Could I Have This Feeling?

Could I Have This Feeling?
76



Di saat para siswa-siswa kelas XI MIPA 2 tengah asik mengakrabkan diri, tiba-tiba seorang guru masuk ke dalam kelas mereka yang mana beliau adalah wali kelas XI MIPA 2 sejak kelas X.


Kelas mereka pun seketika menjadi hening. Bu Santi pun segera duduk dibangku nya.


"Selamat pagi anak-anak!" sapa bu Santi dengan senyuman ramah tercetak jelas di wajahnya.


"Selamat pagi bu!" jawab seluruh murid dengan kompak.


"Ibu selaku wali kelas kalian ingin meminta kerja sama kalian untuk kedepannya. Dan untuk para murid ya baru saja bergabung, ibu ucapkan selamat datang di kelas ibu. Mungkin seharusnya ibu tidak mengatakan demikian karena semua murid yang berada di kelas ini adalah para murid yang baru saja naik ke kelas XI," jelasnya dengan senyuman ramah.


"Bu, susunan pengurus kelasnya perlu diubah atau nggak?" tanya Lia selaku ketua kelas periode sebelumnya.


"Hmmm... untuk itu, ibu kira kalian kan sudah besar ya, sudah remaja. Jadi, urusan pengurus kelas beserta jadwal kebersihan ibu serahkan saja kepada kalian, tetapi jika kalian butuh bantuan kalian bisa memberitahukannya kepada saya," jawab bu Santi.


"Baik bu terimakasih," ucap Lia.


"Sama-sama," ucap bu Santi sambil tersenyum kepada Lia. "Okay, berhubung ibu liat semua murid sudah ada di dalam kelas, jadi ibu langsung saja menyampaikan maksud dan tujuan ibu ke sini. Kamu yang ada di luar kelas, silahkan masuk dan perkenalkan diri kamu," pintah bu Santi sambil tersenyum ke arah luar kelas.


Pada saat bu Santi mempersilahkan orang tersebut untuk masuk, seisi kelas menjadi heboh, khususnya anak perempuan. Ada di antara mereka yang kegirangan, kemudian ada yang berbisik mengagumi ketampanan anak tersebut.


Setibanya di tengah kelas, anak tersebut menatap datar ke arah para murid sambil mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut kelas. Dia terlihat tidak perduli dengan keadaan di sekitar kelas, yang dia perdulikan adalah apa yang menjadi tujuannya di sana.


Lia, Reno, Valisha dan Rai terkejut dengan kehadiran seseorang yang ada di hadapan mereka saat ini. Sedangkan orang itu hanya menatap mereka datar pada saat tatap mereka bertemu. Namun, ketika dia melihat Reyna yang sedang sibuk dengan dunianya sendiri, sebuah senyuman terbit di wajahnya yang mana hal ini membuat anak perempuan di dalam kelas semakin terpesona. Meskipun senyuman itu hanya bertahan selama beberap detik saja.


Bu Santi yang melihat dan menyadari susana di dalam kelas langsung meminta anak baru itu untuk memperkenalkan dirinya.


"Nama saya Alvaro Narendra Farras," ucapnya memperkenalkan diri.


"Narendra?" batin Reyna bingung, kemudian dia memberhentikan aktifitasnya dan langsung melihat ke arah depan kelas.


"Ngapain tuh anak balik ke sini?" batinnya bingung.


Namun, hal itu hanya berlangsung selama beberapa detik saja. Sekarang dia sudah kembali ke dunia nya lagi.


Pada saat Nara sudah memperkenalkan diri, terjadi keheningan di dalam kelas. Bu Santi pun merasa bingung dengan perkenalan singkat dari yabg bersangkutan.


"Hmmm... Udah selesai?" tanya bu Santi.


"Iya bu," jawabnya.


"Bukannya perkenalan kamu terlalu singkat?"


"Iya bu," jawabnya sekali lagi.


"Hmmm... Kamu tidak ingin memperkenalkan diri agak lebih panjang lagi? Dikit aja," tanya bu Santi untuk yang ketiga kalinya.


"Tidak bu."


Bu Santi sudah merasa pusing dibuatnya dan akhirnya beliau meminta Nara untuk duduk di bangku kosong di sebelah Rai, lalu segera berpamitan meninggalkan kelas.


"Brotherrrrrrr!!!!" seru Alan dari arah belakang.


Sedangkan Rai, Lia, Reno dan Valisha masih kebingungan dengan kehadiran Nara. Terus Reyna gimana? Dia tidak p.e.r.d.u.l.i.


"Alan!" ujar Rai dan Lia bersamaan sambil menatap tajam ke arahnya meminta sebuah penjelasan.


Valisha yang tadinya hanya duduk diam di bangkunya, segera berpindah ke sebelah Lia dan mengeser tubuhnya sedikit agar bisa berbagi bangku yang sama. Kemudian menatap ke arah Alan.


"Kalian gimana sih? Yang tokoh utamanya kan gue, bukan Alan. Ngapain nanya ke dia sih?" ucap Nara santai.


"Lu diem!" ucap Lia dan Rai dingin sambil menatap tajam Nara.


"Lu pada ngeributin apaan sih? Nggak penting amat, ini juga anak kelas kenapa pada bisik-bisik sambil natap ke bagian sini sih? Kek nggak pernah liat murid baru aja," ucap Reyna sewot sambil menulis di bukunya.


"Na, kalau ngomong itu harus natap lawan bicaranya biar sopan," nasihat Nara.


"Ogah!" tolak Reyna tanpa basa-basi.


"Na! Lu kok jadi galak gini sih? Padahal waktu di sekolah lama gue nggak kek gini deh," tanyanya tak habis fikir.


Tuk!


Reyna pun meletakkan pulpennya, lalu mengubah posisi duduknya menjadi menyamping. Diapun menatap Nara sambil berkata, "Nggak di sana, nggak di sini lu sama aja. Sama-sama cerewet." Menatap malas ke arah Nara.


Nara hanya bisa menghembuskan nafas pelan. Sementara Lia dan Rai masih menatap Alan meminta penjelasan.


"Lu berdua ngapain sih liatin gue? naksir?" tanya Alan dengan nada bercanda.


"Alan buruan jawab deh! Dari semua orang yang ada di sini cuman lu doang yang nggak kaget sama kemunculannya Nara," pintah Valisha.


"Lis, lu kira gue makhluk langkah apa "kemunculan Nara"," ujarnya sewot.


"Ya maap."


"Kalian ngapain nyuruh gua yang jelasin sih? Kan orangnya usah ada nih di depan mata kalian. Tanya langsung aja kali, rempong amat," protes Alan.


"Kalau nanya dia," Lia menunjuk Nara, "yang ada semua omong kosong yang udah lama dia timbun bisa-bisa bangkit lagi."


Mendengar hal tersebut Alan terkekeh geli, sebab Nara tidak akan memberitahukan apa dan kenapa dia bisa ada di sini. Sedangkan yang bersangkutan hanya bisa menghembuskan nafas kesal.


"Nara! Lu apa kabar?" tanya Ivanka yang baru saja datang menghampirinya sambil tersenyum.


"Seperti yang lu liat ini. Lu sendiri apa kabar Van?"


"Baik. Btw ngapain lu balik ke sini lagi, bukannya waktu itu lu bilang mau lanjut SMA di Semarang ya?"


"Iya lanjut di sana, tapi tiba-tiba gue pen balik lagi sih ke sini. Dan dengan penuh perjuangan gue berhasil dapat izin bokap dengan syarat gue nggak boleh bandel," jelas Nara.


"Walah! Akhirnya lu tobat. Lu rindu kagak sama gue?"


"Hmmm... Dikit sih," jawabnya sambil tertawa pelan bersama Ivanka. "Kalau lu gimana?"


"Yaaaa... Kangen sih, soalnya sohib gue yang satu ini tidak bisa tergantikan, Hahahaha...."


"Lu nggak perlu bilang gue udah tau diri kok," ujar Nara penuh percaya diri.


Mereka berdua pun saling mengobrol, sementara orang-orang yang tidak mengerti memilih untuk melakukan hal lain yang lebih bermanfaat dari oada mendengar omongan mereka berdua.


Reyna menatap Nara datar tetapi yang bersangkutan tidak menyadarinya.


"Ternyata dia sama Ivanka temenan, dan lagi Vanka tau kalau tuh bocah lanjut di Semarang, dahlah... Nasib jadi teman sepotong ya gini," batinnya malas.


...----------------...


Mohon saran dan kritiknya semua🙏😊


Agar saya bisa memperbaiki tulisan saya ini


Terima kasih kepada pembaca yang sudah mampir untuk membaca hasil tulisan saya 🙏😊


💜💜💜💜💜💜💜