Could I Have This Feeling?

Could I Have This Feeling?
41



Waktu pun terus berlalu dan tanpa terasa sekarang ini mereka telah duduk di bangku kelas 8, dan sudah waktunya ujian semester.


Sekarang mereka tengah bersiap untuk mengerjakan ujian mereka. Satu jam setengah berlalu sudah ada siswa yang mengumpulkan jawabannya. Reyna juga telah selesai mengerjakan ujiannya, tetapi ia kurang yakin dengan jawabannya. Jadi, ia memutuskan untuk berdiam diri di ruang ujian.


Reyna kembali memperhatikan Rai, jika dipikir-pikir ini ketiga kalinya mereka 1 ruang ujian.


γ€ŠFlash back on》


"Waduh udah mau pembagian kelas nih?" Ujar Ayu


"Iya bener, gugup banget" Sambung Kiki


Mereka saat ini berada di bawah tangga bergandengan tangan membentuk lingkaran. Mereka juga memanjatkan doa agar mereka kembali 1 kelas lagi. Di sana ada Kiki, Arsila, Bless, Ayu, Keysa, Nadine, Lia, dan Reyna.


Satu persatu nama-nama siswa mulai disebutkan mulai dari kakak kelas dan sampai giliran angkatan mereka. Namun sayang, pada akhirnya mereka berada di kelas yang berbeda.


Keysa berada di kelas 8 B dan Lia, Nadine dan Bless berada di kelas C. Untuk Reyna, Kiki, Arsila dan Ayu, mereka berada di kelas E dan F. Begitulah hasil pembagian kelasnya.


"Hmm... Ki, kita duduk di sini dah" Tunjuk Reyna pada bangku kosong di dalam kelasnya.


"Okay deh"


Mereka pun segera bergerak menuju tempat tersebut.


"Loh, Na lu di sini juga?" Tanya seseorang yang baru saja masuk dan meletakkan tasnya di bangku depan Reyna.


"Eh, elu Nis. Iyanih gue di sini. Sekelas nih kita" Jawab Reyna


"Hai, Nisa" Sapa Kiki ramah


"Hai" Sapanya balik


Seorang anak laki-laki lewat di hadapan Reyna dan Kiki yang sedang asik ngobrol di depan kelas. Kiki dan Reyna fokus ke model rambut anak itu, yang ketika ia berjalan rambutnya akan bergerak seperti ubur-ubur.


Karena hal ini Reyna pun berteman dengannya. Dia juga berteman dengan Rachel anak kelasnya dan Aldo anak kelas sebelah. Lebih tepatnya teman sekelas Rai.


Reyna juga berapa kali melihat ke arah pintu kelas, sebab Rai selalu berdiri di sana bersama temannya Gerry dan Rio. Itulah yang Reyna tau. Mereka berdua adalah teman setim Rai dalam klub sepak bola.


Ketika sedang upacara bendera, Reyna selalu memperhatikan Rai. Bahkan ketik dia senang latihan sebgai pengibar bendera, Reyna juga memperhatikannya.


Pada saat bulan Ramadhan kemarin, ia selalu duduk berada di belakang Rai dan yah... Dia menganggap kalau itu hanya sebuah kebetulan. Tetapi, bukan hanya sekali hal itu berlangsung, melainkan berkali-kali.


γ€ŠFlash back off 》


Itulah yang kembali terlintas di kepalanya. Ia hanya memainkan pulpennya bosan. Karena waktu tinggal 20 menit lagi, dia segera mengumpulkan pekerjaannya dan keluar dari kelas ujian.


"Ah! Kelar juga" ujarnya ketika berada di luar kelas.


"Lama lu Na, padahal soalnya nggak terlalu susah" Ujar Wira


"Tau nih, padahal gue udah bagi jawaban loh tadi ke elu" Tambah Reza


"Thanks ya bro!" Ujar Reyna


"Woy Na!" Seru Firman yang baru keluar dari kelas ujian.


"Apaan?"


"Lu kok budeg sih?! Gue udah manggil-manggil lu dari tadi tau nggak sih, masa nggak lu denger!" Keluh Firman


"Woy! Nyadar diri dong lu. Tempat duduk lu sama gue mah beda, jauh lagi." Ujar Reyna "Hedew, gue pukul juga lu" Tambahnya sambil sudah siap untuk memukul Firman.


"Reyna!" Seruan itu membuatnya mengurungkan niatnya itu.


"Jawab lu nomer 25 pilihan ganda apaan?" Tanya Kiki


"Gue jawabnya B"


"Lah... Gue jawabnya A. Lu gimana sih Wir? Kok beda sih" Ujar Reza


"Eh, kampret! Gue ngerjainnya bareng lu yeah, gue menuju tadi B, tpi lu malah protes dan bilang kalau jawabannya A. Kok malah nyalahin gue sih!" Ujar Wira kesal


"Hehehe... Maaf, kalem bro kalem" Ucap Reza


"Jawaban mu apaan, Man?" Tanya Kiki


"E, gue dapet dari si Rai" Jawabnya dan mendapat anggukan kepala dari Kiki.


"Lu jawab apaan Ki?" Tanya Wira


"C gue"


"Wihhh... Bahas apaan lu pada?keknya seru" Sapa Nisa yang baru keluar dari ruangannya.


"Jawaban nomer 25" Ucap Kiki, Wira dan Fahmi Kompak.


"Ohh itu, gue D" ~Nisa


"Etdahhh.... Ini yang benar yang mana dah?" Tanya Firman


"Nggak tau" Jawab mereka kompak


"Tapi tadi gue ngerjainnya sambil ngeliat rumus fisika loh" Ujar Reza


"Udahlah... Lu berdua mah, ngecheat malah nggak tau jawabannya bener apa nggak. Percuma tau" ~Nisa


"Udah deh, mendingan sekarang kita ke kantin aja kuy" Ajak Wira


"Ayolah! Perut gue udah minta diisi" ~Firman


"Lu pada aja deh, gue lagi males" Tolak Reyna


"Yaudah... Lu nggak nitip?" Tanya Kiki.


"Nggak, makasih"


"Kita lain ya Na, bye" Pamit Nisa


...----------------...


Di kantin


Kiki dan kawan-kawannya sedang mengantri untuk membeli tahu tempe pedas. Dan pada saat yabg bersamaan Nara keluar dari salah satu kantin di sana bersama dengan Alan.


"Oi, Ki" Sapanya


"Eh, Nar.. Hi" Sapa Kiki balik


"Si Ana mana?"


"Lagi di kelas, katanya malas ke kantin."


"Oh okay, thanks yah" Ujarnya "Bro sis gue duluan yah" Tambahnya.


Nara segera menuju ke kelas ujian Reyna.


...----------------...


"Reynaaaaa~~~" Ucapnya ketika tiba di depan pintu kelas tersebut.


Reyna hanya menatapnya malas, padahal jelas itu sangat sepi dan Reyna nyaman akan hal itu. Dia merasa sangat tentram, namun sayang biang rusuh kelas D sekarang ada di hadapannya.


"Lu kenapa nggak ke kantin sih?" Tanya nya


"Males"


"Buset, ke kantin males. Nih buat loh, gartis tis tis tis tis" Ucapnya sambil menyerahkan roti dan susu cokelat favorit Reyna.


"Thanks"


"Oi~~~ Nara" Sapa seseorang yang baru masuk ke dalam kelas dan ia segera menuju ke arah Nara.


"Yoooo~~~ My brother Rai, apa kabar lu? Gila-gila, lama banget kita nggak ketemu" ujarnya dramatis


"Nggak usah lebay deh. Jijik gue" Ujarnya sambil duduk di sebelah Nara.


"Elah... Sensian amat"


"Ngapain lu di sini?" Tanya Rai


"Nih" Nara menunjuk Reyna yang sedang menikmati makanannya tanpa memperdulikan keduanya.


"Ohh...."


Terdapat jedah waktu selama beberapa menit sampai akhirnya Reyna buka bicara.


"Jawaban lu nomer 25 apaan Nar?"


"Huh?! Yang tadi?"


Reyna pun menganggukkan kepalanya.


"Gue jawab pake hitungan kancing baju" Ujarnya sambil nyengir.


Rai dan Reyna yang mendengar hal tersebut menjadi bingung terkuat dari tatapan mata dan ekspresi keduanya. Nara pun paham akan hal itu, dan segera mempraktekkannya.


"Ke gini nih"


"Yang ini A, ini B, Ini C, D, dan E"


"Nah tinggal ngitung ae sesuai sama nomor soalnya atau nggak di cap cip cup"


Mendengar hal itu mereka berdua hanya bisa geleng-geleng kepala.


"Udahlah... Intinya jawaban lu apaan?" Tanya Reyna


"E"


"Lu?" Tanya pada Rai


"Sama kek dia"


"Ohhh"


"Lu Jawab apa?" Tanya keduanya kompak


"B"


Mendengar jawaban Reyna, Rai hanya bisa mengenal nafas dan Nara segera mengelus pundak Nara.


"Lu berdua kenapa sih? Emang jawaban gue salah? Nggak papa sih, tohnya gue juga nggak yakin" Jelasnya


"Pasti sakit banget nih Na" Ujar Nara dan Rai yang menyetujuinya


"Maksud lu?"


"Lu bulat nya naik apa turun?" Tanya Nara


"Turun, soalnya pangkat 5"


"Salah"


"Kenapa?"


"Harusnya koma 6 karena ada sembilan"


"Dahlah... Udah lewat juga" Tanggapnya santai


"Pintar!"


"Jadi jawabannya E?" Tanya Reyna


"Nggak tau, gue kan make sistem kancing baju"


"Tapi lu kok tau yang soal pembuatan?"


"Nanya ke itu" Ujarnya sambil menunjuk Nara


"Gue juga nggak tau, kalau nggak salah kek gitu jawabannya" Jelas Rai


"Lu berdua ngeselin bat. Nggak ada pasti-pastinya jawabannya."


"Boleh masuk nggak?" Ujar seorang dari luar sana, Zayn.


"Masuk ae" Jawab Nara


"Bahas apaan lu pada? Keknya seru" Tanya Zayn


"Ngebahas jawaban soal matematika nomor 25 tadi" Jawab Rai


"Oh, itu"


"Jawaban lu apaan?" Tanya Reyna


"A,B,C,D,E gue silang semua" Jawabnya santai sambil membuat balon dengan permen karetnya.


"Hah?! Jawab lu silang semua?" Tanya ketiganya kompak


"Yoii"


"Salah semua dong?" Tanya Nara


"Lucky!!!" Jawabnya sambil mengangkat jempol nya


"Kok bisa?" Tanya Reyna


"Ibunya salah ngasih soal, dan jawabannya juga nggak ada di situ" Jawabnya


"Tapi gue ngerjain dapat kok Zayn" ~Rai


"Iya, awalnya juga gitu. Coba lu teliti lagi, pasti salah"


Rai segera berjalan ke arah mejanya dan langsung melihat kembali kertas cakarannya tersebut. Ia pun menelitinya dengan seksama.


"Gimana?" Tanya Zayn


"Hooh, salah Zayn"


*Tring!


Tring*!


"Udah bel masuk, yuk keluar Nar" Ajak Zayn


"Yoii"


...----------------...


Mohon saran dan kritiknya semuaπŸ™πŸ˜Š


Agar saya bisa memperbaiki tulisan saya ini


Terima kasih kepada pembaca yang sudah mampir untuk membaca hasil tulisan saya πŸ™πŸ˜Š


πŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ