
Pagi yang cerah di kota Semarang, terlihat para siswa siswi yang baru saja tiba di sekolah dengan raut wajah yang gembira. Meskipun, ada di antara mereka yang memasang wajah masam, dan ada pula yang masih mengantuk.
Begitulah yang tengah dialami oleh anak lelaki yang berada di parkiran sekolah. Dia sangat malas untuk berangkat ke sekolah pagi ini, keinginan untuk bolos tentu saja ada, tetapi dia mengurungkan niatnya itu. Kenapa? karena Reyna nggak suka sama anak yang suka buat onar. Sungguh simple bukan?
"Haaa... Males banget gue masuk kelas," gumamnya di atas motor.
"Dulu gue sering bolos sih waktu awal sekolah, kalau sekarang bolos bisa-bisa dia makin nggak suka lagi dong sama gue?" Menghembuskan nafas pelan.
Dia berada di parkiran kurang lebih sudah 15 menit, dan dengan berat hati diapun melangkah kan kakinya keluar dari area parkiran.
Sepanjang perjalanannya menuju ke kelas, banyak kakak kelas dan teman satu angkatan yang menyapanya, tetapi tidak ada satupun yang dia tanggapi. Dia tetap berjalan lurus menuju ke arah kelasnya.
Di perjalanan, dia melihat Tania sedang kerepotan membawa barang bawaannya, maklum saja hari ini terdapat tiga mata pelajaran peminatan, dan satu mata pelajaran lintas minat, yang mana semua buku cetaknya cukup tebal.
Dia pun menghampirinya, lalu menyapa sambil tersenyum manis, "Pagi Tania, wakil ketua kelas MIPA 2!"
"Dih! Apa-apaan lu?! Nggak usah sok manis deh! Jijik tau nggak!" ketus Tania.
"Buset, bukannya bales nyapa juga. Dasar cewek, dibaikin salah, dijahatin lebih salah lagi," protesnya.
"Udah sana! Pergi lu! Nambah beban gue aja pagi-pagi," usir Tania dengan ketus.
"Hadeh... Dasar cewek," gumam Nara, kemudian mengambil tas yang dijinjing oleh Tania dan langsung pergi dari sana tanpa sepatah katapun.
Tania terdiam sesaat dengan apa yang sedang Nara lakukan untuknya. Tiba-tiba, fikiran-fikiran negatif mulai menghampiri kepalanya. Terlihat beberapa kemungkinan-kemungkinkan terburuk yang akan terjadi di dalam kepalanya.
"Nggak! Itu nggak boleh terjadi," gumamnya pelan.
"Nara! Tas gue!" teriak Tania, lalu berlari menyusul langkah panjang Nara.
Apakah dia berhasil menyusul Nara? Oh, tentu tidak, bukan Nara namanya kalau tidak membuat Tania kesal. Ketika dia mendengar teriakan Tania, dia langsung berlari pelan menjauh dari sana.
"Lagi? Gue harus ngejar dia lagi? Oh Tuhan, cobaan apa yang sedang engkau berikan pada hambamu ini. Aku memang selalu berdoa agar bisa berbicara lagi dengannya, tetapi kenapa harus seperti ini caranya Tuhan." Batinnya frustasi.
Mereka terus berlari sampai tiba di dalam kelas. Nara berhenti tepat di depan kelas, sedangkan Tania berhenti di depan pintu masuk kelas dengan nafas nya terengah-engah.
"Yailah... Cemen banget sih lu! Masa dari depan ke kelas aja udah ngos-ngosan. Pasti lu jarang olahraga deh di rumah, bener kan?," tanyanya.
"Berisik lu!"
"Buset, serem amat. Jangan galak-galak neng, ntar nggak laku loh," ejeknya.
"NARA!" teriak Tania menggema ke seluruh ruangan, bahkan sampai membuat seisi kelas terkejut di buatnya.
"Wah! Aku kaget!" ejeknya sambil mempraktekkan model orang yang tengah terkejut.
"Nar, nggak usah buat masalah deh. Masih pagi nih," sahut Lia dari arah tempat duduknya. Nara pun menoleh ke arahnya, "Lu udah datang?"
"Menurut lo?"
"Gue kirain belom, soalnya masih pagi nih," ujarnya santai.
"Pagi dari mana Nar? Udah jam tujuh lewat lima menit tuh," sahut Rai sambil menunjuk jam dinding dengan dagunya. Nara pun menengok dan benar apa yang di katakan Rai.
Kemudian dia kembali fokus menatap Reyna yang juga tengah menatap dirinya datar.
"Elah, ngasih senyum dikit , atau nyapa kek, pelit amat. Masa sih dia nggak peka kalau semalam gue ngambek, ah elah! Ya Allah, berikanlah kepekaan hati kepada Reyna, Aamiin." Batinnya.
Di saat Nara tengah fokus ke arah Reyna, Tania yang menyadari fokus Nara sedang teralihkan langsung mengambil langkah seribu.
Plak!
Satu pukulan melayang di lengan Nara dengan mulusnya.
"Rasain!"
"Apaan sih? Orang nggak ada rasanya," ucapnya santai lalu melenggang pergi menuju ke arah bangku Tania. Tania pun mengikutinya dari belakang.
Nara meletakkan tas yang dia ambil di atas meja.
Tak!
Nara memukul pelan jidat Tania, "Sekali-kali nggak jadi murid teladan nggak papa kali," tersenyum manis dan melenggang pergi dari sana.
Deg!
Jantung Tania seperti ingin melompat, dan lagi ia merasakan panas di wajahnya, padahal Nara tidak mengeluarkan kata-kata romantis untuknya. Tania pun mencoba mengantur dirinya agar kembali normal.
"Kenapa sih lu? Tadi ketawa ketiwi, sekarang mukanya asam bener," tanya Leon.
"Jadi semalam gue ngajak temen gue nonton, tapi dia nolak katanya udah ada janjian sama temennya," jawab Nara.
"Terus? Apa hubungannya?," tanya Alan dari arah belakang sana.
"Ya ada lah, dia kan orangnya selalu nepatin janji, tapi pas janjian sama gue, ehhh... dianya malah pergi sama orang lain," singunggnya sambil melirik tajam ke arah Reyna. "Terus nih yah, yang paling ngeselinnya, orang yang ngajak dia pergi tuh baru ngajakin dia waktu udah mau jalan nemuin gue. Mantep kan?"
"Wah! Parah banget tuh Nar," sahut Alan dari belakang.
"Setuju gue," sambung Lia tiba-tiba dari arah depan. "Kalau gue sih Nar, udah nggak bakalan percaya lagi tuh kalau mau janjian sama dia," tambahnya.
"Aduh! Kenapa nih anak malah ikut-ikutan si Alan sih?" Batin Reyna frustasi.
"Kalau gue sih, pasti kecewa banget sih Nar," tambah Rai.
"Rai bahkan ikut-ikutan? What the?" Batinnya tak habis fikir.
"Ya, gue mah apaan coba, cuman orang yang nggak penting di hidupnya," ucapnya sinis sambil menekankan pada kata nggak penting.
Reno, Leon, Gabriel dan Valisha sedang berkeringat dingin mendengar ucapan Nara, dan tiga orang lainnya. Mereka bisa merasakan betapa kesalnya Nara dari aura yang dia pancarkan.
Di antar mereka, Valisha lah yang paling ketakutan, sebab dia adalah orang yang mengajak dan memaksa Reyna untuk pergi bersamanya.
Sementara itu, Alan, Reno dan Lia sedang bergosip ria di grup mereka, sambil berusaha menahan tawa.
Rai
Asli, gue udah nggak sanggup nahan🤣🤣🤣.
Alan
Sama🤣.
Lia
Kalian pikir gue masih sanggup nahan ketawa apa?🤣.
Gila sih! Muka Valisha di sebelah gue pucat banget🤣.
Alan
Lah, sama ae kek si Reno🤣🤣🤣.
Rai
Dua bocah temen nya si Nara juga sama tuh🤣🤣🤣.
Nikmatnya ketegangan ini😌.
Lia
Mengngakak aku tuh🤣🤣🤣
Alan
Asli! Gue puas banget, liat mereka kek gini. Apalagi pas Nara nyinggung si Reyna, beuuhhh... Gurih gurih nyooooiii 🤣🤣🤣.
Rai
Hahaha... Dan epiknya, si Reyna malah mati kutu di sebelah gue.
Alan & Lia
Parah sih wkwkwk
...----------------...
Mohon saran dan kritiknya semua🙏😊
Agar saya bisa memperbaiki tulisan saya ini
Terima kasih kepada pembaca yang sudah mampir untuk membaca hasil tulisan saya 🙏😊
💜💜💜💜💜💜💜