Could I Have This Feeling?

Could I Have This Feeling?
46



"Rai cobain dah bekal gue" Tawar Alena yang semenjak tadi hanya diam.


"Nggak, makasih" Tolaknya


"Please, cobain dong"


"Yaudah deh, siniin"


Reyna yang mendengar hal tersebut segera memasang kupingnya lebar-lebar, dia sudah tidak memikirkan kemarahannya untuk saat ini.


"Akhirnya gue bisa dapat info buat si Tasya" Batinnya.


Rai segera mencoba bekal makan siang Alena, setelah tadinya meminjam sendok pada bu kantin.


"Gimana?" Tanya Alena


"Enak kok"


"Syukur deh, kalau gitu lu aja yang makan"


"Ehhh!!! Nggak, nggak, ini bekal lu. Lu aja yang makan" Ucapnya sambil menyerahkan kotak bekal itu kepada Alena.


"Nggak usah, nih gue beli roti tadi" Ucapnya sambil menunjukkan rotinya itu.


"Okay"


...----------------...


"Elah... Si Yudis lama bener dah" Ucap Rizky


"Tau nih, kita dari tadi nunggu makanan, ehhh... malah Rai yang duluan makan" Tambah Gerry


"Sungguh tidak adil" Ucap Rio dramatis


"Mendingan susul aja deh" Saran Nara


Mereka bertiga segera menyusul Yudistira, dan sekarang hanya menyisahkan Rai, Nara, Reyna dan Alena. Karena Tempat duduk di sebelah Rai kosong, Alena pun pindah ke situ.


"Hehehe... Nggak papa kan gue duduk di sini?" Tanyanya setelah duduk


Rai hanya menggelengkan kepalanya.


"Loh, kok kentangnya nggak lu makan?" Tanya Alena setelah memperhatikan isi bekalnya.


"Sorry, gue nggak suka kentang" Jawabnya


"Okay, dia nggak suka kentang. "Simpan dimemori otak gue!" Batin Reyna


"Oh, sorry gue nggak tau" Ucap Alena sedih


"Nggak papa, santai aja"


"Terus itu, kamu nggak suka sambal nya?" Tanya Alena


"Bukan gitu kok, cuman sambal mu pedis banget dan baunya nyengat. Sorry yah" Ucap Rai


"Oh, gitu... nggak papa kok"


Nara sedari tadi hanya fokus memakan makanannya saja. Dan lebih tepatnya, itu adalah makanan milik Reyna.


"Lo udah nunggak berapa lama bayar uang kas?" Tanya Reyna tiba-tiba ketika suasananya sedang hening.


Nara mengerutkan keningnya dan segera menatap Rai. Seperti biasa, mereka akan berbicara melalui telepati, ntah bagaimana caranya. Yang jelas mereka bisa memahami satu sama lain.


"Kok diem?"


Pertanyaan Reyna membuat telepati mereka terputus. Nara segera menengok ke arah Reyna yang sedang menatap tajam ke arahnya.


"Anu Na... Itu ... eh... Apaan tuh namanya Rai?" Tanyanya


Rai hanya mengatakan kedua bahunya dan memilih untuk melanjutkan sesi makannya yang sempat tertunda.


"Hmmm... Kalau gue ngasih tau si Yasa keknya seru deh. Iya nggak sih?" Ucap Reyna antusias dengan senyuman mengembang di wajahnya.


"Ehh!!! Jangan jangan! Nggak banyak, sebulan doang, sama sisa nunggak semester kemarin" Jelasnya santai.


Ketegangan yang dia rasakan tadi, tiba-tiba hilang begitu saja. Entahlah... Mungkin dia sudah biasa dengan omelan Reyna. Kalau Zayn adalah pawangnya Reyna, Nara adalah lawan terkuat untuk Reyna.


Reyna hanya bisa mendengus kesal, ia tidak tau harus mengatakan apalagi kepada temannya itu.


"Serah lu dah"


"Elah! Ngambek, kek cewe aja lu"


Cetak!


Reyna segera menjitak kepala Nara dengan sekuat tenaganya.


"Ah!! Sakit oi. Lu cewe bukan sih? Tenaga kek Hercules. Kalau kek gini Zayn nggak bakalan bisa suka sama lu tau nggak" Ucap Nara


"Ngapain sih bawa-bawa tuh anak. Please deh! nggak usah jadi Adrian kw dah lu"


"Udah deh, nggak usah berantem" Lerai Rai


"Dengerin tuh, Reyna sayangnya aku" Ucap nya dengan senyuman manis sambil memiringkan kepala dan menatap Reyna.


"Iya, aku denger kok. Tukang kebun ku" Jawab Reyna dengan senyuman mengejeknya.


Seketika senyuman Nara pudar dan ia hanya bisa menghela nafas kasar. Reyna puas dengan kemenangannya itu.


"Puas lo?!" Tanyanya judes


"Banget" Ucapnya dengan senyuman


"Lena, nggak usah lu pikirin mereka, cuman buang-buang waktu doang itu. Mereka emang suka kek gitu" Jelas Rai yang tersadar jika Alena sedang bingung dengan situasi dua orang di depannya. Tadinya seperti ingin terjadi perang, tetapi sekarang---- sudahlah.


"Ah! Iya!" Jawabnya


Mereka pun hanya mengobrol ringan saja dengan Reyna yang hanya menyimak. Sedangkan keempat orang yang pergi tadi tak kunjung kembali.


"Fandi" Sapa nya dan segera beranjak dari tempat duduknya ketika tiga orang di depannya tengah berbincang.


"Lia mana? Oh! Hai Gio"


"Di perpustakaan bareng Nadine"


"Hai"


"Nitip yah, tolong kasiin ke Lia boleh?" Tanyanya sambil mengulurkan flash disk di tangannya.


"Ini mah lu bukan nanya Na, tapi pen nyuruh ngasih ke Lia" Jelas Gio


"Apasih Gio, gue kan beneran nanya boleh atau nggak. Plus nggak ada penolak sih buat jawabannya. Jadi wajib" Ucapnya sambil cengar cengir.


Gio hanya menatapnya datar.


"Boleh kok" Ucap Fandi "Gue ambil nih ya?"


"Okay, makasih yah."


"Iya, kita cabut dulu ya"


"Okay bro"


...----------------...


^^^Reyna^^^


^^^"Tasya"^^^


Aku memutuskan segera menghubunginya untuk memberikan hasil buruanku tadi siang. Sudah hampir 6 bulan aku tidak pernah lagi memberikan hasil buruanku. Bukan karena tak ingin, hanya saja target ku berada jauh di daerah jangkauanku.


Aku selalu menekankan pada diriku sendiri untuk tidak boleh menyukai apalagi sampai mencintai Rai. Karena hal itu tidaklah benar adanya.


Mungkin kalian berfikir jika kau terlalu lebay dalam hal ini, dan lagi aku masih anak SMP. Tapi tidak masalah, itu pendapat kalian dan aku tidak berhak untuk ikut campur. Terlalu banyak drama? Terserah.


Aku hanya mengatakan apa yang ada di benak ku. Yang jelas Tasya sudah lebih dulu menyukainya, jadi aku tidak boleh sampai menyukainya hanya karena sering memperhatikannya.


Bukankah aku sama saja dengan seorang penghianat? Yang menyukai sesuatu yang tidak seharusnya? Itulah yang selalu kutekankan.


Aku tidak ingin jika Tasya sampai memusuhi ku apalagi sampai membenciku. Itu tidak boleh, dia adalah teman terbaiku. Jadi aku tidak boleh menyukainya.


Yeah .. itu benar. Aku hanya sekedar kagum saja padanya. Tidak lebih dari itu dan tak akan pernah.


Tring!


Sebuah notifikasi yang muncul di hp Reyna langsung membuatnya tersadar dari kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi jika dia sampai menyukai Rai.


Tasya


"Kenapa cuy?"


^^^Reyna^^^


^^^"Gue ada info nih soal Rai"^^^


Tasya


"Apa tuh? gue penasaran dungs"


^^^Reyna^^^


^^^"Kan si Tasya antusias banget. Dia pasti suka banget sama tuh manusia. Soalnya dia nggak pernah kek gini, dan dia males kalau bahas soal cowok."^^^


"Pokoknya gue harus bantuin dia buat deket sama Rai. Iya bener, pinter juga gue. Ntar dulu, gimana caranya? Boro-boro mau ngedeketin mereka berdua, ngobrol sama dia ae bisa dihitung jari. Hedewww.... Sadar diri Na! Si Rai ngelirik lu aja nggak. Haiisss!!! Nggak usah deh, ribet." Batin nya


Tasya


"Na? kok cuman diread?


^^^Reyna^^^


^^^"Sorry sorry, lagi nggak fokus gue"^^^


Tasya


"Oh, okay. Terus gimana?"


^^^Reyna^^^


^^^"Jadi ternyata si Rai itu nggak suka sama ketang dan sambal yang baunya nyengat. Katanya dia sambal itu pedis kalau baunya nyengat dan dia nggak suka. Sama dia juga nggak suka makanan pedas"^^^


^^^"Oh iya, di sekolah gue ada anak cewek teman sekelasnya Rai yang lagi deketin dia. Selamat yah saingan lu nambah. Mendingan lu ngedeketin si Rai langsung deh, soalnya gua susah nyari info soal dia. Karena udah beda kelas."^^^


Tasya


"Oh itu, gue udah tau kok kalau dia nggak suka kentang. Hehehe... Btw thanks yah. Dan soal ada cewe yang suka atau ngedeketin dia, gue sih nggak masalah, itu hak mereka. Kalaupun si Rai punya pacar atau gebetan, gue juga nggak masalah."


"Dan buat saran lu thanks, gue terlalu malu buat ngedeketin dia. Jadi maaf, saran anda ditolak"


^^^Reyna^^^


^^^"Hedeww ... Terserah lu deh kalau gitu. Intinya gue udah ngasih tau yang gue tau ya.^^^


Tasya


"Thanks ya my bestie."


^^^Reyna^^^


^^^"Anytime"^^^


...----------------...


Mohon saran dan kritiknya semua🙏😊


Agar saya bisa memperbaiki tulisan saya ini


Terima kasih kepada pembaca yang sudah mampir untuk membaca hasil tulisan saya 🙏😊


💜💜💜💜💜💜💜