
Ketika sedang asik berbincang-bincang, mereka terganggu dengan datangnya seseorang. Orang itu menarik Reyna keluar dan dia hanya mengikuti saja langkah orang itu.
Beberapa jam sebelumnya
"Woy! Lu kenapa dah?"
"Reyna cuman ngeread chat gue, dia marah kah sama gue? Tapi kan gue nggak punya salah, jadi gimana nih Lan?"
"Elah... Ternyata karena chat doang"
"Doang! Lu bilang?!" Bentaknya yang membuat seisi kelas terkejut.
"Dahlah... Nggak usah ngikutin gue!" Pintahnya
Ia langsung bergegas keluar kelas tanpa menengok sedikit pun. Ketika tiba di dekat kelas Reyna, dia melihat Rai dan kawan-kawannya sedang berdiri di dekat pintu masuk kelas Reyna. Ia menyapa mereka sekenanya dan langsung masuk.
Pada saat keluar kelas, ia tidak menyapa mereka lagi dan malah membawa Reyna pergi menuju ke taman belakang sekolah.
...----------------...
"Kenapa sih? Gangguin orang lagi sibuk ngobrol aja lu"
Orang itu tidak menjawab, dia hanya menatap Reyna datar.
"Yailah... Nggak usah sok sok an pasang muka serem deh lu. Nggak bakalan takut gue"
"Kenapa sih? Mending duduk dulu sini" Ajaknya sambil menarik tangan orang tersebut.
"Gue ditolak Nadine"
Tiga kata itu sontak membuat Reyna terkejut, ia mengerjapkan matanya beberapa kali. Ia juga menepuk telinganya, mungkin saja dia salah dengar.
"Bisa lo ulang nggak?"
"Enak aja! Bisa-bisanya lu nggak nyimak yang gue bilang barusan, ngeselin lu!" Ujarnya kesal
"Buset dah nggak usah marah-marah dong Nar. Gue cuman mastiin aja, kali aja salah denger"
Nara menghembuskan nafasnya kasar dan segera beranjak dari tempat duduknya. Namun, ditahan oleh Reyna.
"Nggak usah marah-marah, gue denger kok"
"Sini duduk lagi" Ujarnya sambil menepuk bangku di sebelahnya.
"Lu kalau ngambek kek bocah"
"Hahahaha"
"Ketawa aja terus ketawa, ketawa sampe puas!" Ucapnya kesal sambil kembali duduk di bangku itu
"Ihhh... baik banget lu. Kan Reyna makin sayang" Ucapnya sambil mencubit kedua pipi Nara gemas.
"Akhhh!!! Sakit woy! Ini pipi kali, bukan squishi"
"Iya deh, maaf"
"Tapi lu lucu kalau lagi kesel, gemesin tau nggak. Bawahnya jadi pengen nyubit mulu"
Reyna hendak mencubit pipinya lagi, namun berhasil ditahan sang empunya.
"Cih! Pelit!"
"Bodo amat"
"Jadi gimana? Kok bisa ditolak? Dan lagi kok nggak ngasih tau ke gue kalau lu suka Nadine? Kan kali aja gue bisa bantu"
"Walaupun belum tentu diterima"
"Hahaha" Ucapnya dengan watados andalannya disertai dengan tawanya.
"Huh! ngeselin lu!" Ujarnya tambah kesal kepada Reyna.
"Cup cup cup... Kasian nih temen kesayangan gue yang habis tertolak. Sini cerita!" Ucapnya seperti menenangkan seorang anak kecil sambil mengelus-ngelelus kepalanya.
Sedangkan yang empunya hanya mendengus kesal saja.
Dari kejauhan tampak seorang anak laki-laki tengah memperhatikan mereka, Rai. Saat ini ia sedang berada di kantin dan kebetulan juga kantin itu cukup dekat dengan taman belakang sekolah.
Ia sedari tadi memperhatikan bagaimana sikap kedua orang itu, yang jelas salah satunya sedang kesal dan yang satunya sedang terus menggodanya.
"Rai"
Dia mendengar seseorang memanggil nama nya, tetapi dia memilih untuk mengabaikannya. Ia masih fokus melihat dua orang di luar sana. Cocok! Entah apa yang merasukinya, kata itu terlintas begitu saja di kepalanya.
"Woy!" Seru seseorang degan suara agak nyaring di sebelahnya. Sontak membuatnya tersentak dan langsung menatap orang itu.
"Lu ngapain sih? Dari tadi gue sama teman-teman lu lagi manggil lu.
"Sorry, Zayn. Tumben nyariin gue, kenapa?" Tanyanya dengan ramah diikuti dengan senyuman manisnya.
"Lu kalau ngomong sama cowok, nggak usah sambil senyum dong. Kalau sama cewek mah wajar" Protes Zayn
Sedangkan Rio, Gerry, Rizky dan Yudis tengah menahan tawa mereka. Pasalnya, Rai hanya luar nya saja yang tampak bak malaikat. Namun sayang, di dalamnya terdapat iblis yang tengah bersemayam. Itulah perumpamaan mereka berempat.
Bukan tanpa sebab saat mengatakannya, mereka pernah melihat dengan mata kepala sendiri jika Rai pernah berantem dengan kakak kelas mereka, sekitar sebulan lalu. Semenjak saat itu mereka tidak berani menggangu nya.
"Dari lahir gue udah kek gini, nggak bisa dirubah" Ucapnya datar tanpa senyuman.
"Santai santai, becanda doang gue. Keknya kelamaan temenan sama Reyna deh lu. Bawaannya sensitif, padahal dulu lu easy going"
"Ngapain lu ke sini?" Tanyanya mengabaikan ucapan Zayn barusan.
"Itu... Lu liat si Reyna nggak? Soalnya waktu gue ke kelasnya dia nggak ada, gue nyari di kantin biasa juga nggak ada" Jelasnya
Rai langsung menunjuk ke arah 2 orang yang tengah berbincang-bincang.
"Noh"
Zayn pun mengikuti arah tunjuknya, begitu juga dengan keempat teman Rai.
"Ok, makasih bro"
Setelahnya Zayn langsung segera pergi dan menuju ke tempat tujuannya.
...----------------...
"Gue suka sama lu, mau nggak jadi pacar gue?"
"Gitu doang?" Tanya Reyna sambil mengangkat sebelah alisnya
"Hooh"
Plak!
Satu pukulan mendarat sempurna di lengan Nara. Ia hanya bisa mendengus kesal sambil memasang wajah kesalnya.
"Bego! Lu kok to the point banget sih? Kalau mau nembak basa basi dulu kek, jangan langsung nembak doang dong" Protes Reyna
"Gue kan nggak tau ege, gue nggak pernah nembak cewe"
"Harusnya lu nanya dong ke gue gimana caranya" Tawar Reyna.
"Emangnya lu pernah ditembak yah?" Tanya Nara sambil tersenyum miring, pertanda jika ia menganggap remeh Reyna
"Iya juga sih" Ucapnya lesuh sambil menghembuskan nafas pelan.
"Hahaha ..." Nara tertawa puas mendengar jawaban dari Reyna.
"Kalau lu ngasih saran, sadar diri dong"
"Iya iya. Terus dia bilang apaan?"
"Dia bilang, "kenapa gue bisa suka sama dia?" Gitu"
"Terus lu jawab apaan?"
"Suka aja gue"
"Huh?!" Reyna masih bingung dengan jawaban Nara
"Suka aja gue"
"Hah?"
"Huh hah huh hah... Mau jadi orang utan lu? Itu jawaban gue"
Reyna hanya menatapnya datar dan tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Dan kali ini Nara yang dibuat bingung dengan tingkah Reyna.
"Kenapa?"
"Lu begonya udah stadium akhir"
"Hah? Maksud lu?"
"Hedewww... Lu beneran suka nggak sih?"
"Nggak tau, gue cuman pen nyoba-nyoba aja. Dan kebetulan gue agak tertarik sama Nadine. Dia selalu bantuin gue kalau ada tugas kelompok waktu kelas 7."
"Dahlah... Nggak usah dilanjut, kesel gue dengernya"
"Seriusan?"
"Hooh"
"Kenapa?"
"Sengenes ngenesnya gue, tapi gue masih pintar dari lu."
"Maksudnya?"
"Maksud gue, walupun nggak pernah ada yang nembak gue, tapi gue tau gimana caranya kalau mau nembak cewek"
"Oh gitu, tapi lu kan cewe"
"Dahlah lupain aja, gue juga nggak ngerti"
Suasana cukup hening sebab tak ada yang membuka suara. Tiba-tiba...
"Na, pacaran yuk!" Ucapnya serius
"Ogah! Udah deh nggak usah ngaco lu"
"Gue serius" Ucapnya
"Gue juga" Jawab Reyna tak kalah serius. Mereka saling bertatapan cukup lama dan tanpa mereka sadari sudah ada seseorang yang berada di sana, Zayn.
"Lagi lomba tatap-tatap yah?"
Sontak mereka langsung terkejut. Dan Zayn tersenyum bangga akan hal itu.
"Jurik"
"Setan lu ya?"
"Buset dah, kenapa nama spesies lu berdua disebut sih"
"Woy Zayn! Lu mau tanggung jawab apa kalau jantung gue copot?!"
"Elah, tadi si Rai yang sensitif, sekarang elu. Hedeh... Virus lu udah menyebar Na" Ucapnya dibuat-buat dramatis.
"Lebay lo! Ngapain lu kemari?"
"Nih, dari kak Lisa buat lu" Ucapnya sambil menyerahkan kotak makanan kepada Reyna.
"Thanks bro, pasti enak nih"
"Anytime"
...----------------...
Mohon saran dan kritiknya semua🙏😊
Agar saya bisa memperbaiki tulisan saya ini
Jangan lupa like nya dong 😁
Terima kasih kepada pembaca yang sudah mampir untuk membaca hasil tulisan saya 🙏😊
💜💜💜💜💜💜💜