Could I Have This Feeling?

Could I Have This Feeling?
33



Di sisi lain


Kelompok Reyna sedang bersantai sambil mengobrol-ngobrol di teras depan rumah Lia.


"Plong ya rasanya, udah nyicil sebagian di sekolah" Ucap Reyna


"Bener tuh, tapi dikit doang" ~Bless


"Setidaknya kita tinggal nyelesaiin sisanya doang"~Nadine


"Eh, Nad. Yang bagian ini gimana caranya?" Tanya Tiyas


"Oh, yg bagian ini lu cabut akar dulu, trus ntar lu kali sama yang ini. Habis itu, kalau udah dapat hasilnya lu masukin ke rumus yang dijelasin bu Ratna waktu di sekolah. Oh iya, buat yang nggak bisa dicabut akar, lu biarin aja. Nggak usah diapa-apain" Jelas Nadine


"Okay, makasih"


"Sama-sama"


...----------------...


Di kamar Reyna


^^^Reyna^^^


^^^"Sya, lu lagi ngapain?"^^^


Tasya


"Lagi belajar Na. Emang kenapa?"


^^^Reyna^^^


^^^"Si Rai banyak yang taksir di sekolah. Jadi lu harus berjuang buat menghadapi para saingan-saingan lu"^^^


Tasya


"Makasih infonya babe. Tapi gue santai aja sih, mau si Rai sama siapa aja"


^^^Reyna^^^


^^^"Lu yang suka, nape jadi gue yang ribet si?"^^^


Tasya


"Hahaha... Nggak papa dong, sekali-kali ngerepotin lu๐Ÿ˜˜"


^^^Reyna^^^


^^^"๐Ÿ™„"^^^


Tasya


"Na"


^^^Reyna^^^


^^^"Hm"^^^


Tasya


"Besok ultahnya si Rai. Sampein ucapan selamat dari gue ya, please ๐Ÿ™๐Ÿฅบ"


^^^Reyna^^^


^^^"Hedew... Lu kan tetanggaan sama dia, cuman berjarak 4 rumah doang. Lu aja yang ngasih tau"^^^


Tasya


"๐Ÿฅบ๐Ÿฅบ๐Ÿฅบ"


^^^Reyna^^^


^^^"๐Ÿ˜’"^^^


Tasya


"Ana, ayo dong. Gue malu kalau ucapin langsung๐Ÿฅบ"


"Na, ayolah๐Ÿฅบ"


"Reyna๐Ÿฅบ"


"Ana๐Ÿฅบ"


"๐Ÿฅบ๐Ÿฅบ๐Ÿฅบ"


^^^Reyna^^^


^^^"Iya deh iya"^^^


Tasya


"Yippiiii... Thanks ya Na, lu emang yang terbaik๐Ÿ˜˜"


^^^Reyna^^^


^^^"๐Ÿ‘"^^^


"Nggak boleh, gue nggak boleh suka sama Rai. Gue cuman sekedar kagum doang sama dia...


Yups...


Bener...


Gue cuman kagum aja, tohnya dia pinter, jago olahraga, ramah lagi ... Terus rajin ke masjid, siapa coba yang nggak kagum sama dia?


Tapi tadi di kantin.....


Ah!


Dahlah... Nggak penting juga, lagian cuman si Keysa sama Lia doang. Buktinya waktu gue ngomong nggak, mereka juga pada nggak percaya


Udah lah.... Mending gue tidur aja " Batin Reyna


...----------------...


Keesokan harinya di kelas 7A. Para siswa-siswi sedang asik dengan urusan mereka masing-masing, berhubung jam pelajaran sedang kosong karena rapat guru.


Walaupun hanya ada sebagian saja yang ada di dalam kelas, sedangkan yang lainnya sudah menjelajah di luar kelas.


"Kantin kuy" Ajak Zayn pada Rai dkk


"Boleh lah... gaslah" Ujar Adrian


Mereka pun segera meninggalkan tempat duduk mereka.


"Rai, ayok" Ajak Farel


"Nggak ikut gue" Tolak Rai


"Lagi nggak pengen" Jawab Rai


"Oooh yaudah, mau nitip nggak?" Tawar Ferry


"No, Thanks" Tolak Rai


"Okay"


"Yaudah deh, kita cabut dulu ye Rai" Ucap Zayn


"Hm"


Mereka pun segera pergi menuju kantin dan meninggalkan Rai di dalam kelas. Beberapa menit telah berlalu setelah para sahabatnya pergi, dan sekarang hanya tinggal ia seorang diri yang berada di kelas.


Sebab para siswa-siswi yang tadinya berada di dalam kelas, telah pergi dari sana.


Rai pun hanya memainkan rubik miliknya saja. Saking asyik memainkannya, ia tidak sadar bahwasannya sudah ada seseorang yang masuk ke dalam kelasnya.


Brak!


Bunyi pukulan meja itu membuat Rai kaget, jantungnya serasa ingin keluar dari tempatnya. Ia menengok ke sumber suara itu dan ia melihat Reyna yang sedang meletakkan kepalanya di atas meja.


"Kenapa lagi dah tuh anak? Gegara Adri lagi kah? Lagian tadi dia mukul meja make kepalanya kah? Nggak sakit tuh?" Batinnya masih melihat ke arah Reyna.


"Apa lu liat-liat" Ucap Reyna sewot sambil mengangkat kepalanya dan melihat ke arah Rai datar.


"Kepala lu nggak sakit?" Pertanyaan itu terlontar secara spontan dari mulut Rai.


Mendengar itu Reyna hanya mengerutkan keningnya dan...


"Lu sakit yah?" Tanya Reyna sambil berpindah ke bangku milik Zayn yang berada di depannya dan berseberangan dengan bangku milik Rai.


"Maksud lu?"


"Itu pertanyaan lu"


"Kenapa? Lu mukul meja make kepala lu kan?"


"GILA LO!!!"


Rai yang sedang memainkan rubiknya pun tersentak karena terikan Reyna. Ia pun menengok ke samping.


"Nggak usah teriak bisa nggak? Kalau gue mati karena jantungan, lu mau tanggung jawab?" Ucapnya


"Sorry, sorry... Lagian lu gila aja, ya kali gue mukul meja make kepala gue. Gue mukul tadi make tangan kali. Hedehhh... lu kata kepala gue beton apa"


"Mungkin aja"


Reyna hanya menatapnya datar saja begitu pula dengan Rai. Setelah itu mereka mengembalikan pandangan mereka ke arah semula.


Reyna menatap papan tulis, sedangkan Rai memainkan rubiknya.


Brak!


"Rai" Ucap Reyna sambil memukul meja


Lagi...


Rai kembali terkejut atas apa yang dilakukan oleh Reyna. Dia hanya mengelus-ngelus dadanya saja karena hal itu.


"HBD"


"Dari Tasya" Hanya 3 kata itu saja yang terlontar dari mulutnya.


"Okay, Thanks"


Setelah itu Reyna kembali ke bangkunya, dan memilih untuk tidur. Tiba-tiba....


*Brug!


"Astagfirullah hal adzim" batin Rai sambil mengelus dadanya dan segera menenengok ke asal suara tersebut.


"Dia lagi!" Tambahnya sambil menghembuskan nafas kasar*.


"Aduh! Sakit bat ni pala gue" Ucap Reyna sambil mengelus kepalanya sambil berdiri dari lantai.


Ia terjatuh karena ingin menyenderkan kursinya ke dinding dengan 2 kaki bagian depan dia angkat, dan bagian belakang sebagai tumpuannya. Karena jarak kursi Reyna ke dinding cukup jauh, alhasil kepalanya terbentur di dinding tersebut, untungnya dinding itu terbuat dari kayu yang bertujuan memisahkan antara kelas A-B-C.


"Uh! Sakit"


"Aduh! Mama sakit banget" Ejek kedua sahabat Reyna


Sedangkan Reyna habya mendengus kesal.


"Sakit Na?" Tanya Nadine


"Sungguh pertanyaan yang nggak perlu dijawab Nad" Ucap Reyna santai.


Mendengar itu mereka bertiga hanya tertawa saja. Jika bukan karena Nadine mungkin saja Reyna sudah mengomeli kedua sahabatnya itu.


"Hahaha... lucu. Ketawa aja terus" Sahutnya kesal


"Jan ngambek lah Na" Ucap Nadine


"Iya deh"


"Beuh... Giliran Nadine aja lu kalem, kalau sama kita berdua mah... Pasti udah lu semprot dari tadi kan?" ~ Lia


"Pinter. Karena Nadine imut, jadi masih bisa ditoleransi" ~Reyna


"Lagian lu ngapain sih?" Tanya Keysa


"Mau nyender ke dinding, eh... malah jatoh" Jawab Reyna


"Bego sih lo" ~Ucap Lia


Reyna sudah bersiap untuk memukul Lia, namun ditahan oleh Nadine.


"Kalem Na, kalem" Tenang Nadine


"Canda gue, nggak usah serius amat nape sih" Ucap Lia


"Terserah" Ucap Reyna


"Nih kita bawa keripik singkong favorite lu, bilang apaan?" ~Keysa


"Makasih banyak, lu bertiga emang yang terbaik" Ucap Reyna dengan senyumannya.


...----------------...


Mohon saran dan kritiknya semua๐Ÿ™๐Ÿ˜Š


Agar saya bisa memperbaiki tulisan saya ini


Terima kasih kepada pembaca yang sudah mampir untuk membaca hasil tulisan saya ๐Ÿ™๐Ÿ˜Š


๐Ÿ’œ๐Ÿ’œ๐Ÿ’œ๐Ÿ’œ๐Ÿ’œ๐Ÿ’œ๐Ÿ’œ