
Di dalam kelas pada saat jam istirahat, terlihat tiga orang anak laki-laki dan satu orang anak perempuan. Kelas tersebut hanya berisikan empat anak tersebut.
"Jadi udah ada perkembangan Nar?" tanya Lia yang sedang bersandar di dinding kelas secara tiba-tiba.
"Yaaa.... Lu-" Nara menghentikan ucapannya karena dia menyadari Rai yang tengah duduk santai di sebelahnya. "nanti deh kita ngobrolinnya kapan-kapan."
"Elah... Jawab aja kali, si Rai juga udah tau," sahut Alan dari arah belakang.
"Huh?!" Nara terkejut mendengar pernyataan tersebut, "m-maksud lu?"
"Hadewww... Nggak usah sok bego deh," ucap Lia sambil memutar bola matanya malas.
"I-Ini seriusan?" tanyanya memastikan.
"Dua riusan Nar," jawab Rai santai dengan senyuman ramah lingkungannya.
"Sejak kapan?!"
"Hmmm... Sejak kami di Semarang. Lebih tepatnya pas udah masuk sekolah sih."
"Kalau gitu ngapain lu pura-pura pacaran sama Reyna?" tanya Nara ketus.
"Lu tau Nar?!" tanya Alan dan Lia bersamaan dengan keterkejutan mereka.
Sementara itu Rai hanya santai dan malah tersenyum lebar ke arah Nara. "Karena gue merasa terhibur ketika liat muka kesal lu," jawabnya penuh percaya diri sambil menunjukka senyuman bangga di wajahnya.
"Sialan!" ucapnya kesal.
"Nar, lu belum jawab pertanyaan kita," sahut Alan dari belakang sana.
"Emang penting banget yah sampe gue harus ngasih tau kalian?"
"Haaaa.... Terserah deh. Biarlah cukup Nara, Tuhan, dan Alan aja yang tau Rai, kita nggak usah," ucap Lia sambil menekankan kalimat pada nama Alan.
"Yaaa.... Kalau lu udah ngomong kek gitu sih, gue cuman bisa setuju aja," tambahnya santai.
...----------------...
Sementara itu di kantin sekolah, terlihat lima orang anak perempuan yang sedang duduk berhadapan di bangku panjang kantin.
"Na!" seru seseorang di hadapan Reyna.
"Hm"
"Lu kenapa sih? Dari tadi pagi nggak semangat aja," tanya Aruna "yaaa... Walaupun biasanya emang nggak ada semangat sih."
Setelah mendengar ucapan Aruna, Reyna langsung menatapnya tajam.
"Ih, Ana kamu nggak boleh kek gitu ke bestie sendiri tau. Harusnya kamu menatap lembut dengan penuh kasih sayang," ucap Sabrina.
Sedangkan Reyna hanya memutar bola matanya malas.
"Eh Na, Lis, Van, kalian kenal sama anak baru itu kan?" tanya Sabrina penuh antusias.
"Iya," jawab Valisha dan Ivanka bersamaan dan Reyna yang hanya menganggukkan kepalanya dengan malas. Dia sudah tau apa yang akan terjadi setelahnya jika seseorang sudah menanyakan sesuatu mengenai Nara.
"Hadeehhh... Si Nara secakep, sebaik, dan sekeren apa sih sampai-sampai tiap masuk sekolah selalu aja ada yang suka sama dia? Nih anak nggak make pelet kan? Soalnya gue liatnya dia biasa aja." Batin Reyna bingung.
"Kenalin gue dong sama dia, kali aja bisa akrab dan---," ucap Sabrina malu-malu, " bisa jadian mungkin. Aaaaa~~~~" Sabrina memukul lengan Aruna yang ada di sebelahnya dan dia hanya bisa mengaduh kesakitan.
"Aduh! Kalau soal kenalan sih gue bisa bantuin kok Bin, tapi kalau jadian-," ucap Valisha menghentikan kalimatnya selama beberapa detik, "sorry banget, gue nggak bisa."
"Gue juga setuju sama Valisha, soalnya si Nara nggak pernah tertarik sama cewek," tambah Ivanka.
"Yaaa... Bantuin lah gaes, gue suka banget banget banget ke dia," ucapnya sambil memelas. "Na, bantuin gue dong, please." Sabrina menatapnya dengan puppy eyes, yang hal itu adalah kelemahan Reyna. Tetapi, dia tidak tau jika hal itu tidak berlaku untuk semua orang.
"Nggak!" tolaknya.
"Ihhh, Annaaaa!!!!" ucapnya sambil cemberut. "Kalau lu Val kenapa nggak mau?"
"Karena gue udah ngeship Nara sama yang lain," jawab Valisha sambil cengngengesan.
"Ah! Kalian nggak seru!" Sabrina menatap sebal kepada mereka semua.
"Lu kenapa Bi?" tanya Lia yang tiba-tiba muncul di sana bersama Nara, Alan dan Rai.
Sabrina yang melihat ke arah Lia dan langsung tersenyum lebar setelah melihat Nara di sana, wajah cemberutnya pun telah hilang ditelan bumi.
Nara yang melihat Reyna si hadapannya langsung duduk di sisi sebelah kiri Reyna yang kosong dan tanpa babibubebo dia juga langsung menyesap es teh Reyna tanpa permisi.
"Ahh~ Minum es teh siang-siang begini emang enak banget, apalagi manis nya pas," ucapnya sambil tersenyum manis pada Reyna.
Plak!
Reyna langsung memukul lengannya segera setelah kalimat yang ingin diucapkan Nara selesai.
"Aw! Kok lu mukul gue sih?" tanyanya sambil mengusap lengannya yang sakit.
"Lu kenapa sih, ini kan bukan yang pertama kalinya," jawabnya santai.
"APA!" seru Aruna, Ivanka dan Sabrina bersamaan.
Nara hanya menatap datar ketiga orang di hadapannya sambil menaikkan sebelah alisnya.
"Udah-udah, nggak usah dibahas lagi mendingan kita makan aja," lerai Lia.
"Tap-"
"Udah, mendingan kita langsung mesen makanan aja. Rai, Nar kalian yang biasa kan? Li lu juga kan?" tanya Alan dan langsung mendapat persetujuan dari yang bersangkutan. Setelah itu dia langsung mengambil uang yang diberikan mereka dan segera pergi dari sana.
"Na, lu benci ya sama gue?" tanya Nara dengan wajah sedihnya.
"Ugh! Apa yang ada dihadapan gue ini? Ini si Nara?" batin Rai, Valisha, Ivanka, dan Lia bingung dan menatap tidak percaya dengan pemandangan yang ada di hadapannya.
"Na!"
"Hm"
"Kan lu pasti beneran marah sama gue," ucapnya sedih dan langsung mengalihkan pandangannya ke arah meja di hadapannya lalu menunduk.
"Haaaaa...." Reyna menghembuskan nafas pelan. "Nggak, gue nggak marah, apalagi benci sama lu kok."
Nara yang mendengar hal tersebut langsung kembali segar dan tersenyum senang sambil menatap Reyna.
"Natapnya biasa aja kali," ucap Reyna sewot, sedangkan Nara hanya senyam-senyum saja.
"Oh iya Na, ntar malem nak futsal tanding sama anak SMK melati. Lu nonton kan?" tanya Rai.
"Nggak! Ntar malam Reyna mau jalan sama gue," tolak Nara tegas.
"Gue kan nanya Reyna, bukan lu," protes Rai.
"Sama, aja. Pokoknya selama gue ada di sini Reyna cuman boleh sama gue doang," ucap Nara tegas.
"Udah Rai, maklumin aja. Takut si Ana digaet orang tuh," bisik Lia pada Rai.
"Okay, berarti Lia sendiri dong ntar malem?"
"Yaaa... Mau gimana lagi, gue males adu mulut sama nih orang," jawab Reyna sambil menunjuk orang di sebelahnya.
"Oh iya, Nar lu masuk klub basket gih. Lagi kekurangan orang nih, mana bentar lagi udah mau ganti kepengurusan lagi," tawar Alan yang baru saja kembali dari membeli makanan. Dia juga membawa pesanan teman-temannya satu persatu dan setelah selesai, dia kembali duduk di bangku kosong yang sempat dia duduk sebelumnya.
"Lah, lu bukannya futsal ya?" tanya Nara bingung ketika Alan sudah duduk dibangkunya.
"Iya, gue ikut dua. Ntar kalau di suruh pilih salah satu, gue pilih basket deh. Lu gabung kan?"
"Okay deh, kurang berapa orang?"
"Satu."
"Emang sekarang berapa orang?"
"Kalau anggota lama pensiun sih, tinggal 4 sama ada anak kelas sepuluh 1 yang baru daftar," jelasnya.
"Okay, emang buat apaan lu ikut basket?" tanyanya penasaran soalnya Alan selalu menjadi keeper di setiap pertandingan futsal maupun sepak bola dan dia juga sangat menikmatinya.
"Buat bantu sahabat gue nunjukin ke doi, kalau pesonan anak basket nggak kalah sama anak futsal," jelas Alan pernuh percaya diri.
"Lu emang sahabat gue," sahut Nara.
Sedangkan Aruna, Ivanka dan Sabrina hanya diam dan menyimak pembicaraan mereka, sebab mereka tidak mengerti. Dan untuk Valisha, dia juga melakukan hal yang sama karena tidak tau harus memberikan tanggapan seperti apa.
"Na, lu suka cowok futsal apa basket?" tanya Nara penasaran.
"Futsal."
"Okay, gue bakalan tunjukin ke elu betapa kerennya anak basket pada saat tanding di lapangan. Ntar lu nonton gue tiap latihan yah? yah?" tanya nya dengan mata yang berbinar, bahkan Reyna bisa melihat sebuah bintang besar di setiap bola mata Nara. Dan tentu saja hal ini tidak bisa membuat Reyna menolaknya.
"Iya."
"Yes!"
...----------------...
Mohon saran dan kritiknya semua🙏😊
Agar saya bisa memperbaiki tulisan saya ini
Terima kasih kepada pembaca yang sudah mampir untuk membaca hasil tulisan saya 🙏😊
💜💜💜💜💜💜💜