
Nara POV
Sedari tadi pagi aku terus memikirkan perkataan Reyna, jika orang yang ku suka pasti paham maksudku.
"Haaa... sampai kapan si Na, lu nggak bakalan peka sama perhatian gua? Gua seneng lu tau maksud kode gua, tapi... Kok bisa lu malah salah paham siapa orang yang gua taksir?" gumamku pelan.
Saat ini aku tengah berbaring di atas kursi taman, di taman belakang sekolah. Tempatnya sangat sejuk, dan sangat cocok untuk menenangkan diri.
Aku memutuskan untuk menyendiri, dan meminta Alan, Reno, dan Rai untuk tidak mencariku. Jujur saja, aku masih merasa lucu dan kasihan secara bersamaan kepada diriku.
Aku merasa lucu karena Reyna selalu tidak peka terhadap perasaanku, dan aku merasa kasihan karena aku tau jika dia tidak menyukaiku, namun masih terus mengharapkannya.
"Mau sampai kapan gua terus mendem perasaan gua?" tanyaku pada diriku sendiri.
Ya, harusnya statusku bukan menyukainya dalam diam kan? Harusnya tertolak secara tidak langsung setelah mengungkapkan perasaan, karena dia tiba-tiba pergi setelah mendengar pengakuanku.
Kocaknya, setelah kejadian itu sudah berlalu. Lia malah menyinggung nya kembali dan Alan ikut menimpali, alhasil Reyna mengira jika aku tengah berlatih saat itu.
"Konyol," gumamku sambil tersenyum.
Tanpa sadar, aku pun tertidur dengan pulas di sana. Dan bangun ketika Alan, Rai, dan Reno yang membangunkanku.
"Buset! Untung aja tadi gurunya nggak masuk, begini lu bolos tau nggak," celetuk Reno.
"Berisik lo!"
"Wahh~~ Nih anak bukannya berterimakasih ada orang yang perhatian sama dia, eh... malah dikatain berisik. Dasar sohib tidak tau diri."
"Berisik lu No! Gua nggak butuh perhatian lu," ucapku kesal sambil menerima tasku yang diberikan oleh Alan.
"Iya, gua tau kok. Lu kan cuman buruh perhatiannya Reyna," jawabnya santai sambil duduk lesehan di atas rumput dihadapan Nara.
Seketika Aku, Alan dan Rai terkejut mendengar pernyataan Reno. Bahkan kami membuka mulut kami tanpa sadar saling terkejutnya.
"Hahahaha... Tutup deh mulut lu pada, takutnya ada serangga yang bakalan masuk, mana lebar banget lagi mangapnya," ucapnya sambil tertawa dan membuat kamu bertiga langsung menutup mulut.
"Lu tau dari mana?" tanyaku sambil menatapnya penuh selidik.
Rai dan Alan duduk di sebelah Reno, aku yang sedang duduk di atas segera bergabung dengan keduanya.
"Hmmm... Dari tingkah dan kata-kata manis yang sering lu lontarkan sama Reyna yang dibungkus rapi sebagai candaan. Dan gua semakin yakin waktu si Nana ngirim foto lu senyum ke arah Reyna setelah selesai ngejelasin konsep penyelesaian soal kelompok matematika waktu itu," jelasnya panjang lebar.
"Terus ngapain lu ikut mereka buat bantuin Tania pdkt?" tanya Rai.
"Gua pengen si Nara bisa lupain Reyna waktu itu, soalnya dia kan pacaran sama lu. Dan gua baru tau kebenaranya nanti lu sendiri yang bilang."
Aku hanya diam mendengar jawabannya, yaaa... Si playboy ini memang peka soal ginian.
"Oh iya, lu berdua udah denger kabar belum?"
"Hah? kabar apaan?" tanya kami bertiga kompak.
"Kalian tau nggak Zidan ketua PMR?"
"Tau kok, emang kenapa?" tanya Rai bingung.
"Gua nggak tau sih," jawabku.
"Dia katanya mau nembak si Reyna besok, sepulang sekolah."
"APAA?!" ujar kami bertiga bersamaan.
"Lu serius?" tanyaku memastikan.
"Iyalah, dua rius malah."
Mendengar hal tersebut, aku segera berlari menuju gerbang depan sekolah. Dan tidak memperdulikan teriakan ketiga sahabatku lagi.
"Semoga masih sempat," batin ku.
Setibanya di halaman depan sekolah aku langsung berlari dan berbelok ke arah kiri. Beruntung aku masih melihat Reyna di sana, bersama dengan teman-temannya.
"ANA!!!" teriakku sambil ngos-ngosan karena berlarian.
Aku berhenti sejenak untuk mengatur nafas dan kembali berjalan ke arah Reyna.
"Kenapa sih teriak-teriak?" tanyanya datar.
"Buset, mukanya datar amat kek telenan emak gua," jawabku bercanda.
"Keknya lu kelamaan duduk sama Rai deh, makanya lawakannya jauh dari SNI," ucapnya datar.
"Bodo dah. Lu ikut gue!" pintahku sambil menarik tangan Reyna.
"Lu apaan sih main narik-narik aja!" kesal Reyna.
Aku menghembuskan nafas pelan, memang butuh kesabaran ekstra untuk menghadapinya sekarang.
"Lu pulang bareng gue, nggak pake penolakan!" pintahku tegas.
Bukannya menjawab, Reyna malah memutar bola matanya jengah.
"Sekalian gua traktirin makanan yang lu suka, suer!" mengacungkan jari membentuk huruf V.
"Cih! Apaan! Tadi pagi udah gua ajak dan lu nggak ngasih jawaban apa-apa. Terus kenapa sekarang malah ngajak sih? Mana maksa lagi, lu pikir gua bakalan mau ikut sana lu dengan iming-iming makanan apa?!" ucap Reyna kesal sambil menghempaskan tanganku yang masih menggenggam tangannya.
"Iya, iya maaf. Soalnya gua masih kesal sama lu, anggap aja ini ajakan buat kita damai gitu."
"Hadeehhh... Harus ya? Nggak bisa damai kek biasanya aja apa? Tinggal ngomong dan selesai, udah."
"Nggak bisa, ini wajib," tolakku.
"Lu bawel banget sih, yaudah ayok!" ucap Reyna pasrah pada akhirnya.
Kami pun pulang bersama, setelah sebelumnya berpamitan kapada para sahabat Reyna.
...----------------...
Setibanya di toko kue langganan, aku langsung memesan kue favoritku dan meminta Reyna untuk melakukan hal yang sama. Tak berapa lama kemudian pesanan kami pun tiba.
"Jadi udah damai kan?" tanya Reyna sambil memakan kue pesananya.
"Iya. Na habis ini kita makan sate depan SMP kita dulu yuk!" ajakku.
"Nar, harusnya lu itu ngajak ke sana dulu, baru ke sini. Makanan berat dulu kali baru bagian makanan penutupnya."
"Udahlah, gua lagi pengen makan ini dulu baru pergi ke sana."
Sebenarnya itu alasanku saja untuk mengajaknya keluar. Sebab aku tengah mengumpulkan keberanian untuk mengungkapkan perasaanku hari ini. Bisa dibilang pemacu nya adalah kalimat yang Reno ucapkan tadi.
Setelah selesai menghabiskan makanan, kami kembali melanjutkan perjalanan menuju tempat yang aku katakan sebelumnya.
Selama perjalanan aku terus berusaha dan meyakinkan diriku, untuk melakukan hal itu.
Setibanya di sana kami langsung memesan sate paket lengkap, dan tanpa seizin Reyna aku meminta kepada sang penjual untuk membungkus pesanan kami.
Aku tau dia tengah menatap ku, tetapi aku berusia untuk mengabaikan tatapannya. Belum lagi detak jantung ku berdetak lebih cepat dari biasanya.
"Akh! Sabar tung, diem dulu napa. Ganggu aja lu," batinku menegur sang jantung yang tentu saja tidak didengarkan.
"Kok nggak makan di sini aja?" tanya Reyna setelah kamu duduk di bangku kosong yang tersedia.
"Pengen aja," jawabku santai.
Aku bisa melihat Reyna jengah dan hanya memutar bola matanya malas setelah mendengar jawabanku.
Setelah pesanan kami telah siap, aku langsung membayarnya dan kembali menjalankan motorku. Namun, di tengah perjalanan aku menghentikan motorku di sebuah warung. Aku melakukannya untuk memberikannya pada Reyna saat tiba di taman nanti, agar suasana kami tidak terlalu canggung. Aku pun turun dan meminta Reyna untuk menunggu saja di sana.
Aku bingung harus memilih minum yang mana setelah memasuki warung tersebut. Akhirnya pilihan ku jatuh kepada minum berbotol yang ada di dalam kulkas. Setelah itu aku pun langsung membayarnya dan segera kembali keoada Reyna, lalu aku memutuskan untuk menyerahkannya kepadanya.
Kami kembali melanjutkan perjalanan, hingga aku kembali menghentikan motorku di taman yang berada di kompleks perumahan mereka yang merupakan tujuan utamaku.
"Ngapain berenti di sini? Bentar lagi kan nyampe rumah," tanya Reyna yang masih berada di atas motor dengan bingung.
"Turun yuk!" ajak ku yang lebih dulu turun dari motor disusul oleh Reyna.
Kami berjalan ke arah bangku yang ada ada di sana, lalu duduk bersama.
Hening~~~ aku tidak lagi membuka suara, sedangkan Reyna hanya menatap bingung ke arah ku yang sedang bersandar sambil memejamkan matanya.
Bukannya ingin diam seperti ini, hanya saja saja merasa gugup berada di sampingnya.
"Tenang Nar, tenang lu pasti bisa," batinku meyakinkan diri sendiri.
Setelah aku merasa sudah tenang, aku pun memanggil namanya masih dengan sedikit rasa gugup. Lalu, Aku mencoba menggenggam kedua tanganku sambil memanggil namanya.
"Na!"
"Hm?"
"Na!"
"Iya, kenapa?"
"Itu"
"Itu apa?"
Entah kenapa, rasa gugup ku kembali lagi. Karena tidak tahan aku pun memutuskan untuk berdiri dan tidak menatapnya. Tetapi, aku merasakan jika saat ini dia mengikuti apa yang kulakukan, dan yang membedakan adalah dia berdiri mengahadap diriku. Meskipun begitu, aku berusaha melawan keinginan hatiku untuk berbalik ke arahnya.
"Anu..." ucapku pada akhirnya.
"Anu apa?"
"Itu..."
"Aduh! Kok lidah gua jadi kaku sih, tolong dong dikondisikan. Ya ampun susah amat, ketimbang bilang suka doang," batinku sedikit kesal.
Aku yakin saat ini Reyna pasti sedang kesal karena ulahku, tapi dia berusaha untuk menyembunyikannya.
Sudah cukup lama kami berdiri dengan posisi yang sama, kenapa? Karena aku butuh waktu untuk menyerap energi keberanian dari alam sekitar. Lalu, aku berbalik menghadap ke arah Reyna.
"Na!" ucapku seserius mungkin.
"Iya Nar, kenapa?"
"Gua suka sama lu."
Deg! Deg! Deg!
Akupun langsung membalikkan badanku setelah berhasil mengatakannya.
"Huwaaaaa..... jantung gua mau lompat keluar," batinku.
Aku juga bisa merasakan wajah dan telingaku memanas. Aku yakin saat ini kedua anggota tubuh ku ini sedang memerah karena malu.
"Ah! Cuman Reyna yang bisa bikin gua kek gini," batinku.
Sejujurnya aku sangat ingin melihat ekspresi wajahnya saat ini. Namun apalah daya, hati ini tidak kuat hanya untuk meliriknya yang cukup dekat dari posisiku saat ini.
Suasana di antar kami berubah drastis menjadi situasi yang sangat canggung, aku masih setia menatap ke arah lain, sedangkan aku tidak tau apa yang sedang dia lakukan saat ini.
Tiba-tiba aku malah mengingat minuman botol yang ku serahkan kepada Reyna.
"Harusnya tadi gua sama dia kan minum tuh minuman biar kagak canggung-canggung amat, ah elah, kalau nggak salah tadi dia malah gantung di motor minumannya. Aakkkkhhh! Mau pulang aja," batinku frustasi.
Aku pun menghembuskan nafasku berkali-kali guna mengurangi rasa gugup, malu dan konyol yang sedang kurasakan bersamaan saat ini.
"T-tapi l-lu nggak usah jawab nggak papa. Gu-gua cu-cuman m-mau jujur aja sama lu," ucapku terbata-bata masih dengan posisi yang sama.
Asal kalian tau, aku mencoba menelan rasa malu dan gugup ku saat ini, sehingga itulah yang terjadi. Menelan rasa malu dan menimbulkan rasa malu yang lainnya lagi, Ckckck! Inilah siklus rasa malu ku hari ini.
"G-gua serius kok suka sama lu," jawabku sedikit gugup. "Dan.... gua juga serius, dengan ucapan kalau nggak perlu dijawab, gua bakalan nunggu lu kok." tambahnya sambil berbicara dengan nada yang cepat.
"Keknya makin canggung aja, akhhh!!!! Au ah bodo amat," batinku.
"Hahahaa... Keknya suasananya canggung banget ya, hahahaa... Balik yuk, udah mau magrib nih," ucapku sambil tertawa guna untuk mencairkan suasana. Namun sayang, ekspektasi ku tak seindah realita, bukannya terdengar tulus malah terdengar canggung. Sungguh miris sekali nasib ku ini.
Akhirnya akupun langsung berjalan lebih dulu menuju ke arah motorku, dan langsung memakai helm dan menutup kacanya. Karena aku menjadi sangat-sangat malu saat ini, aku tidak ingin dia melihat wajah ku yang tengah memerah. Dan aku juga berharap sedari tadi dia tidak melihatnya.
Tanpa ku sadari Reyna tenyata mengikuti langkah ku, aku pun menyerahkan helm yang selalu aku bawa dan langsung menancap gas motorku untuk mengantarnya pulang.
Selama perjalanan kami berdua hanya diam, bahkan ketika dia turun dari motorku dia malah ngibrit begitu saja tanpa berterimakasih, parahnya dia malah membawa helm ku masuk ke dalam rumahnya.
...----------------...
Mohon saran dan kritiknya semua🙏😊
Agar saya bisa memperbaiki tulisan saya ini
Terima kasih kepada pembaca yang sudah mampir untuk membaca hasil tulisan saya 🙏😊
💜💜💜💜💜💜💜