Could I Have This Feeling?

Could I Have This Feeling?
70



Pada saat jam kosong di kelas MIPA 2, Reyna memilih untuk keluar dari sana sebentar. Karena sungguh, kelas itu sangat ribut seperti pasar.


Dia tidak terlalu menyukai keributan seperti ini, jadi dia memilih untuk pergi ke taman yang biasa.


Di sepanjang koridor, dia tidak menjumpai 1 orang siswa pun dan juga suasana nya sangat tenang, sebab seluruh kelas yang dilalui sedang menerima pelajaran.


"Hohoho.... Akhirnya gue bisa tenang menikmati kesendirian ini," batinnya senang.


Setibanya di taman, dia melihat Tania yang sedang duduk sambil membaca sebuah novel di bangku yang biasanya dia duduki.


"Gue kira lu ada di kelas," sahutnya dari ke jauhan.


Tania pun menengok ke arahnya sambil tersenyum, "Na!" panggilnya sambil menepuk-nepuk tempat kosong di sebelahnya.


Reyna menghampirinya dan duduk di sebelahnya. "Tumben nih, anak teladan ada di luar kelas waktu jam kosong, " ujar Reyna dengan nada bercanda. "Udah bosan ya?"


Tania terkekeh geli, "Nggak, gue masih murid teladan kok, cuman.... yaaaaa taulah yah kelas kita kek gimana."


"Iya sih."


Setelah itu, terjadi keheningan di sana yang membuat situasi di antara keduanya menjadi canggung. Meskipun begitu, Reyna tidak perduli, dia memilih untuk memainkan ponselnya. Tetapi, tidak dengan Tania. Dia sungguh tidak nyaman dengan situasi ini.


"Na, gue pen nanya sesuatu," ujarnya pada akhirnya, "boleh?"


Reyna pun berhenti memainkan ponselnya, lalu menatap Tania, "boleh, tanya aja kali."


"Okay. Lu suka sama Nara?" tanyanya to the point.


"Hmmm... Gue nggak pernah kepikiran tuh buat suka sama dia," jawab nya ambigu dan membuat Tania bingung.


"Sorry, gue nggak paham maksud lu kek gimana," ujarnya sambil menatap bingung.


Reyna diam sejenak sambil berfikir, "Hmmm.... Nggak."


"Kenapa? Dia kan baik banget sama lu."


"Karena gue udah suka sama orang lain," jawabnya enteng.


"Siapa?"


"Itu, si mas pacar."


"Rai?"


Reyna pun mengacungkan jempol nya. Setelahnya, kembali terjadi keheningan di antara mereka.


"Gue suka sama Nara," ucap Tania secara tiba-tiba sambil menatap Reyna.


Reyna yang mendengarnya hanya menganggukkan kepala, lalu Tania yang melihat hal tersebut manjadi bingung. Soalnya, dia akan mengira Reyna akan terkejut saat mendengarnya.


"Lu kok nggak kaget denger pernyataan gue?" tanyanya bingung.


"Yaa... Karena nggak kaget."


"Na, lu mau bantuin gue PDKT sama Nara nggak?" tanya Tania dengan penuh kehati-hatian.


"Sorry, gue nggak bisa," jawabnya segera setelah Tania menyelesaikan ucapannya.


"Nggak papa kok, thanks ya."


"Gue bukannya nggak mau bantuin lu. Cuman gue nggak bisa, kenapa? Satu, gue pernah bantuin temen gue PDKT sama dia, terus dia malah selalu natap sinis ke orang itu. Dua, dia lagi marah sama gue. Tiga, gue nggak minat jadi mak comblang lagi," jelasnya panjang lebar. "Tapi, good luck ya," tambahnya sambil tersenyum manis.


"Thanks. Btw lu tau tipe ceweknya Nara?"


"Nggak, soalnya dia nggak pernah ngomongin soal cewek sih."


"Hmm... thanks Na,"


"Okay. Btw gue balik duluan ya, soalnya catatan biologi gue belum kelar."


"Okay."


"Duluan ya Tan"


"Iya."


Reyna pun segera pergi dari sana meninggalkan Tania yang kembali membaca novelnya.


...----------------...


Setibanya di depan kelas, suasana kelasnya tidak seribut sebelumnya.


Di saat dia menengok ke arah barisan bangkunya, dia melihat Alan, Lia dan Rai sedang membicarakan sesuatu di bangku Alan. Terlihat mereka beberapa kali tertawa.


Reyna pun menghampiri mereka. "Ngomong apaan lu pada?" tanya nya segera setelah tiba di sana.


"Nggak ada," jawab Alan dan Rai kompak.


"Lah, terus kenapa pada ketawa-ketiwi?"


"Kepo lu," sahut Lia.


"Kan gue penasaran," ujarnya lalu duduk di bangku kosong di sebelah Lia. Mereka pun kembali mengobrol.


Di saat mereka tengah asik mengobrol, tiba-tiba Nara datang dan meminta Reyna untuk mengikutinya dengan dingin. Reyna pun mengikutinya, sekaligus merasa aneh.


"Bukannya, dia udah normal ya kemarin? Makanya gue nggak ngebujuk," batinnya bingung.


Mereka pun kembali berjalan ke arah taman yang tadi Reyna kunjungi. Setibanya di sana, tempat itu sangat sepi, dan hanya ada mereka berdua saja.


Nara menuntunnya ke bawah pohon rindang yang ada di sana, tetapi tak ada bangku di bawahnya sehingga mereka hanya bisa berdiri dan saling menatap satu sama lain.


"Lu mau ngomongin apaan?" tanya Reyna santai.


"Lu emang nggak merasa bersalah ya?" tanyanya dengan menatap Reyna sini.


Bukannya menjawabnya, Reyna malah bertanya balik dengan bingung, "emang gue ada salah ya?"


Setelah Reyna melontarkan pertanyaan tersebut, dia bisa melihat wajah kesal Nara sudah terpampang jelas di sana.


"Nih, anak kenapa sih? Perasaan kemarin udah normal deh, kok kumat lagi?" batinnya bingung.


"Haaaa....," Mengusap wajahnya kasar. "Gue masih marah sama lu! Jelas nggak, sekarang?!" ujarnya kesal di serta pertanyaan pada akhir perkataannya.


"Oalah... Masih marah, gue kira udah nggak soalnya kemarin udah agak normal tuh," jawabnya enteng.


"Astagfirullah! Lu itu punya hati nggak sih?! Hah?! Kalau ada orang yang marah sama lu, lu harusnya introspeksi diri dong, masa orang yang bersangkutan harus ngasih tau lu dulu sih!" ujarnya menumpahkan kekesalannya.


Bukannya merasa bersalah dan meminta maaf, Reyna malah menatap Nara bingung.


"Nih anak, kenapa sih? Gue yang PMS kok dia yang sensi?" batinnya bingung.


"Lu kenapa sih? Gue ada salah lagi sama lu?" tanya Reyna bingung.


Setelah mendengar pertanyaan Reyna, kekesalan Nara kembali meningkat.


"Haaa... Lu ini nggak peka apa gimana sih?! Ah! Sial!" batinnya kesal.


"Udahlah Na, lupain aja," ucapnya dingin lalu melenggang pergi dari sana.


"Dia marah kenapa sih? Kan kemarin udah nggak," tanya pada diri sendiri.


...----------------...


Reyna yang bingung dengan kelakuan Nara, akhirnya memilih untuk melanjutkan apa yang sudah dia rencanakan waktu itu, yakni membujuk Nara. Meskipun, dia tidak tau, apa masalahnya kali ini.


Di saat jam istirahat, Reyna baru saja kembali dari kantin, sebab dia tidak melihat Nara di sana, padahal seluruh teman-temannya ada di sana. Akhirnya Reyna memutuskan untuk segera pergi ke kelas.


Dan benar saja, seperti dugaan Reyna, Nara sedang berada di sana. Kemudian, ia pun menghampirinya dan memberikan sebuah susu kotak dan juga permen yuppy kesukaan Nara. Bukannya senang dan luluh, Nara malah menatapnya sinis.


"Apaan nih?" tanyanya ketus.


"Susu kotak sama permen lah, bego banget sih, masa harus dijelasin lagi!" batinnya kesal.


Sebenarnya Reyna sangat ingin mengatakan hal ini, namun dia sadar diri, jika dia mengatakannya, Nara bisa semakin marah dan tambah merepotkan.


"Itu kan minuman sama permen favorit lu, makanya gue kasi ke elu," jawab Reyna santai sambil tersenyum.


"Oh, makasih," jawabnya dingin.


...----------------...


Mohon saran dan kritiknya semua🙏😊


Agar saya bisa memperbaiki tulisan saya ini


Terima kasih kepada pembaca yang sudah mampir untuk membaca hasil tulisan saya 🙏😊


💜💜💜💜💜💜💜