
Bel pulang sekolah berbunyi, menandakan sekolah telah usai, semua siswa tengah sibuk membereskan barang-barang mereka.
"Nar, ntar lu pulang bareng siapa?" tanya Vanka setelah tiba di meja Nara.
Nara terlihat berfikir sebentar sebelum menjawab, "nggak ada, gue biasanya balik sendiri kok."
"Hmm... Okay, gue boleh nebeng nggak? Soalnya motor gue lagi di bengkel, tadi pagi cuman di anterin bokap."
"Boleh kok."
"Sip, tapi gue mau piket dulu bentar, kalau lu nunggu nggak papa?" tanya Vanka ragu, dia tidak ingin membebani Nara.
"Okay, sans aja. Lagian gue kurang betah juga kalau cepat balik ke rumah, soalnya rumah gue sepi," jawabnya santai.
"Makasih Nar, gue balik dulu," ucap Vanka dan langsung mendapat anggukan dari yang bersangkutan, lalu segera kembali ke bangkunya.
Reyna yang dari tadi hanya diam, ternyata diam-diam memasang telinganya dengan baik.
"Cie baik amat, tumben, biasanya pasti nolak mentah-mentah," batinnya sewot.
Setelah beberapa detik, Reyna tersadar apa yang baru saja dia ucapkan di dalam hatinya.
"Gue ngomong apaan sih?! Ihhh..." batinnya.
Plak!
Reyna memukul kedua pipinya dengan kuat dan membuat orang-orang di sekitarnya menengok ke arahnya. Bahkan Lia yang dari tadi anteng, terkejut mendengar pukulan Reyna.
"Lu kenapa Na? Sehat kan? Obatnya masih ada?" tanya Rai dari bangku belakangnya diselingi candaan.
Reyna berbalik dan menatapnya datar, "Ha...Ha...Ha... Lucu Rai. Garing banget, bahkan ampe gosong." Reyna memutar bola matanya malas.
"Santai dong. Lu nonton anak futsal tanding bentar sore nggak?"
"Nggak! Nggak tertarik!" tolaknya.
Rai hanya menganggukkan kepalanya, dia tidak ingin menanyakan lebih lanjut, karena suasan hati orang di hadapannya sangat tidak bersahabat.
Lagi, Nara kembali mencuri pandang kepada Reyna tanpa seorang pun menyadarinya.
...----------------...
Reyna tengah menunggu jemputannya di halaman depan sekolah. Sedangkan sahabatnya yang lain sudah dijemput, dia ditawari untuk ikut bergabung, namun ditolaknya. Lia baru saja pulang bersama sang pacar, dan tinggallah dia di sana dengan beberapa murid dari kelas lain.
Tak lama kemudian dia melihat Vanka dan Nara yang baru saja keluar dari dalam sekolah sedang tertawa kecil.
"Reyna!" Sapa Vanka sambil melambaikan tangan kepadanya dan hanya ditatap sekilas oleh Reyna.
Bugh!
Vanka memukul lengan Reyna ringan ketika dia tiba di dekat Reyna.
"Lu tuh ya kebiasaan deh, balik nyapa dong. Moodian banget sih lo," ucapnya sambil mencolek dagu Reyna, dan tidak mendapat tanggapan apa-apa dari yang bersangkutan.
Nara yang sedari tadi diam, akhirnya membuka suara, "jadi balik nggak Van?"
"Ah! Jadi kok, jadi."
Vanka pun berjalan menuju ke arah Nara dan menerima helm yang diulurkannya. Setelah dia berhasil memasangnya, dia langsung naik ke motor Nara dan berpamitan kepada Reyna sambil melambaikan tangan dan tersenyum. Reyna pun membalasnya dengan hal serupa.
Dia menatap motor Nara sampai hilang dari pandangannya. Dan tanpa terasa waktu terus berlalu, sekarang sudah pukul 5 sore, dan penjaga sekolah sudah menutup gerbang. Dia harus berdiri di luar pagar.
Bukannya dia tidak ingin memesan ojek online, atau menaiki kendaraan umum. Masalahnya dia tidak pernah mencoba kedua hal tersebut, karena sudah terbiasa diantar-jemput oleh papanya.
Dia memilih untuk menunggu sampai papanya tiba untuk menjemputnya. Namun sayang, 30 menit sudah berlalu, dan jalanan sudah mulai gelap, lampu-lampu jalanan di sekitarnya sudah menyala menyinari jalanan sekitar.
Dia sudah lelah menunggu. Diapun berjalan ke arah trotoar dan duduk di sana karena sudah lelah menunggu. Dia tau papanya lama menjemputnya karena tadi pagi dia mengatakan jika sepulang sekolah nanti dia akan pergi kerumah teman sekelasnya untuk mengerjakan tugas kelompok, dan dia juga mengatakan akan pulang diantar oleh temannya dan meminta sang papa untuk tidak menjemputnya. Namun sayang, rencana tugas kelompok itu diundur esok hari, dan parahnya lagi dia tidak membawa handphonenya. Dia juga lupa menghubungi papanya ketika rencana itu batal.
Dia duduk diam sambil menopang dagunya, dia juga melihat kendaraan yang berlalu lalang di hadapannya tengah terburu-buru karena sudah memasuki waktu magrib, sedangkan dia hanya bisa diam dan menunggu entah sampai kapan.
Haruskah dia berjalan kaki untuk pulang ke rumah? Ya, itu bisa saja dia lakukan, tapi dia tidak mau melakukannya. Dia takut jika harus berjalan sendirian di jam segini.
Tanpa dia sadari air matanya mulai menetes. Diapun langsung menyapu air matanya dengan kedua tangannya, bukannya berhenti, air matanya malah semakin banyak.
"Udah dong, jangan keluar mulu."
"Aku nggak mau dibilang cengeng."
Akhirnya dia memilih duduk sambil meringkuk menyembunyikan kesedihan dan ketakutannya secara bersamaan. Dia lelah dan ingin segera pulang.
Bahkan adzan magrib sudah berkumandang dan dia masih berada di tempat yang sama.
Tak berapa lama kemudian sebuah sepeda motor berhenti di hadapannya. Reyna tidak bergerak, dia hanya diam, dia takut jika orang yang ada dihadapannya adalah orang jahat. Bukannya takut dan tidak bisa melawan, hanya saja kondisi nya saat ini tidak memungkinkan dirinya untuk melakukan itu.
Dan hal yang paling membuatnya takut adalah, jika motor dan pengendaranya ternyata bukan manusia, melainkan makhluk gaib. Karena lingkungan di sekitarnya sangat sepi.
"Mau sampai kapan diam kek gitu?"
Reyna mendengar suara familiar yang sangat dikenalnya, tetapi dia masih tidak berani mengangkat kepalanya.
"Reyna Veranika Andini."
Setelah dia mendengar nama panjangnya disebut, dia langsung mengangkat kepalanya dan menatap orang tersebut dengan mata sembabnya. Sedang orang itu hanya menatapnya datar.
"Mau sampai kapan lu di situ?"
Reyna menggelengkan kepalanya, "nggak tau."
"Gua anter balik," ucapnya dengan wajah datar.
Lagi, Reyna kembali menggelengkan kepalanya dan menolak ajakannya.
"Oh, okay."
Orang itu pun kembali menaiki motornya dan langsung memasang helm nya. Ketika orang itu hendak menstater motornya, Reyna bangkit dan menghampirinya, lalu mengulurkan tangannya. Orang itu menatap tangannya bingung.
Reyna yang memahami maksud tatapannya langsung menjawab, "hp."
"Nggak bawa," ucapnya datar.
"Okay, makasih." Reyna menarik tangannya dan kembali duduk ke trotoar.
"Terakhir."
Mendengar perkataan orang itu, Reyna kembali mendongakkan kepalanya dan menatap orang itu.
"Gue antar lu balik."
Lagi, lagi, Reyna menggelengkan kepalanya, "nggak usah, makasih."
"Okay."
Orang itupun segera menstater motornya dan pergi dari sana meninggalkan Reyna seorang diri.
Reyna pun mengumpulkan keberaniannya, dan memilih untuk pulang berjalan kaki, mungkin saja di perempatan yang cukup dekat dengan sekolahnya ada pangkalan ojek.
Dia pun terus berjalan di bawah lampu jalan dengan suasana sekitar yang sangat sepi dan dingin. Namun, dia sudah tidak takut lagi.
Betapa sialnya dia, bukannya menemukan pangkalan ojek di tempat tujuannya, dia malah menemukan seekor anjing yang sedang menatapnya. Reyna yang panik langsung berlari karena dia takut kepada anjing.
Anjing yang melihatnya pun berlari mengikuti Reyna sambil menggonggong. Dia terus berlari tanpa menengok dan berhenti ketika mendengar suara anjing itu telah hilang.
"Haaa... Capek banget," ucapnya sambil ngos-ngosan.
Reyna pun kembali melanjutkan langkah kakinya hingga tiba di rumahnya. Dan langsung merebahkan dirinya ketika sudah berada di kamarnya.
...----------------...
Mohon saran dan kritiknya semua🙏😊
Agar saya bisa memperbaiki tulisan saya ini
Terima kasih kepada pembaca yang sudah mampir untuk membaca hasil tulisan saya 🙏😊
💜💜💜💜💜💜💜