Rai sama Tania pasti penasaran" Pintah Reyna.
"Gini ya kawan-kawan ku yang budiman, apa yang mereka berdua omongin tadi itu, cuman omong kosong. Jadi nggak usah dipikirin ya" Jelas Nara.
"Tap-"
"Udahlah yah, mendingan lanjut makan aja. Bener kata Nara ntar keburu masuk makannya masih belum abis lagi" Lerai Lia.
...----------------...
Mohon saran dan kritiknya semua🙏😊
Agar saya bisa memperbaiki tulisan saya ini
Terima kasih kepada pembaca yang sudah mampir untuk membaca hasil tulisan saya 🙏😊
💜💜💜💜💜💜💜