Could I Have This Feeling?

Could I Have This Feeling?
64



Malam hari di kamar Reyna


"Ahh! Capek banget gue." Mebaringkan tubuhnya ke atas kasur. "Untung aja sebelum berangkat gue minta nomernya si Nara, jadi bisa langsung chat deh kalau nggak jadi berangkat."


Dia diam sambil menatap langit-langit kamarnya. "Si Yasa chattan sama gue cuman sekali itu doang, padahal gue pen chattan bareng dia. Haaa... sayang banget."


Tok!


Tok!


Tok!


"Na, makan yok." Sahut Alan dari luar sana "Bu Asti udah nuguin noh sama anak-anak yang lain."


"Iya Lan, bentar."


"Okay."


...----------------...


Di dalam kelas X MIPA 2


"Lu kenapa dah Nar, lemes amat." Sahut Gabriel.


"Tau nih, biasanya kagak gini modelnya." Tambah Leon.


Bukannya menjawab, dia malah mengabaikan mereka.


"Si Alan mana dah, lama amat datangnya." Batinnya kesal.


Tak berapa lama orang yang Nara tunggu akhirnya datang juga. Tanpa babibubebo dia langsung membawa Alan dan Lia sekaligus karena kebetulan Lia tengah bersama dengan Alan.


Sedangkan Rai, Reno, Reyna, dan Valisha yang melihat hal tersebut hanya bisa terheran-heran dengan sikapnya.


"Tuh anak kenapa dah?" Tanya Reno yang mendapat kedikan bahu dari Rai. Mereka pun segera berjalan ke arah bangku masing-masing.


"Reyna, Nara kenapa sih?" Tanya Leon segera setelah Reyna duduk di bangkunya.


"Nggak tau. Orang gue nggak ada ketemu sama dia tuh." Jawab Reyna santai.


"Kiraiin lu tau. Soalnya lu kan deket sama dia, bestie dari bocah."


"Temenan dari kecil bukan berarti gue tau semua tentang dia."


"Hehehe... Iya sih."


"Oh iya Na, boleh nanya nggak?" Tanya Gabriel.


"Hm" Sambil mengangguk dan memutar posisi duduknya menghadap mereka berdua. Sedangkan Valisha dan Rai tengah ngobrol.


"Apaan?"


"Lu tau nggak tipe cewek yang disuka sama Nara?" Sahut Reno yang sudah duduk di sebelah Gabriel.


"Nggak." Jawab Reyna datar.


"Yakin lu nggak tau?" Tanya Gabriel dan langsung mendapatkan gelengan kepala dari yang bersangkutan.


"Yakin Na?" Tanya Leon dan mendapat respon serupa.


"Ayolah Na, pasti lu tau lah. Gue pernah dengar waktu SMP lu ngasi si Nara wafer favoritnya dari cewek yang suka sama dia kan dan lu sendiri yang bilang waktu itu."


"Oi, No. Gue cuman ngasih titipan orangnya doang kali. Apa hubungannya sama tipe cewek yang Nara suka? Aneh deh!"


"Nggak Na, pasti lu tau lah. Masa lu nggak tau sih. Pasti lu tau lah." Kekeh Reno.


"Elah nih anak, udah dikasih tau juga. Masi aja nggak paham." Ucapnya malas sambil memutar bola matanya malas.


"Gini ya Na, kita mau buat si Nara deket sama cewek yang naksir sama dia. Makanya kita nanya ke elu." Jelas Leon.


"Yon lu kok ngasih tau Reyna sih." Protes Gabriel.


"Tau nih, dia kan belum tau, kok lu bilang sih." Tambah Reno.


"Udahlah udah lewat juga."


Reyna hanya diam sambil menganggukkan kepala nya.


"Good luck ya! Gue beneran nggak tau tipe idealnya kek gimana." Jawab Reyna "Sekali lagi lu maksa, gue patahin lidah lu pada." Ancamnya.


"Eh, mana bisa lidah lu patahin, kalau leher mah masuk akal." Protes Gabriel yang langsung mendapat pukulan gratis dari Reno.


"Makanya itu, kalau leher lu pada gue patahin kan kasian. Manusia ganteng kek lu pada, patah leher... Bisa dikeroyok para ciwi-ciwi gue."


"Jadi lu akuin kita ganteng?" Tanya ketiganya kompak.


"Nggak, gue cuman ikutin kata orang-orang aja sih. Dimata gue lu pada b aja tuh, nggak menarik." Ucapnya dengan wajah tanpa dosa.


"Jahat lu!" Ucap ketiganya kesal.


"Gue cuman mau bilang, kalau lu pada berhasil sih berarti kalian jago soal ngurusin percintaannya tuh bocah. Soalnya gue gagal."


"Yaudah kalau gitu lu bantuin kita aja." Tawar Gabriel.


"Nggak deh, gue takut kena karma." Tolak Reyna.


"Emang kenapa?" Tanya ketiganya penasaran.


"Gue takut ntar jadi bumerang buat gue."


"Maksud lu gimana?" Tanya Leon.


"Ntar gue jadi suka lagi sama dia. Walaupun itu nggak mungkin sih, kalau sama orang selain Nara gue ikut. Tapi kalau dia, nggak deh. Makasih."


"Loh, kalian kan temenan dari kecil Na." Ucap Gabriel.


"Nggak." Jawab Reyna segera setelah Reno bertanya.


"Terus kenapa lu nggak mau bantuin?"


"Karena itu pernah terjadi sama gue, tapi bukan sama Nara. Sama orang lain." Jawabnya santai.


"Ooooo..... Siapa Na?" Tanya ketiganya kompak.


"Kepo"


"Yeee.... Nggak asik lu." Sahut ketiganya kompak.


Sementara Rai yang berada di sebelah Reyna hanya menyunggingkan sebuah senyuman dan membuat Valisha yang berada di depannya, tersenyum penuh maksud. Seakan-akan dia tau alasan kenapa Rai tersenyum.


"Pasti orang yang Ana maksud si Rai. Aaaaaaa! Mereka manis banget sih, padahal udah pacaran juga, masih aja kek gini. Si Reyna ngapain sih nggak sebut Rai aja. Malu-malu kucing ya? Hahahaha...." Batin Valisha.


...----------------...


Di belakang sekolah


Saat ini Nara tengah memarahi Lia dan Alan karena kemarin dia gagal bertemu dengan Reyna. Dia bahkan mengambil ranting pohon dan dedaunan yang ada di dekatnya lalu mematahkan dan merobeknya. Dia juga menendang tumpukan dedaunan yang sudah dikumpulkan oleh penjaga sekolah sehingga dedaunan itu kembali berhamburan.


Bukannya menenangkan Nara, Lia dan Alan mengambil langkah mundur sedikit demi sedikit pada saat Nara tengah marah-marah dan mengacau, sehingga sekarang mereka berdua sudah berada di bawah pohon.


Mereka hanya diam dan menatap Nara santai, seolah-olah itu adalah hal yang biasa. Sedangkan Nara yang tengah marah-marah dan masih menendang apapun yang ada di sekitarnya tidak memperhatikan lawan bicaranya.


"Paham nggak?!" Ucap Nara kesal.


"IYA!" Teriak Alan dan Lia bersamaan.


Nara pun terkejut dengan teriakan mereka berdua, lalu memutuskan untuk menengok ke belakang. Dan pada saat itu juga dia melihat kedua orang itu berada cukup jauh dari posisinya. Mereka menatap Nara santai sambil tersenyum, bahkan Alan sampai melambaikan-lambaikan tangannya.


"Sialan! Jadi dari tadi mereka nonton gue marah-marah?! Temen sepotong emang!" Gimananya kesal sambil menatap mereka berdua.


"Ngapain dia natap kita Lan?" Tanya Lia "Mana natapnya penuh cinta lagi." Tambah nya.


"Mungkin hari ini kita lebih mempesona dari biasanya, makanya dia kek gitu."


"Bener juga lu."


"Tapi kalimat lu yang terakhir itu salah, dia natap kek gitu cuman buat Reyna seorang. Jyaaaaaa!"


"Iya ya, bener juga lu. BTW kalau si Rai ikut pasti dia lagi nahan tawa nih."


"Hooh bener, dan sekarang gue paham apa maksud perkataannya waktu itu."


"Apaan?"


"Ngeliat Nara marah-marah seru, berasa healing."


"Wah gila! Kok bener yah? Hahaha..."


"Hahaha..."


Nara yang masih diam di tempatnya merasa semakin kesal dengan dua orang tersebut. Bagaimana tidak, bukannya menenangkan dirinya mereka berdua malah asik mengobrol sendirian tanpa mengajaknya juga.


"Udahlah! Ngeselin banget lu berdua!" Ucapnya kesal sambil meninggal mereka berdua.


"Lah, kok ngamuk?" Celetuk Alan tanpa dosa.


"Lu sih Lan, ngajak gue ngobrol. Ngamuk kan tuh anaknya." Ucap Lia dengan nada bercanda. Dan mendapat kekehan geli dari Alan.


...----------------...


Di dalam kelas


"Rai lu sibuk nggak?" Tanya Reyna yang duduk di sebelahnya.


"Nggak, emang kenapa?"


"Kantin yuk, gue laper nih."


Rai pun menghembuskan nafas pelan "Makanya kalau pagi-pagi itu disuruh sarapan, ya sarapan aja." protesnya.


"Gue kalau sarapan pagi di sekolah nya ngantuk."


"Itu cuman perasaan lu aja."


"Nggak kok, gue udah rasain beneran tuh."


"Iya deh iya." Ucap Rai sambil berdiri dari bangkunya.


"Lu ngapain?" Tanya Reyna bingung.


"Tadi kan lu ngajak gue ke kantin, Rey. Kok sekarang pura-pura bodoh sih? Hm?" Ucapnya sambil tersenyum sambil menekankan kata bodoh.


"Ihhh, serem amat lu. Iblis berkedok malaikat."


"Nggak usah lebay deh, jadi nggak?"


"Jadi dong! Yuk lah!"


...----------------...


Mohon saran dan kritiknya semua🙏😊


Agar saya bisa memperbaiki tulisan saya ini


Terima kasih kepada pembaca yang sudah mampir untuk membaca hasil tulisan saya 🙏😊


💜💜💜💜💜💜💜