Could I Have This Feeling?

Could I Have This Feeling?
82



Nara POV


Hari ini aku dengan semangat bertanding melawan tim lawan. Bisa dibilang suasana hatinku sedang sangat baik. Karena Reyna akhirnya bisa melihatku bertanding secara langsung.


Aku terus mencetak skor ketika mendapatkan peluang, tak lupa aku juga mencari keberadaan Reyna sambil tersenyum ke arahnya.


Sesekali aku juga melirik Reyna yang tampak serius menonton pertandingan, yang mana hal ini membuat senyuman di wajahku tak pernah luntur selama pertandingan.


Setelah pertandingan usai, aku berharap Reyna turun dari kursi penonton dan menghampiriku, namun sayang hal itu tidak terwujud. Akhirnya aku memutuskan untuk pergi berkumpul di ruang ganti untuk mendengarkan, apa saja kekurang kami selama perbandingan tadi dari sang pelatih, agar kejadian yang sama tidak terulang lagi.


Aku keluar dari dalam sekolah lawan sekitaran 10 menit, lalu menuju ke tempat parkir. Di sanalah aku melihat Reyna tengah berdiri agak jauh dari motorku.


Aku pun menghampirinya dengan senyuman penuh kemenangan.


"Gimana pertandingannya? Seru kan?" tanyaku dengan penuh kegembiraan.


"Hmm... seru kok," jawab Reyna santai.


Mendengar jawaban tersebut, senyuman di wajahku semakin lebar.


"Seruan mana sama futsal?"


"Futsal," jawab Reyna dengan wajah polosnya.


Seketika senyumanku pun pudar dari wajahku, lalu aku memilih untuk mengajaknya pulang, karena sebentar lagi akan masuk waktu magrib.


Sepanjang perjalanan aku memilih diam, sebab aku merasa kesal ketika Reyna mengatakan futsal lebih seru dibandingkan basket.


"Na, futsal yang yang seru atau karena Rai yang main di timnya, yang mana Na. Hahaha... Apasih yang gue harapin dari lu?" batinku tidak habis fikir.


Senyuman meris tercetak jelas di wajahku. Ketika aku sedang kalut dengan fikiranku. Reyna tiba-tiba saja memanggilku.


"Nar!"


Dengan malas aku pun menyahuti panggilan Reyna.


"Hm"


"Kok lu diem? Biasanya kan lu selalu pamer."


"Nggak papa, capek aja."


Reyna tidak bertanya lagi dan kembali memilih untuk diam.


Setibanya di rumah Reyna, aku masih diam dan hanya mengangguk ketika Reyna berterimakasih, lalu pergi begitu saja dari sana.


...----------------...


Malam harinya aku masih memikirkan kata-kata Reyna sambil berbaring di kasurnya.


"Bisa nggak lu bohong aja bilang kalau basket lebih seru? Gue udah cukup kok Na, walaupun bohong," gumamku sedih.


"Gua nggak suka lebel teman masa kecil!" gumamku kesal.


Handphone yang berada tidak jauh dariku tiba-tiba berdering, dan dengan semangatnya aku langsung mengambilnya berharap jika yang menelfon adalah Reyna.


Raut kesalku kembali lagi setelah melihat nama Alan lah yang menghubungiku.


"Hm"


Lu kenapa sih? Keknya nggak seneng banget gue telfon?


"Yaiyalah, orang yang gua tunggu telfonnya Reyna," ucapku tanpa sadar.


Hah?! Emang kenapa harus Reyna?


Mendengar ucapan Alan, aku langsung menepuk kepalaku sambil merutuki kebodohanku. Inilah efek buruk karena terlalu terus terang kepada Alan selaku tempat curhat, mau berbohong tapi dia bisa mencari taunya sendiri.


Akhirnya dengan berat hati aku menceritakan semuanya kepada Alan. Namun, bukannya bersimpati setelah mendengar ceritaku, Alan justru malah mentertawakanku.


Aku hanya bisa mendengus kesal mendengar tawa Alan di seberang sana, ingin rasanya aku melayangkan tonjokan manis ke wajahnya saat ini. Namun sayang, terhalang oleh jarak.


Haduh! Jadi lu lagi marah nih ceritanya sama Reyna, gegara dia bilang kalau futsal lebih seru?


"Hm"


Ya berarti dia jujur si


"Tapi boong juga kan bisa buat menghargai perasaan orang lain," ucapku kesal.


Aku heran, sebenarnya dia ini temanku atau teman Reyna.


Gua belum selesai ngomong nj*r. Lagian lu juga masa marah gegara tim olahraga doang. Bukan berarti dia bilang futsal lebih seru, terus berarti lu orangnya nggak seru karena anggota basket, kan enggak. Lagian ngapain sih lu jadiin olahraga perbandingan antara lu sama Rai?


Udah si itu hak dia, lu nggak bisa ngelarang. Ingat! Lu itu cuman teman masa kecilnya, ucap Alan sambil menekankan kata "teman masa kecil" di seberang sana.


"Gue tau sat!" ucapku kesal.


Aku merasa semakin bertambah kesal setelah mendengar kenyataan yang sudah aku tau dari mulut Alan barusan. Teman masa kecil? Cih! That's just a bullsh*t!


Terus sekarang lu maunya gimana?


"Nggak tau."


Yaudah deh, gue lagi nggak ada saran, lakuin aja sesuka hati lu.


"Tumben."


Eh, ada tenyata. Coba buka hati buat yang lain.


"Udah pernah nyoba, tapi nggak berhasil dan gue nggak ada niat, minat dan bakat buat ngelakuin. Lu bisa bilang gue kena kutukan cinta pertama."


Kayak lagunya Raisa yeee...


Gue baru tau kalau lu bisa juga denger lagu meloww.


"Kagak tau, gue lagi suka aja."


Tut... Tut...


"Lah? Kok dimatiin? Padahal biasanya dia kalau nelfon lama, atau nggak ngajak mabar. Lowbat lagi kali ya hp nya?"


...----------------...


Keesokan harinya, tanpa sengaja aku bertemu dengan Reyna yang baru saja tiba di sekolah. Dia melambaikan tangan sambil tersenyum ke arahku. Bukannya menyapa balik, aku malah pergi begitu saja.


Hal yang sama terus terjadi dan berlangsung selama sepekan. Aku merasa tidak senang dengan perlakuanku kepada Reyna, tetapi aku juga masih merasa kesal.


Saat ini aku tengah berada di kantin bersama dengan Alan, Rai, dan Lia. Di meja yang jauh dari kami terdapat teman-teman Lia bersama dengan Reno. Kami berempat sengaja memisahkan diri dari mereka, karena aku yang memintanya.


"Kalau mau minta saran atau masukan, bisa di tempat yang lebih pribadi nggak? Malah di kantin," celetuk Lia.


"Biasa Li, kurang modal," ejek Rai.


"Berisik lu berdua!" ujarku kesal.


"Sabar bro," ucap Alan sambil menepuk-nepuk pundaknya kebapakan.


"Rai lu suka sama Reyna?" tanyaku to the point.


"Nggak, gue cuman menganggap dia sebagai teman. Dan gue juga tau dulu dia suka sama gue, soalnya dia ngaku," jelasnya seolah-olah mengetahui apa yang akan aku tanyakan selanjutnya.


"Okay. Li, Reyna nggak ada ngebahas gue sama lu?" tanyaku dan beralih kepada Lia yang duduk di hadapanku.


"Ada."


"Seriusan?" tanyaku antusias dengan senyuman di wajahnya.


"Tapi cuman sekali," jawab Lia santai sambil tersenyum manis. Sedangkan senyuman di wajahku langsung memudar tanpa jejak.


"Kapan?" tanyaku datar.


"Di hari lu diemin dia, selebihnya kagak ada."


"Oh, okay."


Setelah itu aku langsung pergi dari sana tanpa menggubris panggilan mereka. Keinginanku untuk lanjut bertanya telah sirna setelah mendengar jawaban Lia atas pertanyaanku. Sakit, tapi itulah faktanya.


"Se-enggak penting itu kah gue di hidup lu?" batinku sambil tersenyum miris.


Pada saat aku memasuki kelas, aku melihat dia tengah duduk di mejanya. Aku menatapnya sekilas, karena Reyna tiba-tiba menengok ke arahku. Dia tersenyum sambil melambaikan tangannya, tetapi aku memilih untuk mengabaikannya, lagi.


Aku melirik Reyna yang duduk di bangku depan sebelah kananku hendak memutar badannya menghadap ke arahku. Dan aku sadar jika saat ini dia sedang menatapku. Aku merasa senang meskipun hanya ditatap olehnya.


"Cih! Murahan banget gue, bodo dah yang penting diperhatiin Reyna heheeee..." batinku senang.


...----------------...


Mohon saran dan kritiknya semua🙏😊


Agar saya bisa memperbaiki tulisan saya ini


Terima kasih kepada pembaca yang sudah mampir untuk membaca hasil tulisan saya 🙏😊


💜💜💜💜💜💜💜